Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 230 (Sikap Yang Berbeda)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Cassandra mengguyur tubuhnya dengan air dingin, air matanya terus mengalir bersamaan dengan air yang menjatuhi tubuhnya, bibirnya sudah bergemelutuk dengan hebat dan bibirnya sudah memucat. Cassandra terus terisak dengan hati yang begitu sangat sakit mengingat kejadian di mata tubuhnya di gilir dengan dua penjaga suaminya.


"Kamu jahat, Mas! Kamu meninggalkan aku seorang diri di sini bersama dengan lelaki bejat itu hiks...hiks..." gumam Cassandra dengan lirih bahkan ia menggosok tubuhnya dengan kuat hingga memerah.


"Aku benci kamu, Mas. Hikss..hiks... Aku benci kamu," teriak Cassandra dengan tertahan.


"Arghhhh...." teriak Cassandra untuk menghilangkan sakit di hatinya saat ini.


"Aku kotor! Aku sekarang kotor, Mas!" gumam Cassandra dengan lirih.


Walaupun Cassandra jahat tetapi jika tubuhnya di sentuh oleh lelaki lain Cassandra tidak akan terima. Cassandra sama sekali tidak tahu kemana Rajendra pergi, karena sampai sekarang Rajendra belum pulang bahkan Cassandra tidak mempunyai ponsel lagi, ponselnya sudah di sita oleh Rajendra sejak pertama kali ia tinggal di rumah ini. Hidupnya sudah seperti tahanan yang entah kapan bisa keluar dari rumah ini.


Cassandra menghentikan tangisannya. Lalu ia menyeringai sinis. "Mas Rajendra tidak boleh tahu kejadian ini! Tidak boleh tahu sama sekali," gumam Cassandra dengan sinis dan tangan terkepal dengan erat seakan ada emosi yang tertahan dengan senyuman licik menghiasi wajah pucatnya saat ini. Entah apa yang ia rencanakan saat ini tetapi ia akan merahasiakan kejadian ini dari suaminya sendiri.


Setelah selesai membersihkan diri Cassandra mengambil handuk untuk mengeringkan dirinya, tangisan Cassandra sudah berhenti walaupun matanya terlihat masih memerah dan terlihat membengkak.


Cassandra keluar dari kamar mandi dengan perasaan yang sudah sedikit tenang, Cassandra mengambil pakaiannya dengan wajah yang begitu sangat datar, entah apa yang Cassandra pikirkan yang jelas sekarang perasaannya masih tak menentu walaupun ia sudah mengendalikan dirinya agar tidak kembali menangis.


****


Cassandra keluar dari kamarnya, ia menuju dapur untuk memasak karena dirinya sangat lapar setelah berjam-jam menangisi dirinya sendiri, Cassandra tidak boleh lemah walaupun dirinya sudah sangat rendah sekali sekarang.


Selesai menggoreng telur dan nasinya sudah matang Cassandra segera makan dengan lahab walaupun ia merasa sangat hampa karena di rumah sebesar ini Cassandra benar-benar seperti hidup sendirian walaupun banyak penjaga yang berada di depan, Cassandra sangat trauma untuk sekedar keluar melihat ke depan.


Cassandra mendengar suara langkah kaki seseorang, Cassandra sangat waspada tetapi ketika melihat Rajendra lah yang datang membuat Cassandra sedikit lega.


"Mas!" panggil Cassandra dengan pelan tetapi Rajendra sama sekali tidak melihat ke arahnya yang membuat Cassandra menghela napasnya dengan pelan.


"Mas bisa tidak sedikit saja tanya bagaimana keadaan aku hari ini?" gumam Cassandra dengan lirih.

__ADS_1


"Mas mau kemana lagi?" tanya Cassandra dengan cemas ketika melihat Rajendra sudah berganti pakaian dan ingin kembali pergi.


"Bukan urusanmu!" jawab Rajendra dengan tajam.


"Mas aku mohon jangan pergi lagi! Mas sudah tidak pulang empat hari. Aku mohon di rumah dulu ya, Mas!" ujar Cassandra dengan cemas.


Rajendra menatap Cassandra, seperti ada sikap yang berbeda dari Cassandra hari ini. Cassandra terlihat sangat ketakutan dan penuh kecemasan tetapi ia selalu memantau melalui CCTV dan tak ada yang mencurigakan dari Cassandra semua tampak berjalan dengan normal.


"Mas aku mohon! Jangan tinggalkan aku seorang diri, aku takut!" ujar Cassandra dengan lirih.


"Di rumah ini banyak orang! Jangan manja dan jangan melebihi batas, Cassandra! Saya tidak suka! Kamu mau saya hukum?" ujar Rajendra dengan sangat tajam.


Cassandra menggelengkan kepalanya, ia menatap kepergian Rajendra dengan pandangan sendunya dan setelah itu tatapannya kembali tajam.


"Kamu akan menyesal telah mengabaikan aku seperti ini, Mas. Jika aku hancur maka kamu juga harus hancur, kalian semua harus ikut hancur bersamaku! Aku juga tidak suka dengan kebahagiaan yang Olivia dapatkan dari keluargamu! Aku ingin dia juga merasakan penderitaan yang sama!" gumam Cassandra dengan mengapalkan kedua tangannya seakan kejadian tadi membuat hati Cassandra semakin mati rasa.


"Lihat saja apa yang aku lakukan nanti terhadap dirimu dan keluargamu, Mas. Saat ini mungkin aku kalah dan mengalah tetapi suatu saat kamu yang akan bersujud di bawah kakiku!" ujar Cassandra dengan dada naik turun.


***


"Bekerja yang benar. Jika saya tahu kalian berbuat kesalahan maka saya tidak segan-segan memisahkan kepala kalian dari tubuh kalian," ujar Rajendra dengan tajam.


"B-baik, Tuan!" ujar penjaga dengan terbata.


"Dan kalian berdua!" ujar Rajendra dengan dingin menunjuk dua penjaga yang terlihat sangat gugup sekali.


"I-iya, Tuan!" jawab keduanya dengan sangat gugup.


"Ingat kata-kata saya tadi, kan? Kepala kalian akan terpisah dari tubuh kalian jika saya tahu kesalahan kalian!" ujar Rajendra yang membuat kedua penjaga itu berkeringat dingin tetapi berusaha untuk terlihat baik di depan Rajendra walaupun Rajendra sudah melihat bagaimana kegugupan dua penjaganya.


"I-iya, Tuan. K-kami ingat!" jawab keduanya dengan terbata.


Setelah berkata seperti itu. Rajendra kembali masuk ke mobilnya untuk menemui Bunga karena hari ini juga Bunga akan pindah dari rumahnya yang sekarang. Rajendra akan memberikan tempat yang layak untuk istrinya dan rumah yang di tempati Bunga dan dirinya lebih mewah dari rumah ini.


Dua penjaga itu terlihat ketakutan. "Bagaimana jika tuan Rajendra tahu? Habis nyawa kita di tangannya!" bisik penjaga satu ke temannya.

__ADS_1


"Diamlah kita harus terlihat seperti biasa saja. Sikap kita tadi memancing kecurigaan tuan Rajendra. Aku yakin nona Cassandra tidak berani jujur jadi kita juga harus diam," jawab penjaga kedua dengan tegas.


"Benar juga. Selama kita tutup mulut nyawa kita aman," gumamnya dengan pelan.


***


"Mas kok sudah di sini lagi? Kita baru saja pulang loh, Mas. Seharusnya Mas istirahat dulu," ujar Bunga menatap kedatangan suaminya dengan heran sekaligus khawatir jika Rajendra sakit karena kurang istirahat.


"Mas mau istirahat sama kamu, Sayang!" jawab Rajendra.


"Kamar aku kecil, Mas. Nanti Mas tidak nyaman," ujar Bunga.


"Jika ada kamu di mana pun Mas tidur Mas akan merasa nyaman, Sayang. Kamu kenapa sih terlihat tidak suka dengan kedatangan suaminya sendiri," ujar Rajendra dengan ketus.


"Bukan begitu, Mas. Rumah Mas kan lebih nyaman dan luas. Aku takut Mas tidak nyaman berada di rumah ini dan aku takut kak Cassandra curiga karena kamu sudah pergi lagi," ujar Bunga dengan sendu.


"Jangan bahas Cassandra jika kita sedang berdua, Sayang. Mas tidak peduli dengan Cassandra sama sekali," ujar Rajendra dengan tegas.


"Sekarang kita istirahat dulu setelah itu bereskan semua pakaian kamu kita pindah dari rumah ini!" ujar Rajendra dengan tegas.


"Mas..." Bunga menatap suaminya dengan tidak percaya.


"Kenapa hmm? Mas ingin memberikan tempat yang lebih layak dari pada ini. Rumah yang nyaman untuk tempat tinggal kita dan anak-anak kita nanti. Jangan protes, Sayang. Semua itu Mas lakukan untuk membahagiakan kamu," ujar Rajendra dengan tegas.


Mata Bunga berkaca-kaca, ia langsung memeluk Rajendra dengan erat. "Terima kasih banyak, Mas. Tapi seharusnya Mas tidak usah seperti ini aku juga sudah nyaman di rumah ini kok," ujar Bunga dengan pelan.


"Kebahagiaan kamu adalah keharusan bagi Mas, Sayang. Pokoknya kamu dan anak-anak kita nanti harus mendapatkan rumah yang layak daripada ini. Sekarang kita istirahat dulu setelah itu kita pergi ke rumah baru kita. Rumah kita dekat dengan rumah papa dan mamaku. Jadi, kamu bisa mengunjungi mama kapanpun yang kamu mau," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Tapi kalau papa dan mamaku curiga bagaimana, Mas?" tanya Bunga menatap mata suaminya.


"Itu akan menjadi urusan Mas, Sayang. Kamu jangan takut!" jawab Rajendra dengan tersenyum.


"Ayo kita tidur!" ujar Rajendra menggendong Bunga yang membuat Bunga memekik tertahan.


"Aku tidak yakin jika kita akan tidur saja," ujar Bunga dengan terkekeh.

__ADS_1


Rajendra ikut terkekeh. "Sepertinya kamu sudah tahu isi pemikiran Mas, Sayang!" sahut Rajendra dengan tersenyum yang membuat Bunga hanya bisa pasrah saat Rajendra kembali menyentuhnya ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


__ADS_2