Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 137 (Mencoba Dekat?)


__ADS_3

...Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Faiz merebahkan dirinya di kasur, ia ingin memejamkan mata sejenak tetapi tiba-tiba saja ada yang menubruk tubuhnya hingga Faiz terkejut dan langsung membuka matanya. Ingin marah tetapi melihat wajah kembarannya lah yang terlihat dengan wajah yang begitu menggemaskan membuat Faiz tidak bisa marah dengan sang kembaran.


"Frisa!" gemas Faiz memeluk adiknya yang membuat Frisa terkekeh.


"Kak!" panggil Frisa dengan suara yang amat lembut.


"Kenapa, Dek? Pasti ada maunya nih!" ujar Faiz dengan terkekeh.


Frisa menatap wajah Faiz dengan senyum-senyum sendiri. "Aku jatuh cinta, Kak!" ujar Frisa yang membuat Faiz terkejut.


"Jatuh cinta? Sama siapa?" tanya Faiz terkejut sekaligus waspada karena Faiz takut adiknya akan terluka karena jatuh cinta.


Frisa tersenyum malu-malu untuk mengatakan yang sejujurnya tetapi sejak kecil ia selalu menceritakan semuanya kepada Faiz dan rasanya ia ingin mengatakan jika ia sedang jatuh cinta dengan Melvin sekarang juga.


"Melvin!" jawab Frisa dengan malu-malu.


"Melvin?!" Faiz sangat terkejut dengan jawaban adiknya karena ia pikir Frisa lebih menyukai Gavin tetapi ternyata tidak.


"Kakak tidak melarang kamu untuk suka dengan seseorang, Dek. Tapi Kakak lebih setuju kamu dengan Gavin, tapi jika kamu lebih menyukai Melvin, Kakak tidak akan melarang. Selagi Melvin tidak melukai hati kamu, Kakak mendukung semua keputusan kamu," ujar Faiz dengan bijak.


Frisa tersenyum ia memeluk Faiz semakin erat karena Faiz selalu mengerti apa yang ia rasakan mungkin karena mereka kembar maka ikatan batin di antara mereka semakin kuat.


"Melvin juga suka sama kamu?" tanya Faiz memastikan.


Frisa terdiam, lalu ia menggelengkan kepalanya dengan menyengir kuda. "Aku tidak tahu, Kak!" jawab Frisa yang membuat Faiz menghela napasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Ya sudah yang terpenting ketika suatu saat kamu dan Melvin dekat, Kakak tidak mau melihat kamu sedih karena Melvin! Kakak pastikan hidup Melvin akan menderita jika kamu menangis karena dia," ujar Faiz dengan tegas.


Cup...


Faiz mengecup kening adiknya dengan lembut yang membuat Frisa selalu nyaman dengan pelukan dan perlakuan kembarannya yang selalu mendukung apa keputusannya.


"Terima kasih, Kak! Kakak yang terbaik. Malam ini aku tidur di sini ya," ujar Frisa dengan manja.


"Kamu sudah dewasa, Dek. Tidur di kamar kamu sekarang," ujar Faiz dengan terkekeh.


"Tidak mau!" ujar Frisa yang memeluk guling.


Faiz menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adiknya. Faiz tidak lagi memaksa kembarannya, biarkan saja Frisa tidur di kamarnya karena mungkin setelah Frisa menikah mereka tidak akan bisa sedekat ini lagi.


"Kak!" panggil Frisa.


"Hmmm..."


"Kakak sudah ada gadis yang Kakak sukai?" tanya Frisa dengan hati-hati.


Frisa mencibik kesal. "Cobalah dekati gadis-gadis cantik, Kak! Siapa gitu di kantor Kakak yang menarik hati Kakak. Jangan sibuk bekerja terus," omel Frisa kepada kakaknya.


"Saat ini yang lebih penting membahagiakan mama, papa, kakek, kamu dan keluarga kita semuanya. Untuk mendekati gadis-gadis agar bisa merasakan jatuh cinta itu bukan tujuan utama, Kakak! Lagi pula usia kakak masih muda, Frisa. Kamu bisa menikah duluan nanti jika kamu ingin menikah muda. Kakak tidak akan menghalangi kamu," ujar Faiz yang membuat Frisa menghela napasnya dengan pelan.


"Kakak akan merasakan jatuh cinta dengan seorang gadis dan saat itu Kakak pasti tidak mau jauh dari dia. Jadi, aku tinggal menunggu Kakak akan memiliki pacar," ujar Frisa dengan tegas.


"Sudah-sudah, ayo kita tidur ini sudah malam. Besok Kakak harus bekerja dan kamu juga harus bantu di perusahaan setelah Kakak memegang ahli perusahaan Kakek Eric," ujar Faiz dengan tegas yang membuat Frisa cemberut.


"Gavin saja yang bantu ya, Kak. Seperti om Sastra yang bantu Mama dulu," ujar Frisa dengan memelas.


"Gavin juga akan membantu tapi kamu juga harus mengerti tentang perusahaan. Jangan sampai perusahaan yang di bangun oleh mama dengan susah payah jatuh saat kamu atau Kakak yang memegangnya," ujar Faiz dengan tegas yang membuat Frisa mengangguk dengan tidak bersemangat.

__ADS_1


"Sudah tidur!"


"Iya, Kak!"


****


Pagi harinya....


Faiz sudah sampai di kantornya, ia ingin menaiki lift tetapi ia melihat Olivia yang sedang sibuk dengan berkas di tangannya hingga gadis itu tak menyadari jika Faiz ada di depannya hingga Olivia menabrak tubuh Faiz dan dengan sigap Faiz menangkap tubuh Olivia agar tidak terjatuh.


Mata keduanya bertemu yang membuat Faiz maupun Olivia terdiam dengan saling menatap satu sama lain. Jantung keduanya berdebar dengan hebat, apalagi Olivia yang melihat mata Faiz yang begitu menghipnotis dirinya.


"Ya Tuhan... Baru kali ini aku melihat mata yang begitu sangat indah sekali," gumam Olivia di dalam hati.


"Kenapa hatiku berdebar?" gumam Faiz bertanya-tanya.


Olivia langsung tersadar, ia salah tingkah ketika Faiz masih menatapnya dengan pandangan yang tak bisa diartikan oleh dirinya. Mungkinkah Faiz tertarik kepada dirinya? Apakah ini saatnya ia mulai mendekati Faiz? Ya, ia harus mendekati Faiz sekarang karena Faiz juga tampan apa salahnya ia mencoba mendekati Faiz dan membuat adiknya senang mungkin Cassandra hanya ingin dekat dengan keluarga Danuarta karena dulu keluarga mereka juga bagian dari Danuarta walaupun saudara tiri. Tak apalah asal adiknya bahagia maka Olivia akan melakukannya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak melihat anda ada di sini," ujar Olivia tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Mau ke atas, ayo sekalian naik bersama saya," ujar Faiz dengan tegas.


"Tidak usah, Tuan. Ini litf khusus untuk anda dan saya tidak berhak naik lift ini. Saya naik lift yang lain saja, Tuan!" tolak Olivia dengan halus.


"Kamu berani membantah perintah saya Olivia? Kamu tahu sendiri saya paling tidak suka dibantah. Silahkan masuk ke dalam litf itu bersama saya atau hari ini kamu tidak usah bekerja. Saya bisa mencari pengganti kamu secepatnya," ujar Faiz dengan tajam yang membuat Olivia begitu takut.


"Maaf, Tuan. Baik saya akan naik bersama dengan, Tuan!" ujar Olivia dengan lirih.


Faiz menyeringai ia masuk ke dalam lift diikuti oleh Olivia yang terlihat diam karena sudah takut dengan ancamannya.


"Kenapa ada di belakang saya? Berdiri di samping saya! Kamu tahu? Kamu seperti anak kecil jika berdiri di belakang saya!" ujar Faiz yang membuat Olivia langsung berjalan di samping Faiz.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Bagaimana caranya aku mulai mendekati tuan Faiz jika di perlakukan begini saja aku sudah takut?" gumam Olivia di dalam hati dengan perasaan yang tidak menentu antara ingin mendekati Faiz atau tidak sama sekali.


Olivia melirik ke arah Faiz. "Olivia kamu harus bisa! Ayo semangat jangan takut! Ini baru gertakan belum amarah tuan Faiz," gumam Olivia menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2