
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...*****...
Semalam Frisa tidak bisa tidur dengan tenang, ada sesuatu yang ia pikirkan dengan sangat keras. Bahkan ia hanya berguling ke kanan dan ke kiri memikirkan hal itu sampai-sampai kepalanya terasa sakit. Hingga pagi menjelang pun Frisa tampak lesu.
"Pagi, Sayang!" sapa Rania dengan tersenyum.
"Pagi, Ma!" jawab Frisa tidak semangat sama sekali.
"Loh kenapa pagi-pagi seperti ini sudah tidak bersemangat padahal kemarin kan baru belanja banyak, di bayarin lagi sama om kamu," ujar Rania menatap anaknya dengan heran.
"Tidak apa-apa, Ma. Hanya kecapean saja terus tidak bisa tidur karena kakiku pegel banget semalam," jawab Frisa dengan tidak bersemangat tetapi ia memaksakan senyumannya.
"Masa sih?" ucap Faiz menatap adiknya.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Faiz dengan tersenyum saat Olivia mengambilkan sarapan untuk dirinya.
"Tidak percaya sekali," cibik Frisa dengan sinis yang membuat Faiz terkekeh.
"Eleh bilang aja iri sama kakak karena kamu belum dapat pengganti Melvin," ujar Faiz mengejek kembarannya.
Frisa terlihat kesal menatap kakaknya. "Siapa bilang?! Lihat ya sebentar lagi aku juga akan menikah," ujar Frisa dengan sengit.
Faiz dan Olivia terkekeh begitupun dengan Ferdians dan Rania. Yang membuat Frisa semakin kesal menatap keluarganya. Tetapi tidak dengan Gavin yang hanya diam saja, menjadi pendengar tanpa menimpali ucapan Frisa dan yang lainnya.
"Kenapa sih ketawain aku? Tidak percaya ya kalau sebentar lagi aku akan menikah?" tanya Frisa dengan kesal.
"Emang siapa calonnya?" tanya Ferdians dengan serius. "Kenapa tidak dikenalkan ke Papa dan mama?" tanya Ferdians lagi.
"Sabar dong, Pa. Tidak lama lagi pokoknya," jawab Frisa dengan tersenyum.
"Ya sudah Mama tunggu calon kamu ke rumah," ujar Rania dengan tegas.
Faiz mengangguk. "Duh Gimana cara dapatin calon suami secepatnya?" gumam Frisa di dalam hati.
Sejak tadi Gavin hanya diam menyimak percakapan keluarga Frisa. Entah mengapa Gavin gelisah mendengar jawaban Frisa. Siapa pria yang menjadi calon suami Frisa? Kenapa dia tidak tahu sama sekali tentang ini?
"Gavin ayo berangkat!" ujar Frisa dengan tegas.
"Baik, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.
__ADS_1
"Nyonya, Tuan, saya permisi," ujar Gavin dengan sopan.
"Assalamu'alaikum!" salam Frisa dan Gavin bersamaan.
"Wa'alaikumussalam!"
Frisa dan Gavin berjalan beriringan. Semuanya menatap ke arah Frisa dan juga Gavin. "Sayang, kamu tahu siapa calon suami Frisa? Kenapa anak kita terlihat yakin sekali jika sebentar lagi ia akan menikah," ujar Ferdians dengan serius.
"Tidak tahu, Mas. Frisa tidak ada cerita sama sekali. Apa Gavin yang akan menjadi calon suami Frisa?" sahut Rania.
"Entahlah! Ya sudah kita lihat saja nanti siapa yang menjadi suami Frisa," ujar Ferdians dengan pelan.
"Ma, Pa, aku berangkat kerja juga ya," ujar Faiz.
"Berangkat ya Ma, Pa!" ucap Olivia dengan tersenyum.
"Iya, Sayang. Jangan capek-capek kerjanya. Kamu bilang Mama kalau Faiz kasih pekerjaan yang berat-berat ya," ujar Rania dengan lembut.
"Hehe tidak capek sama sekali, Ma!" ucap Olivia dengan terkekeh karena sebenarnya semenjak meja kerjanya di pindah ke ruangan Faiz, ia lebih banyak melayani Faiz. Sungguh suaminya itu sangat mesum sekali bukan.
"Ya sudah pokoknya kalau Faiz kasih kamu pekerjaan yang berat-berat bilang ke Mama biar Mama hukum dia. Mama tuh sudah ke pengin gendong cucu," ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Mama tenang saja Faiz tidak akan memberikan pekerjaan ya berat kok," ujar Faiz dengan tegas yang membuat Olivia malu dengan pipi yang memerah, membayangkan ia hamil membuat Olivia menjadi tersenyum sendiri. Bagaimana jika nanti ia juga hamil kembali karena Faiz itu kembar?
"Iya, Mas!" sahut Olivia dengan lembut.
Seperti biasanya keduanya menyalami tangan Ferdians dan juga Rania. Sebentar lagi Faiz dan Olivia pindah ke rumah baru mereka karena rumah tersebut harus ada yang di renovasi, tidak banyak memang tetapi Faiz ingin ia dan Olivia menghabisi q waktu di rumah ini dulu sebelum nanti benar-benar pindah.
****
Frisa dan Gavin sudah sampai di kantor. Sebelum turun Frisa menatap Gavin dengan serius. "Kamu langsung saja ke ruangan saya, ada sesuatu yang harus saya bicarakan," ujar Frisa dengan tegas.
"Baik, Nona!" sahut Gavin dengan singkat.
Gavin keluar dari mobil dan membuka membukakan pintu untuk Frisa. Keduanya berjalan beriringan, hingga banyak karyawan juga yang menjodohkan mereka lewat mulut mereka saat bergosip.
"Tuh kan apa aku bilang nona Frisa itu cocok banget dengan tuan Gavin. Ya walaupun usia nona Frisa lebih tua setahun tapi usia tidak jadi penghalang untuk mereka bersama. Aku tim SAGA deh," ujar karyawan tersebut dengan berbisik.
"Apa itu SAGA?" tanya temannya dengan bingung.
"Frisa, Gavin, dong. Gimana cocokan?" jawab karyawan tersenyum dengan terkekeh.
"Kamu ada-ada saja menyingkat nama nona Frisa dan tuan Gavin," ujar temannya dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
Namun, ada juga yang tidak suka dengan kedekatan keduanya. Mereka menganggap keduanya tidak cocok karena Frisa bos dan Gavin hanya pengawal pribadi Frisa saja. Dan untung saja ucapan itu tidak di dengar ke telinga Frisa karena bisa di pastikan gadis itu akan mengamuk.
Frisa memasuki ruangannya begitupun dengan Gavin yang mengikuti Frisa dari belakang.
"Duduk!" perintah Frisa dengan tegas.
Gavin duduk di hadapan Frisa. "Apa yang ingin anda bicarakan, Nona? Apa ini penyebab anda tidak bisa tidur semalam?" tanya Gavin tepat pada sasaran. Namun, Frisa sama sekali tak menjawab.
Frisa menghela napasnya dengan perlahan, lalu ia menatap Gavin dengan begitu serius. "Saya ingin kamu menjadi suami bayaran saya! Berapa pun uang yang kamu mau akan saya berikan jika kamu mau menikah dengan saya," ujar Frisa dengan serius.
Dan tentu saja Gavin sangat terkejut dengan permintaan gila Frisa kepadanya. "Kenapa harus menjadi suami bayaran?" tanya Gavin dengan terkekeh.
"Y-ya karena saya ingin membayar kamu untuk membuat Melvin cemburu kepada saya. Dan juga saya membayar kamu karena saya tidak ingin di ejek terus oleh keluarga saya," sahut Frisa dengan terbata karena tatapan Gavin yang begitu mengintimidasi dirinya.
"Lalu keuntungan yang akan saya dapatkan apa, Nona? Saya tidak ingin hanya uang yang saya dapatkan karena saya tidak butuh uang anda, Nona!" ujar Gavin dengan tegas ada senyum yang tersungging di bibirnya.
Entah mengapa Gavin merasa ini adalah kesempatan emas dirinya untuk mendapatkan Frisa, Frisa yang memintanya maka Gavin tidak akan melepaskan kesempatan ini.
"Apa yang kamu mau?" tanya Frisa dengan tajam.
Finally!
Inilah pertanyaan yang sangat ia tunggu-tunggu dari Frisa. Gavin menegakkan tubuhnya dan menatap Frisa dengan serius. "Saya tidak mau anda saja yang diuntungkan dalam pernikahan ini, Nona. Saya ingin pernikahan kita seperti pernikahan pada umumnya. Saya mendapatkan hak saya sebagai suami," ujar Gavin dengan tegas.
"Maksud kamu apa?" tanya Frisa dengan datar.
"Ya kita sebagai suami istri pada umumnya. Nona melayani saya dengan baik begitupun sebaliknya," ujar Gavin dengan tegas yang membuat Frisa melotot tak percaya.
"Enak saja kamu! Kamu mau melecehkan saya?" ujar Frisa tidak terima.
"Tidak ada pelecehan di sini, Nona. Karena anda istri sah saya! Bagaimana? Kalau tidak mau anda bisa mencari pria lain saja dan orang lain itu bisa saja memanfaatkan anda dengan sangat mudah dan tentu saja setelah anda menikah mungkin tanggungjawab saya sudah selesai, saya ingin keluar dari pekerjaan saya," ujar Gavin yang semakin menekan Frisa.
"Sudah saya katakan kamu tidak boleh keluar dari pekerjaan ini!" ujar Frisa dengan kesal.
Apa yang di ucapkan Gavin memang benar. Jika dirinya mencari pria lain apakah pria tersebut bisa di percaya? Frisa adalah gadis yang sangat susah mempercayai orang baru. Frisa tampak berpikir sejenak.
"Jika anda menolak permintaan saya maka itu bisa saja terjadi, Nona!" ujar Gavin dengan santai tetapi Gavin takut juga Frisa akan menolak permintaannya ini, ia menunggu dengan hati yang berdebar.
"B-baik saya terima permintaan kamu! Asal kamu tidak mengatakan ini kepada keluarga saya," ujar Frisa dengan tegas walaupun ia merasa permintaan Gavin sangatlah gila daripada permintaannya. Melayani Gavin? Tak pernah Frisa bayangkan selama ini.
Tetapi akhirnya Frisa bisa bernapas lega karena apa yang ia pikirkan hingga tak bisa tidur akhirnya sesuai dengan apa yang ia mau. Gavin akan menjadi suami bayarannya.
"Selama kamu menjadi istri saya, saya tidak akan pernah melepaskan anda, Nona. Saya akan membuat anda mencintai saya," gumam Gavin di dalam hati dengan perasaan senang karena akhirnya tanpa ia bersusah payah Frisa lah yang meminta dirinya menjadi suami walaupun awalnya akan menjadi suami bayaran tetapi Gavin yakin itu tidak terjadi terlalu lama.
__ADS_1
Dan sekarang Frisa adalah miliknya sampai kapanpun tak ada orang yang bisa mengambil Frisa dari dirinya kecuali ia mati.