Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 48 (Pernikahan Clara & Roby)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Hari sudah berganti begitu cepat, pernikahan Clara dan Roby di lakukan pada hari ini. Dengan sangat malas Rania menghadiri pernikahan adik tirinya, tetapi ia harus tetap datang karena tidak ingin terlihat buruk di depan publik. Jika Clara dan Agni bisa berpura-pura bersikap baik maka Rania juga bisa melakukannya.


Pesta pernikahan Clara dan Roby di lakukan pada malam hari. Rania dan juga Ferdians tampil dengan sangat elegan malam ini hingga keduanya menjadi pusat perhatian apalagi perut Rania yang sudah terlihat sedikit membesar sekarang. Bidik kamera selalu memotret keduanya hingga Rania merasa tak nyaman.


Tahu jika istrinya tak nyaman Ferdians langsung membawa Rania duduk. Ferdians melepaskan jas miliknya dan ia pakaikan pada Rania.


"Biar kamu tidak kedinginan, Sayang!" ujar Ferdians dengan cepat sebelum Rania protes kepada dirinya.


"Terima kasih!" ujar Rania dengan tersenyum tipis.


"Sama-sama, Sayang!" sahut Ferdians dengan mengelus rambut Rania lembut.


"Mau makan apa, Sayang? Biar Mas ambilkan," tanya Ferdians dengan pelan.


"Salat buah," jawab Rania yang membuat Ferdians mengangguk.


"Sastra, jaga Rania sebentar saya mau ambil salat buah untuknya," ujar Ferdians memerintahkan Sastra yang memang ikut bersama dengan mereka.


"Baik, Tuan!" jawab Sastra dengan tegas.


Sastra juga ikut bersama dengan mereka, ia terus mengawasi tempat ini karena ia tidak ingin kecolongan yang bisa membahayakan Rania dan juga kandungannya.


Sastra melihat Citra datang bersama dengan Alex yang membuat Sastra mengepalkan kedua tangannya. Hatinya memanas saat melihat Citra tampil anggun dengan dres yang sangat cocok dengan Citra.


"Selamat malam Nona Rania dan juga Tuan Sastra," ujar Alex dengan tersenyum ramah yang membuat Sastra semakin panas tak karuan.


"Selamat malam!" jawab Rania dengan cuek.


"Malam!" jawab Sastra dengan datar.


"Boleh kami duduk di sini?" tanya Alex yang membuat Sastra menatap Rania dan semoga Rania mengerti tatapannya, Sastra seakan mengatakan jika Rania tidak usah memperbolehkan Alex dan Citra duduk bersama dengan mereka.


"Silahkan!" ujar Rania yang membuat Sastra menghela napasnya dengan berat.


"Terima kasih!" ujar Alex dan Citra bersamaan.


Tak lama Ferdians datang dengan membawakan salat buah pesanan istrinya, ia menatap datar ke arah Alex dan juga Citra.


"Ooo ini suami anda, Nona? Saya melihatnya di televisi 5 minggu yang lalu saat kalian mengumumkan kehamilan nona Rania," ujar Alex yang membuat Ferdians menatap Alex dengan tajam.


"Ya, saya suaminya! Kenapa?" tanya Ferdians dengan tajam.


"Tidak ada, Tuan. Hanya saja anda sangat mirip dengan seseorang yang saya kenal," jawab Alex dengan tegas.


"Mirip dengan seseorang?" tanya Ferdians dengan memicingkan matanya.

__ADS_1


"Ahh tidak usah dipikirkan mungkin anda dan orang tersebut memang mirip," ujar Alex dengan tenang.


Citra mendekat ke arah telinga Alex. "Pak saya ke kamar mandi dulu ya!" ujar Citra dengan pelan.


"Saya antar!" ujar Alex dengan tegas dan ingin berdiri tetapi Citra menahannya.


"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri," ujar Citra dengan tegas.


"Baiklah hati-hati," ujar Alex dengan tegas.


"Iya, Pak!" jawab Citra dengan tersenyum.


"Sebentar ya Bu, Pak!" ujar Citra yang membuat Ferdians dan Rania mengangguk sedangkan Sastra hanya diam menatap Citra.


"Ini salad buahnya, Sayang. Kamu mau Mas suapi?" tanya Ferdians.


"Iya!" jawab Rania dengan singkat.


Ferdians menyuapi Rania dengan perlahan yang membuat Alex jengah karena harus melihat keromantisan rekan kerjanya dengan samg suami.


"Sial! Mereka sangat menyebalkan sekali," ujar Alex di dalam hati.


"Tuan, Nona, saya ingin ke kamar mandi sebentar!" ujar Sastra yang membuat Rania menatap Sastra dengan dingin seakan ia mengerti jika Sastra ingin menyusul Citra.


"Jangan lama!" ujar Ferdians yang membuat Sastra mengangguk.


"Baik, Tuan. Tuan Alex saya tinggal sebentar nanti kita mengobrol tentang bisnis kita bersama," ujar Sastra agar Alex tidak curiga.


Setelah kepergian Sastra. Rania menatap Alex dengan serius.


"Saya penasaran seberapa mirip suami saya dengan orang yang kamu kenal. Bisa berikan foto orang tersebut?" tanya Rania dengan serius.


"Nona mau melihatnya? Oke saya beritahu sekarang Tapi beliau masih dalam penjara karena di tuduh seseorang telah membunuh istrinya," ujar Alex menatap tajam ke arah Rania seakan ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Rania.


"Mana!" ujar Rania dengan tegas.


"Sebentar!" ujar Alex dengan datar.


Alex mengambil ponselnya dan membuka galeri ponselnya mencari foto om-nya. "Ini!" ujar Alex memberitahu.


Rania melihatnya matanya melotot tak percaya melihat foto tersebut dan Ferdians memang sangat mirip dengan pria yang berada di foto ini dan Rania sangat mengenalnya.


"Om Eric!" gumam Rania tak percaya. Kenapa Rania tidak terpikir ke sana?


Rania menatap Ferdians dengan tatapan tajam. "Ada hubungan apa kamu dengan om Eric?" tanya Rania dengan tajam.


"Hubungan apa, Sayang? Om Eric siapa?" tanya Ferdians dengan bingung.


"Lihat ini! Kamu jangan mempermainkan saya Ferdians!" ujar Rania dengan tajam bahkan menatap Ferdians dengan sorot yang begitu dingin.


Ferdians melihat ke arah foto yang di tunjukkan oleh Alex. "Kenapa aku bisa sangat mirip dengan pria itu?" tanya Ferdians dengan terkejut.

__ADS_1


Alex menyimpan ponselnya kembali ia hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Ferdians. "Bukankah ini sangat kebetulan yang sangat menarik?" tanya Alex dengan terkekeh.


"Ada hubungan apa kamu dengan om Eric?" tanya Rania dengan tajam pada Alex.


"Dia? Dia adalah om saya! Saya kembali untuk membalaskan semua apa yang telah terjadi pada om saya. Bukankah keluarga Danuarta telah membuatnya menderita? Jika bukan karena saya mungkin perusahaan om saya juga sudah bangkrut karena kejahatan Danuarta yang tak berbelas kasih dengan sahabatnya sendiri," ujar Alex dengan tajam.


"Brengsek! Anda mencoba menipu saya, Alex! Dan saya tidak mudah kamu tumbangkan!" ujar Rania dengan tajam.


Alex terkekeh. "Tujuan utama saya bukan anda, Nona! Tapi Doni dan Ben! Bukankah anda sangat membenci mereka? Jadi, biarkan saya menghancurkan mereka," ujar Alex dengan tenang.


"Anda..."


Ferdians memegang tangan istrinya agar tidak berbuat keributan di tempat ini karena banyak kamera yang selalu mengawasi mereka.


"Anda tidak bisa menyentuh mereka, Tuan! Jangan main-main dengan keluarga Danuarta!" ujar Ferdians dengan tejam.


Alex terkekeh. "Kita lihat saja nanti!" ujar Alex berdiri dari duduknya dan meninggalkan Rania juga Ferdians yang menatap tajam ke aesh Alex.


"Apa yang dia inginkan? Sepertinya dia sangat membahayakan, Sayang. Kamu jangan dekat-dekat dengannya. Putuskan saja kerjasama kalian! Mas tidak mau kamu dan kandungan kamu kenapa-napa," ujar Ferdians dengan tegas.


"Kenapa kamu dan pembunuh itu bisa sangat mirip?" tanya Rania dengan tajam.


"Aku tidak tahu! Aku juga bingung, Sayang!" ujar Ferdians yang membuat Rania menghela napasnya dengan berat. Tidak mungkin Ferdians anak dari seorang pembunuh mamanya, kan?


****


Clara dan Roby mengawasi Rania dan juga Ferdians sejak tadi. Walaupun keduanya masih berada di pelaminan tetapi tatapan Clara begitu sangat tajam.


"Pelayan kemari!" ujar Clara dengan cepat.


Pelayan hotel langsung menghampiri Clara dan juga Roby. "Ada apa, Nona?" tanya pelayan tersebut dengan bingung.


"Campurkan ini ke minuman dan berikan pada perempuan berbaju putih yang memakai jas suaminya itu," bisik Clara agar tidak ada yang mendengar ucapannya selain suaminya.


"T-tapi, Nona..."


"Tidak ada tapi-tapian kamu akan mendapatkan bayaran mahal setelah kamu berhasil membuat wanita itu meminum minuman yang sudah kamu campurkan ini," ujar Clara dengan tegas.


"Sudah lakukan saja apa yang diinginkan istri saya," ujar Roby dengan tegas.


Roby mengambil sesuatu di belakangnya. Sebuah amplop yang lumayan tebal ia berikan ke pelayan tersebut.


"Tapi jika terjadi apa-apa jangan libatkan saya!" ujar pelayan tersebut dengan takut.


"Iya, Sudah sana!" ujar Clara dengan kesal.


"Baik, Nona!"


Clara bertos ria bersama Roby. Clara menatap mamanya, ia mengangkat tangannya pertanda jika rencana mereka sudah mulai berjalan.


"Sebentar lagi kamu akan kehilangan kedua anak kamu Rania!"

__ADS_1


__ADS_2