Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 155 (Mencuri Ciuman)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


*****


Frisa sudah mulai disibukkan dengan pekerjaannya sebagai CEO baru di perusahaan kakeknya, sejak berjam-jam lamanya ia sudah berkutat dengan laptop di hadapannya, bahkan Frisa yang sangat susah untuk mengenal orang baru tidak ingin mempunyai sekretaris, ia hanya ingin Gavin lah yang merangkap menjadi apa saja di perusahaan ini.


Tok...tok....


Ketukan pintu membuat Frisa akhirnya mulai menatap ke arah pintu. "Masuk!" perintah Frisa dengan tegas.


Gavin membuka pintu dengan perlahan, ia menatap Frisa yang terlihat sangat lelah. "Sudah hampir jam makan siang, Nona. Sebaiknya anda istirahat saja dulu," ujar Gavin dengan tegas.


"Sedikit lagi selesai," sahut Frisa yang tak mau menunda pekerjaannya.


"Coba saya lihat! Mana yang belum selesai, Nona?" tanya Gavin yang berjalan di samping Frisa.


Gavin menatap laptop milik Frisa dengan sangat fokus. "Biar saya saja yang menyelesaikannya, Nona. Anda istirahatlah sebentar," ujar Gavin dengan perhatian karena Frisa sebelumnya belum pernah bekerja sesibuk ini.


"Ini tanggungjawab saya, Gavin. Harus saya yang mengerjakannya. Kamu pesan saja makanan saya ingin makan siang di ruangan saya saja," ujar Frisa dengan lelah.


"Baik, Nona. Anda mau makan siang dengan apa?" tanya Gavin menatap wajah Frisa.


Frisa juga melihat ke arah wajah Gavin. "S-saya mau bebek goreng dengan sambal terasi. Minumnya teh dingin dan satu lagi saya ingin es krim untuk mengembalikan mood saya setelah bekerja," ujar Frisa sedikit terbata karena wajahnya dan wajah Gavin yang sedang menunduk sangat dekat sekali.


"Es krim bisa di ganti yang lain, Nona!" ucap Gavin dengan tegas.


"Saya hanya mau es krim, Gavin!" ujar Frisa dengan menatap mata Gavin dengan tajam dan setelah itu tatapannya melunak ia ingin Gavin memberikan es krim kepada dirinya.

__ADS_1


Tak tega dengan tatapan Frisa yang begitu sangat menginginkan es krim akhirnya Gavin mengangguk setuju. "Baik saya akan menyuruh Cakra membawakan makan siang untuk kita berdua. Karena saya tidak ingin meninggalkan Nona di tempat baru seperti ini," ujar Gavin dengan tegas.


"Terserah kamu yang terpenting es krim ada untuk saya," ucap Frisa dengan cuek.


Gavin mengambil ponselnya ia segera menghubungi Cakra untuk membelikan makan siang untuk Frisa dan dirinya. Setelah selesai Gavin meletakkan kembali ponselnya di saku celananya. Ia duduk di hadapan Frisa dengan menatap Frisa dengan dalam.


Merasa Frisa sangat risih dengan rambutnya yang di gerai, Gavin kembali bangun. "Maaf, Nona!" ucap Gavin yang membuat Frisa terdiam saat Gavin memegang rambutnya dan mencepol rambutnya dengan sangat gampang.


"Jika begini anda tidak akan risih lagi, Nona!" ucap Gavin setelah selesai mencepol rambut Frisa.


"Terima kasih," ujar Frisa dengan pelan.


Gavin mengangguk dengan tersenyum setelahnya ia kembali duduk di hadapan Frisa dan tak ingin menganggu Frisa yang masih bekerja.


Gavin mengambil ponselnya, ia banyak mendapatkan pesan dari wanita yang membuat Gavin merasa kesal. Frisa tak sengaja melirik ke arah Gavin, pria itu terlihat fokus dengan ponselnya.


"Kamu sudah mempunyai kekasih?" ntanya Frisa tanpa melihat ke arah Gavin.


"Jika Nona memiliki kekasih katakan saja saya akan menjaga rahasia ini dengan baik," ujar Gavin yang membuat Frisa memicingkan matanya.


"Benar kamu bisa di percaya?" tanya Frisa dengan ketus.


"Apa selama ini saya tidak bisa dipercaya, Nona?" tanya Gavin dengan tegas.


Frisa menatap Gavin dengan serius. "Saya ingin bertanya sesuatu dengan kamu," ujar Frisa.


"Apa, Nona?" tanya Gavin.


"Apakah Melvin sudah mempunyai kekasih?" tanya Frisa memberanikan diri.

__ADS_1


"Melvin? Anda menyukai Melvin?" tanya Gavin tidak percaya.


"Cepat katakan saja jangan banyak bertanya!" ucap Frisa dengan tegas.


Gavin tampak menghela napasnya dengan pelan. Entah mengapa hatinya merasa kesal sekarang. Bagaimana mungkin Frisa menyukai Melvin karena sebenarnya Melvin adalah pria yang playboy tetapi memang tidak terlihat ketika ia sedang berada di lingkungan Danuarta.


"Jika saya mengatakan jika Melvin adalah pria playboy di luar sana apakah anda percaya?" tanya Gavin dengan mengangkat satu alisnya.


"Tentu saja tidak!" jawab Frisa dengan tegas.


"Jika begitu Nona cari tahu sendiri bagaimana Melvin di luar sana!" jawab Gavin dengan tegas.


Gavin sangat mengerti bagaimana watak para sahabatnya tersebut dan Gavin tidak ingin hati nonanya terluka karena Melvin. Melvin si pria humoris yang mampu memikat para wanita di luar sana yang membuat para sahabatnya menggelengkan kepalanya karena Melvin menerima wanita-wanita itu begitu saja tanpa protes ataupun menjauh.


*****


Setelah makan siang selesai Gavin keluar kembali dari ruangan Frisa. Ia tampak gelisah memikirkan Frisa yang menyukai Melvin. Hatinya benar-benar tidak rela jika Frisa bersama dengan Melvin.


"Sial kenapa aku jadi seperti ini?" monolog Gavin dengan mengusap wajahnya dengan kasar.


Sungguh Gavin tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang tak ingin melihat Frisa bersama dengan Melvin. Melvin memang bsik tetapi Melvin adalah pria playboy yang bisa saja menyakiti hati nonanya. Gavin tidak akan membiarkan itu terjadi, ia harus bisa membuat Frisa tidak menyukai Melvin lagi. Walaupun Frisa tak mengatakan secara gamblang jika ia menyukai Melvin tetapi Gavin mengerti bagaimana tatapan Frisa selama ini kepada Melvin, ia yang selalu menyangkal semuanya ternyata benar yang membuat Gavin tidak bisa fokus kali ini.


Waktu sudah berlalu begitu cepat hari ini. Gavin kembali ke ruangan Frisa untuk mengajak gadis itu untuk pulang, Gavin sudah mengetuk pintu berulang kali namun tak ada sautan dari Frisa sehingga Gavin memutuskan untuk masuk. Dan betapa Gavin terkejut saat melihat Frisa ternyata tertidur di kursinya.


Gavin menghampiri Frisa tak tega membangunkan Frisa, Gavin berinisiatif menggendong Frisa dengan perlahan. "Wajahnya begitu sangat terlihat lelah sekali, aku tidak tega membangunkannya sekarang. Lebih baik aku langsung membawa nona Frisa pulang saja sekarang," gumam Gavin melihat ke arah Frisa yang begitu tampak lelah sekali.


Gavin berjalan dengan menggendong Frisa banyak karyawan yang menyaksikan mereka tetapi tak berani bersuara karena wajah Gavin begitu sangat dingin sekarang. Gavin terus menggendong Frisa hingga ke parkiran perusahaan ini, dengan perlahan Gavin membuka pintu mobil dan menurunkan Frisa di kursi penumpang dan setelah memastikan Frisa aman barulah Gavin masuk ke dalam mobil.


Gavin melihat ke arah Frisa ia memasang seatbelt kepada Frisa. Gavin menelan ludahnya dengan kasar saat bibir Frisa begitu sangat menggodanya sekarang. Tanpa sadar Gavin semakin mendekat ke arah wajah Frisa hingga kedua bibir mereka menempel, Gavin menatap wajah Frisa dengan bibir yang masih menempel. Benar-benar menempel karena Gavin takut ketahuan oleh Frisa.

__ADS_1


"Maaf telah mencuri ciuman pertama anda, Nona!" gumam Gavin dengan lirih.


__ADS_2