
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Gavin menatap Frisa yang tertidur dengan kepala yang bersandar di meja kerja, ia tersenyum melihat Frisa yang terlihat sangat cantik sekali saat tidur seperti ini. Gavin menghampiri Frisa, beberapa jam lalu Frisa sudah menjadi calon istrinya. Ya, dia akan menjadi suami bayaran nona Frisa nantinya tetapi Gavin yakin Frisa akan mencintai dirinya dan tidak bisa jauh dari dirinya.
Gavin mengelus pipi Frisa dengan lembut, walaupun Frisa tak boleh ia mengatakan yang sejujurnya nanti di hadapan kedua orang tua Frisa maupun kedua orang tuanya. Tetapi Gavin akan mengatakan yang sejujurnya nanti agar tidak ada yang salah paham nantinya dengan pernikahan mereka.
Gavin menggendong Frisa dengan perlahan, Frisa yang merasa sedikit terganggu memposisikan dirinya dengan nyaman di pelukan Gavin, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gavin seperti biasanya. Gavin terkekeh melihat tingkah Frisa saat tertidur seperti ini, terkadang Frisa sangat menggemaskan sekali. Namun, terkadang Frisa menyeramkan sekali, tetapi tak heran lagi karena Frisa adalah anak dari Rania.
Gavin berjalan dengan perlahan, ia takut Frisa akan bangun nantinya jika ia jalan terlalu cepat. Gavin memposisikan Frisa dengan nyaman di kursi penumpang, ia memasangkan seatbelt pada Frisa. Setelah selesai barulah Gavin masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Gavin memegang tangan Frisa dengan lembut, ia mencium punggung tangan Frisa dengan perlahan. "Saya tidak akan melepaskan kamu, Frisa. Karena kamu yang sudah memintanya maka kamu selamanya akan menjadi milik saya," ujar Gavin dengan pelan.
"Walaupun saya harus menjadi suami bayaran kamu, saya tidak masalah karena dengan begitu kamu tidak akan pernah bisa lepas dari saya. Saya akan buat kamu hamil anak saya, Frisa!" gumam Gavin dengan tersenyum tipis.
Gavin kembali fokus menyetir, ia ingin segera sampai ke rumah dan mengatakan niatnya yang sesungguhnya kepada Ferdians dan juga Rania. Entahlah, Gavin merasa kali ini ia sangat bahagia bahkan ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
****
Gavin sudah sampai di rumah kedua orang tua Frisa, ia menatap Frisa yang masih tertidur dengan nyamannya. Tak ingin mengganggu tidur nyenyak Frisa, akhirnya Gavin menggendong Frisa kembali.
Gavin melihat Ferdians dan Rania yang sedang bersantai. "Tuan, Nyonya, ada yang mau saya bicarakan ini serius. Tapi saya harus menidurkan nona Frisa ke kamarnya dulu," ujar Gavin dengan tegas.
"Baiklah Gavin. Kami menunggu di sini," ujar Ferdians dengan tegas.
Gavin mengangguk. "Permisi, Tuan, Nyonya!" ucap Gavin dengan sopan.
Rania menatap Gavin dengan serius saat lelaki itu sudah menaiki tangga. "Gavin apa tidak lelah setiap hari menggendong Frisa naik turun tangga seperti itu. Anak itu kenapa mempunyai kebiasaan tidur saat jam pulang kerja," ujar Rania dengan menggelengkan kepalanya.
"Gavin merasa tidak keberatan, Sayang. Bahkan sepertinya Gavin lebih mengetahui Frisa dari pada kita kedua orang tuanya karena Gavin lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Frisa dari pada kita orang tua Frisa sendiri, mau cemburu tapi ya sudahlah. Gavin bukan orang lain," ujar Ferdians dengan menghela napasnya dengan pelan.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan benar, Mas. Kita sebagai orang tuanya mungkin ada sesuatu yang kita tidak tahu, tapi karena Gavin benar-benar tulus hingga dia selalu mengatakan sesuatu dengan jujur kepada kita," ujar Rania juga ikut menghela napas tetapi ia sangat percaya dengan Gavin yang akan bisa menjaga Frisa.
"Itu Gavin. Kita dengarkan apa yang dia mau bicarakan kepada kita, Mas!" ujar Rania dengan tak sabaran.
"Iya, Sayang!" jawab Ferdians dengan tersenyum.
Gavin tersenyum tipis menatap Ferdians dan juga Rania. Ia duduk di samping Ferdians. "Ada sesuatu yang harus saya bicarakan, Tuan, Nyonya!" ujar Gavin dengan tegas.
"Ya katakan, Gavin!" ujar Rania dengan tegas.
"Tapi saya tidak mau nona Frisa mendengarkan pembicaraan kita, Nyonya!" ujar Gavin dengan tegas.
"Dan pembicaraan ini juga harus ada kedua orang tua saya. Saya sudah menghubungi mereka dan sebentar lagi mereka akan sampai. Bisa kita bicara di belakang, Tuan, Nyonya?" ujar Gavin yang membuat Rania dan juga Ferdians bingung.
"Sangat penting sekali hingga kamu tidak mau Frisa tahu apa yang kita bicarakan? Ya sudah ayo ke taman belakang, biarkan Olivia dan Faiz yang akan menemani Frisa sekaligus menghalangi Frisa jika dia akan menyusul kita ke taman belakang," ujar Rania dengan tegas.
Gavin mengangguk tak lama kedua orang tua Gavin datang dan akhirnya mereka ke taman belakang bersama.
***
"Tidak, Ma. Justru aku ada kabar gembira sekarang," ujar Gavin dengan tersenyum tipis.
"Kabar gembira apa?" tanya Citra dengan penasaran.
"Sayang kamu sabar dulu biar Gavin yang berbicara," ujar Sastra menenangkan istrinya.
Akhirnya Citra diam menanti anak semata wayangnya itu berbicara. Begitupun yang lainnya yang tampak serius menatap Gavin.
"Tuan, Nyonya, izinkan saya menikah dengan nona Frisa. Ini terdengar terlalu cepat memang tetapi tadi nona Frisa meminta saya untuk menjadi suaminya," ujar Gavin yang membuat Rania dan Ferdians maupun Sastra dan Citra tampak syok namun setelah itu mereka tersenyum bahagia.
"Frisa meminta kamu untuk menjadi suaminya?" tanya Rania.
"Iya, Nyonya. Tapi tepatnya menjadi suami bayaran nona Frisa," sahut Gavin yang membuat Rania tersedak air liurnya sendiri.
__ADS_1
"Uhuk...uhuk... B-bagaimana mungkin?" tanya Rania dengan syok.
"Nona, seharusnya anda tidak perlu terkejut seperti itu. Karena Frisa sama seperti Nona menuruni sikap anda sewaktu muda bedanya dulu anda menyuruh saya untuk mencari suami bayaran anda dan sekarang Frisa meminta anak saya untuk menjadi suami bayarannya," ujar Sastra dengan terkekeh.
"Sastra kenapa kamu bocorkan rahasia ini!" ujar Rania dengan geram, ia ingin sekali menjewer Sastra sekarang.
"Sudahlah, Sayang. Memang benar apa yang diucapkan Sastra kalau kamu meminta Mas untuk menjadi suami bayaran kamu waktu itu," ujar Ferdians dengan terkekeh.
"A-APA?" ucap Faiz dengan terkejut.
Rania memijat pelipisnya, ia merasa malu sekarang karena rahasia yang ia simpan akhirnya terbongkar di hadapan anaknya sendiri.
"Dulu Mama meminta papa untuk menjadi suami bayaran Mama? Ya Tuhan... Kenapa aku baru tahu rahasia besar ini dan sekarang kisah Mama juga akan terjadi pada Frisa. Benar-benar sangat mirip," ujar Faiz dengan menggelengkan kepalanya tak percaya tentang kisah kedua orang tuanya yang akan terjadi kepada saudara kembaran.
Ya, Faiz sejak tadi menguping pembicaraan Gavin dengan orang tua mereka karena Faiz merasa penasaran kenapa adiknya tidak boleh mengetahui masalah ini.
"Jadi, Nyonya dulu...." Gavin tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Rania menatap tajam ke arah dirinya.
"Duduk Faiz jangan banyak bertanya!" ujar Rania dengan ketus.
Tak ada lagi yang bisa Rania tutupi karena Faiz sudah mengetahui semuanya, ia tidak marah. Namun, Rania hanya merasa malu tentang kisahnya dengan Ferdians yang diketahui anaknya sendiri. Kisah yang sangat aneh menurutnya dan sekarang terjadi juga pada anak gadisnya. Rania tak habis pikir kenapa ini bisa terjadi, kisahnya akan terulang kembali kepada anaknya.
Faiz duduk di dekat Gavin, ia sungguh masih tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi. Sungguh Faiz baru mengetahui rahasia ini saat dirinya sudah dewasa karena tidak ada yang menceritakan kisah kedua orang tuanya sama sekali.
Ferdians, Sastra, dan Citra masih tampak terkekeh melihat wajah malu Rania. Akhirnya rahasia ini terbongkar juga.
"Saya bisa melanjutkan ucapan saya sebelum nona Frisa tahu?" tanya Gavin pada akhirnya menyelamatkan Rania sekarang.
"Silahkan Gavin!"
"Nona Frisa tidak mau rahasia ini terbongkar oleh keluarganya dan keluarga saya. Tapi saya harus mengatakan yang sejujurnya agar nanti tidak ada kesalahpahaman di sini. Tapi, Tuan, Nyonya. Di sini saya meminta kepada Tuan, dan Nyonya bahwa saya meminta restu kalian secara baik-baik. Saya ingin menjadikan nona Frisa istri yang sesungguhnya di mata hukum maupun agama. Jadi, uang yang akan diberikan nona Frisa kepada saya, saya akan kembalikan. Dan saya akan memberikan mahar sesuai yang nona Frisa inginkan," ujar Gavin dengan tegas.
"Tentu saja kami merestui hubungan kalian, Gavin. Tolong jaga Frisa dengan baik," ujar Ferdians dengan tegas.
__ADS_1
"Papa dan Mama juga merestui hubungan kalian terlepas dari perjanjian yang kamu lakukan dengan nona Frisa," ujar Sastra menepuk pundak anaknya.
Akhirnya Gavin merasa lega karena sudah mengungkapkan semuanya. Tinggal menunggu di mana ia dan Frisa akan menikah, entah mengapa Gavin sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.