Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 221 (Bertemu Calon Mertua)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Rajendra dan Bunga sudah berada di dalam kantor dan sekarang Bunga berada di ruangan Rajendra.


"Ada apa, Mas? Hari ini tidak ada meeting hanya menandatangani beberapa berkas saja," ujar Bunga dengan tegas.


"Iya, Sayang. Mas ingin berbicara dengan kamu," ujar Rajendra menatap Bunga dengan serius.


"A-ada apa, Mas?" tanya Bunga dengan terbata, ia takut Rajendra mengatakan sesuatu yang membuat ia sedih.


"Mama meminta kamu datang ke rumah. Dan Mas sudah bilang jika sore setelah pulang kantor Mas akan ajak kamu ke rumah," ujar Rajendra dengan tegas.


Bunga menahan napasnya karena syok mendengar ucapan Rajendra. "H-hari ini juga, Mas? T-tidak bisa di tunda?" tanya Bunga dengan terbata.


Sungguh bunga sangat deg-degan sekali. Bertemu dengan Ben dan Ana tidak pernah terpikirkan olehnya dalam waktu dekat ini.


"Tidak bisa, Sayang. Mas tidak ingin menunda-nunda semuanya, Mas ingin kita halal secepatnya!" ujar Rajendra dengan tegas. "Mas sudah menyiapkan dress untuk kamu bertemu dengan, Mama. Sepulang kantor nanti kamu sudah langsung bisa membersihkan diri di ruangan pribadi Mas menggunakan dress yang sudah Mas berikan. Dressnya sudah ada di kasur ya, Sayang!" ujar Rajendra dengan tersenyum.


"T-tapi aku masih belum siap bertemu dengan nyonya Ana dan tuan Ben," gumam Bunga dengan lirih.


"Tidak usah takut, Sayang! Mama baik orangnya," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Sini!" ujar Rajendra menepuk pahanya agar Bunga duduk di pangkuannya.


Bunga berdiri dari duduknya dan menghampiri Rajendra, Bunga duduk di pangkuan Rajendra dengan posisi mereka yang sedang berhadapan.


"Apa yang membuat kamu belum siap bertemu dengan papa dan mama?" tanya Rajendra dengan lembut.


Bunga tampak diam dan setelah itu menghela napasnya dengan pelan. "K-karena aku anak papa Roby dan adik Cassandra, Mas. Bagaimanapun aku adik ipar kamu. Aku takut nyonya Ana dan tuan Ben membenciku seperti mereka membenci kak Cassandra," jawab Bunga dengan lirih yang membuat Rajendra tercekat.


"Walaupun kamu anak Roby tapi kamu berbeda, Sayang. Mama dan papa sudah merestui hubungan kita bahkan kak Rania juga merestui hubungan kita. Mereka meminta kamu datang ke rumah dan setelah itu kita bahas pernikahan kita. Tapi maaf Sayang untuk wali nikah kita tidak bisa menjadikan papa kamu wali," ujar Roby dengan pelan.

__ADS_1


Ada rasa sesak yang menghampiri dada Bunga jika papanya sendiri tidak bisa menjadi wali untuk dirinya karena pernikahannya dengan Rajendra pasti akan membuat papanya semakin semena-mena nanti walaupun Rajendra sudah membuat Roby ketakutan dan bahkan Roby belum pernah mengunjungi Bunga sampai detik ini setelah kepindahannya.


"Iya Mas, aku mengerti!" ujar Bunga dengan lirih.


Bunga tersenyum tipis menatap Rajendra, hatinya sedikit tenang saat Rajendra mengecup bibirnya dengan lembut dan berulang kali. Bunga menyandarkan kepalanya di pundak Rajendra dengan perasaan yang tak menentu, ada perasaan senang dan juga sedih bercampur menjadi satu.


Cup...


Rajendra mengecup puncak kepala Bunga dengan lembut, ia tahu kesedihan Bunga saat ini tetapi apa boleh buat karena jika Roby mengetahui pernikahan mereka maka akan menjadi masalah besar nantinya.


"Sayang, jangan gerak!" ujar Rajendra dengan serak.


Bunga menelan ludahnya dengan kasar saat menyadari jika sesuatu di bawah sana sudah bergerak dan terasa keras. "Maaf, Mas!" ujar Bunga merasa bersalah! Aku turun saja ya!" ujar Bunga dengan lirih.


Rajendra memejamkan matanya karena merasakan miliknya memberontak di bawah sana. Melihat wajah Rajendra yang tersiksa membuat Bunga tak tega, Rajendra sudah sering memuaskan dirinya namun dirinya belum pernah sama sekali memuaskan Rajendra.


Bunga turun dari pangkuan Rajendra dan berjongkok di hadapan Rajendra yang membuat lelaki itu terkejut.


"S-sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Rajendra dengan serak.


"Memuaskan Mas!" jawab Bunga dengan tersenyum.


****.... Ingin rasanya Rajendra menikahi Bunga sekarang juga. Namun, semua butuh proses. Rajendra tidak ingin pernikahan mereka biasa-biasa saja walaupun nanti tidak semewah pernikahannya dengan Cassandra tetapi Rajendra ingin Bunga terkesan dengan pernikahan ini.


*****


Telapak tangan Bunga terasa sangat dingin ketika Rajendra genggam saat mereka sudah sampai di rumah mewah kedua orang tuanya. Rajendra tidak meninggalkan Cassandra begitu saja, karena ia masih terus mengawasi wanita itu di rumah menggunakan CCTV agar tidak berbuat macam-macam.


Sedangkan Rajendra tampak begitu senang, akhirnya ia bisa mempertemukan Bunga dengan kedua orang tua serta kakaknya juga. Dan kebahagiaan Rajendra tidak hanya itu saja karena Bunga sudah memuaskan dirinya tadi yang membuat kepalanya tidak pusing lagi. Jika sudah menikah mungkin Bunga akan kelelahan melayani dirinya di atas ranjang.


"Mas aku takut!" ujar Bunga yang merasa ingin buang air kecil setelah sampai di rumah kedua orang tua Rajendra.


"Tidak apa-apa, Sayang. Yang terpenting kamu bisa mengambil hati mama," ujar Rajendra dengan tersenyum dan mulai melangkah menuju pintu utama setelah banyak penjaga menunduk hormat kepada dirinya.


Bunga tak melepaskan genggaman tangannya pada Rajendra bahkan Rajendra dapat merasakan genggaman tangan Bunga begitu sangat kuat, tetapi Rajendra berusaha untuk membuat Bunga rileks bertemu dengan kedua orang tuanya serta kedua kakaknya saat ini.

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam bersama Rajendra menatap kedua orang tua serta kakaknya.


"Ma, Pa, Kak, lihat siapa yang aku bawa," ujar Rajendra dengan tersenyum.


Baik Ana dan Rania terlihat menatap Bunga dengan sangat serius. Sedangkan Ben dan Ferdians terlihat tersenyum kecil yang menambah kegugupan untuk Bunga sekarang.


"Ini yang namanya Bunga? Cantik sekali! Ayo duduk di sini!" ujar Ana yang membuat hati Bunga sedikit lega karena apa yang ia pikirkan sama sekali tidak terjadi.


"I-iya, N-nyonya!" jawab Bunga dengan terbata.


"Nyonya? Kenapa kamu memanggil Mama dengan sebutan nyonya?" tanya Ana tidak terima.


Ana langsung jatuh hati ketika melihat Bunga. Wajah Bunga mencerminkan jika gadis itu benar-benar baik dan cocok untuk anaknya.


"M-mama?" tanya Bunga dengan gugup.


"Kamu sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga ini bukan? Jangan terlalu formal memanggil mama atau yang lainnya seperti itu! Bagaimana Rajendra memanggil kami, kamu juga harus mengikutinya," ujar Rania dengan tegas.


Bunga menatap Rania dengan mata berkaca-kaca, tidak menyangka ia akan di terima oleh keluarga Danuarta. Padahal Bunga sudah sangat takut sekali tadi jika kedatangannya ke sini semakin membuat keluarga Danuarta marah besar terhadap dirinya dan kedua orang tuanya.


"I-iya, Kak!" sahut Bunga dengan tersenyum.


"Benarkan apa kata Mas jika semua menerima kamu dengan baik," ujar Rajendra dengan tersenyum yang membuat Bunga akhirnya mengangguk dengan pelan.


"Ayo kita makan terlebih dahulu baru kita membicarakan pernikahan kalian," ujar Ben dengan tegas.


"Iya, Pa!" jawab Rajendra dengan senang.


Bunga tak lagi menggandeng tangan Rajendra, ia mulai mendekatkan diri kepada Ana yang akan menjadi mama mertuanya nanti. Bunga menggenggam tangan Ana dengan perlahan yang di terima Ana dengan senang hati.


"Ayo!" ucap Ana mengajak ke meja makan.


"Iya, Ma!"


"Kamu cantik sekali pantas saja Rajendra tergila-gila dengan kamu," ujar Ana yang membuat Bunga tersipu malu.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma!" jawab Bunga dengan tersenyum.


Bunga merasa keluarga Danuarta sangat hangat sekali tapi mengapa papanya sangat berambisi menghancurkan keluarga Danuarta? Bunga tak akan membiarkan itu terjadi, karena di keluarga ini ia di terima dengan baik dan penuh kelembutan. Ia tak mungkin membiarkan papanya sendiri menghancurkan keluarga Danuarta. Apapun yang terjadi Bunga akan menjadi garda yang terdepan untuk melindungi keluarga Danuarta dari kejahatan papa kandungnya sendiri. Itulah tekadnya di dalam hati setelah merasakan kehangatan keluarga Danuarta.


__ADS_2