
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Frisa menatap luka sayatan dengan 12 kali jahitan itu dengan meringis pelan. Bahkan matanya sampai sembab karena terus menerus menangis di samping Gavin.
"Aku sudah tidak sakit lagi. Lihat darahnya saja sudah tidak ada jangan nangis lagi ya!" ujar Gavin dengan lembut.
Gavin tak tahu Frisa menangis karena benar-benar khawatir kepada dirinya atau hanya sekedar rasa bersalah tetapi Gavin tak tega melihat Frisa menangis karena dirinya.
"Itu pasti sakit!" gumam Frisa dengan lirih.
"Sakit sebentar," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Pokoknya Roby harus segera di musnahkan!"" ujar Frisa dengan begitu tajam.
"Iya! Tuan Rajendra yang akan melakukannya karena itu bagiannya," ujar Gavin dengan lembut karena Rajendra sendiri yang mengatakan jika urusan Roby akan menjadi urusan pria itu.
Kabar Frisa hampir dilecehkan dan Gavin yang terkena sayatan pisau sudah terdengar di telinga Ben dan juga Ferdians. Mereka mendatangi rumah sakit di mana Gavin mendapatkan perawatan dengan 12 jahitan di lengannya.
"Gavin!" teriak Citra dengan amat sangat khawatir dengan anak semata wayangnya tersebut.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Citra menatap Gavin dengan sendu.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya luka kecil dan sebentar lagi aku sudah boleh pulang," kawab Gavin dengan santainya yang membuat Citra menghela napasnya. Anaknya ini tidak pernah menangis walaupun terluka seperti ini sejak dulu yang membuat Citra bingung harus lega atau khawatir.
"Luka kecil bagaimana sih? Mas Gavin itu terkena sayatan pisau preman itu, Ma! 12 jahitan dibilang luka kecil," protes Frisa yang membuat Gavin tersenyum.
"Tuh lihat calon istri kamu saja sangat mengkhawatirkan kamu. Kamu masih terlihat santai seperti ini. Kamu ini benar-benar ya," ujar Citra dengan geram.
"Sudah, Ma. Gavin tidak apa-apa itu," lerai Sastra saat istrinya terus mengomel. Menurutnya luka itu memang masih kecil, karena dulu ia hampir mati karena minum racun untuk menyelamatkan Rania.
"Kamu itu loh Pa!" ujar Citra dengan gemas.
Rajendra datang bersama dengan yang lainnya, wajahnya begitu sangat dingin sekali. Hanya Faiz dan Olivia yang tidak hadir karena Faiz tidak ingin istrinya mengetahui soal ini dulu, ia hanya memberitahu Gavin terkena sayatan pisau karena menolong Frisa dari preman, ia tidak mengatakan yang sejujurnya jika orang itu adalah orang suruhan Roby untuk mencelakai kembarannya. Jika semua sudah kondusif barulah Faiz akan mengajak Olivia untuk melihat Gavin nantinya.
"Gavin apa benar ini semua ulah Roby?" tanya Rajendra dengan tegas.
"Iya, Om. Dua orang suruhan Roby ingin mencelakai Frisa," jawab Gavin datar.
"Kurang ajar. Dia lupa sedang bermain-main dengan siapa," ujar Rajendra dengan sangat dingin.
"Saya pergi dulu!" ujar Rajendra dengan aura yang sangat menyeramkan.
"Rajendra mau kemana kamu, Nak?" tanya Ana dengan khawatir, ia takut Rajendra akan berbuat sesuatu yang sangat nekad.
"Menyelesaikan masalah ini, Ma. Ma tenang saja aku akan baik-baik saja," ujar Rajendra dengan tenang tetapi membuat Ana semakin gelisah.
"Sayang sudah biar Rajendra yang mengurus semuanya!" ujar Ben menenangkan istrinya.
"Tapi..."
__ADS_1
"Percaya sama Rajendra, Ma! Dia pasti bisa menyelesaikan semuanya," ujar Rania dengan tegas yang membuat Ana akhirnya mengangguk walaupun segenap kekhawatiran masih terlihat di wajahnya.
"Bagaimana keadaan kamu, Gavin?" tanya Ferdians setelah adik iparnya sudah pergi.
"Sudah membaik, Pa. Saya sudah boleh pulang," hawab Gavin dengan tegas dan tak ada keraguan di sana.
"Terima kasih sudah menolong Frisa hingga kamu terluka seperti ini," ujar Rania dengan tulus.
"Sudah kewajiban saya untuk menjaga Frisa, Ma. Walaupun nyawa saya adalah taruhannya," jawab Gavin dengan tersenyum bahkan sangat serius sekali yang membuat Frisa menatap Gavin dengan dalam, entah apa yang Frisa pikirkan namun hatinya menghangat saat Gavin berbicara seperti itu di hadapan kedua orang tua dan keluarganya yang lain.
*****
Saat ini Gavin sudah berada di rumah kedua orang tuanya. Ia sudah berada di dalam kamarnya untuk beristirahat, Frisa mengizinkan Gavin untuk pulang bahkan gadis itu masih berada di rumah kedua orang tua Gavin sekarang. Entahlah Gavin terkadang tidak bisa memikirkan apa yang sedang Frisa pikirkan. Seperti saat sekarang Frisa sama sekali tak mau pulang ke rumah, gadis itu tetap bersikeras untuk tetap di sini.
Gavin membuka lemari pakaiannya, ia mengambil pakaian yang nyaman di gunakan untuk istirahat. Namun sepertinya Gavin terlihat kesusahan untuk melepaskan bajunya sendiri karena rasa nyeri pada tangannya mulai terasa.
Gavin menghela napasnya dang perlahan dan menahan rasa nyeri itu ketika ia mencoba melepaskan lengan bajunya.
"Arrggh..."
"Ya ampun!" ucap Frisa dengan khawatir dan langsung menghampiri Gavin yang terlihat kesakitan bahkan keringat dingin muncul di dahinya.
"Mau ngapain sih?" tanya Frisa dengan berdecak kesal. "Bukannya istirahat malah berdiri di sini!" lanjut Frisa yang membuat Gavin tersenyum kecil.
"Mau ganti baju sebentar baru istirahat," sahut Gavin dengan pelan.
Gavin masih berusaha melepaskan bajunya di bagian tangan dengan perlahan, ringisan Gavin membuat Frisa tidak tega dan akhirnya membantu Gavin melepaskan pakaiannya.
"Kaos warna biru itu saja," jawab Gavin menunjukkan baju yang sudah ada di kasur.
"Nanti susah lepas bajunya! Pakai ini saja," ucap Frisa dengan tegas mengambilkan baju berkancing namun tetap nyaman di pakai.
"Yaudah itu saja!" ucap Gavin dengan tersenyum.
Apapun pilihan Frisa akan Gavin terima dengan senang hati. Gavin menatap Frisa yang sedang memakaikan baju untuk dirinya, sedangkan Frisa menatap perut sixpack Gavin dengan menelan ludahnya dengan kasar.
"Kenapa Gavin seksi banget sih kalau seperti ini?" gumam Frisa di dalam hati.
"Awww...."
Mendengar suara Gavin yang kesakitan membuat Frisa panik. "Sakit ya?" ujar Frisa dengan panik dan meniup luka yang masih di perban itu dengan pelan.
Gavin tersenyum tipis, entah mengapa melihat Frisa yang perhatian seperti ini Gavin malah ingin sakit saja karena pasti Frisa akan terus memperhatikan dirinya.
"Nyeri, Sayang!" ujar Gavin dengan meringis yang membuat Frisa semakin cemas dan meniup bekas luka yang sudah di jahit itu dengan perlahan.
"Iya ini saya sudah tiup dengan pelan," ujar Frisa dengan pelan.
"Sudah tidak nyeri lagi?" tanya Frisa kepada Gavin yang ternyata sedang menatapnya dengan intens.
"Gavin!" panggil Frisa dengan serius.
"Hmmm..."
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Apa sakit banget?" tanya Frisa dengan lirih. "Saya tidak tahu harus apa tapi terima kasih karena kamu rela terluka untuk melindungi saya," ujar Frisa dengan lirih.
Gavin mengusap puncak kepala Frisa dengan lembut menggunakan tangan kirinya yang tidak terluka. "Itu sudah kewajiban aku untuk melindungi kamu walaupun nyawaku adalah taruhannya. Yang terpenting adalah kamu," jawab Gavin yang membuat Frisa tersentuh.
Frisa kembali memasangkan kancing baju Gavin dengan cepat. "Sudah selesai. Kamu bisa istirahat sekarang," ujar Frisa dengan lembut.
"Temani aku boleh? Kamu menginap di sini ya!" ujar Gavin dengan manja.
"Tapi aku harus pulang!" ujar Frisa dengan tegas.
"Ya sudah kalau begitu biar aku yang mengantarkan kamu pulang," ujar Gavin dengan serius.
"Ehhh... Tidak boleh! Kamu harus istirahat!" ujar Frisa dengan tegas.
"Makanya temani aku!" rengek Gavin yang membuat Frisa menghela napasnya dengan kasar. Kenapa Gavin menjadi sangat manja seperti ini?
"Manja banget sih! Ya sudah saya temani!" ujar Frisa mengalah karena dia pun tak mau meninggalkan Gavin begitu saja.
Gavin merebahkan dirinya di kasur. Ia menepuk kasur di sebelahnya agar Frisa mau berbaring di samping dirinya. Kali ini ia harus bisa membuat Frisa mengurus dirinya yang sakit, pokoknya Gavin harus bersikap manja sekarang.
Dan entah kemana Frisa tidak bisa menolak permintaan Gavin. Ia menaiki kasur Gavin dan merebahkan diri di samping kiri Gavin agar tangan kanan Gavin tidak mengenai tubuhnya.
Frisa tersentak kaget saat Gavin semakin mendekat ke arahnya. "Usap-usap kepala aku dong, Sayang!" pinta Gavin dengan pelan.
"Apaan sih? Kok jadi gini?" tanya Frisa dengan protes.
"Lah emangnya tidak boleh? Sebentar lagi kita menikah, Sayang. Kamu itu calon istri aku ya walaupun hanya bayarin sih," ujar Gavin dengan tersenyum.
"Kita boleh kok dekat dengan lelaki atau perempuan lain selama masa kontrak kita belum berakhir. Setelah berakhir kamu bisa menikahi dia nantinya," ujar Frisa dengan ragu.
Gavin mengeryitkan dahinya. "Yakin? Kamu tidak marah jika aku dekat dengan perempuan lain? Di pantai saja perempuan seksi tadi dekatin aku kamu pergi gitu aja," ujar Gavin dengan terkekeh yang membuat Frisa cemberut.
"Gavin! Saya ganti perjanjian tadi! Selama pernikahan kita masih berlanjut kamu tidak boleh dekat dengan siapapun!" ujar Frisa dengan tegas.
"Iya nyonya Gavin yang sangat cemburuan!" ujar Gavin dengan terkekeh.
"Siapa yang cemburu? Saya tidak cemburu!" elak Frisa dengan kesal.
"Masa sih tidak cemburu?"
"Gavinnn!"
"Aawwww..."
"Eh maaf-maaf!"
Gavin tersenyum.Ia melihat ke arah wajah Frisa dan mencium bibir Frisa dengan lembut yang membuat Frisa terdiam, seharusnya Frisa marah tapi respon tubuhnya selalu saja seperti ini.
"Apapun untuk melindungi kamu akan aku lakukan, Sayang!"
Deg....
Kenapa jantungnya berdetak sangat kuat kala Gavin berucap seperti itu dengan sangat tulus? Apakah benar yang ia lakukan ini?
__ADS_1