Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 163 (Gadis Bermuka Dua)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! ...


...Happy reading...


****


Olivia menatap cincin pemberian Faiz dengan senyuman yang tak pernah pudar. Bahkan, bibirnya terus tertarik melengkung. Entah mengapa ia sangat merasa bahagia dengan pertunangannya semalam dengan Faiz padahal apa yang ia lakukan untuk membuat keluarganya dan keluarganya Faiz berbaikan. Untuk perasaannya kepada Faiz, Olivia tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya. Biarlah semua berjalan dengan takdir kehidupannya dengan Faiz nantinya, Olivia belum bisa membayangkan masa depan seperti apa yang ia dan Faiz jalankan nanti setelah mereka menikah.


Olivia tersentak saat ada yang memeluknya dari belakang, lalu ia tersenyum saat mengenali parfum yang masuk ke indra penciumannya, siapa lagi kalau bukan Faiz.


"Selamat pagi calon istri," sapa Faiz dengan lembut dan sangat menggelitik hati Olivia saat ibi yang membuat senyuman Olivia semakin mengembang.


Kenapa hatinya penuh dengan bunga yang bermekaran hanya karena Faiz menyapanya dengan memanggil dirinya dengan sebutan calon istri?


"Mas lepas! Malu di lihatin yang lain!" ujar Olivia yang berusaha melepaskan pelukan Faiz yang sangat tiba-tiba.


"Kalau Mas tidak mau bagaimana?" tanya Faiz dengan menantang Olivia.


Olivia mencibik dengan kesal. "Masss..." rengek Olivia yang membuat Faiz terkekeh dan akhirnya melepaskan pelukannya pada Olivia.


"Kenapa berangkat kerja sendiri hmm? Padahal Mas sudah siap-siap untuk menjemput kamu tadi," tanya Faiz dengan lembut.


"Tidak apa-apa, Mas. Ayah masih terlihat sangat muram tadi, jadi aku tidak ingin membuat ayah semakin tertekan. Tapi, lambat laun aku yakin ayah pasti akan menerima kamu sepenuhnya," sahut Olivia dengan lembut.


Faiz tersenyum tipis, ia menggandeng tangan


Olivia dengan lembut. "Semoga saja, Sayang. Tapi nanti pulang dari kantor kamu pulang sama Mas ya. Titik dan tidak ada penolakan sama sekali," ujar Faiz dengan tersenyum.


"Eh... Kok gitu? Gimana sama mobil aku?" tanya Olivia dengan cemberut.


"Urusan mobil gampang, Sayang. Yang terpenting kamu pulang dulu sama Mas," ujar Faiz tidak terbantahkan yang membuat Olivia.

__ADS_1


"Iya-iya calon suami," ujar Olivia dengan mengalah.


Faiz tersenyum geli sekaligus bahagia saat Olivia memanggil dirinya dengan sebutan calon suami.


Olivia melihat tangannya yang di genggam oleh Faiz bahkan Faiz sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya walaupun mereka sudah berada di dalam kantor. Semua karyawan kantor juga sudah tahu jika keduanya akan segera menikah, ada yang ikut bahagia dengan pernikahan mereka dan ada juga yang merasa iri, mereka ingin menggantikan posisi Olivia saat ini karena Faiz benar-benar sangat berbeda jika sedang berinteraksi dengan Olivia, sikapnya sangat jauh berbeda ketika berinteraksi dengan orang lain. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan sikap Faiz selama ini yang sangat dingin kepada orang lain. Namun, dengan Olivia Faiz sangatlah lembut.


****


Cassandra sangat senang sekali hari ini karena selepas meeting dengan perusahaan yang lain entah mengapa Rajendra mengajaknya untuk pergi dan tidak kembali ke kantor. Tentu saja itu membuat Cassandra beranggapan jika Rajendra semakin tertarik kepada dirinya padahal yang jelas Rajendra melakukan ini karena ingin terus mencari tahu tentang Cassandra dan membuat gadis itu percaya jika ia sudah tertarik dengannya.


"Tuan maaf saya bertanya. Kita mau kemana ya?" tanya Cassandra dengan hati-hati.


"Saya ingin ke pantai sebentar. Kamu mau kan ikut dengan saya?" tanya Rajendra tanpa melihat ke arah Cassandra karena ia sedang fokus menyetir.


"Mau-mau banget, Tuan!" ucap Cassandra dengan cepat.


Rajendra tersenyum miring. Dasar gadis gampangan! batin Rajendra dengan kesal. Tapi tak apalah yang terpenting ia bisa menyelidiki Cassandra lebih dalam.


Rajendra melirik ke arah Cassandra dengan pelan, lalu ia tersenyum sinis. Setelah itu ekspresi Rajendra kembali seperti biasanya.


"Boleh tidak kapan-kapan saya menemui mama kamu di rumah sakit?" tanya Rajendra dengan tiba-tiba yang membuat Cassandra langsung syok. Namun, Cassandra menormalkan ekspresi wajahnya kembali.


"T-tuan ingin bertemu dengan mama saya? U-untuk apa, Tuan?" tanya Cassandra dengan terbata.


"Saya ingin berkenalan dengannya biar kita semakin akrab. Apakah saya boleh bertemu dengan mama kamu di rumah sakit?" tanya Rajendra dengan santainya namun itu membuat Cassandra begitu sangat senang sekali dengan apa yang Rajendra ucapkan. Itu artinya Rajendra ingin semakin dekat dengan dirinya bukan? Cassandra sama sekali tidak curiga dengan niat Rajendra.


"B-boleh, Tuan. S-sangat boleh!" ucap Cassandra dengan tersenyum.


"Baiklah, Terima kasih. wekeend nanti apakah bisa?" tanya Rajendra.


"Bisa, Tuan. Saya sangat senang jika Tuan ingin bertemu dengan mama saya. Tapi, Tuan jangan kaget jika mama tiba-tiba saja mengamuk," ujar Cassandra dengan sendu.

__ADS_1


"Sejak di penjara dan akhirnya melahirkan aku keadaan Mama semakin memburuk sampai sekarang bahkan dia sama sekali tidak mengenali aku sebagai anak kandungnya sendiri," gumam Cassandra berpura-pura sedih agar Rajendra semakin iba dan merasa bersalah kepada dirinya.


"Saya turut prihatin dengan apa yang menimpa mama kamu. Saya juga minta maaf atas apa yang terjadi di masa lalu antara kedua orang tua kita," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Cih, jika tidak sedang berpura-pura aku sangat enggan meminta maaf dengan gadis ular sepertimu," umpat Rajendra di dalam hati.


"Tidak apa-apa, Tuan. Itu juga kesalahan mama, aku sebagai anak sangat menyayangkan tindakan mama di masa lalu. Tapi ya sudahlah semuanya sudah berlalu, aku ingin memperbaiki semuanya. T-tuan bisakah aku menebus semua kesalahan mama agar mama cepat sembuh?" ujar Cassandra dengan sendu.


Cassandra menundukkan wajahnya agar Rajendra melihatnya semakin iba. Tanpa ia sangka Rajendra menggengam tangannya, rencananya berhasil dan sekarang Rajendra semakin iba dengan dirinya.


"Jangan sedih. Mama kamu pasti akan segera sembuh. Kamu gadis baik, pasti mama kamu bangga telah melahirkan kamu. Dan tentu saja kamu bisa memperbaiki semuanya," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Terima kasih, Tuan. Anda sangat baik sekali," ujar Cassandra dengan mata yang berkaca-kaca.


Rajendra hanya tersenyum dan setelah obrolan mereka yang panjang keduanya terdiam lebih tepatnya Rajendra yang sudah sangat malas berbicara dengan Cassandra. Rajendra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Clara di akhir pekan nanti. Ia harus memastikan seuatu, penyelidikannya harus berhasil secepatnya karena Rajendra tidak ingin terus di tempeli gadis bermuka dua seperti Cassandra yang terlihat baik di depan tetapi busuk di dalam.


****


Suara deburan ombak begitu membuat hati Rajendra tenang. Ia ingin menenangkan diri sejenak dan melupakan fakta jika gadis yang ia cintai sebentar lagi akan menikah dengan keponakannya sendiri bahkan Rajendra tidak mempedulikan Cassandra yang sejak tadi bermain air.


Jika sedang seperti ini Cassandra seperti anak kecil yang begitu polos bukan Cassandra yang pandai berkamuflase untuk menyembunyikan kelicikannya. Jika orang lain yang melihat mungkin mereka tidak akan sadar jika Cassandra adalah gadis bermuka dua tetapi berbeda dengan Rajendra yang seakan mengetahui itu dengan cepat.


"Tuan ayo bermain air!" ajak Cassandra dengan tersenyum.


"Kamu saja saya menunggu di sini!" jawab Rajendra dengan malas.


"Ayolah, Tuan! Kita sudah jauh-jauh ke sini masa tidak main air!" ucap Cassandra menarik tangan Rajendra dengan kuat yang membuat Rajendra berdecak kesal dan menahan emosinya, ia harus bisa menghadapi gadis seperti Cassandra yang sangat menyebalkan.


"Benar-benar sangat menyebalkan. Seharusnya aku tidak mengajak Cassandra ikut ke sini," umpat Rajendra di dalam hati.


Jika tidak menahan diri mungkin Rajendra sudah membentak Cassandra sejak tadi. Namun, Rajendra masih bisa menahan amarahnya. Ia tidak ingin semua rencana dan penyelidikannya gagal hanya karena amarahnya yang meledak.

__ADS_1


Mau tak mau akhirnya Rajendra ikut bermain air walaupun hatinya setengah dongkol sekarang. Ia benar-benar tidak nyaman dengan Cassandra. Bisakah ia meninggalkan Cassandra di sini saja? Batin Rajendra dengan sangat kesal.


__ADS_2