
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Hari berlalu seperti biasanya, pekerjaan Rania dan yang lainnya semakin padat. Hari ini RA grup sedang ada pertemuan dengan Alexander Grup yang membuat Rania dan Sastra terlihat sibuk tetapi tidak dengan Anjani yang terlihat melamun, Hari-harinya semakin membuat Anjani tertekan, ia tidak menikmati hidupnya yang sekarang karena sebuah kesalahan besar yang membuat Anjani sangat stres hingga di hantui rasa penyesalan yang sangat besar.
"Anjani, berkas yang diberikan Citra mana? Kenapa kamu tidak memberikannya kepada saya?" tanya Rania dengan tegas menatap Anjani dengan dingin.
Anjani tetap melamun seakan tak mendengar pertanyaan atasannya yang membuat Rania terlihat geram kepada Anjani.
"Anjani!" panggil Rania dengan keras yang membuat Anjani tersentak.
"I-iya, Bu. A-ada apa, Bu?" tanya Anjani dengan terbata.
Alex dan Citra melihat ke arah Anjani yang seperti banyak pikiran.
"Kata Citra, dia sudah memberikan berkas kerjasama antara Alexander Grup dan RA Grup kepada kamu tetapi berkas itu tidak kamu berikan kepada saya. Mana berkas itu?" tanya Rania dengan tajam.
"B-berkas? B-berkas apa, Bu?" tanya Anjani terlihat bingung.
Citra menatap bingung ke arah Anjani. "Waktu itu saya sudah datang ke sini untuk memberikan berkas penting itu kepada ibu Rania tetapi saya mengurungkan niat saya karena sepertinya ibu Rania masih ada kepentingan dengan pak Sastra, lalu saya memberikan berkas penting itu kepada kamu. Apakah kamu tidak ingat?" tanya Citra dengan wajah tenangnya karena memang ia sudah benar-benar memberikannya pada Anjani.
Citra tak sanggup melihat Sastra yang begitu perhatian dengan Rania, saat itu ia lebih memilih menitipkan berkas penting itu kepada Anjani dan wanita itu menerimanya. Tetapi kenapa sekarang Anjani terlihat sangat lupa dan kebingungan?
"Kamu sengaja menyembunyikan berkas penting itu atau kamu memang benar-benar lupa, Nona Anjani? Berkas itu hilang maka semua akan berantakan," ujar Alex dengan tajam.
"Anjani jangan mempermainkan saya!" ujar Rania dengan tajam.
"Anjani berkas itu sangat penting kamu jangan main-main," ujar Sastra yang membuat Anjani semakin bingung dan terserang panik.
Wanita itu mencoba mengingatnya. "Saya sama sekali tidak mengingatnya, Bu!" ujar Anjani dengan cemas.
__ADS_1
Rania menatap Citra dan juga Alex. "Atau kalian berdua yang ingin mempermainkan saya? Jangan macam-macam kepada saya!" ujar Rania dengan tajam.
"Saya sudah memberikan berkas itu kepada nona Anjani, Bu. Jika tidak percaya silahkan cek CCTV seminggu lalu," ujar Citra dengan tenang.
"Tidak mungkin Citra berani membuat kesalahan. Selama bekerja dengan saya Citra tidak pernah sekali pun membuat kesalahan, jelas-jelas sekretaris anda yang membuat kesalahan!" ujar Alex membela Citra.
Sastra melihat ke arah Citra, wanita itu tampak tersenyum tipis kepada Alex. Dan seperti biasa, hati Sastra terasa panas melihat semua itu. Ia dan Citra tak mempunyai hubungan apapun lagi tapi rasa itu masih tertinggal sampai sekarang. Apakah Citra tidak memiliki rasa lagi ke dirinya?
Anjani terlihat panik saat Rania menatapnya dengan begitu tajam. Tangannya berkeringat dingin sekarang, ia mencoba mengingat dimana dirinya meletakkan berkas penting itu tetapi Anjani tidak mengingatnya sama sekali, mungkin karena stres yang ia alami membuat Anjani menjadi pelupa sekarang.
Rania menghidupkan laptopnya yang sudah tersambung dengan CCTV. Dan Benar saja Citra sudah memberikan berkas itu kepada Anjani tetapi wanita itu membiarkannya begitu ssja hingga Citra pergi.
"Sudah saya duga jika Anjani yang teledor di sini!" ujan Alex dengan menyeringai.
"Anjani cari berkas itu sampai ketemu saya beri waktu 20 menit untuk mencarinya!" ujar Rania dengan tajam.
Rania sedang menahan amarahnya kepada Anjani. Bagaimanapun sekarang di sini ada Alex dan juga Citra, ia tidak ingin memarahi Anjani di depan keduanya.
Anjani berdiri dari duduknya dan dengan cepat ia berjalan ke arah mejanya. Rania mengusap wajahnya dengan kasar mengingat kinerja Anjani benar-benar sangat berantakan. Apa sih yang sedang wanita itu pikirkan? Rania benar-benar kecewa dengan Anjani saat ini.
"Sepertinya sekretaris anda tidak lagi kompeten dalam bekerja," ujar Alex mengejek Rania yang membuat Rania semakin geram.
"Diamlah, Pak Alex! Saya tidak ingin ribut dengan anda!" ujar Rania dengan tajam.
Alex terkekeh mengusap dagunya. " Saya tidak sedang mengajak ribut, Nona! Apa yang saya katakan memang benar," ujar Alex dengan tenang.
"Pak Alex apa yang anda ucapkan bisa membuat emosi nona Rania semakin naik. Jadi, saya mohon anda bersikaplah seperti biasa. Memang ini kesalahan Anjani tetapi namanya manusia bisa saja lupa," ujar Sastra dengan tegas.
"Oke.... Waktu saya hanya tinggal 35 menit. Jika sekretaris nona Rania belum juga menemukannya maka perusahaan ini akan terkena sanksi seperti perjanjian awal," ujar Alex dengan tegas yang membuat Sastra mengangguk.
***
Sedangkan Anjani sedang mencari berkas yang di maksud oleh Rania dan yang lainnya. Saat ini Anjani benar-benar sangat panik karena ia benar-benar lupa meletakkan berkas itu di mana. Terlihat di CCTV tadi ia meletakkannya di dalam lemari meja kerja miliknya tetapi kenapa sekarang tidak ada? Anjani benar-benar sangat panik sekarang.
__ADS_1
"Di mana aku meletakkannya? Ya Tuhan... Aku mohon ingatkan aku," ujar Anjani dengan rasa panik yang luar biasa.
Anjani mencari satu persatu berkas tersebut di dalam laci miliknya. Banyaknya berkas membuat Anjani bingung, rasa panik membuat Anjani tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Ya Tuhan... Dimana berkas itu? Aku tidak ingin ibu Rania semakin marah dan akhirnya memecatku," ujar Anjani dengan panik.
Sastra menghampiri Anjani, ia terlihat menggelengkan kepalanya saat berkas yang berada di meja dan laci Anjani sudah berserakan.
"Anjani apa yang kamu lakukan semakin membuat berkas itu tidak ketemu," ujar Sastra yang membuat Anjani menatap Sastra dengan mata berkaca-kaca karena sebuah rasa bersalah.
"Maafkan saya Tuan Sastra. Saya benar-benar lupa meletakkan berkas itu di mana," ujar Anjani dengan putus asa.
Sastra menghila napasnya dengan kasar. Ia mendekati Anjani dan membantu wanita itu.
"Kamu ini kenapa? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini! Saya sudah memantau kinerja kamu dan benar kinerja kamu yang biasanya sangat memuaskan dan sekarang sangat mengecewakan. Jika seperti ini terus bisa-bisa nona Rania memecat kamu," ujar Sastra sambil mata mencari berkas penting tersebut.
Anjani tampak menunduk menyesali perbuatannya. Andai kesalahan itu tidak pernah terjadi maka Anjani tidak akan sekalut inu yang membuat pekerjaannya pun sangat berantakan. Pasti Rania dan Sastra sangat kecewa kepada dirinya.
"M-maaf, Tuan"
"Maafmu tidak membuat semuanya baik-baik saja," ujar Sastra yang membuat Anjani semakin sesak.
Sastra membuka salah satu berkas yang sangat mirip dengan berkas yang diberikan Citra. Ia bernapas dengan lega karena berkas yang berada di tangannya sekarang memang benar berkas kerjasama antara RA Grup dan Alexander Grup.
"Ini sudah ketemu ayo kembali ke ruangan. Jangan sampai kamu membuat nona Rania semakin marah," ujar Sastra dengan tegas yang membuat Anjani lega.
"Terima kasih Tuan sudah mau membantu. Maafkan keteledoran saya," ujar Anjani dengan rasa bersalah yang luar biasanya karena ia juga menyadari kesalahannya kali ini membuat Rania akan murka kepada dirinya.
Setelah ini Anjani yakin akan mendapatkan amarah dari Rania. Dan rasa kecewa atasannya nanti yang membuat Anjani merasa bersalah karena ia terlalu memikirkan hidupnya yang sudah sangat berantakan. Setelah ini Anjani yakin semua lelaki tak akan mau kepadanya karena ia adalah wanita kotor dan Hina.
Anjani berjalan mengikuti langkah Sastra di belakang, ia memegang kepalanya yang terasa berat.
"Kenapa kepalaku sakit sekali?" gumam Anjani dengan lirih.
__ADS_1