Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 167 (Frisa Yang Manja)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa,ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Ferdians, Rania, dan juga Faiz sudah tiba di Singapura dengan penerbangan nonstop karena ketiganya sangat khawatir dengan keadaan Frisa saat ini, setelah diberi tahu di mana ruang rawat Frisa oleh Gavin, ketiganya langsung menuju ke rumah sakit dan mencari ruang rawat Frisa dengan wajah yang amat khawatir.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Nona Frisa dan tuan Gavin ada dalam," ujar penjaga itu dengan ramah.


"Terima kasih," jawab Ferdians dan Faiz berbarengan sedangkan Rania sudah tidak bisa bersuara karena sangking khawatirnya dengan sang anak.


Rania langsung membuka pintu ruang rawat Frisa. Tubuhnya terdiam di depan pintu melihat sesuatu di depannya, dimana Gavin dan Frisa saling memeluk satu sama lain. Dan entah mengapa Rania tersenyum melihat keduanya yang semakin dekat seperti ini.


"Ma kenapa diam di depan pintu seperti ini? Ada apa dengan Frisa?" tanya Faiz dengan cemas kepada kembarannya tersebut.


"Tidak ada apa-apa, Faiz. Mama hanya melihat bagaimana Gavin sangat menjaga Frisa padahal Mama tahu jika Gavin lebih kelelahan karena mengurus semua keperluan Frisa dari hal kecil sampai yang besar," ucap Rania dengan tersenyum kecil walaupun ia masih merasa khawatir dengan keadaan anaknya.


Rania paham bagaimana kelelahannya Frisa dalam bekerja di perusahaan. Dulu juga ia merasakannya, tetapi rasa sakit di tubuhnya selalu tidak ia rasakan karena ia ingin membuat perusahaannya maju dan Rania ingin membuktikan jika dirinya bisa berdiri tanpa nama keluarganya. Namun, semuanya hanya tinggal masa lalu dan Rania sudah berbaikan dengan papanya sendiri, itu juga berkat suaminya yang selalu menasehati dirinya dan memberikan dukungan penuh atas dirinya selama ini.


Ferdians dan Faiz juga ikut melihat ke arah brankar Frisa. Keduanya menggelengkan kepalanya melihat Frisa yang memeluk Gavin begitu sangat manja, jika seperti ini tidak ada lagi Frisa yang selalu kesal dengan Gavin yang ada hanya ada Frisa yang manja.


Ketiganya masuk ke dalam, mereka sengaja tidak membangunkan keduanya tetapi Rania mengecek suhu tubuh anaknya dan alhamdulillah-nya demam Frisa sudah turun.


Gavin yang merasa ada orang yang mssuk ke ruangan ini langsung membuka matanya karena ia takut ada orang yang berniat jahat ingin melukai Frisa tetapi setelah melihat siapa yang datang membuat Gavin salah tingkah sendiri karena ia ketahuan sedang memeluk Frisa.


"Maaf Tuan, Nyonya, saya ketiduran. Tadi nona Frisa tidak bisa tidur jika belum di peluk jadi saya memeluknya. Maafkan atas kelancangan saya, Tuan, Nyonya!" ujar Gavin tidak enak hati.


"Tidak apa-apa," jawab Rania dengan tersenyum.


Dengan perlahan Gavin melepaskan pelukan Rania di tubuhnya. "Gavin jangan pergi!" rengek Frisa yang membuat Gavin meringis.


Frisa belum menyadari kedatangan kedua orang tua serta kembarannya. Ia tidak ingin di tinggalkan oleh Gavin saat ini, beginilah jika Frisa sedang sakit.


"Nona, kedua orang tua Nona dan tuan Faiz sudah datang," bisik Gavin dengan pelan karena ia tidak enak hati dengan ketiganya.


Frisa mencoba membuka matanya mendengar ucapan Gavin. "Peluk!" rengek Frisa saat melihat mama, papa, dan kakaknya sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


"Peluk siapa nih? Gavin atau kami?" tanya Faiz dengan jahil.


"Kakakk ihh.... Mau peluk papa, mama,dan kakak, tapi setelah itu mau tidur sama Papa," ujar Frisa dengan manja.


Bagaikan anak perempuan pada umumnya yang sangat dekat dengan papanya begitupun dengan Frisa yang sangat dekat bahkan sangat manja dengan papanya. Ferdians, Faiz, dan Rania langsung memeluk Frisa dengan erat.


"Sekarang tidur lagi ya. Kamu perlu istirahat, Sayang!" ucap Rania dengan lembut.


"Iya, Ma. Badan aku sakit semua," ujar Rania dengan lirih.


Gavin langsung menyingkir dari Frisa, ia tidak ingin menganggu kebersamaan Frisa dengan keluarganya.


"Gavin mau kemana?" tanya Rania saat melihat Gavin hendak berjalan keluar.


"Saya ingin keluar saja, Nyonya!" jawab Gavin dengan tegas.


"Kamu di sini saja. Ruangan ini sangat luas," ujar Rania dengan tegas.


Sebenarnya Gavin tidak enak hati tetapi ia tetap mengangguk dan akhirnya duduk di sofa bersama dengan Faiz karena Ferdians sudah memeluk Frisa di sana.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga Frisa sampai dirawat seperti ini? Apakah pekerjaan Frisa terlalu banyak?" tanya Rania setelah memastikan Frisa sudah tidur.


"Ya Tuhan... Frisa emang selalu berbicara tidak ingin bekerja di kantor tetapi walaupun dia tidak ingin, dia harus tetap berkecimpung di perusahaan. Gavin, tolong bimbing Frisa di perusahaan hingga dia menjadi gadis yang kuat untuk memimpin di perusahaannya sendiri," ujar Rania dengan lirih.


"Baik, Nyonya. Tanpa anda minta pun saya akan terus membimbing nona Frisa," jawab Gavin dengan tegas yang membuat Rania dan Faiz sangat lega.


"Ma, sebentar aku telepon Olivia karena kita perginya mendadak aku belum sempat mengabarinya," ujar Faiz.


"Iya, Nak. Sekalian beritahu kakek Ben dan kakek Eric jika Frisa dirawat di Singapura. Tapi mereka tidak perlu datang ke sini, cukup kabari saja karena Mama yakin besok keadaan Frisa sudah mulai membaik," ujar Rania.


"Iya, Ma. Aku akan mengabari Kakek," sahut Faiz dengan tersenyum.


****


Pagi harinya keadaan Frisa sudah terlihat membaik walaupun infus di tangannya belum di lepas tetapi badannya sudah tidak sesakit semalam. Sekarang Faiz yang sedang membujuk kembarannya untuk sarapan.


"Makan sedikit saja, Dek. Biar kamu cepat keluar dari rumah sakit," ujar Faiz dengan lembut.

__ADS_1


"Pahit, Kak! Aku tidak mau makan," sahut Frisa dengan menggelengkan kepalanya.


"Sedikit saja, Dek. Biar kamu bisa minum obat. Satu suap juga tidak apa-apa," ujar Faiz dengan lembut. "Kalau kamu sembuh nanti Kakak traktir makan es krim," ujar Faiz mengiming-imingi adiknya dengan es krim.


"Benar ya, Kak! Aku tagih janji Kakak!" ujar Frisa dengan semangat.


"Iya, Dek. Sekarang makan dulu," ujar Faiz menyodorkan sendok berisi bubur ke arah Frisa.


Mau tak mau akhirnya Frisa membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari kakaknya walaupun rasanya begitu pahit setelah sampai di mulutnya.


"Sudah, Kak! Aku mau minum obat aja," ujar Frisa menolak suapan kedua dari kakaknya.


Faiz tak lagi memaksa, ia segera mengambilkan obat untuk adiknya karena kedua orang tuanya serta Gavin sedang menggantikan Frisa untuk pertemuan dengan kolega penting adiknya.


"Jangan memaksa untuk terus bekerja, Dek!" ujar Faiz memperingati adiknya.


"Bagaimana tidak memaksakan diri jika pekerjaan begitu banyak, Kak? Kalau begini terus bisa-bisa aku jadi robot," sahut Frisa dengan cemberut.


Faiz terkekeh. "Tapi Gavin selalu membantu kamu, Dek. Pekerjaan dia lebih berat bahkan saat kamu sakit dia juga terlihat sangat khawatir, semua pekerjaan kamu dia yang meng-handle," ujar Faiz yang membuat Frisa terdiam.


Memang benar Gavin selalu ada untuk dirinya bahkan Gavin sangat totalitas dalam bekerja dengan dirinya, makanya Frisa tidak ingin Gavin di gantikan oleh siapapun.


"Sekarang Gavin mana?" tanya Frisa yang tiba-tiba saja mencari keberadaan Gavin.


"Sedang ada pertemuan dengan kolega penting bersama papa dan mama," jawab Faiz.


Frisa mengangguk mengerti akibat dirinya sakit semua orang jadi khawatir. Frisa menjadi merasa bersalah tetapi semua ini bukan kemauannya.


"Olivia tahu Kakak ada di sini?" tanya Frisa menatap kembarannya.


"Sudah tahu, Dek. Dia titip salam untuk kamu katanya cepat sembuh," sahut Faiz dengan tersenyum.


"Salamin balik ya, Kak. Bilang Terima kasih atas do'anya. Aku jadi tidak sabar melihat Kakak menikah," ujar Frisa dengan tersenyum.


Faiz juga ikut tersenyum, begitupun dengan dirinya yang sudah tidak sabar ingin menikahi Olivia secepatnya. "Tidak lama lagi, Dek. Setelah kamu pulang dari Singapura persiapan pernikahan Kakak akan segera dilakukan," ujar Faiz dengan bahagia.


"Asikk...Aku do'akan Kakak dan Olivia akan bersama selamanya sampai maut memisahkan. Berikan Frisa keponakan yang lucu juga ya, Kak!" ujar Frisa dengan tersenyum yang membuat Faiz terkekeh ia jadi memikirkan malam pertamanya dengan Olivia nanti. Duh kenapa Faiz sudah deg-degan seperti ini hanya karena memikirkan malam pertamanya dengan Olivia? Jika sudah waktunya tiba apakah dirinya tidak semakin deg-degan, memikirkan itu membuat Faiz menelan ludahnya sendiri.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Frisa dengan bingung karena perubahan sikap kakaknya secara tiba-tiba.


"T-tidak apa-apa," jawab Faiz dengan terbata entah mengapa ia menjadi malu sendiri walaupun Frisa tak mengetahui isi pemikirannya.


__ADS_2