
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
"Selamat datang kembali ke tanah air Nona dan Tuan!" ucap Sastra dengan sopan saat menjemput majikannya di bandara.
"Terima kasih!" jawab Ferdians dengan tersenyum sedangkan Rania hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan kantor?" tanya Rania dengan tegas.
"Sangat baik, Nona. Anda tidak perlu khawatir," jawab Sastra dengan tersenyum tipis.
"Sebaiknya Nona dan Tuan segera masuk mobil saya tahu kalian berdua sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang," ujar Sastra yang di angguki oleh Ferdians.
"Benar sekali. Rasanya tubuh ini hampir remuk. Ayo Sayang kita masuk mobil," ujar Ferdians dengan lembut dan tangan yang menggandeng tangan Rania dengan mesra.
Sastra melihat Rania dan Ferdians dari belakang setelah mereka berjalan. Tumben sekali nona-nya ini tidak marah saat Ferdians memanggil dengan sebutan sayang bahkan menggandeng tangan nona-nya begitu mesra. Apakah terjadi sesuatu di Yunani selama seminggu? Sastra ketinggalan perkembangan hubungan keduanya. Tetapi Sastra tak mau terlalu ikut campur karena nasib percintaannya pun sudah hancur beberapa tahun lalu. Menyesal? Sastra tidak bisa mengungkapkannya karena ada dua tanggungjawab yang ia harus jalani dulu hingga mengorbankan tanggungjawab lainnya.
Sastra masuk ke dalam mobil, ia yang akan menyetir untuk Ferdians dan juga Rania bahkan sang nona sudah tertidur dan bersandar di bahu Ferdians.
"Sepertinya hubungan anda dan nona Rania terlihat sedikit membaik!" ucap Sastra saat mobil yang ia kendarai sudah berjalan.
"Tidak juga. Terkadang sifatnya masih seperti biasanya, namun bisa juga ia menurut dengan kata-kata yang saya keluarkan," jawab Ferdians apa adanya karena memang seperti itu hubungannya dengan Rania.
"Saya yakin cepat atau lambat nona Rania akan berubah," ujar Sastra dengan sangat yakin.
"Do'akan saja mungkin dengan hamil sifat Rania perlahan mulai berubah," ujar Ferdians dengan menatap Rania yang sudah tertidur pulas.
"Saya do'akan Tuan!" ujar Sastra
"Terima kasih!"
"Iya, Tuan!"
Ferdians membenarkan posisi tidur Rania agar nyaman.
"Bagaimana dengan ibu?" tanya Ferdians yang mengkhawatirkan keadaan ibunya.
"Baik-baik saja, Tuan. Hanya saja kemarin nyonya Agni ingin bertemu dengan ibu Heera tetapi saya mencegahnya. Dan pada akhirnya beliau pergi dengan keadaan kesal," jawab Sastra.
Ferdians mengernyitkan kedua alisnya dengan bingung. "Mau apa dia menemui ibu? Sepertinya ada yang tidak beres. Bisa-bisa dia menyakiti ibu," ujar Ferdians dengan tajam.
"Saya pikir juga begitu, Tuan. Makanya saya sangat waspada saat beliau datang berkunjung untung saja diwaktu yang bersamaan tuan Ben menelepon nyonya Agni," ujar Sastra yang di angguki oleh Ferdians.
"Jangan biarkan wanita ular itu mendekati ibu!" ujar Rania dengan tegas dan dalam mata yang masih terpejam tentu saja itu membuat kedua pria yang ada di dalam mobil tersenyum.
"Baik, Nona!" jawab Sastra dengan tegas.
Setelah mendapatkan jawaban dari Sastra, Rania kembali tertidur dengan nyenyak. Lelah yang ia rasakan saat ini membuat Rania ingin tertidur sajasaja bahkan pelukan Ferdians membuat tidurnya semakin nyenyak.
__ADS_1
****
Ferdians menggendong Rania dengan perlahan setelah mereka sampai di rumah Rania. Jika Ferdians sudah mempunyai banyak uang maka ia juga akan membelikan rumah untuk Rania sebagai ganti mahar yang ia berikan dan tidak seberapa. Ferdians akan lebih giat bekerja setelah ia menjadi CEO perusahaan Danuarta. Walaupun itu perusahaan masih punya Rania dan keluarganya tetapi Ferdians akan bekerja dan menghasilkan uang sendiri.
Heera menghampiri anaknya dengan wajah yang teramat senang karena ia sangat merindukan Ferdians dan juga Rania. Di tinggalkan selama seminggu sudah seperti setahun bagi Heera tetapi jika anak dan menantunya bahagia maka Heera juga akan bahagia.
"Rania sudah tidur ya, Nak?" tanya Heera dengan tersenyum.
"Sudah, Bu. Perjalanan kali ini sangat memakan waktu dan mungkin Rania sangat lelah. Ibu bagaimana kabarnya? Sehat, kan?" tanya Ferdians.
"Alhamdulillah sehat Ferdians. Suster Ana sangat baik mengurus ibu apalagi Sastra," ujar Heera dengan tersenyum.
"Alhamdulillah... Ferdians ke kamar dulu ya, Bu! Nanti kita cerita lagi. Ada banyak oleh-oleh yang dibelikan Rania untuk Ibu," ujar Ferdians yang membuat Heera tersenyum.
"Seharusnya Rania tidak perlu repot-repot," gumam Heera.
"Dia yang ingin, Bu! Nanti koper-koper berisi oleh-oleh untuk Ibu akan di bawa oleh Sastra. Nanti kalau Rania memberikannya ke Ibu terima saja agar hatinya senang! Ibu adalah pengganti mamanya yang sudah meninggal," ujar Ferdians yang membuat hati Heera tersentuh.
"Dia baik sekali. Kamu beruntung menikah dengannya! Ibu mohon cari pekerjaan yang bagus ya, Nak. Biar nanti kamu bisa membahagiakan Rania dengan uang kamu," ujar Heera dengan mata berkaca-kaca.
"Pasti, Bu!"
"Ferdians ke kamar ya, Bu!"
Heera menganggukkan kepalanya. Ia menatap Ferdians dengan sendu. "Maafkan ibu, Nak. Seandainya dulu ibu tidak...."
"Ibu Heera, ayo minum obat. Biar Ibu cepat sembuh," ujar suster Ana yang di angguki oleh Heera.
Heera di tuntun oleh Ana menuju sofa untuk meminum obat. Sebenarnya Heera sudah bosan dengan obat-obat ini tetapi semangatnya kembali datang ketika menatap Rania.
****
Ferdians terkekeh melihat kelakuan Rania yang seperti ini kepadanya, ia menepuk punggung Rania dengan pelan yang semakin membuat Rania terasa nyaman.
"Ferdians!" panggil Rania dengan pelan.
"Iya, Sayang!" jawab Ferdians dengan lembut.
"Saya lelah sekali," gumam Rania dengan lirih.
"Tidurlah!" ujar Ferdians dengan mengecup kening Rania dengan lembut.
Rania menangguk dengan mata yang terpejam. "Nanti bangunkan saya! Saya ingin memberikan oleh-oleh untuk ibu," ujar Rania.
"Iya. Kamu tidur dulu ya!" sahut Ferdians dengan pelan.
"Ferdians!"
"Kenapa istriku?"
"Ck...Jangan terlalu lebay! elus kepala saya sebentar! Tiba-tiba pusing!" ujar Rania dengan sedikit kesal.
__ADS_1
Ferdians terkekeh tetapi dengan senang hati ia mengelus kepala Rania bahkan memijat kepala istrinya dengan perlahan.
Cup....
"Ciuman ini biar sakit kepalanya hilang," gumam Ferdians dengan lembut.
"Jangan mencari kesempatan!" gumam Rania dengan datar.
"Biarkan saja! Ciuman dariku bukan ciuman biasa, Sayang. Sudah tidur! Ibu juga sudah tidak sabar ingin mengobrol denganmu!" ujar Ferdians mengelus rambut Rania dengan lembut.
"Hmmmm..."
****
Rania sudah segar kembali ketika ia bangun tidur dan langsung mandi begitupun dengan Ferdians yang memang sudah bangun dan mandi duluan.
"Sini aku saja!" ucap Ferdians mengambil ahli hair dryer yang berada di tangan Rania.
"Saya saja!" ujar Rania dengan datar.
"Aku saja! Kamu tinggal duduk dan nikmati saja," ujar Ferdians dengan tegas.
"Ck... Yang benar! Jangan lama saya ingin bertemu dengan ibu," ujar Rania dengan datar.
"Tenang saja, Rania!"
Ferdians mengeringkan rambut Rania dengan mencuri pandang ke arah istrinya dari balik kaca rias.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Rania dengan galak.
"Cantik!" jawab Ferdians dengan tersenyum.
Ferdians menunduk dan sedikit menaikan wajah istrinya hingga ia leluasa mencium bibir Rania.
"Oke... Nyonya Ferdians! Ini sudah selesai! Ada yang bisa saya bantu lagi? Seperti memakaikan pakaian begitu?"
"Yakkkk... Ferdians!!!"
"Keluar kamu dari kamar!"
"Hahaha kenapa wajahmu memerah, Sayang. Kamu malu ya?"
"Ferdians keluar sekarang atau saya lempar wajah kamu dengan sendal!"
"Hahaha... Ampun Rania! Tapi sungguh kamu sangat cantik sekali!"
"FERDIANS!!"
"Iya-iya aku keluar!"
Cup....
__ADS_1
Ferdians kembali mencuri ciuman di pipi Rania setelah itu ia keluar kamar dengan berlari. Sedangkan Rania menyentuh pipinya yang di cium Ferdians perlahan bibirnya melengkung tipis.
"Apa yang kamu pikirkan, Rania?! Kamu tidak boleh menyukainya!"