Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 181 (Pernikahan Faiz & Olivia)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Hari yang sudah sangat di nantikan oleh Faiz akhirnya datang juga. Dimana pernikahannya dengan Olivia akan terjadi hari ini, pernikahan impiannya dengan Olivia, pernikahan yang sangat mewah sekali karena pernikahan ini adalah pernikahan anak pertama dari Rania dan juga Ferdians, dan juga cucu pertama dari Ben dan juga Ana serta Eric dan Gista.


Gedung di mana acara akad nikah dan pesta pernikahan Faiz dan Olivia sudah di jaga ketat oleh para bodyguard, tak ingin terjadi sesuatu dan membuat pernikahan ini gagal karena bisa saja banyak yang tidak menyukai keluarga mereka maka Ferdians memperketat penjaga di gedung hotel ini.


Keluarga Danuarta serta Eric dan juga Gista sudah datang ke gedung hotel ini dan ternyata pihak dari Olivia juga sudah datang.


Bagi Olivia ini memang pernikahan yang sangat mewah dan membahagiakan juga untuknya tetapi hatinya masih sangat sesak karena bukan ayahnya yang akan menikahkannya pagi ini, mungkin banyak yang membicarakannya saat ini. Tetapi Olivia tak memikirkan itu, hatinya benar-benar sangat sedih karena ini adalah sesuatu yang terjadi seumur hidup, ia sudah membayangkan ayahnya yang akan menikahkannya dengan Faiz ternyata tidak, orang asinglah yang akan menikahkannya saat ini. Tak ingin semua orang melihat kesedihannya Olivia mencoba tidak menangis sekarang, ia menahan tangisannya saat ini dengan menggenggam tangannya sendiri mencoba tegar dengan takdir hidupnya.


Faiz yang melihat kesedihan di mata calon istrinya, ia menggenggam tangan Olivia yang membuat Olivia tersentak. Senyuman Faiz menular kepada dirinya hingga ia juga ikut tersenyum menatap Faiz. Genggaman tangan Faiz sedikit membuat Olivia tenang.


Rio menatap anaknya, ada sesak yang begitu dalam. Seharusnya ia yang menikahkan Olivia sekarang, menjabat tangan Faiz dengan erat hingga ijab kabul itu terdengar keras. Tetapi ia hanya bisa diam dan melihat anaknya akan di nikahkan oleh orang lain sebagai wali hakim karena ia tidak bisa menikahkan Olivia.


Faiz sudah menjabat tangan pak penghulu di mana penghulu tersebut adalah seseorang yang sudah menjadi wali hakim di pernikahannya dan Olivia. Faiz melihat ke arah mertuanya, saat Rio mengangguk membuat Faiz juga membalas anggukan mertuanya.


Suara ijab kabul sudah terdengar dan dengan satu tarikan napas akhirnya Faiz menjadikan Olivia sebagai istrinya. Kata sah terdengar dengan tegas dan ramai, yang membuat Faiz benar-benar sangat lega sekali.


Olivia tak bisa lagi membendung tangisannya, saat ijab kabul sudah selesai. Begitu pun dengan Rio dan Anjani, keduanya juga tak bisa menahan tangisannya, rasa bersalah karena sudah menjadi orang tua yang gagal membuat hati keduanya begitu sesak.


Rania memeluk Anjani dari samping, ia sangat tahu bagaimana Anjani karena sudah sejak lama juga Anjani menjadi sekretarisnya. Rania sangat tahu bagaimana hati Anjani dulu, sejak Rio tak menginginkan Anjani sebagai istrinya.


Para tamu sudah mulai berbisik-bisik tetapi melihat tatapan tajam Rania mereka tak lagi berani berbicara. "Hentikan tangisan kamu, Anjani. Semua orang sudah mulai berbisik-bisik tentang kalian," ujar Rania dengan tegas, ia tidak ingin Anjani maupun Rio merasa malu.


Anjani menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap sekelilingnya yang menatap dirinya. Anjani menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan perlahan agar ia merasa tenang, begitu pun dengan Rio yang sudah tidak menangis lagi walaupun di dalam hatinya ia masih menangis.


Sedangkan Olivia masih di tenangkan oleh Faiz. "Sudah, Sayang. Ini adalah hari bahagia kita. Kamu jangan sedih terus ya," gumam Faiz dengan pelan.


Olivia menganggukkan kepalanya, dan akhirnya acara akad nikah mereka berjalan dengan lancar walaupun di hiasi tangis kesedihan dari keluarga Olivia.


Kecupan hangat yang mendarat di kening Olivia membuat Olivia yang sudah berstatus sebagai istri dari Faiz Danuarta Abraham saat ini merasa haru dan juga bahagia walaupun separuh hatinya juga terluka. Kecupan penuh kasih, dan cincin yang tersemat di jemarinya sedikit melupakan rasa sedihnya saat ini.

__ADS_1


Tangisan sedih berubah menjadi tepuk tangan dan senyuman bahagia di antara kedua keluarga dan para undangan yang hadir untuk menyaksikan pernikahan antara Faiz dan juga Olivia.


Cassandra yang berada di samping Rajendra tersenyum bahagia. Namun, senyuman ini banyak tersirat rencana di otaknya yang sudah ia susun rapih untuk menghancurkan keluarga Danuarta tanpa sisa.


"Pengen juga pernikahan mewah seperti ini," gumam Cassandra yang sedikit membesarkan suaranya agar Rajendra mendengarnya.


Rajendra terlihat malas namun pria itu tersenyum manis. "Kamu tunggu saja pernikahan kita akan lebih mewah dari pernikahan Faiz dan Olivia, Sayang!" ujar Rajendra dengan tersenyum yang membuat Cassandra melayang karena ia pikir Rajendra benar-benar sudah mencintainya dan tak bisa kehilangannya. Nyatanya semua itu hanya permainan Rajendra untuk membuat Cassandra menderita.


"Benar ya, Mas! Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu datang!" ujar Cassandra dengan tersenyum manis.


"Tentu saja, Sayang. Mana mungkin pernikahan kita biasa-biasa saja," ujar Rajendra dengan terkekeh.


"Ya pernikahan kita akan menjadi sejarah yang sangat luar biasa Cassandra. Sejarah yang tidak bisa kamu lupakan sama sekali nantinya," gumam Rajendra di dalam hati.


Cassandra sudah sangat senang mendengarnya, seakan semua rencana yang tersusun di otaknya akan berjalan dengan lancar tetapi Cassandra tidak tahu berhadapan dengan siapa sekarang, seekor kucing ingin memangsa singa tentu saja kucing itu akan mati dengan sangat mudah bukan?


Rajendra menatap keponakannya yang sudah bersanding di pelaminan. Ada rasa sesak yang menghimpitmu dadanya saat ini karena bukan dirinyalah yang berada di pelaminan bersama dengan Olivia, tetapi Rajendra bukan tipe orang yang mudah dendam dengan saudaranya sendiri, ia sudah mengikhlaskan Olivia bersama dengan Faiz. Toh ini juga salahnya yang sangat lama mengatakan perasaannya terhadap Olivia hingga Olivia sudah di lamar oleh keponakan sendiri.


****


Gavin mengusap sudut bibir Frisa dengan ibu jarinya yang membuat Frisa mematung, dulu ia sering di perlakukan seperti ini oleh Gavin karena Gavin adalah bodyguard-nya, sejak dulu apapun yang bersangkutan dengan Frisa Gavin akan selalu ada bahkan saat membeli pembalut pun Gavin lakukan hingga ia sangat hafal tanggal di mana Frisa datang bulan, ukuran pakaian Frisa juga Gavin sangat hafal, dan juga makanan yang di sukai maupun tidak di sukai Frisa. Tetapi kali ini kenapa rasanya sangat berbeda, semua perlakuan Gavin membuat detak jantungnya tidak aman, bahkan wajahnya memanas hanya karena Gavin menatapnya.


"Es krim yang ini tidak usah di makan, Nona!" ujar Gavin menyingkirkan es krim tersebut.


"Kenapa tidak boleh di makan? Ini sudah mau habis," ujar Frisa dengan tajam. "Siniin es krimnya!" ucap Frisa mengambil es krim dari tangan Gavin begitu saja membuka bungkus es krim tersebut tanpa membaca rasanya.


"Uwekkk... Durian!" ujar Frisa menutup hidungnya dan menyingkirkan es krim rasa durian dari tangannya.


"Kan sudah saya katakan jangan makan es krim yang ini, Nona. Anda tidak suka," ujar Gavin dengan sabar.


Apapun yang bersangkutan dengan durian Frisa tidak bisa memakannya, pernah sekali Frisa ingin mencobanya dan berakhir dengan Frisa yang muntah. Dari situlah Frisa tak pernah suka dengan durian.


Gavin mengambil tisu basah yang ada di meja, ia menarik tangan Frisa dengan perlahan dan mengelap tangan Frisa agar bersih dan tak bau durian. Dan Gavin menyingkirkan es krim rasa durian itu jauh-jauh dari Frisa.


"Mau minum?"

__ADS_1


"Iya, minum jus jeruk aja," ujar Frisa dengan lirih karena ia sudah merasa mual mencium bau durian.


Gavin mengambilkannya dengan telaten. Tak jauh dari mereka ada Sastra dan Citra yang melihat kedekatan keduanya.


"Mas di lihat-lihat Gavin dan Frisa sangat cocok," ujar Citra. "Andai saja Frisa yang akan menjadi menantuku, aku pasti bahagia sekali," ujar Citra dengan mengkhayal.


"Jangan mengkhayal terus, Sayang. Gavin itu pengawal pribadi Frisa sama seperti Mas dulu kepada nona Rania," ujar Sastra mengingatkan istrinya.


"Is.. Mas tidak bisa melihat aku senang sedikit saja!" ujar Citra dengan kesal.


"Kita do'akan saja siapapun jodoh anak kita semoga itu yang terbaik," ujar Sastra dengan tegas.


"Aamiin!"


*****


Acara berjalan lancar sampai malam. Tampak sekali wajah Olivia benar-benar sangat lelah karena terus menyalami tamu yang hadir, ia sudah tahu berapa banyak tamu yang hadir tetapi ia tidak tahu rasanya sangat melelahkan seperti ini.


"Capek, Sayang?" tanya Faiz dengan lembut.


Olivia mengangguk dengan pelan. "Iya, Mas. Kaki aku pegel banget dari tadi berdiri," jawab Olivia dengan lirih.


"Mau masuk ke kamar duluan?" tanya Faiz menatap Olivia.


Mendengar kata kamar tiba-tiba saja membuat jantung Olivia berdetak sangat kuat. Ia sudah menjadi istri pasti dan tentu saja banyak kewajibannya sebagai istri Faiz terutama melayani Faiz di atas ranjang membayangkan itu membuat Olivia gugup.


"Kamu terlihat tegang sekali, Sayang. Kamu kenapa? Oo Mas tahu kamu pasti sedang memikirkan malam pertama kita, kan?" tanya Faiz dengan terkekeh.


"T-tidak! M-mana ada aku memikirkan itu!" elak Olivia dengan gugup.


"Hayoloh ngaku saja, Sayang. Mas juga sedang memikirkannya," ujar Faiz dengan jahil.


"Maaassss!" geram Olivia karena ia sangat merasa malu sekarang. Takut banyak orang yang mendengar perkataan Faiz tersebut.


Malam pertama? Bagaimana rasanya? Batin Olivia di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2