
...📌Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Sastra sudah berpamitan dengan Rania untuk mencari keberadaan Citra yang menghilang entah kemana, saat malam itu setelah paginya Sastra tak lagi menemukan Citra berada di sampingnya bahkan ketika Sastra mendatangi rumah Citra, rumah itu tampak sepi sepertinya memang Citra tak ada di rumah yang membuat Sastra semakin khawatir dengan wanita yang masih ia cintai sampai saat ini.
Sastra memberhentikan mobilnya di perkarangan rumah Citra, ia mencoba mendatangi rumah Citra lagi siapa tahu wanita itu sudah ada di rumah.
Tokkk...tokk....
"Citra ini saya Sastra! Buka pintunya kita perlu bicara. Jangan mendiami saya seperti ini Citra saya tidak sanggup!" ucap Sastra dengan sedikit keras agar Citra mendengar suaranya.
"Citra! Saya tahu kamu sedang marah dengan saya tapi tolong buka pintunya saya khawatir dengan kamu," ucap Sastra mengetuk pintu Citra terus menerus, berharap pintu itu segera di buka oleh Citra.
"Mas cari Citra ya?" tanya ibu-ibu tetangga Citra.
"Iya, Bu. Ibu tahu di mama dia berada?" tanya Sastra menatap ibu tersebut dengan penuh harap.
"Kayaknya sih ada pekerjaan di luar kota, Mas. Biasanya sih kalau tidak pulang selama beberapa hari ada pekerjaan di luar kota ikut bos-nya," jawab ibu itu yang membuat Sastra belum puas jika tidak memastikan Citra baik-baik saja di hadapannya.
"Nah itu Citra, Mas!" tunjuk ibu tersebut saat melihat Citra keluar dari Taxi.
Sastra bernapas dengan lega saat melihat Citra baik-baik saja. Sastra pikir Citra di bawa oleh Alex dan wanita itu akan di sakiti oleh Alex. Sastra tahu bagaimana Alex, lelaki itu mempunyai berbagai cara untuk mendapatkan apa saja yang ia mau walaupun dengan cara paling kasar.
"Kalau boleh tahu Mas ini siapanya Citra ya?" tanya ibu itu dengan penasaran yang membuat Sastra tersenyum.
"Saya mantan suaminya Citra, Bu. Dan sebentar lagi kami akan rujuk," jawab Sastra.
"Benarkah? Saya kira lelaki yang sering mengantar dan menjemput Citra selama ini adalah calon suaminya ternyata saya salah. Tapi Mas-nya lebih ganteng kok," ujar ibu tersebut yang membuat Sastra menarik bibirnya hingga tersenyum tipis.
"Dia hanya bos Citra saja, Bu! Dan bukan siapa-siapa Citra," ujar Sastra.
"Ekhem..." Citra berdehem menatap Sastra dengan tajam.
"Saya permisi, Mas!"
"Iya!"
Setelah kepergian ibu itu Sastra menatap Citra dengan perasaan yang sangat lega dan penuh kerinduan.
"Saya bawakan kopernya," ujar Sastra tetapi Citra langsung menghindar.
"Tidak usah saya bisa sendiri!" sahut Citra dengan cuek.
Citra berjalan ke arah pintu rumahnya dan membuka pintu tersebut dengan kunci yang berada di tangannya. Sastra tak mau mengalah lagi, ia terus mengikuti Citra walaupun wanita itu tak mengizinkannya masuk.
__ADS_1
"Kamu dari mana? Kenapa setelah malam panjang yang kita lewati paginya kamu sudah tidak ada di samping sa..."
"Stop! Tidak usah bahas itu anggap saja itu tidak pernah terjadi di antara kita," ujar Citra dengan kesal.
"Tapi saya tidak bisa melupakan malam panas kita berdua, Sayang!" ujar Sastra dengan terkekeh yang membuat Citra semakin kesal.
"Sudah saya katakan jangan bahas itu. Itu terjadi karena sebuah kesalahan!" ujar Citra dengan datar.
"Benar dari sebuah kesalahan Alex yang ingin memilikimu tapi sampai kapanpun kamu adalah milik saya, Citra!" ujar Sastra dengan tegas.
"Punya bukti jika pak Alex yang melakukannya? Jika punya masalah dengan dirinya jangan menuduh dia seperti itu," ujar Citra yang membuat Sastra memasang wajah datarnya karena ia cemburu Citra membela Alex padahal jelas-jelas lelaki itu salah.
"Masih bisa membela Alex? Padahal kamu tahu jika Alex tidak sebaik itu," ujar Sastra dengan tegas.
"Sudahlah saya malas berdebat membahas Alex. Saya kangen sama kamu!" ucap Sastra dengan jujur bahkan saat pintu rumah Citra terbuka Sastra langsung masuk.
"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke rumah saya?" tanya Citra dengan tajam.
Ia menarik lengan Sastra agar keluar dari rumahnya tetapi bukan Sastra yang tertarik malah dirinya yang tertarik hingga menabrak dada bidang Sastra. Citra menahan napasnya saat merasakan wangi tubuh Sastra yang sejak kemarin menghantui dirinya, membuat Citra terus kepikiran dan mengingat malam panas yang sudah pernah ia lakukan bersama dengan Sastra setelah sekian lama berpisah.
"Kalau mau di peluk itu bilang tidak usah tarik-tarik tangan saya," ujar Sastra yang menjadi pria berbeda dari dirinya demi membuat Citra bersama dirinya kembali.
Sastra memeluk Citra dengan erat. "Katakan kamu dari mana, Sayang?! Saya merindukan kamu. Saya takut kamu kenapa-napa," gumam Sastra mencium puncak kepala Citra dengan lembut.
"Kamu tidak perlu tahu saya dari mana karena kita bukan siapa-siapa!" jawab Citra dengan datar dan sangat menghunus hati Sastra yang saat ini terasa sakit.
Citra tak membalas perkataan Sastra. Wanita itu melepaskan pelukan Sastra pada dirinya, ia berjalan ke arah kamar miliknya karena setelah perjalanan yang cukup melelahkan bersama dengan Alex, Citra hanya ingin beristirahat dan untung saja Alex tidak mengantarkan dirinya karena bisa saja Sastra dan Alex bertemu yang membuat keduanya bisa-bisa berkelahi.
"Pulanglah!" ujar Citra dengan datar.
"Tidak! Saya mau di sini!"
Citra menghela napasnya dengan perlahan. "Nona Rania pasti akan mencari kamu. Jadi, pulanglah!" ujar Citra berusaha untuk tidak keras dengan Sastra.
Sastra tetap keukeuh tidak mau pergi dari rumah Citra bahkan dengan santainya Sastra duduk di sofa.
"Tidak mau, Sayang. Kamu dengarkan saya merindukan kamu!" sahut Sastra yang membuat Citra lagi dan lagi menghela napasnya dengan kasar.
"Arghh... Terserah!" ujar Citra dengan kesal dan berjalan ke kamarnya. Sepertinya ia benar-benar sangat lelah hingga tak mempunyai tenaga untuk ribut dengan Sastra bahkan membiarkan Sastra berada di rumahnya asal tidak menganggu dirinya.
Sastra tersenyum, ia akan tetap di rumah Citra karena ia sudah meminta izin dengan Rania untuk mencari Citra dan Rania mengizinkan dirinya.
Sastra akan tetap menunggu Citra hingga wanita itu keluar kamar kembali. "Citra kamu milikku, Sayang!" gumam Sastra dengan lirih.
Sedangkan Citra di kamarnya tampak kesal dengan kehadiran Sastra di rumahnya. Dua hari ia bekerja tetapi tak sedikitpun percintaannya dengan Sastra hilang dipikirannya yang membuat Citra lelah dan ingin sekali memukul kepalanya karena tak bisa melupakan kejadian itu.
"Lupakan! Lupakan, Citra! Kamu dan Sastra sudah berakhir sampai kapanpun kamu bukan prioritas Sastra! Hanya Rania yang menjadi prioritasnya! Kan tidak mau kan kejadian dulu terulang lagi di mana Sastra lebih mementingkan Rania daripada kamu? Haha Citra jangan jadi wanita bodoh kamu! Kamu memang masih mencintai Sastra tapi jangan sampai kamu kembali kepadanya!" ujar Citra seakan memberitahu dirinya sendiri batasan perasaannya selama ini, dirinya tak pernah menjadi prioritas Sastra!
__ADS_1
"Kalau kamu hamil kamu bisa menjaga anak kamu seorang diri karena Sastra tidak bisa diharapkan! Kamu wanita kuat! Kamu tidak lemah! Kamu bisa membiayai hidup kamu dan anak kamu seorang diri tanpa Sastra," ujar Citra menatap dirinya di pantulan cermin.
Citra tertawa tetapi tawa yang mengandung air mata hingga dirinya saja tak bisa mendeskripsikan sakit seperti apa yang ia rasakan saat ini. Citra butuh seseorang yang bisa untuk sandaran dirinya tetapi ia tidak tahu siapa karena di dunia ini Citra tidak memiliki siapapun.
Tangan Citra mulai gemetar, kepalanya mulai sakit yang membuat Citra tidak bisa menopang tubuhnya lagi hingga Citra jatuh ke lantai yang menimbulkan suara nyaring hingga Sastra yang ada di ruang tamu langsung loncat dan berlari ke kamar Citra.
Sastra langsung membuka pintu kamar Citra yang untungnya tidak di kunci. Matanya mencari keberadaan Citra dan setelah tahu Citra berada di dekat meja rias dengan memegang gunting Sastra langsung berlari dan menarik gunting itu.
"Apa yang terjadi hmm? Jangan melakukan yang aneh-aneh, Sayang!" ujar Sastra menangkup wajah Citra dengan kedua tangannya.
Sastra terlihat khawatir dengan keada Citra. Ia tahu rasa cemas yang sangat berlebihan bisa membuat Citra mencelakai dirinya sendiri dan untung saja Sastra dengan sigap menarik gunting tersebut dari tangan Citra.
Sastra beralih ke tangan Citra yang masih gemetar dengan hebat. "Kamu memikirkan apa hmm? Demi Tuhan... Saya khawatir dengan keadaan kamu, Sayang! Kalau kamu mau cerita ada saya di sini, jangan kamu pendam sendirian! Kalau kamu butuh bahu untuk bersandar ada bahu saya yang dengan sangat siap menjadi sandaran kamu," ujar Sastra dengan khawatir.
"Bohong! Dulu saya juga berpikir seperti itu tapi kamu tidak pernah ada untuk saya! Jadi, saya tidak akan percaya lagi sama ucapan kamu! Saya tidak mau berharap lagi! Lebih baik semuanya saya lakukan sendirian," ujar Citra dengan tubuh yang masih gemetar dengan hebat.
Sastra membawa Citra ke pelukannya. Ia mencoba menenangkan Citra dengan mengelus punggung wanita itu dengan perlahan. Luka yang ia berikan kepada Citra ternyata dampaknya sangat besar hingga Citra tak lagi mempercayai dirinya. Sakit itulah yang dirasakan Sastra saat ini.
Drrtt...drttt...
Ponsel Sastra berbunyi hingga pelukan mereka terlepas. Sastra melihat ke ponselnya siapa yang memanggil dirinya dan Citra tersenyum pedih saat tahu Rania lah yang menelepon Sastra.
"Sebentar ya!"
"Benar, kan? Bukan saya prioritas kamu! Jadi, tidak usah kembali ke rumah saya lagi. Karena saya sudah biasa tanpa kamu! Saya bisa bertahan di dunia ini walaupun tanpa kamu," ujar Citra dengan tajam.
"Sayang, saya hanya sebentar setelah itu saya kembali lagi!" ujar Sastra keluar dari kamar Citra.
"Aarghh... pergi kamu dari rumah saya dan jangan pernah kembali!"
"Hiks...hiks...." Citra meringkuk di atas lantai wajahnya sudah pucat dengan tatapan kosong.
"Sampai kapanpun aku bukan yang utama haha... hiks... Kenapa sakit? Seharusnya sudah biasa, kan? Kenapa air matanya masih keluar?" gumam Citra dengan lirih.
Deg...
Setelah menerima telepon dari Rania yang menanyakan Citra sudah ketemu atau belum. Sastra kembali menghampiri Citra. Dan hatinya begitu terluka saat melihat Citra meringkuk di lantai.
Tanpa kata dan dengan gerakan perlahan Sastra menggendong Citra dan menidurkannya di kasur.
"Tadi nona Rania menelepon dan menanyakan kamu sudah ketemu atau belum. Kalau belum beliau akan membantu. Jangan salah paham lagi dengan nona Rania ya! Maaf selama ini saya mengabaikan kamu! Citra, saya mohon bicaralah! Tatap mata saya jangan buat saya takut!" ujar Sastra dengan lirih berusaha untuk menjelaskan kepada Citra.
"Sayang!" Sastra memeluk Citra dengan erat bahkan suaranya terdengar serak.
Citra merasakan perutnya basah. Apakah Sastra menangis? Apakah Sastra mengkhawatirkan keadaannya? Tapi untuk sekedar bersuara saja Citra tak mampu. Semuanya masih terlalu sakit untuknya.
"Maaf hikss.." Sastra menangis dengan membenamkan wajahnya di perut Citra. Ia benar-benar takut dengan tatapan kosong Citra sekarang.
__ADS_1