
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...***...
Sudah seminggu Olivia tak sadarkan diri di ruang ICU. Belum ada tanda-tanda Olivia akan membuka matanya, seminggu pula Faiz tidak bisa tidur dengan nyenyak bahkan lingkaran hitam di bawah matanya juga terlihat sangat jelas sekali, Faiz sangat berantakan sekali sekarang yang membuat Rania tidak tega meninggalkan anaknya di rumah sakit walaupun perutnya yang semakin membesar karena sebentar lagi juga ia akan melahirkan.
Rania menepuk pundak anaknya dengan perlahan yang membuat Faiz tersentak. Faiz sedang duduk di kursi tunggu dengan kepala yang menunduk karena di dalam kedua mertuanya yang bergantian menjaga Olivia.
"Mama kenapa ke sini? Seharusnya Mama istirahat saja di rumah," ujar Faiz dengan pelan seakan ia tidak mempunyai tenaga sama sekali untuk berbicara.
"Mama sudah istirahat tadi. Mama tidak tenang jika melihat kamu seperti ini! Sekarang mandi dan berganti pakaian ya biar kamu terlihat lebih segar, kamu berantakan sekali, Nak!" ujar Rania dengan lirih.
Faiz menghela napasnya dengan kasar. "Ma, aku belum bisa tenang jika Olivia belum sadar, Ma! Aku takut sekali. Aku tidak bisa meninggalkan Olivia barang sedikitpun, Ma!" gumam Faiz dengan lirih.
Rania tersenyum tipis. "Pasti Olivia akan baik-baik saja, Nak. Sekarang kamu ke kamar mandi dan bersihkan diri kamu pasti Olivia tidak suka melihat kamu yang berantakan seperti ini," ujar Rania dengan lembut mengelus kepala Faiz dengan sayang.
Faiz memeluk Rania dengan erat tetapi tidak menyakiti adiknya yang berada di dalam perut mamanya, ia berusaha mencari ketenangan di pelukan mamanya, ia juga mencari kekuatan di pelukan mamanya yang membuat Ferdians hanya bisa diam memperhatikan istri dan anaknya, ia membiarkan Faiz memeluk istrinya untuk mencari ketenangan karena bagaimanapun ia juga merasa kasihan dengan anaknya walau Faiz lah yang juga bersalah di sini.
Rania menatap suaminya, ia merasakan bajunya basah. Faiz menangis di pelukannya tanpa suara yang membuat dada Rania ikut sesak dan matanya berkaca-kaca melihat kerapuhan anaknya sekarang.
Ferdians mengusap air mata istrinya dengan lembut, ia menggelengkan kepalanya memberikan isyarat jika Rania tidak boleh ikut menangis. Tetapi Rania tidak bisa, air matanya tetap turun membasahi pipinya saat mendengar isakan pelan anaknya di pelukannya.
Setelah merasa tenang Faiz melepaskan pelukannya, ia menghelap air matanya dengan cepat. "Maaf, Ma! Gara-gara aku baju Mama jadi basah," gumam Faiz dengan lirih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kamu ke kamar mandi dulu ya biar Mama dan papa yang berjaga di luar," ujar Rania dengan tersenyum.
Dengan berat hati Faiz mengangguk karena ia tidak ingin membuat mamanya bertambah sedih karena dirinya yang terus meratapi keadaan Olivia yang tak kunjung sadar. Faiz menerima pakaian dari mamanya.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Ma!" ujar Faiz dengan pelan.
"Iya, Nak!"
Faiz berjalan dengan gontai menuju kamar mandi, sedangkan Ferdians dan Rania hanya bisa menatap Faiz dengan sendu karena mereka tahu kesedihan anaknya saat ini.
Ferdians memeluk Rania dari samping. "Kita harus kuat dan tidak boleh lemah, Sayang. Faiz butuh dukungan dari kita," ujar Ferdians yang di angguki oleh Rania.
Rania bersandar di dada bidang suaminya dengan meringis pelang karena anaknya terasa bergerak di dalam perutnya saat ini. Ferdians yang menyadari ringisan istrinya menjadi sangat khawatir.
"Ada yang sakit, Sayang? Kita periksa saja ya!" ujar Ferdians dengan cemas.
Ferdians mengelus perut istrinya dengan perlahan. "Sehat-sehat sampai lahiran yang, Sayang. Jangan buat Papa khawatir," ujar Ferdians dengan tersenyum dan tak lama Ferdians merasakan tendangan anaknya yang seakan mengerti dengan apa yang ia ucapan tadi.
Ferdians dan Rania saling menatap satu sama lain, lalu keduanya tertawa pelan merasakan tendangan anak mereka yang akhir-akhir ini lebih aktif dari biasanya. Ferdians dan Rania sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak ketiga mereka yang tinggal beberapa bulan saja akan melihat dunia.
****
Setelah kedua mertuanya keluar dari ruangan ICU kini giliran Faiz yang kembali masuk ke ruangan ICU dalam keadaan yang lebih segar dari pada sebelumnya yang sangat terlihat berantakan.
Faiz duduk di samping istrinya dengan menatap wajah Olivia yang masih terlihat pucat. Faiz mencondongkan tubuhnya agar ia bisa mencium kening istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu begitu capeknya dengan Mas hingga kamu tidak mau bangun sampai sekarang?" tanya Faiz menatap Olivia yang masih memejamkan matanya.
"Mas tahu kesalahan Mas cukup besar dengan kamu, Sayang. Bangun ya, Sayang. Mas sangat merindukan kamu! Mas mau kita merawat kedua anak kembar kita bersama-sama. Mas salah, Sayang. Mas tidak ingin kehilangan kamu. Bukan seperti ini yang Mas maksud waktu itu," gumam Faiz dengan lirih.
"Kamu mimpi apa sih sampai-sampai kamu lama banget tidurnya hmm? Mas setiap hari menunggu kamu berharap kamu sadar saat itu juga tapi nyatanya sampai sekarang kamu masih betah seperti ini, Sayang!"
Faiz mengenggam tangan Olivia dan ia letakkan di kedua pipinya. Air matanya langsung jatuh ke tangan Olivia yang membuat Faiz buru-buru mengelapnya dengan ibu jarinya.
"Mas lap tubuh kamu ya dengan handuk basah, biar kamu terus terlihat cantik. Mas juga bawa semua skincare milik kamu. Mas akan pakaian di wajah kamu ya," ujar Faiz dengan tersenyum pedih.
Faiz mulai menyeka tubuh Olivia dengan handuk basah dengan perlahan seakan ia takut jika tubuh Olivia akan terluka jika ia terlalu kuat menekan kulit tubuh istrinya. Perasaan sesak menghampiri dirinya saat tangan yang biasanya memeluknya dengan erat kini terlihat tak berdaya sama sekali tanpa bergerak.
"Bangun, Sayang!" gumam Faiz dengan lirih menatap wajah Olivia dengan sendu.
Faiz sudah selesai membersihkan tubuh Olivia, dan dengan lembutnya Faiz memakaikan lotion untuk Olivia agar kulit istrinya tetap mendapatkan nutrisi.
"Bumil cantiknya Faiz tidak boleh tampak kusam," gumam Faiz dengan terkekeh pelan di iringi dengan matanya yang sudah berair menahan tangis
Faiz sungguh merasakan hatiku begitu sesak, ia ingin menjerit sekencang-kencangnya sekarang karena melihat kondisi Olivia yang sama sekali belum ada perubahan yang akan menunjukkan Olivia sadar.
Setelah puas memandang wajah Olivia, Faiz beralih ke perut Olivia yang tampak membesar. "Hai, twins. Kalian juga marah dengan papa ya? Sehingga kalian juga tidak mau membantu papa untuk membuat mama sadar sekarang. Kalian berdua sedang apa di dalam, Sayang? Ikut tertidur seperti mama ya?" ujar Faiz dengan lirih.
"Maaf ya karena keegoisan papa kalian terkena imbasnya. Papa bukan papa yang terbaik buat kalian, tapi papa janji akan berubah dan lebih memperhatikan mama dan kalian berdua, Sayang!" gumam Faiz dengan lirih.
"Kalian boleh hukum papa apa saja asal jangan seperti ini, Sayang. Tolong bujuk mama untuk membuka mata ya. Katakan papa minta maaf sekali sama mama! Papa janji akan berubah dan tidak akan seperti ini lagi," ujar Faiz mengelus perut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"I love you, Olivia! And i miss you!"