Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 232 (Hasil Testpack)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...***...


Frisa menatap suaminya dengan bingung setengah mereka sudah sampai di kamar mandi.


"Mas ngapain masih di sini. Sana keluar!" usir Frisa yang merasa malu jika suaminya masih di dalam kamar mandi bersama dengan dirinya.


"Tidak mau! Mas mau menemani kamu sampai selesai!" ujar Gavin dengan tegas.


"Aku malu, Mas. Aku mau pipis dulu terus pipisnya di tampung di wadah kecil ini," ujar Frisa dengan lemas sekaligus kesal dengan suaminya.


"Tidak! Mas mau tetap di sini! Kalau kamu pingsan bagaimana? Pokoknya Mas mau tetap di sini. Kalau mau pipis yang tinggal pipis saja, tapi sungguh Mas masih bingung kenapa Mama kasih kamu testpack bukan obat padahal kamu lagi sakit," ujar Gavin dengan tegas dan suara yang memelan di akhir kalimat.


Frisa yang sudah paham dengan testpack yang diberikan oleh mama mertuanya menjadi gemas dengan tingkah Gavin saat ini. "Mas aku malu ih!" rengek Frisa berusaha mendorong suaminya untuk keluar namun tenaganya sangat kalah dengan Gavin, terlihat Gavin yang sama sekali tidak bergeming di tempatnya.


"Pipis saja sih, Sayang. Apa susahnya sih orang Mas sudah melihat semuanya," ujar Gavin dengan entengnya yang membuat Frisa kesal.


Kepalanya yang berdenyut sakit membuat Frisa akhirnya menyerah dan dengan malu Frisa pipis di temeni oleh Gavin.


Sedangkan Citra dan Sastra yang mendengar ucapan anak dan menantunya di kamar mandi membuat mereka tersenyum geli.


"Anakmu Mas bucin akut! Keturunan kamu banget," ujar Citra dengan geli.


Sastra terkekeh. "Biarin, Sayang. Yang terpenting sekarang kita tunggu hasil testpack Frisa. Mas senang banget ini," ujar Sastra yang tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat ini.


"Kita sudah mau jadi kakek, nenek ya Mas!" ujar Citra dengan terharu.


"Iya, Sayang!" ujar Sastra memeluk Citra dari samping menunggu dengan tak sabaran Frisa dan Gavin keluar dari kamar mandi.


Kembali ke Gavin dan Frisa. Gavin menatap testpack yang sudah ada di wadah kecil, matanya mengerjab-ngerjab seakan mengingat sesuatu.


"Sayang ini kan test kehamilan kan ya?!" ujar Gavin bertanya kepada Frisa dengan tampang yang begitu sangat lucu.


"Iya, Mas!" jawab Frisa dengan geli.


Setelah mendapatkan jawaban dari Frisa, Gavin kembali menatap testpack dengan tatapan yang begitu sangat lucu. "Kamu hamil, Sayang?" tanya Gavin dengan pelan.


"Kan ini masih di test, Mas! Sebentar lagi kita akan melihat hasilnya aku hamil atau tidak. Muka Mas gemes banget sih," ujar Frisa dengan terkekeh yang membuat Gavin akhirnya sadar.

__ADS_1


"Hamil? Ya ampun kenapa Mas baru sadar?" tanya Gavin dengan muka yang begitu membuat Frisa ingin tertawa.


"Hahaha... Kita lihat ya hasilnya, Mas!" ujar Frisa mengambil testpack itu dengan perlahan.


Degup jantung Gavin menggila, sepertinya Gavin mulai tak sabaran untuk melihat hasilnya. Gavin ikut menatap hasil testpack yang ada di tangan sang istri dengan serius, tubuhnya mematung melihat hasilnya saat ini.


"Mas!" gumam Frisa dengan lirih.


"Kita akan jadi orang tua, Sayang. Mas akan jadi papa dan kamu akan menjadi mama? Iya, kan?" tanya Gavin dengan mata yang berkaca-kaca saat melihat garis dua di testpack tersebut.


"Hiks.. Iya benar, Mas!" ujar Frisa dengan menangis.


Gavin langsung memeluk istrinya dengan erat bahkan menciumi wajah Frisa dengan bertubi-tubi. "Mas jadi papa, Sayang. Mas jadi papa! Hahaha... Apa ini, Sayang? Kenapa seperti ada kupu-kupu di hati, Mas?" ujar Gavin dengan tertawa bahagia.


"Kita harus kasih kabar bahagia ini dengan papa dan mama. Astaga Mas sampai lupa jika mereka sudah ada di sini. Ayo kita keluar, Sayang!" ujar Gavin banyak bicara yang membuat Frisa hanya bisa terkekeh melihat perubahan suaminya.


Gavin menggendong Frisa dengan hati yang berbunga-bunga. Gavin menatap kedua orang tuanya dengan tersenyum.


"Gimana hasilnya?" tanya Citra menatap Gavin dan Frisa bergantian.


"Iya gimana hasilnya, Vin?" tanya Sastra tak sabaran.


"Hasilnya. Mama dan Papa sebentar lagi akan menjadi nenek dan kakek!" ujar Gavin dengan menunjukkan testpack milik Frisa


"Alhamdulillah.... Gavin junior akan segera hadir!" ujar Sastra dengan bahagia.


Sastra merentangkan tangannya ingin memeluk Frisa. Namun, tangannya di tahan oleh Gavin. "Jangan peluk istri Gavin, Pa. Peluk Gavin saja kalau mau!" ujar Gavin dengan cemburu.


Frisa dan Citra tertawa, mereka saling memeluk satu sama lain sedangkan Sastra mendengus kesal karena Gavin sangat posesif sekali dengan Frisa.


"Selamat ya, Sayang. Mama bahagia mendengarnya!" ujar Citra kepada Frisa dengan mengusap perut rata Frisa dengan lembut.


"Iya, Ma. Aku pikir tadi aku sakit keras, Ma. Ternyata karena anakku sudah tumbuh di rahimku," ujar Frisa dengan terkekeh dan mata yang berkaca-kaca.


"Anak kita, Sayang. Anak kita! Bikinnya berdua juga," ujar Gavin tak terima yang membuat Sastra gemas dengan anaknya dan menggetok kepala Gavin dengan pelan yang membuat Gavin meringis.


Sastra heran dimana sikap Gavin yang dingin dan datar seperti biasanya, ia seperti melihat dua kepribadian dalam diri Gavin dan itu setelah anaknya menikah dengan Frisa.


"Iya anak kita! Mas ih malu tahu!" gumam Frisa dengan kedua pipi yang memerah.


"Kamu jaga baik-baik Frisa dan anak kamu, Gavin. Awas saja jika kesayangan Mama kenapa-napa," ujar Citra memberikan ancaman kepada anaknya sendiri.

__ADS_1


"Iya, Ma!" jawab Gavin yang merasa jika dirinya bukanlah anak mamanya lagi semenjak Frisa menjadi istrinya. Tetapi walaupun begitu Gavin tahu jika mamanya sangat menyayangi Frisa seperti menyayangi dirinya atau bahkan lebih.


"Kalian tidak mau USG? Berikan kejutan untuk mbak Rania dan juga tuan Ferdians," ujar Citra yang sudah mengubah panggilannya untuk Rania karena mereka sekarang sudah menjadi besan sedangkan untuk Ferdians dia tetap memanggilnya dengan sebutan tuan karena Sastra tidak ingin Citra menyebutkan lelaki lain dengan sebutan mas, cukup dia saja.


"Ide yang bagus, Ma. Hari ini kami akan USG dan setelah itu memberitahu kepada mama dan papa," ujar Frisa dengan tersenyum.


"Ya sudah siap-siap dulu sana. Tapi jangan lupa sarapan dulu. Mau Mama buatin apa?" tanya Citra dengan lembut.


"Nasi goreng ya, Ma. Kayaknya enak!" ujar Frisa dengan berbinar.


"Boleh! Mama akan menuruti ngidam pertama kamu ini," ujar Citra dengan tersenyum.


"Mama sama papa ke dapur dulu!" ujar Citra yang di angguki oleh Frisa dan Gavin.


Setelah kepergian mama dan papanya, Gavin menatap Frisa dengan dalam. Ia mengusap pipi Frisa dengan lembut.


"Sayang!" gumam Gavin.


"Iya, Mas!" sahut Frisa dengan tersenyum.


"Kamu bahagia kan mengandung anak, Mas. Maksud Mas awal pernikahan kita kamu meminta Mas jadi suami bayaran kamu dan saat ini kamu sedang hamil. Mas tidak mau kamu...."


"Ssst..." Gavin terdiam saat jari telunjuk Frisa ada di bibirnya.


"Tidak ada namanya suami bayaran lagi, Mas. Kamu suami aku!" ujar Frisa yang membuat Gavin sangat bahagia.


Gavin menangkup wajah Frisa dengan kedua tangannya dan dengan bertubi-tubi mencium bibir Frisa dengan lembut. "I love you!" gumam Gavin yang akhirnya menyatakan perasaannya untuk pertama kalinya kepada Frisa.


Frisa tampak terdiam dan mematung dengan ucapan Gavin yang baru pertama kali ia dengar setelah mereka menikah. Mata Frisa berkaca-kaca, ia pikir perasaan Gavin tidak sama dengan dirinya sehingga Frisa tak berani mengungkapkan perasaannya duluan dan kali ini, untuk pertama kalinya ia mendengar ucapan itu keluar dari bibir Gavin dengan langsung di hadapannya.


"M-mas..."


Cup...


Cup...


Cup...


"I love you, Sayang! Aku mencintai kamu!" ujar Gavin dengan lirih.


Entah karena bawaan bayi atau tidak sekarang Frisa sudah menangis kembali. "Hiks...hiks.... A-aku pikir Mas tidak mencintaiku! A-aku pikir semua yang Mas lakukan karena sebuah kewajiban Mas saja! A-aku juga mencintai kamu, Mas!" ujar Frisa dengan terisak.

__ADS_1


Bruk...


Frisa memeluk Gavin dengan erat, Gavin membalas pelukan Frisa dengan perlahan karena tak ingin menyakiti anak mereka yang masih berada di perut Frisa. Gavin mencium puncak kepala Frisa dengan lembut. Keduanya menangis bersama setelah mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Sungguh keduanya tak menyangka pernikahan mereka akan terlihat sangat membahagiakan seperti ini. Apalagi dengan kehadiran calon anak mereka yang membuat keduanya sangat bahagia, kehadiran calon anak mereka benar-benar membawa kebahagiaan.


__ADS_2