Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 231 (Mual)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Sebulan kemudian...


Frisa menyingkirkan tangan Gavin yang berada di perutnya, ia langsung bangun dan berlari ke kamar mandi karena merasa perutnya sangat mual sekali.


"Uwek...."


"Uwekk..."


Frisa terus memuntahkan isi perutnya. Namun, tak ada yang keluar kecuali hanya cairan bening yang terasa pahit bagi dirinya. Frisa memegang perutnya dengan menahan rasa mualnya, wajahnya sudah terlihat pucat karena Frisa terus mencoba memuntahkan isi perutnya.


"M-mas..." gumam Frisa yang mencoba memanggil suaminya karena Frisa sudah tidak tahan dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Frisa bersandar di dinding dengan air mata yang keluar dari sudut matanya. Ada apa dengan dirinya? Baru kali ini Frisa merasakan mual sekali padahal sebelum-sebelumnya Frisa tak pernah seperti ini.


"Mas Gavin hikss..." panggil Frisa sambil menangis.


Gavin yang masih tertidur mendengar suara tangisan Frisa langsung bangun dan terkejut saat tak melihat Frisa di sampingnya lagi. Gavin menyibakkan selimutnya dan langsung berjalan ke arah kamar mandi.


"Sayang, hei kenapa?" tanya Gavin dengan sangat cemas melihat wajah istrinya yang begitu sangat pucat.


"A-aku... Uwekkk..." belum sempat Frisa menyelesaikan ucapannya ia kembali di serang rasa mual yang tidak tertahan.


Gavin tersentak dan langsung mengurut tengkuk Frisa dengan perlahan. "Kamu kenapa, Sayang? Kita ke rumah sakit saja ya!" ujar Gavin dengan cemas bahkan sangking cemasnya mata Gavin juga berkaca-kaca.


"Tidak mau hiks... Perut aku rasanya mual banget, Mas! Lemas juga!" gumam Frisa dengan lirih dan langsung memeluk suaminya dengan erat.


"Pusing!" rengek Frisa memeluk Gavin.


Gavin tak tahu harus apa, tetapi ia sangat khawatir dengan keadaan Frisa. "Ke rumah sakit ya! Sebentar saja, Sayang! Kita periksa ke dokter dan setelah kata dokter kamu baik-baik saja kita langsung pulang," ujar Gavin membujuk istrinya.


"Kalau aku sakit parah gimana?" tanya Frisa dengan lirih yang membuat degup jantung Gavin menggila.


"Kamu pasti baik-baik saja, Sayang. Ayo kita ke rumah sakit ya!" ujar Gavin dengan lembut tetapi Frisa tetap menggelengkan kepalanya dengan kuat tak mau ke rumah sakit.


Frisa melepaskan pelukannya dan kembali ingin memuntahkan isi perutnya di wastafel yang membuat Gavin cemas.


Gavin mengambil tisu dan mengelap bibir istrinya dengan lembut. Frisa benar-benar sangat terlihat lemas sekali yang membuat Gavin tidak tega. Tubuh Frisa hampir jatuh jika Gavin tidak memegang lengannya.


"Masih mual?" tanya Gavin dengan cemas.


Frisa mengangguk dengan pelan. "Aku mau ke kasur lagi, Mas!" gumam Frisa dengan lirih.


"Iya, Sayang. Mas gendong ya!" ujar Gavin dengan begitu cemas.

__ADS_1


Gavin menggendong Frisa seperti anak koala, ia begitu takut dengan kesehatan Frisa yang memburuk karena sampai muntah-muntah seperti tadi. Sepanjang ia bersama dengan Frisa tak pernah sekalipun Gavin melihat Frisa muntah sampai lemas seperti ini.


Gavin menidurkan Frisa dengan perlahan, ia mengambil minyak kayu putih yang ada di laci lemari dan mengoleskanya ke perut Frisa dan leher Frisa dengan pelan.


"Bau Mas! Aku tidak suka!" rengek Frisa yang seperti ingin menangis sekarang.


"Uwekkk..."


"Ya Allah, Sayang. Maaf Mas tidak tahu," ujar Gavin dengan panik melihat Frisa yang menutup mulutnya dengan tangannya.


Gavin meletakkan kembali minyak kayu putih di laci. Ia mencoba menghilangkan minyak kayu putih yang ada di leher Frisa dengan tisu.


Air mata Frisa kembali keluar karena ia begitu tersiksa dengan keadaannya yang sekarang. Gavin menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya. "Sayang, Mas mohon kita ke dokter saja ya!" ujar Gavin dengan lirih.


"Nanti saja, Mas. Aku tidak mau keluar kemanapun," gumam Frisa dengan lirih karena Frisa hanya ingin merebahkan dirinya di kasur yang membuat Gavin frustasi karena Gavin tak tahu harus apa.


Gavin mengambil ponselnya dengan tangan yang kanan sibuk memijat kepala Frisa dengan pelan untuk mengurangi rasa mualnya.


"Mas mau telepon siapa?" tanya Frisa dengan lirih.


"Mama Citra, Sayang. Jika mama Rania, Mas tidak berani menganggu karena mama juga sedang hamil, kan. Takut mama Rania kepikiran," gumam Gavin dengan pelan.


Frisa meletakkan kepalanya di paha Gavin dengan memejamkan mata menikmati pijatan suaminya. Sedangkan Gavin mencoba menelepon mamanya karena Gavin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.


[Halo, Ma!]


[Iya kenapa, Sayang? Tumben pagi-pagi seperti ini telepon Mama?] tanya Citra dengan heran karena Gavin tak biasanya menelepon pagi-pagi seperti ini.


Sudut bibir Frisa tertarik mendengar ucapan Gavin yang begitu khawatir dan sangat peduli kepada dirinya.


[Mama ke sana sekarang, Gavin. Tunggu Mama!] ujar Citra dengan nada yang begitu khawatir.


[Iya, Ma. Gavin tunggu!]


Panggilan telepon langsung terputus oleh mamanya. Gavin langsung meletakkan ponselnya kembali dsn kembali fokus ke sang istri.


"Masih pusing? Masih mual, Sayang?" tanya Gavin dengan lirih.


Frisa mengangguk kepalanya dengan pelan. "Mas kalau aku sakit parah gimana? Mas masih mau bersamaku atau tidak?" tanya Frisa dengan lirih.


"Kamu pasti baik-baik saja, Sayang. Dan apapun keadaan kamu Mas akan tetap bersama kamu selamanya," gumam Gavin dengan lirih.


"Aku belum pernah merasakan mual seperti ini, Mas. Aku takut!" gumam Frisa dengan lirih yang semakin membuat pikiran berkecamuk.


"Mas mohon kamu jangan berpikir macam-macam, Sayang!" gumam Gavin dengan lirih.


Frisa melihat ke arah suaminya dan betapa terkejutnya Frisa melihat mata Gavin memerah seperti menahan tangis.


"Mas nangis?" tanya Frisa dengan lirih karena merasa bersalah dengan suaminya saat ini.

__ADS_1


Gavin menyeka air matanya dengan kasar, lalu ia tersenyum menatap Frisa. "Mas tadi kelilipan, Sayang!" jawab Gavin dengan tersenyum.


"Maaf!" gumam Frisa dengan lirih. "Aku selalu saja membuat kamu khawatir, Mas!" lanjut Frisa dengan pelan.


"Tidak, Sayang. Kenapa kamu minta maaf sama, Mas. Kamu tidak ada salah apapun sama, Mas. Sekarang kamu istirahat ya, sambil menunggu mama datang!" ujar Gavin dengan tersenyum yang menularkan senyum kepada Frisa saat ini dan Frisa sedikit mulai merasa enakan hingga tanpa sadar matanya terpejam dengan kepalanya yang masih berada di paha Gavin.


****


Citra memasuki rumah Gavin dengan sangat terburu-buru bahkan meninggalkan suaminya yang masih berada di dalam mobil.


"Di mana Gavin dan Frisa, Bi?" tanya Citra dengan tak sabaran.


"Ada di dalam kabar, Bu. Sejak tadi tuan dan nyonya belum ada keluar dari kamar," jawab pelayan di rumah Gavin dan Frisa.


Citra menganggukkan kepalanya, ia langsung berjalan ke kamar Gavin dan Frisa yang membuat pelayan di rumah ini merasa bingung dan juga khawatir dengan keadaan kedua majikannya tersebut tak lama di susul oleh Sastra. Namun, wajah Sastra tampak begitu senang saat ini, entah apa yang Sastra pikirkan, tetapi itu berhasil membuat para pelayan sangat kebingungan.


Citra mengetuk kamar anaknya dengan pelan. "Gavin ini Mama!" ujar Citra dengan sedikit keras.


"Iya, Ma!" hawab Gavin dari dalam dan tak lama pintu kamar terbuka yang memperlihatkan wajah Gavin yang begitu terlihat cemas.


"Di mana Frisa?" tanya Citra dengan pelan.


"Masih tidur, Ma. Gavin tidak berani ganggu karena tenaga Frisa terkuras habis akibat muntah dan mual. Ini Gavin baru saja selesai mandi," jawab Gavin dengan lirih.


"Masuk, Ma. Papa mana?" tanya Gavin.


"Papa di sini!" ujar Sastra dengan cepat yang membuat Gavin tersenyum tipis.


Citra langsung berjalan mendekat ke arah ranjang Gavin dan Frisa. Tampak sekali wajah pucat menantunya yang membuat Citra tidak tega.


"Frisa sudah makan, Gavin?" tanya Citra tanpa menatap anaknya.


"Belum, Ma. Frisa sama sekali tidak mau di ajak makan. Jadi, Gavin juga kehilangan selera makan Gavin melihat wajah pucatnya. Gavin mau membawa Frisa ke rumah sakit nanti kalau keadaannya belum membaik sama sekali. Gavin belum berani menghubungi mama Rania juga, Ma!" ujar Gavin dengan pelan.


Citra menghela napasnya dengan pelan mengelus lengan Frisa dengan perlahan yang membuat akhirnya Frisa terusik dan mencoba membuka matanya.


"Mama!" gumam Frisa dengan pelan.


"Tidur saja, Sayang. Gimana keadaan kamu?" tanya Citra dengan mencegah Frisa yang hendak bangun.


"Lemas banget, Ma! Mual dan pusing juga," jawab Frisa dengan lirih.


Citra tersenyum dan mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Mama sudah belikan kamu testpack. Sekarang kamu ke kamar mandi di bantu sama Gavin ya," ujar Citra dengan lembut.


"Testpack, Ma?" tanya Gavin terlihat bingung.


"Iya, Gavin. Ayo cepat bantu istri kamu ke kamar mandi. Awas saja kalau menantu kesayangan Mama sampai lecet. Dan jangan banyak bertanya dulu kita lihat hasilnya saja nanti," ujar Citra dengan tegas yang membuat Sastra tersenyum melihat ekspresi kebingungan di wajah anak dan menantunya.


Rasanya Sastra sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya saat ini. "Cepatlah Gavin jangan bengong di situ," ujar Sastra dengan tak sabaran.

__ADS_1


Walaupun terlihat bingung Gavin membantu istrinya untuk berjalan. Senyuman Frisa membuat Gavin sedikit lega dan juga masih memikirkan testpack yang di beli mamanya untuk apa. Sepertinya otak Gavin belum berjalan dengan baik pagi ini karena terlalu khawatir dengan keadaan istrinya.


__ADS_2