Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 191 (Perlakuan Manis)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...


...Happy reading...


...****...


Frisa menatap kedua orang tua dan kakaknya dengan bingung karena tatapan mereka begitu aneh bagi Frisa saat ini.


"Kenapa melamun seperti itu, Sayang. Duduk di sini," ujar Gavin yang membuat Frisa melotot.


"S-sayang?" ulang Frisa dengan terbata.


"Loh bukannya kalian akan menikah? Tadi Gavin sudah meminta izin untuk menikahi kamu, Sayang. Katanya kalian sudah pacaran tapi kamu belum mau kasih tahu ke Mama sama papa karena kamu masih malu, kan kamu baru di tolak Melvin. Jadi, sekarang sudah bisa move on dari Melvin? Mama senang kalau begitu," ujar Rania dengan tersenyum.


Frisa menatap tajam ke arah Gavin. Frisa takut jika Gavin mengatakan yang sebenarnya, mengatakan jika ia menyuruh Gavin untuk menjadi suami bayarannya.


"Om sama tante ke sini juga mau membicarakan lamaran kalian. Om tidak menyangka jika kebersamaan kalian menimbulkan rasa lebih dari pekerjaan. Tapi Om sangat merestui hubungan kalian," ujar Sastra yang membuat Frisa mengepalkan kedua tangannya menatap Gavin dengan tajam.


Kenapa Gavin tidak berbicara terlebih dahulu kepada dirinya? Mengapa malah Gavin mengajak kedua orang tuanya bertemu dengan kedua orang tuanya tanpa seizin dirinya? Benar-benar Gavin membuat Frisa kesal!


"Tatapan kamu kenapa tajam seperti itu ke calon suami kamu sendiri, Sayang? Tidak baik seperti itu!" ujar Ferdians menasehati anaknya yang membuat Frisa langsung mengubah ekspresi dirinya.


Faiz dan Olivia hampir tertawa tetapi keduanya menahan itu karena tak mau Frisa semakin curiga.


"Kenapa kamu tidak bilang aku dulu?" tanya Frisa mulai bersandiwara. Sandiwara yang sudah diketahui semua keluarganya tentunya, jadi ini terkesan lucu bagi mereka karena melihat ekspresi Frisa yang terlihat tertekan.


"Kita kan sudah bicara ini di kantor. Sebagai lelaki sejati aku tidak mungkin menunda-nunda hal baik ini," ujar Gavin dengan tersenyum manis.


"Tapi...."


"Sudahlah, Dek. Jangan di permasalahkan lagi! Gavin lelaki bertanggungjawab loh, dia langsung bicarakan ini kepada mama dan papa. Kamu memilih orang yang tepat," ujar Faiz dengan tegas.


Frisa hanya bisa menahan kekesalannya kepada Gavin. Tetapi untung saja Gavin tidak mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orang tuanya, karena bisa-bisa ia terkena amarah mamanya. Kalau papanya sih Frisa masih berani merengek tapi kalau dengan mamanya Frisa benar-benar tidak bisa berkutik.

__ADS_1


"Duduk, Sayang. Kami sudah menunggu kamu untuk kita makan malam bersama sekaligus merayakan kebersamaan kalian," ujar Rania dengan tegas.


"Iya, Ma!" jawab Frisa pada akhirnya.


"Ambilkan nasi untuk Gavin, Sayang. Kamu gimana sih? Calon suami tidak dilayani," ujar Rania yang membuat Frisa semakin kesal dan Gavin semakin senang.


Akhirnya dengan perasaan yang begitu kesal Frisa mengambilkan nasi dan lauk untuk Gavin. Kali ini Gavin bisa berbahagia tetapi nanti tidak! Lihat saja nanti!


****


Setelah makan malam selesai Frisa menarik Gavin ke taman belakang. Yang membuat Gavin hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Frisa.


"Sabar dong, Sayang!" ujar Gavin dengan terkekeh.


"Gavin, berani sekali kamu dengan saya!" ujar Frisa akhirnya bisa menumpahkan segala kekesalannya untuk Gavin.


Gavin tersenyum tipis. "Kenapa Nona marah? Bukankah sandiwara yang saya lakukan membuat keluarga kita percaya bahwa kita saling mencintai dan ingin menikah?" tanya Gavin menatap Frisa.


Frisa terdiam, ia memikirkan ucapan Gavin yang ada benarnya juga. Kenapa ia harus marah padahal Gavin semakin memudahkan rencananya, bahkan Gavin tidak mengatakan yang sejujurnya kepada kedua orang tua mereka jika ia sudah meminta Gavin untuk menjadi suami bayarannya.


Frisa duduk di kursi dengan perasaan yang tidak menentu. Sebenarnya ada alasan lain selain ia ingin membuat Melvin cemburu dan juga tidak ingin di ejek keluarganya. Alasan di mana hanya Frisa yang tahu sampai saat ini yaitu ia tidak ingin Gavin menikah dengan yang lain, ia hanya ingin Gavin bekerja padanya sampai kapanpun itu, entahlah alasannya ini benar atau tidak tetapi Frisa merasa Gavin hanya boleh bersamanya, egois memang tapi Frisa masih sangat membutuhkan Gavin, hanya Gavin yang bisa mengerti dirinya selain keluarganya. Jadi, ia tidak bisa menerima orang baru untuk menggantikan Gavin.


Gavin duduk di samping Frisa, ia tidak tahu apa yang dipikirkan Frisa saat ini. Tetapi Gavin tetap akan bersama dengan Frisa sampai kapanpun itu. "Ini sudah malam sebaiknya Nona masuk ke kamar," ujar Gavin dengan lembut.


"Saya masih belum mengantuk," sshut Frisa dengan pelan.


Gavin menyuruh Frisa untuk tidur di pahanya dan gadis itu langsung menuruti dirinya. Bahkan Gavin melepas jas nya dan ia menyelimuti Frisa agar wanita itu tidak kedinginan.


Perlakuan manis Gavin membuat hati Frisa tersentuh, yang semakin membuat Frisa tak rela jika Gavin memperlakukan gadis lain seperti ini. Jika Gavin mempunyai adik perempuan mungkin Frisa juga tidak rela, entahlah Frisa tidak tahu dirinya kenapa.


Frisa menatap Gavin dari bawah, ia menelan ludahnya dengan kasar saat melihat Gavin begitu sangat tampan sekali. Gavin tersenyum melihat ke arah Frisa yang juga sedang menatapnya, jemarinya mengusap bibir pink Frisa dengan lembut.


Gavin menunduk, wajahnya semakin dekat dengan wajah Frisa, hingga Gavin dengan berani mencium bibir Frisa. Hanya ciuman biasa, bahkan bibirnya hanya diam di sana.

__ADS_1


Begitu pun dengan Frisa, tubuhnya kaku saat Gavin mencium dirinya tepat di bibirnya. Ciuman pertamanya sudah di ambil oleh Gavin. Ingin marah tetapi entah mengapa Frisa tidak bisa marah, seakan suaranya tercekat di tenggorokan dan malah yang terjadi pipinya terasa panas saat tatapan Gavin terlihat berbeda malam ini.


Ciuman Gavin berpindah ke kening Frisa yang membuat rasa hangat itu semakin menjalar di hati Frisa. "Saya tidak akan kemana-mana, Nona. Pegang janji saya," gumam Gavin dengan lembut.


Frisa mengangguk, seakan ia terhipnotis dengan sikap manis Gavin saat ini bahkan pelukan tangan Gavin di tubuhnya membuat Frisa semakin nyaman tidur dengan berbantalan paha Gavin.


"Tidak dingin?" tanya Gavin menatap mata Frisa.


"Tidak!" jawab Frisa yang merasa gugup dengan tatapan lembut Gavin namun terkesan berbeda itu.


"Tapi udara malam tidak bagus untuk, Nona. Saya antar ke kamar ya!" ujar Gavin dengan perhatian.


Frisa tak menjawab, tiba-tiba saja Gavin menggendongnya dengan perlahan. Ia masih bingung dengan perasaannya sendiri, kenapa semua perhatian Gavin kepadanya membuat detak jantungnya sangat berbeda dari biasanya. Bahkan malam ini Gavin mencium dirinya kenapa dirinya tidak protes sama sekali bahkan tidak marah dengan Gavin?


Gavin membuka pintu kamar Frisa dengan perlahan, ia tersenyum menatap Frisa yang masih saja diam menatap dirinya. Gavin duduk di pinggir kasur dengan Frisa yang akhirnya duduk di pangkuannya, mata mereka saling menatap satu sama lain dengan sangat dalam seakan menyelami rasa yang mungkin belum salah satunya sadari.


Gavin memiringkan wajahnya, kali ini ia terlihat berani karena status mereka sudah berbeda. Bibir Gavin kembali mencium bibir Frisa dengan lembut, bahkan Gavin menggerakkan bibirnya dengan perlahan.


Reaksi Frisa sama seperti tadi, gadis itu sama sekali tidak marah bahkan ia memejamkan matanya saat Gavin mulai menggerakkan bibirnya pada bibirnya.


"Eughhh..." lenguhan Frisa membuat Gavin tersenyum tipis dan semakin memperdalam ciuman mereka, hingga di rasa Frisa kehabisan napas barulah Gavin melepaskan ciumannya.


Napas Frisa terengah-engah, namun entah mengapa ia bahagia. Perlakuan manis Gavin malam ini benar-benar membuat Frisa tidak berkutik sama sekali.


"Manis!" gumam Gavin mengusap bibir Frisa dengan lembut.


"Bibir ini hanya punya saya, Nona! Dan hanya saya yang boleh menyentuhnya. Tidak dengan orang lain," ujar Gavin dengan posesif.


Gavin mengecup kening Frisa sekali lagi. Ia menidurkan Frisa dengan perlahan. "Selamat malam, Sayang!" bisik Gavin yang membuat Frisa lagi dan lagi merasakan atmosfer yang berbeda dari dirinya.


Sungguh bibirnya sangat keluh untuk berucap sedikit saja atau sekedar memanggil nama Gavin. Seakan perlakuan Gavin malam ini membuat sistem sarafnya tidak berfungsi mendadak.


Hingga Gavin keluar dari kamarnya barulah Frisa memegang bibirnya yang di cium Gavin. "Kenapa denganku? Kenapa aku diam saja saat Gavin mencium bibirku? Kenapa aku malah terlihat senang? Ya Tuhan... Aku kenapa?" monolog Frisa merutuki dirinya sendiri yang terlihat bodoh di depan Gavin.

__ADS_1


__ADS_2