
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Saat ini Rania maupun Ferdians sudah berada di rumah. Keduanya sibuk menyapa para karyawan di Danuarta Grup setelah itu Ferdians mengantarkan Rania ke kantornya dan akhirnya ketika hari sudah malam barulah mereka sampai di rumah dengan tubuh yang terasa lelah.
"Ferdians!" panggil Rania saat ia melepaskan jas kantornya.
"Iya, Sayang!" sahut Ferdians yang juga melepaskan jas kantornya.
Rania menatap ke arah Ferdians dengan tatapan datarnya. "Saya tidak mau tahu walaupun kamu sudah menjadi CEO, kamu tetap menjadi supir pribadi saya!" ujar Rania dengan datar.
Ferdians mengernyit dahinya menatap Rania dengan pandangan bingungnya. "Aku tidak akan lupa itu, Sayang. Aku juga tidak mau ada supir baru yang mengantarkan kamu ke kantor," jawab Ferdians dengan tegas.
"Kamu kenapa? Hari ini terlihat sangat aneh sekali," tanya Ferdians.
Rania terdiam. Aneh? Dirinya aneh? Rania tidak merasa ada yang aneh di dalam dirinya hanya saja Rania tidak mau memiliki supir baru lagi.
"Kamu sudah nyaman dengan suamimu ini yang menjadi supir pribadi kamu ya?" tanya Ferdians dengan jahil bahkan ia terkekeh seakan mengejek Rania yang membuat Rania kesal.
"Saya tidak mau membayar orang lain lagi! Jangan berpikir macam-macam!" ucap Rania dengan ketus.
Ferdians terkekeh yang membuat Rania mendengkus kesal dan akhirnya memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Rania! Rania! Gengsimu terlalu besar, Sayang. Bilang saja kamu sedang cemburu karena banyak karyawan wanita tadi yang mengagumi ketampanan suamimu ini," gumam Ferdians dengan pelan yang melihat Rania masuk ke dalam kamar mandi.
Ferdians mempunyai ide untuk mengerjai Rania kembali. Dengan bersiul senang Ferdians mendekati pintu kamar mandi. "Sayang handuknya lupa kamu bawa masuk nih!" ujar Ferdians sedikit keras.
"Nanti saja!" jawab Rania dari dalam kamar mandi.
"Yakin? Kalau nanti aku tidak akan mau memberikannya, biarkan saja kamu keluar dengan bertelanj*ng," ujar Ferdians terlihat serius padahal ia sedang menahan tawanya.
Dengan perasaan kesal Rania membuka pintu kamar mandi, ia menatap Ferdians dengan tajam. "Mana handuknya? Berikan pada saya!" ucap Rania dengan dingin.
"Cepat Ferdians!" ujar Rania dengan kesal.
Ferdians tersenyum dan mendekati Rania. "Handuknya..." Ferdians menggantungkan ucapannya.
"Dimana handuknya?" tanya Rania dengan tajam dan mulai merasa curiga dengan Ferdians.
Rania memicingkan matanya, ia melihat belakangnya di mana biasanya handuk sudah tergantung di sana karena biasanya pelayannya sudah menggantikan handuknya.
__ADS_1
Shittt!!!
Rania merasa bodoh sekarang. Bisa-bisanya ia tertipu dengan Ferdians saat ini. "Beraninya kamu menipu saya, Ferdians!" ucap Rania dengan dingin.
Ferdians terkekeh, dengan gerakan cepat ia menutup pintu kamar mandi dan sekarang ia maupun Rania sudah berada di dalam kamar mandi berdua.
"Ahhh... Gerahnya! Yuk mandi, Sayang!" ujar Ferdians yang tak merasa takut jika singa betina ini akan mengamuk kembali kepada dirinya.
"FERDIANS!" teriak Rania saat Ferdians mengangkat tubuhnya hingga ia dan Ferdians masuk ke dalam bathtub bersama.
Sudah dapat dipastikan apa yang akan Ferdians lakukan setelah ini pada Rania. Tentu saja membuat Rania mendes*h di bawah kuasanya.
****
Rania mengeringkan rambutnya dengan hair dryer dengan wajah yang amat jengkel menatap Ferdians yang seakan tak bersalah kepada dirinya.
"Kenapa wajahnya di tekuk seperti itu?" tanya Ferdians dengan tersenyum geli.
"Cih... Lain kali saya tidak akan percaya lagi dengan omong kosongmu!" ujar Rania dengan ketus.
"Kenapa harus marah, Sayang? Kamu juga menikmatinya tadi bahkan kamu yang berada di atas tadi," ujar Ferdians dengan entengnya yang membuat Rania ingin sekali memukul kepala Ferdians dengan hair dryer.
"Berani kamu sama saya?" tanya Rania dengan tajam.
"Masih berani kamu sama saya? Mentang-mentang saya bersikap baik dalam waktu dekat ini kamu seenaknya dengan saya," ujar Rania dengan dingin.
"A-ampun, Nona. Lepaskan tanganmu di telingaku ya! Bisa-bisa telingaku putus jika kamu terus menariknya dengan keras," ujar Ferdians dengan meringis.
"Saya tidak peduli! Kamu memang harus diberikan pelajaran karena sudah berani terhadap saya!" ujar Rania dengan datar.
"Rania, Ferdians, apa yang kalian lakukan di dalam sana? Kenapa suara teriakan Ferdians terdengar sampai keluar?" tanya Heera yang membuat Rania langsung melepaskan tangannya dari telinga Ferdians.
Shitt....
Rania lupa menutup pintu dengan rapat dan akhirnya ibu mertuanya mendengar teriakan Ferdians. "Kali ini kamu selamat Ferdians! Lain kali kamu tidak akan selamat lagi!" ujar Rania dengan dingin yang membuat Ferdians menelan ludahnya dengan kasar.
Kenapa sikap Rania sangat aneh sekali? Saat mereka bercinta tadi Rania bahkan tak menolaknya, wanita itu menikmati sentuhannya dan setelah selesai mengapa Rania masih menyeramkan sekali?
Ferdians melihat ke arah telinganya dari kaca rias Rania. Benar saja telinganya sudah memerah akibat jeweran Rania yang sangat keras.
"Mas Ferdians terjatuh, Bu!" jawab Rania membuka pintu kamarnya sedikit lebar.
"Terjatuh? Bagaimana bisa?" tanya Heera dengan cemas.
__ADS_1
"Sudah aku bilang jika habis mandi letakkan handuk dengan benar, Bu. Tapi mas Ferdians meletakkannya dengan sembarangan dan akhirnya aku mengejarnya hingga mas Ferdians terjatuh di sofa," ujar Rania dengan berbohong.
"Benar begitu, Ferdians?" tanya Heera kepada anaknya.
"Benar, Bu!" jawab Ferdians dengan mengusap telinganya yang masih terasa panas.
"Terus kenapa telingamu bisa memerah seperti itu?" tanya Heera dengan penasaran.
"Ada serangga betina yang menggigitku tadi, Bu! Selain jatuh aku juga kesakitan karena perbuatannya. Jahat sekali dia, Bu! Anak Ibu yang tampan ini digigit olehnya," ujar Ferdians dengan mengadu yang membuat Rania mendelik kesal tetapi Ferdians seakan tidak peduli.
"Coba Ibu lihat? Serangga apa yang menggigit telingamu, Nak? Apakah tidak berbahaya?" tanya Heera dengan cemas.
"Tidak, Bu. Aku bisa mengatasinya dengan menjinakkannya. Ibu tenang saja ya, sebaiknya Ibu istirahat ke kamar ya! Ibu sudah minum obat, kan? Jangan sampai telat minum obat ya, Bu! Kita akan ke rumah sakit besok untuk melakukan kemoterapi lagi," ujar Ferdians dengan lembut.
"Menjinakkan? Dia pikir aku hewan? Dasar brengsek!" umpat Rania di dalam hati.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Heera memastikan.
"Tidak, Bu. Aku bisa mengobati mas Ferdians!" ujar Rania dengan lembut.
"Ya sudah Ibu ke kamar dulu ya. Kamu tidak boleh begitu dengan istri kamu, Ferdians! Letakkan handuk dengan benar! Mengapa semua lelaki tidak pernah benar meletakkan handuknya? Ibu heran! Rania sudah lelah bekerja jangan kamu tambah kelelahannya," ujar Heera membela menantunya walaupun Heera tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya.
"Iya, Bu. Aku tahu aku ceroboh!" ujar Ferdians dengan menghela napasnya pelan.
Rania menyeringai menatap ke arah Ferdians setelah Heera sudah berjalan pergi. "Saat ini Ibu berada di pihak saya! Kamu tidak bisa berkutik, Ferdians!" ujar Rania dengan menyeringai.
"Ya-ya aku tahu. Dasar istri nakal!" ujar Ferdians berpura-pura kesal.
Rania menutup pintu kamarnya dan menguncinya dan setelah itu ia berjalan ke arah kasur, ia merebahkan dirinya diikuti oleh Ferdians.
"Saat aku menjadi CEO di perusahaan Danuarta itu artinya kesibukanku kian bertambah. Pertemuan kita mungkin akan terasa singkat, rasanya aku ingin tetap menjadi supirmu saja. Tapi, aku ingin juga membahagiakan dirimu," ujar Ferdians memiringkan tubuhnya menatap wajah Rania.
"Tidak masalah! Asal rencanaku berjalan dengan lancar! Mereka tak boleh mengusai perusahaan Danuarta," jawab Rania dengan entengnya.
"Ck... Benar-benar istri tidak peka. Padahal aku baru saja membayangkannya tapi aku sudah merasa rindu kepadamu!" ujar Ferdians dengan jujur.
Ferdians mengarahkan tangannya di perut Rania. "Hai, Nak. Cepatlah tumbuh di rahim ibumu tapi kamu tidak boleh menuruni sikap ibumu ini ya! Kamu harus menuruni sikap ayah yang baik ini," ujar Ferdians dengan lembut.
Cup....
"Ayah dan ibu sangat menantikan kehadiranmu!" gumam Ferdians yang membuat Rania terdiam.
Ferdians mengarahkan tangan Rania ke perutnya juga dengan tangan Ferdians yang berada di atasnya. "Kami menyayangimu, Nak!"
__ADS_1