Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 164 (Pertemuan Rajendra dengan Clara)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! InsyaAllah mulai hari ini aku mulai double up kembali jika tidak ada halangan....


...Happy reading...


*****


Sesuai janjinya dengan Rajendra akhirnya Cassandra mengajak Rajendra untuk bertemu dengan mamanya dan tentu saja ia sudah mengirimkan pesan kepada mamanya agar berpura-pura seperti biasa karena Rajendra anak dari Ben dan juga Ana akan mengunjunginya.


Tentu saja itu membuat Clara sedikit syok. Namun, ia berhasil menormalkan kembali detak jantungnya yang entah mengapa tiba-tiba saja berdetak takut. Tapi Clara tak gampang mundur atau menyerah begitu saja, ia akan membuat semua keturunan Ben akan menderita karena telah membuat dirinya seperti ini. Untung saja kewarasannya bisa kembali dan jika tidak semua akan terasa sia-sia. Clara harap mamanya segera bertemu dengan dirinya dan ikut bergabung dalam rencananya untuk menghancurkan keluarga Danuarta tanpa tersisa.


Clara menatap tajam ke arah Rajendra yang sudah mendekat ke arahnya bersama dengan Cassandra. Tangannya terkepal dengan sangat erat seakan dendam itu tidak akan pernah ada habisnya. Tetapi Clara harus berpura-pura gila walaupun ia sangat ingin memukul wajah anak dari lelaki yang telah membuat hidupnya sangat menderita.


"Selamat pagi nona Cassandra! Anda ingin menjenguk ibu Clara?" tanya suster tersebut dengan ramah bahkan para suster maupun dokter yang menangani Clara tidak tahu jika selama ini Clara sudah sembuh dan berpura-pura gila sampai saat ini hanya karena ingin membalaskan dendam yang tak kunjung usai.


"Iya, Sus! Bagaimana keadaan mama saya?" tanya Cassandra dengan ramah.


"Masih seperti biasanya, Nona!" jawab suster tersebut yang membuat Cassandra menghela napasnya dengan pelan.


Rajendra menatap Cassandra, gadis itu seperti sedang tidak berpura-pura tetapi Rajendra tidak ingin mempercayai begitu saja bahkan karena ini ia sudah lupa sakit hatinya karena patah hati, menurutnya penyelidikan Cassandra dan Clara lebih baik daripada ia harus memikirkan sesuatu yang akan membuat dirinya sangat pusing.


Cassandra mengajak Rajendra untuk mendekat ke arah mamanya. Rajendra mengangguk dengan mata yang menatap Clara seperti elang.


"Mamamu akan terus terdiam di sudut seperti ini? Dia tidak ingin berinteraksi dengan yang lainnya?" tanya Rajendra dengan pelan.


Wajah Cassandra menjadi sangat amat sendu sekarang dan Clara memuji anaknya yang sangat pandai berakting.


"Tidak sia-sia aku mempengaruhi Cassandra. Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang aku inginkan dan sangat bisa aku andalkan," gumam Clara di dalam hati.


"Iya, Tuan. Mama bahkan masih sering mengamuk tidak jelas. Aku sangat ingin mama sehat dan bebas," sahut Cassandra dengan sendu.

__ADS_1


"Siapa kalian? Pergi dari sini!" teriak Clara yang membuat Rajendra yang ingin berbicara menjadi mengurungkan niatnya.


Rajendra menatap wajah Clara. Ia masih merasa ada yang janggal dengan Clara, wanita itu terus menatap dirinya dengan penuh dendam.


"Ma, tenang! Ini aku Cassandra!" ujar Cassandra berpura-pura menenangkan mamanya.


"PERGI!" teriak Clara mendorong Cassandra dan Rajendra dengan kuat hingga Cassandra terjatuh.


Jika tidak sedang berpura-pura, Cassandra sudah kesal dengan mamanya karena mendorongnya begitu sangat kuat hingga dirinya terjatuh. Tetapi semua ini ia bisa mendapatkan perhatian dari Rajendra.


"Cassandra!" gumam Rajendra dengan pelan.


Ia berjongkok untuk membantu Cassandra berdiri tetapi matanya tak pernah lepas dari Clara. Ada yang tidak beres dengan wanita ini.


"PERGI!" teriak Clara dengan mengamuk bahkan ia mengambil sesuatu ingin memukul Rajendra tetapi dengan cepat Rajendra menangkisnya dan mendorong Cassandra. Rajendra menggendong Cassandra yang terlihat kesakitan, ia berjalan dengan cepat keluar dari ruangan Clara.


"Hiks...hiks... Mama!" gumam Cassandra menangis.


"Jangan lama-lama ya, Tuan. Aku takut!" ucap Cassandra dengan sendu.


"Tidak! Sebentar saja!" ujar Rajendra.


Akhirnya Rajendra berjalan pergi dari hadapan Cassandra. Rajendra tidak benar-benar pergi, ia memang mengambil obat tetapi itu tidak lama, ia mengawasi Cassandra dari jauh. Gadis itu terlihat mendekat ke ruangan Clara kembali.


Rajendra berjalan mendekat ke arah ruangan Clara tetapi ia tidak masuk melainkan mengintip Cassandra dan Clara di sana karena suster yang menangani Clara sudah keluar.


"Ma, seharusnya Mama tidak mendorong aku begitu kuat. Lihat atas perbuatan Mama aku jadi terluka," ujar Cassandra dengan kesal.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama terlalu emosi saat melihat anak Ben menemui Mama tadi. Mama sangat ingin membunuhnya saat itu juga," ujar Clara merasa bersalah.

__ADS_1


"Ya ampun, Ma. Jangan gegabah seperti ini! Jangan sampai rencana kita gagal untuk menghancurkan keluarga Danuarta. Mama tahu tidak sepertinya tuan Rajendra sudah tertarik denganku makanya dia sangat ingin bertemu dengan Mama bahkan saat aku terluka tadi dia begitu perhatian. Pokoknya Mama jangan sampai ketahuan siapapun jika Mama sudah sembuh," ujar Cassandra dengan tegas.


"Brengsek! Benar-benar ibu dan anak yang tak tahu di untung. Kalian berani bermain-main denganku? Lihat saja apa yang aku lakukan sebelum kalian berhasil menghancurkan keluargaku!" gumam Rajendra dengan mengapalkan kedua tangannya, amarahnya siap meledak kapan saja tetapi Rajendra mencoba menahan semuanya.


"Lihat saja permain siapa yang akan menang aku atau kamu, Clara!" gumam Rajendra terkekeh sinis.


"Aku keluar dulu, Ma. Nanti tuan Rajendra bisa curiga!" ujar Cassandra memeluk mamanya.


"Mama tenang saja aku akan mengeluarkan Mama dari sini," ujar Cassandra dengan sendu.


"Iya, Sayang. Mama bangga dengan kamu! Semua rencana kita harus berhasil, Sayang!" ujar Clara dengan tersenyum.


"Pasti, Ma!" sahut Cassandra dengan tersenyum.


Rajendra langsung pergi dari sana, ia menatap Cassandra dengan tajam yang kembali duduk di kursi tunggu. Setelah memastikan Cassandra sudah di sana Rajendra kembali menghampiri Cassandra.


"Maaf ya lama!" ujar Rajendra dengan menahan amarahnya.


"Tidak lama, Tuan! Terima kasih sudah mau membelikan obat untuk saya," ujar Cassandra dengan tersenyum.


"Tentu saja, Cassandra. Saya tidak mungkin membiarkan kamu terus terluka seperti ini," ujar Rajendra dengan tersenyum.


Cassandra membalas senyuman Rajendra dengan sangat manis tetapi Rajendra sudah muak dengan senyuman penuh kepalsuan itu. Ia ingin Clara dan Cassandra menderita karena telah berani bermain-main dengan dirinya.


"Sini saya obati!" ujar Rajendra dengan lembut.


"Awww...sakit!" ucap Cassandra meringis tetapi setelah itu rasa sakitnya hilang ketikan Rajendra meniup lengannya yang terluka.


"Masih sakit?" tanya Rajendra penuh perhatian.

__ADS_1


"Iya, Tuan!" jawab Cassandra dengan meringis.


Cassandra tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Jangan remehkan Rajendra Danuarta yang bisa membaca situasi dengan sangat gampang. Rajendra tidak akan mudah di bohongi oleh gadis seperti Cassandra. Dan Cassandra sedang bermain-main dengan orang yang salah. Sebelum keluarganya yang hancur, Rajendra sudah pasti akan menghancurkan gadis itu sampai tak tersisa. Tunggu saja tanggal mainnya.


__ADS_2