
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rio mengerang memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia melihat ke samping kirinya dan betapa terkejutnya Rio saat melihat ada wanita yang tertidur di sampingnya, bahkan wanita itu sudah terbangun dengan air mata yang keluar membasahi pipinya. Ada apa ini? Kenapa ia bisa bersama dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal? Tapi tunggu... Bukankah wanita yang berada di sampingnya ini adalah sekretaris Rania?
Rio melihat tubuhnya di balik selimut, matanya melotot saat ternyata ia tidak memakai pakaian sama sekali. Pikiran Rio sudah berkelana entah kemana. Tidak...tidak mungkin ia telah memperkosa Anjani, kan?
"Apa yang terjadi?" tanya Rio dengan suara yang tercekat.
Anjani hanya diam, pandangannya juga terlihat kosong yang membuat Rio langsung menduga apa yang sebenarnya terjadi. Rio mencoba mengingat semuanya tetapi dirinya hanya ingat datang ke club dan banyak minum minuman keras untuk menghilangkan rasa suntuknya.
"Anjani jawab! Kita tidak melakukan apapun, kan?" tanya Rio dengan cemas, ia berharap semua pikiran buruknya tidak terjadi kenyataan.
Anjani melihat ke arah Rio dengan pandangan yang terluka. "Saya tahu kamu mabuk dan kamu tidak ingat apapun. Tapi yang harus kamu tahu, kamu sudah merenggut sesuatu yang sangat berharga dalam hidup saya. Sekarang bagaimana saya menjalani hidup?" ujar Anjani dengan mata yang penuh luka.
"S-saya tidak tahu apa yang saya lakukan!" ujar Rio dengan berdecak kesal.
Ia menjabat rambutnya dengan keras, Rio berusaha mengingat semuanya tetapi Rio sama sekali tidak mengingatnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Tak mungkin ia menikah sekarang! Ia tidak mencintai gadis yang berada di sampingnya ini.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Rio dengan bingung.
"Kamu harus tanggungjawab Tuan Rio! Bagaimana jika saya hamil?" tanya Anjani penuh ketakutan.
Rio mengacak rambutnya dengan frustasi. "Saya tidak mungkin menikahi kamu. Begini saja, saya akan memberikan uang berapapun yang kamu mau, jika kamu hamil anak saya segera kamu gugurkan kandungan kamu. Bagaimana?" ujar Rio dengan wajah yang begitu panik.
Anjani menatap Rio dengan penuh luka. Ia tersenyum miris saat Rio ternyata tak mau tanggungjawab terhadap apa yang dilakukan pria itu semalam.
"Simpan saja uangmu, Tuan!" ujar Anjani dengan miris.
Anjani mengambil pakaiannya yang sudah berceceran di lantai. Dalam diam Anjani memakai pakaiannya walaupun sudah robek, Anjani tetap memakainya.
Rio menatap Anjani dengan pandangan yang tidak bisa di artikan, ia tidak mungkin menikah dengan Anjani. Kesalahan satu malam yang mereka lakukan tak akan membuat Anjani hamil, kan?
"Anjani tunggu! Beritahu saya nomor rekeningmu! Anggap saja yang terjadi semalam adalah sebuah kecelakaan, saya akan bayar dengan harga yang sangat fantastis jika kamu tidak akan mengungkit masalah ini lagi," ujar Rio dengan pikiran yang berkecamuk.
Anjani menatap tajam ke arah Rio. "Saya bilang simpan saja uang anda, Tuan! Saya bukan wanita murahan yang bisa anda bayar untuk memuaskan n*fsu anda!" ujar Anjani dengan tajam.
Dadanya bergemuruh hebat, ia menyesal pernah menyukai Rio! Ternyata Rio bukanlah lelaki baik. Anjani bersumpah akan melupakan Rio!
Dengan langkah terseok-seok Anjani keluar dari kamar Rio dengan perasaan yang begitu sangat sakit.
Sedangkan Rio, setelah kepergian Anjani lelaki itu menjambak rambutnya sendiri dengan berteriak begitu kencang.
"ARGHHHH... APA YANG SUDAH AKU LAKUKAN? AKU SUDAH MERENGGUT KESUCIAN ANJANI!" teriak Rio marah kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
****
Rania bangun dari tidurnya, ia langsung mengecek suhu tubuh Ferdians yang semalam kembali panas. Tampak Rania bernapas lega kala suhu tubuh Ferdians kembali normal.
Semalam juga ia memanggil dokter keluarga ke rumahnya dan dokter tersebut mengatakan jika Ferdians baik-baik saja setelah memeriksa Ferdians, suaminya ini hanya kelelahan.
Ferdians membuka matanya saat merasakan sentuhan Rania berada di wajah dan lehernya. Pemandangan yang begitu sangat indah membuat Ferdians melengkungkan senyuman yang sangat manis.
"Ada bidadari," gumam Ferdians dengan pelan dan masih di dengar oleh Rania.
"Apa?" tanya Rania dengan memicingkan matanya.
"Ada bidadari, Sayang. Dan ternyata istriku sendiri," ujar Ferdians dengan tersenyum.
Rania mencubit perut Ferdians yang membuat lelaki itu meringis. "Sayang, sakit!" ujar Ferdians meringis.
"Bodoamat!" ujar Rania dengan ketus.
Ferdians memeluk Rania bahkan meletakkan kepalanya di atas dada Rania.
"Awas Ferdi..." Rania kembali merasakan perutnya mual saat hanya memanggil Ferdians dengan sebutan nama yang membuat Rania kesal dengan dirinya sendiri. Kenapa harus seperti itu coba?
Ferdians terkekeh. "Anak-anak pintar!" puji Ferdians kepada calon kedua anaknya dan mengelus perut Rania dengan lembut.
"Saya mau bekerja, Mas! Bisa menyingkir dari tubuh saya sekarang?!" ujar Rania dengan datar.
"Tidak! Kamu di rumah saja!" ujar Rania dengan dingin.
"Aku sudah sehat, Sayang. Berkat kamu yang merawat Mas semalam tubuh Mas sudah kembali sehat seperti sebelumnya," ujar Ferdians dengan tegas.
"Terserah!" ujar Rania dengan datar padahal ia sangat ingin sekali menahan Ferdians agar beristirahat di rumah. Tetapi seperti biasa, Rania dan egonya masih terlalu tinggi untuk berkata seperti itu kepada Ferdians.
Cup...
Ferdians mengecup bibir Rania dengan lembut. "Terima kasih karena kamu telah merawat Mas semalam, Sayang. I love you, Nona Rania!" ujar Ferdians dengan tersenyum yang membuat Rania tersipu malu tetapi ia berhasil menutupi wahah tersipunya dengan wajah datarnya. Dan seperti rutinitas mereka setiap harinya akhirnya Ferdians dan Rania mandi bersama dan tentu saja mandi kali ini Ferdians tidak akan melepaskan Rania begitu saja.
****
Sastra sudah masuk bekerja hari ini, ia tak ingin berlama-lama di rumah sakit. Tubuhnya lebih terasa lelah jika dirinya hanya berdiam diri di rumah sakit yang membuat Sastra langsung kembali bekerja di kantor Rania.
"Selamat pagi, Nona!" ujar Sastra dengan ramah saat melihat Rania memasuki kantor.
"Pagi!" jawab Rania dengan wajah datarnya seperti biasanya.
"Apa kamu sudah bosan berada di rumah sakit hingga dengan santainya datang ke kantor?" tanya Rania dengan sengit. Walaupun begitu terbesit kata khawatir di benak Rania terhadap Sastra.
"Keadaan saya sudah membaik, Nona! Dan benar kata anda jika saya memang bosan berada di rumah sakit," jawab Sastra dengan tegas.
__ADS_1
"Baguslah pekerjaan sudah menunggumu!" ujar Rania dengan santai yang membuat Sastra tersenyum tipis. Ternyata nona-nya tidak berubah.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke litf untuk menuju ruangan keduanya yang berada di lantai atas.
"Saya dengar dari Liam jika tuan Ferdians sakit, Nona. Apa benar?" tanya Sastra.
"Hmmm... Tubuhnya sangat panas semalam dan ia memaksakan diri untuk bekerja hari ini," jawab Rania.
"Tuan seperti itu karena ingin membahagiakan Nona dengan uangnya sendiri," ujar Sastra yang membuat Rania menatap Sastra.
"Benarkah?"
"Benar, Nona. Tuan sendiri yang mengatakannya kepada saya. Sebenarnya dia malu karena tak bisa memberikan sesuatu kepada Nona malah uang Nona yang sering ke pakai maka dari itu ia bekerja keras sekali," ujar Sastra yang membuat Rania terdiam memikirkan Ferdians. Benarkah yang dikatakan Sastra?
Keduanya sudah di lantai atas. Rania menatap tajam ke arah meja Anjani yang masih kosong. Dimana gadis itu? Tak biasanya Anjani telat.
"Anjani belum datang?" tanya Rania dengan datar kepada Sastra.
"Saya tidak tahu, Nona. Anjani tidak memberikan kabar apapun!" jawab Sastra yang membuat wajah Rania berubah begitu dingin.
"Wati!" panggil Rania kepada karyawannya.
"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Wanita dengan menunduk sopan.
"Kamu tahu dimana Anjani?" tanya Rania dengan tegas.
"Tidak, Bu. Biasanya Anjani sudah duduk di kursinya tetapi pagi ini saya belum ada melihatnya," jawab Wati yang membuat Rania menghela napasnya dengan kasar.
"Ya sudah kamu kembali ke ruanganmu!" ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Bu!"
"Dimana Anjani? Tidak seperti biasanya dia seperti ini! Sastra hubungi Anjani sekarang, kita ada meeting penting yang membutuhkan Anjani suruh gadis itu cepat datang ke kantor," ujar Rania kepada Sastra.
"Baik, Nona."
"Tidak aktif, Nona!"
"Ke mana anak itu? Mau saya potong gajinya?"
***
Sedangkan orang yang Rania bicarakan sedang berada di dalam kamar mandi di kamarnya. Untung saja mamanya tidak ada di rumah, Anjani tidak tahu mamanya berada di mana mungkin sedang bersenang-senang bersama para berondong yang telah menyewa tubuhnya.
Di bawah guyuran air shower Anjani menangis sejadi-jadinya. Ia kotor! Ia sudah kotor sekarang! Dirinya sudah seperti mamanya yang menjadi pel*cur.
"Aargghhhh..."
__ADS_1
"AKU WANITA KOTOR! AKU BENCI DIRIKU! TUBUH INI SUDAH HINA YA TUHAN!"