Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 22 (Pemindahan kekuasaan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Agni menatap suaminya dengan pandangan yang teramat kesal, ia baru saja mengetahui jika kursi kedudukan CEO akan digantikan oleh Ferdians. Menantu miskin yang sama sekali tidak bisa di banggakan, pengalaman pekerjaan di kantor saja tidak ada. Seharusnya Rio yang menjadi CEO bukan suami dari Rania.


"Mas bagaimana bisa kamu menyerahkan kursi CEO kepada Ferdians? Dia sama sekali tidak berpengalaman memimpin perusahaan. Kamu tidak takut jika perusahaan akan hancur di tangan Ferdians? Dia itu miskin bisa saja ia membawa kabur uang perusahaan!" ujar Agni dengan kesal.


"Saya tahu apa yang saya lakukan! Kemampuan Ferdians tidak bisa diremehkan! Dan saya yakin perusahaan akan semakin maju jika Ferdians yang akan memimpin perusahaan," jawab Ben dengan santai.


"Seharusnya Rio yang menduduki kursi CEO, Mas! Dia berpendidikan tinggi, terlihat sekali dia sangat cocok untuk memimpin perusahaan. Kamu buka mata kamu Mas bagaimana bisa Ferdians yang akan menggantikan kamu di perusahaan," ujar Agni dengan kesal.


Agni masih tak habis pikir bagaimana bisa kursi kedudukan CEO akan digantikan oleh Ferdians. Jika begini ia semakin sulit untuk menguasai perusahaan Danuarta, suaminya ini benar-benar membuat emosinya memuncak tetapi Agni tak bisa melampiaskan kemarahannya di depan Ben.


"Jangan remehkan Ferdians, Agni! Jiwa kepimpinannya sangat kuat. Keputusan saya tidak bisa di ganggu gugat," ujar Ben dengan tegas.


"Tapi Mas...."


"Turuti saja apa yang sudah menjadi keputusan Ben! Keputusan dari Ben berarti keputusan mutlak dari saya," ujar Doni masuk ke ruang kerja anaknya yang berada di rumah.


Agni mengepalkan kedua tangannya, ia mencoba menahan emosinya saat sang mertua datang.


"Sial! Kenapa kakek tua ini harus datang!" umpat Agni di dalam hati.


"Maaf, Pa. Aku hanya heran saja mengapa Ferdians yang tidak mempunyai pengalaman memimpin perusahaan bisa menggantikan mas Ben dalam mempimpin perusahaan sebesar Danuarta," ujar Agni dengan pelan.


"Tidak perlu heran karena Ferdians memiliki kemampuan lebih dari Rio walaupun cucu menantu saya itu dari kalangan orang sederhana. Kita lihat 6 bulan ke depan jika perusahaan tidak ada perkembangan sama sekali maka kursi CEO akan di ambil ahli kembali oleh Ben jika berkembang pesat maka Ferdians akan tetap memimpin perusahaan sebagai ganti Rania sampai pewaris yang sebenarnya lahir yaitu anak lelaki dari Rania dan juga Ferdians," ujar Doni dengan wajah dinginnya.


Agni menggerutu di dalam hati. Kali ini ia mengalah tetapi setelah ia mendapatkan cela maka Agni akan menguasai seluruh harta Danuarta.


"Baiklah aku mengerti. Jika begitu aku permisi," ujar Agni.

__ADS_1


Ben dan Doni melihat kepergian Agni dari ruangan kerja Ben dengan pandangan yang tidak bisa dijabarkan.


"Semakin hari istrimu itu semakin menyebalkan sekali!" ujar Doni dengan tajam yang membuat Ben terdiam.


"Ahhh sudahlah Agni memang sangat berbeda dengan Dewi," ujar Doni.


"Bagaimanapun sekarang Agni istri saya, Pa!" jawab Ben dengan tegas yang di angguki oleh Doni.


Setelah berkata seperti itu Ben maupun Doni terlihat terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Hanya mereka yang tahu apa isi pemiki mereka dan setelah itu keduanya tersenyum sinis seakan berbicara lewat senyuman. Tanpa kata yang di keluarkan pun keduanya seakan sedang berbicara sesuatu.


****


Pagi harinya...


Rania dan Ferdians datang ke kantor Danuarta Grup dengan langkah tegas mereka, semua orang melihat mereka seperti pasangan yang sangat serasi dan juga bahagia. Apalagi semua orang susah tahu jika Ferdians yang akan menduduki kursi CEO.


Dalam perjalanan masuk ke kantor Rania maupun Ferdians sudah di sambut oleh banyak karyawan dan tak lupa juga awak media yang sedang memburu berita keluarga Danuarta Grup yang memang sangat dinantikan setelah khusus kematian istri dari Ben Danuarta yang sangat menggemparkan awak media itu di tutup begitu saja dan kini mereka kembali mendapatkan berita yang sangat menarik.


'Suami dari Rania Danuarta akan menggantikan kedudukan kursi CEO Ben Danuarta hari ini!'


'Ferdians lelaki sederhana yang mampu menaklukan hati Rania Danuarta yang terkenal dengan sikap dinginnya kini menggantikan Ben Danuarta dalam mempimpin perusahaan'


'Pasangan pengantin baru Rania Danuarta dan Ferdians sangat terlihat serasi sekali. Apakah pewaris Danuarta Grup akan segera hadir?'


Headline news pagi ini seakan menggemparkan seluruh dunia bisnis. Banyak dari pasang mata yang penasaran bahkan sampai mencari-cari berita tentang mereka di media sosial.


Rapat memindahan kekuasaan akan segera di mulai. Para wartawan sudah standby di tempat mereka. Para petinggi perusahaan juga sudah hadir untuk menyaksikan acara penting hari ini.


"Selamat datang Nona Rania, Tuan Ferdians dan Tuan Sastra. Tuan Ben dan juga Tuan Doni sudah menunggu," ujar sekretaris Ben dengan ramah.


"Silahkan masuk!" ujar sekretaris Ben sekali lagi.


"Terima kasih!" ucap Ferdians dengan ramah. Namun, Rania dan Sastra hanya mengangguk dengan pelan.

__ADS_1


Setelah kedatangan Rania berserta Ferdians dan juga Sastra acara langsung di mulai. Rio menatap tangan Rania yang terlihat memegang lengan Ferdians, ada api cemburu yang sangat terlihat jelas ketika Rio menatap kedua pasangan suami istri itu seakan mengatakan jika seharusnya ia yang berada di posisi Ferdians.


Setelah rapat usai kini giliran sesi tanya jawab dengan wartawan. Ferdians dan Rania duduk berdua dengan di dampingi oleh Ben, Doni dan Sastra.


"Nona Rania, apakah anda bahagia saat ini karena suami anda sudah menduduki kursi CEO Danuarta Grup?" tanya wartawan.


"Tentu saja. Kami bisa menjadi partner yang sangat baik dalam memajukan perusahaan seperti papa dan mendiang mama dulu," jawab Rania dengan tegas.


"Tuan Ferdians apakah anda yakin bisa memajukan perusahaan Danuarta dengan pengalaman kerja anda yang sangat minim sekali?"


"Tentu! Saya akan membuat istri dan mertua saya bangga dengan kemampuan saya! Walaupun saya berasal dari keluarga sederhana namun setidaknya saya mengerti bagaimana bekerja di perusahaan," jawab Ferdians dengan tegas dan tak ada keraguan sama sekali di hatinya.


"Apakah saat ini Nona Rania sudah hamil?"


Ferdians dan Rania saling menatap satu sama lain. "Jika kabar gembira itu sudah tiba maka segera kami akan umumkan ke awak media! Sudah cukup pertanyaan untuk hari ini!" ujar Rania yang enggan untuk di tanya kembali.


Sastra tanggap ia langsung menutup sesi pertanyaan dari wartawan yang mungkin akan sangat panjang sekali.


"Tolong hargai keputusan nona Rania. Beliau masih terlihat lelah karena habis berbulan madu di Yunani. Sesi pertanyaan sudah kami tutup!" ucap Sastra yang membuat wartawan kecewa namun setidaknya mereka sudah mendapatkan berita menarik hari ini.


Rania, Ferdians, dan yang lainnya meninggal wartawan begitu saja. Mereka menuju ruangan CEO berada, nama Ben yang tertera di meja kerja CEO kini sudah tergantikan dengan nama Ferdians.


"Selamat Ferdians akhirnya kamu yang menggantikan saya!" ujar Ben menjabat tangan menantunya.


"Terima kasih, Pa! Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini!" ujar Ferdians dengan tersenyum.


"Ya. Dan Papa harap kamu bisa memajukan perusahaan ini lagi," ujar Ben dengan tegas.


"Saya akan berusaha, Pa!"


"Jangan membuat Kakek kecewa Ferdians!" ujar Doni dengan tegas.


"Tidak akan, Kakek!" sahut Ferdians dengan tersenyum.

__ADS_1


Rania yang duduk di kursi CEO hanya memperhatikan suami, papa, dan kakeknya. Tak ada niatan untuk menimbrung pembicaraan ketiganya karena yang terpenting sekarang perusahaan ini sudah berada di tangannya sebelum mama tiri dan saudara tirinya yang menguasai perusahaan ini.


Rania tersenyum sinis. "Ma, sebentar lagi perusahaan ini akan benar-benar jatuh ke tangan Rania Do'akan anak yang terlahir dari rahim Rania kelak adalah anak lelaki," gumam Rania di dalam hati.


__ADS_2