
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Rajendra menatap Bunga yang sedang menata bunga yang baru saja mereka beli, semenjak hamil Bunga sangat suka mengoleksi bunga-bunga hidup seperti bunga mawar dan bougenville.
Rajendra membantu Bunga untuk menata semua bunga di rak-rak yang juga sudah mereka beli. Hobi baru istrinya ini membuat Rajendra tersenyum tipis karena selama hamil Bunga sama sekali tidak meminta yang aneh-aneh seperti kakaknya.
"Ini di taruh di mana, Sayang?" tanya Rajendra yang memegang pot berisikan bunga mawar merah kesukaan istrinya.
Rajendra sudah sangat lega karena Bunga hanya istri satu-satunya sekarang, sebab Rajendra sudah menceraikan Cassandra secara resmi seminggu yang lalu.
"Di situ saja, Mas!" ujar Bunga dengan tersenyum karena sangat menikmati kegiatan yang ia lakukan sekarang.
Rajendra meletakkan bunga mawar tersebut sesuai interupsi istrinya. Rajendra menatap Bunga dengan dari samping dengan dalam. Ia ingin mengatakan sesuatu tetapi melihat wajah bahagia istrinya membuat Rajendra tidak tega, tetapi ia harus mengatakannya karena ini adalah pilihan yang terbaik sekarang.
"Sayang, Mas ingin mengatakan sesuatu tapi kamu jangan marah ya," ujar Rajendra yang membuat Bunga langsung menghentikan aktivitasnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Bunga dengan lirih karena ia merasa ada sesuatu yang serius yang akan suaminya katakan.
"Duduk dulu yuk!" ajak Rajendra menggandeng istrinya untuk duduk di kursi yang ada di luar.
Bunga menuruti kemauan suaminya, ia duduk dengan perlahan, Bunga memperhatikan suaminya yang berjongkok di hadapannya saat ini dengan menatap dirinya begitu sangat dalam. Jantungnya berdetak sangat kencang karena memikirkan apa yang akan suaminya katakan.
"Janji dulu kamu tidak akan marah sama Mas!" ujar Rajendra yang di angguki oleh Bunga karena Bunga tak berani marah kepada Rajendra, ia hanya mempunyai Rajendra dan keluarga Danuarta sekarang sebab kedua orang tuanya pun tidak ada kabar. Setiap Bunga mendatangi rumah kedua orang tuanya mereka tidak ada di rumah.
"Iya, Mas!" sahut Bunga dengan tersenyum tipis.
"Tentang papa Roby dan mama Sherly malam ini anak buah Mas akan menangkap mereka, Sayang. Mas harus memberikan pelajaran pada mereka berdua, karena mereka sudah banyak menipu orang. Bukan itu saja papa Roby memang sudah menjadi buronan sejak dulu," ujar Rajendra memegang tangan istrinya.
__ADS_1
Rajendra dapat merasakan tangan Bunga langsung dingin sekarang. Bibirnya terlihat tampak pucat yang membuat Rajendra tidak tega tetapi Rajendra harus melakukannya demi kebaikan semuanya.
"Sayang! Bicaralah jangan diam saja seperti ini," ujar Rajendra dengan pelan.
Bunga menarik napasnya dengan pelan dan terasa begitu berat karena bagaimanapun ia adalah seorang anak dari Roby dan juga Sherly, ada rasa tak tega melihat orang tuanya sendiri akan di tangkap oleh suaminya. Sesak dan ingin menangis tentu saja tetapi Bunga harus terlihat kuat karena bagaimanapun kedua orang tuanya sudah berbuat salah.
Bunga tersenyum dengan mengelus rambut suaminya perlahan, seakan mengatakan dengan senyuman jika dirinya tidak apa-apa.
"Iya, Mas. Aku mengerti sekali dengan keputusan Mas sekarang karena kesalahan kedua orang tuaku sangat besar, apalagi papaku yang memang sudah banyak kesalahan kepada keluarga besar kamu," gumam Bunga dengan tersenyum tetapi matanya tidak bisa berbohong karena mata Bunga sudah berkaca-kaca sekarang.
"Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali, maafkan Mas ya yang menjadi orang begitu jahat sekarang," ujar Rajendra dengan pelan.
Bunga menggelengkan kepalanya. "Mas tidak jahat, yang aku tahu Mas seperti ini karena ingin melindungi keluarga kita, kan? Aku mendukung semua keputusan Mas. Aku boleh tanya, Mas?" ujar Bunga dengan tersenyum dan berakhir bertanya kepada suaminya.
"Iya, Sayang. Kamu mau tanya apa?" ucap Rajendra dengan lembut.
"Setelah Mas menangkap papa dan mama, Mas akan memasukkan papa dan mama ke penjara atau Mas sekap seperti kak Cassandra?" tanya Bunga dengan pelan.
"Kamu maunya yang mana? Mas akan menuruti kemauan kamu sekarang," ujar Rajendra dengan tersenyum karena ia juga harus menghargai istrinya.
Rajendra terdiam dan hanya tersenyum menatap istrinya, Rajendra berdiri dengan perlahan dan mencium kening istrinya dengan lembut.
"Ayo masuk, Sayang. Cuaca hari ini dingin sekali," ujar Rajendra yang menggendong istrinya ala bridal style masuk ke dalam rumah.
Bunga mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya, tak lama hujan pun turun membasahi bumi seakan mengerti kesedihan Bunga sekarang.
"Aku tidak mau ke kamar dulu, Mas. Aku mau duduk di ruang TV," ujar Bunga yang di angguki oleh Rajendra.
Rajendra berjalan ke ruang TV dan mendudukan Bunga di sofa dengan nyaman. "Mau Mas buatkan nasi goreng, Sayang?" tanya Rajendra mengelus perut istrinya dengan lembut.
"Aku mau yang berkuah, Mas. Sepertinya mie ayam dengan ayam cincangnya yang sangat banyak terlihat sangat enak," ujar Bunga dengan menelan ludahnya membayangkan mie ayam masuk ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Kita pesan saja mau?" tanya Rajendra menatap istrinya takut Bunga menyuruhnya membuatkan mie ayam karena Rajendra sama sekali tidak mengerti cara membuatnya.
"Iya Mas pesan saja karena aku tahu Mas tidak pandai membuatnya haha..." ujar Bunga dengan tertawa yang membuat Rajendra gemas dan mencuri ciuman di bibir istrinya yang membuat Bunga langsung terdiam menatap suaminya.
"Kenapa melihat Mas seperti itu?" tanya Rajendra dengan terkekeh. Kini, giliran Rajendra yang tertawa melihat wajah menggemaskan istrinya.
Rajendra tampak sedikit lega karena akhirnya Bunga sedikit melupakan kesedihannya tentang kedua orang tuanya. Sebab, Rajendra tidak ingin menunggu lama menangkap Roby dan Sherly yang sudah sangat meresahkan orang-orang.
Pipi Bunga bersemu merah. "Mas ih kenapa cium bibir aku tidak bilang-bilang," gumam Bunga dengan malu.
"Kenapa harus minta izin? Mas sangat berhak atas kamu sekarang," ujar Rajendra yang membuat Bunga semakin malu.
"Ihhh!" rengek Bunga dengan manja.
Rajendra memeluk Bunga dari samping dengan tangan yang satunya memegang ponsel dan memesan mie ayam yang Bunga inginkan, Bunga tak kalah manjanya kepada Rajendra. Bumil cantik itu bersandar di dada bidang suaminya dengan mata melihat ke layar ponsel.
"Di warung ini saja, Mas. Enak banget!" ujar Bunga menunjukkan warung mie ayam yang berada di aplikasi.
"Emang kamu sudah pernah coba, Sayang?" tanya Rajendra menatap istrinya.
"Sering banget sama Rini, Mas. Eh Gimana keadaan Rini ya, Mas? Sudah lama kami tidak bertemu," ujar Bunga yang tiba-tiba merindukan sahabatnya.
"Rini baik-baik saja, Sayang. Dia masih bekerja di kantor kok. Kamu tidak perlu bekerja lagi, yang kamu pikirkan sekarang adalah Mas dan kandungan kamu," ujar Rajendra dengan tegas.
"Iya, Mas. Tapi besok Rini boleh main ke rumah tidak? Aku kangen sama dia Mas," ujar Bunga meminta izin.
"Boleh, Sayang. Kamu hubungi saja Rini. Sekalian dia akan Mas suruh menjaga kamu selama Mas pergi besok," ujar Rajendra yang membuat Bunga terdiam dan akhirnya tersenyum.
"Makasih, Mas!" ujar Bunga dengan tersenyum.
"Sama-sama, Sayang!"
__ADS_1
Bunga memeluk Rajendra dengan erat, ia masih memikirkan kedua orang tuanya sekarang. Bagaimana nasib kedua orang tuanya besok di tangan Rajendra?
"Ma, pa, Maafkan aku. Kalian harus menanggung semua perbuatan kalian. Aku tidak bisa melakukan apapun karena itu adalah kesalahan mama dan papa," gumam Bunga di dalam hati.