
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Faiz dan Olivia sudah sampai di rumah kedua orang tua Gavin. Keduanya sudah di sambut hangat dengan Sastra dan Citra.
"Pagi Tante, Om!" sapa Olivia dengan ramah.
"Pagi, Olivia!" Sahut Citra dan Sastra berbarengan.
"Ini ada buah, Tante!" ucap Olivia yang membuat Citra dan Sastra tersenyum.
"Terima kasih, Sayang. Sudah merepotkan ini," ujar Citra dengan tersenyum.
"Tidak merepotkan sama sekali, Tante! Oo iya di mana Gavin?" tanya Faiz yang mencari keberadaan Gavin tetapi ia sama sekali tidak menemukan Gavin bahkan adiknya juga.
"Ada di kamarnya! Sudah Tante lihat masih tidur dengan Frisa di sampingnya. Sebenarnya mau Tante marah karena takut keduanya khilaf sebelum menikah tapi Om kamu melarangnya karena yakin keduanya sudah sama-sama dewasa dan tak akan melakukan itu," jawab Citra dengan helaan napas pelan.
Faiz hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Saya juga yakin Gavin adalah lelaki bertanggungjawab, Tante. Dia tidak mungkin melakukan itu sebelum keduanya sah," ucap Faiz dengan tegas.
"Iya harus begitu!" ujar Sastra dengan tersenyum. "Silahkan masuk! Kami mau sarapan, kalian juga harus ikut sarapan bersama," ujar Sastra dengan tegas.
"Haha baiklah, Om. Sembari saya menunggu Gavin dan Frisa bangun," ujar Faiz dengan terkekeh.
"Haha gitu dong. Pengantin baru juga harus merasakan masakan Tante," ujar Citra dengan sangat senang.
Faiz dan Olivia di bawa menuju meja makan. Keduanya ikut sarapan bersama sambil menunggu Gavin dan Frisa bangun dari tidurnya.
Sedangkan Gavin dan Frisa masih setia memejamkan matanya. Hingga Gavin perlahan mengerjapkan matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Frisa yang membuat Gavin tersenyum senang karena Frisa benar-benar tidur bersama dirinya.
Gavin menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik Frisa dengan perlahan, ia mengelus pipi Frisa hingga Frisa merasa terusik dan akhirnya gadis itu membuka matanya.
Awalnya Frisa terlihat bingung. Namun, setelah itu Frisa mengingat semuanya dan akhirnya mencoba bangun tetapi tubuhnya di tahan oleh Gavin.
"Gavin lepas ini sudah pagi!" ujar Frisa dengan kesal dan mencoba melepaskan pelukan tangan Gavin pada perutnya.
"Sebentar lagi, Sayang!" ujar Gavin dengan pelan.
"Apaan sih! Lepas tidak?!" ujar Frisa dengan menatap Gavin begitu tajam.
Gavin terkekeh melihat Frisa kesal kepadanya. Gavin melepaskan pelukannya pada Frisa. Frisa mendengus kesal melihat Gavin yang terkekeh seperti itu.
"Jangan marah-marah kenapa sih hmm! Kamu sadar tidak kalau posisi kita tadi seperti suami istri," ujar Gavin dengan senyum yang sangat manis.
Frisa berdecak kesal. "Pikir apa kamu, hah? Dasar mesum!" ujar Frisa mencubit perut Gavin dengan gemas.
"Aduh... Aduh... Ampun, Sayang!" ujar Gavin memegang mengusap perutnya yang mendapatkan cubitan pedas dari Frisa.
Frisa memutar bola matanya dengan sinis. Frisa merasa setelah ia meminta Gavin untuk menjadi suami bayarannya, Gavin semakin berani terhadap dirinya bahkan perubahan sikap Gavin ini 180 derajat dari biasanya, karena biasanya sikap Gavin yang tidak banyak bicara kepadanya bahkan ekspresi wajah Gavin benar-benar datar. Namun, Frisa sudah sering melihat Gavin bisa berekspresi bahkan tersenyum pun sekarang sudah sering sekali. Frisa merasa aneh dan belum terbiasa dengan berubah sikap Gavin kepada dirinya.
"Awas aku mau mandi!" ujar Frisa yang turun dari kasur dan keluar kamar Gavin begitu saja menuju kamarnya yang ada di rumah ini bahkan pakaiannya juga sudah tersedia di lemari.
Sedangkan Gavin hanya bisa terkekeh dengan tingkah Frisa. Ia akan membuat Frisa mencintainya dan tak bisa jauh dari dirinya ya walaupun sekarang Frisa tidak bisa jauh dari dirinya tetapi Gavin belum sepenuhnya yakin jika Frisa mencintainya.
Gavin juga menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia menatap perban yang ada di tangannya dengan menghela napas pelan. "Bagaimana nasib Cassandra ya? Ahhh kenapa aku tiba-tiba merasa kasihan dengan gadis itu? Siapa yang berbuat ulah siapa juga yang menanggung perbuatannya. Tapi ya sudahlah Cassandra juga ikut terlibat dalam masalah ini. Coba dia tidak bermain-main dengan keluarga Danuarta mungkin dia bahagia bersama om Rajendra seperti Olivia," gumam Gavin dengan pelan.
Daripada memikirkan Cassandra lebih baik Gavin mandi dan memikirkan masa depannya bersama dengan Frisa. Setelah ini ia harus melindungi Frisa lebih ketat lagi karena ia takut bahaya masih akan saja mengintai Frisa. Setelah selesai mandi Gavin keluar dari kamar mandi, ia tersenyum saat melihat Frisa sudah kembali ke kamarnya dengan kotak obat di pangkuan gadis itu.
"Ada kak Faiz dan kak Olivia di bawah ingin melihat keadaan kamu," ujar Frisa.
"Sudah lama?" tanya Gavin.
"Lumayan. Sini tangan kamu. Perban kamu basah harus di ganti," ucap Frisa dengan tegas.
Gavin berjalan menghampiri Frisa, ia meletakkan tangannya pada paha Frisa dan dengan sangat telaten Frisa melepaskan perban dan menggantikan perban itu dengan yang baru tak lupa ia beri obat di bekas jahitan luka Gavin agar cepat kering dan sembuh.
"Sudah selesai!" ujar Frisa yang membuat Gavin tersenyum.
Gavin sudah memakai celananya di dalam kamar mandi namun belum memakai bajunya karena pasti ia akan kesusahan seperti kemarin.
__ADS_1
Frisa bangkit dari duduknya dan membuka lemari pakaian Gavin, ia memilih pakaian yang mana yang cocok di kenakan Gavin sekarang agar nyaman dan tak membuat luka Gavin kembali parah. Akhirnya Frisa memilih kemeja putih berlengan pendek.
Gavin berdiri, Frisa sedikit berjinjit untuk mengamankan tingginya dengan Gavin tetapi tetap saja ia masih tidak bisa menyamai tinggi Gavin.
"Kamu tuh terlihat seperti istri sungguhan. Nanti kalau kita sudah menikah aku mau setiap hari di pakaikan baju sama kamu," ujar Gavin dengan tersenyum manis.
"Ngelunjak!" ujar Frisa dengan ketus.
"Loh sesuai perjanjian ya, Sayang! Tidak ada ngelunjak di sini," ujar Gavin sedikit kesal.
"Iyalah ngelunjak! Jadi kamu yang banyak menang di sini! Saya yang di rugikan!" ujar Frisa dengan datar.
Gavin menghela napasnya dengan pelan. "Mau di bantuin tidak nih? Kalau tidak ya sudah aku akan katakan yang sejujurnya dengan mama," ujar Gavin mengancam.
"Berani sekali kami! Kalau kamu berani mengatakan yang sejujurnya akan saya potong gaji kamu," ujar Frisa dengan tajam.
"Nona pecat saya juga tidak masalah. Di sini saya loh yang di rugikan seharusnya saya menikah dengan gadis yang mencintai saya begitu pun sebaliknya," ujar Gavin semakin mengancam Frisa.
Tangan Frisa terkepal dengan sangat erat menatap tajam ke arah Gavin. Setelah itu Frisa tersenyum miring yang membuat Gavin menelan ludahnya dengan kasar. "Silahkan katakan saja kepada Mama. Tapi jangan harap kamu bekerja di rumah saya lagi, anggap saja kita tidak pernah kenal!" ujar Frisa dengan dingin.
Frisa meninggalkan Gavin begitu saja, ia tidak mau Gavin semakin mengusai dirinya. Selama ini Frisa merasa dirinya sudah lemah karena tak bisa jauh dari Gavin bahkan konyolnya dia meminta Gavin untuk menjadi suami bayarannya. Seharusnya dia tidak boleh selemah itu, seharusnya dia bisa menerima orang baru jika sewaktu-waktu Gavin tak bekerja dengan dirinya lagi.
Sedangkan Gavin terlihat sangat panik, dengan susah payah ia mengancing kemejanya, Gavin tampak frustasi, ia sudah tidak mempedulikan lagi kancing bajunya yang terlihat berantakan, ia harus menyusul Frisa yang benar-benar terlihat sangat marah kepadanya.
Gavin turun dari tangga dengan tak sabaran karena pasti Frisa sudah turun menyusul kembaran gadis itu. Gavin tampak terlihat menyesal telah mengancam Frisa nyatanya dirinya yang terancam sekarang. Bagaimana jika mereka gagal menikah? Ini tidak bisa dibiarkan. Pernikahan ini harus benar-benar terjadi, seharusnya ia tidak mengatakan itu tadi karena jika Frisa sudah marah akan susah membujuknya.
"Gavin, ya ampun baju kamu. Ini pakai kancingnya gimana sih?" ujar Citra yang ingin tertawa tapi kasihan juga melihat anaknya yang terlihat kesulitan terlihat dari kancing bajunya yang tak beraturan.
Faiz dan Sastra terkekeh tetapi Olivia hanya meringis melihat pakaian Gavin sekarang. Sedangkan Frisa masih tanpa ekspresi walaupun dalam hati ia merasa kasihak dengan Gavin.
Gavin melihat Frisa yang acuh kepadanya menjadi frustasi. Citra bangun dari duduknya dan membetulkan letak kancing baju Gavin hingga Gavin terlihat rapih kembali.
"Kenapa tidak meminta bantuan Frisa tadi? Kemarin juga begitu, kan?" tanya Citra dengan heran.
"Ma aku mau mengatakan sesuatu!" ucap Frisa dengan serius yang membuat Gavin panik. Takut Frisa membatalkan pernikahan mereka yang sudah tinggal dua bulan lagi.
"Apa, Sayang? Terlihat serius sekali?" tanya Citra yang berjalan kembali ke tempat duduknya.
"Sayang aku lapar!" ujar Gavin memotong ucapan Frisa begitu saja yang membuat semua orang terlihat menatap keduanya.
Faiz yang paham bagaimana kembarannya langsung mengerti, pasti keduanya sedang marahan dan Gavin berusaha untuk membuat hubungan mereka terlihat baik.
"Sayang, itu ambilkan nasi untuk sarapan Gavin. Tadi kami sudah makan duluan karena tak tega membangunkan kalian berdua," ujar Citra dengan tersenyum.
Melihat senyuman Citra akhirnya Frisa tak tega dan akhirnya ia mengambilkan nasi serta lauk untuk Gavin. Sebenarnya tadi Frisa hanya mengancam Gavin karena akhir-akhir ini sikap Gavin lebih berani kepadanya. Dan sekarang ia tunjukkan siapa yang akan tetap menang di sini dan bukankah dirinya yang menang karena Gavin terlihat panik sekali sekarang.
"Bagaimana keadaan kamu, Gavin?" tanya Faiz menatap Gavin.
"Sudah mendingan, Kak. Ya walaupun masih terasa kaku dan nyeri di jahitannya. Kakak lihat sendiri saya memakai baju saja tidak bisa," ujar Gavin dengan senyuman di paksakan berharap Frisa tak membatalkan pernikahan mereka sekarang.
"Alhamdulillah kalau begitu. Maaf kemarin kami tidak sempat menjenguk kamu di rumah sakit," ujar Faiz dengan tersenyum.
Faiz melihat adiknya dan mengusap kepala Frisa dengan sayang. "Kenapa?" tanya Faiz dengan pelan.
Frisa menggelengkan kepalanya, sebenarnya hatinya merasa perih dengan ucapan Gavin. Apa ia terlalu memaksakan kehendaknya untuk menikah dengan Gavin? Sampai-sampai Gavin rela di pecat oleh dirinya.
"Beneran?" tanya Faiz dengan serius.
"Iya kamu kenapa, Dek? Kok terlihat tidak semangat? Kamu masih mengkhawatirkan keadaan Gavin ya?" tanya Olivia menatap Frisa.
"Tenang, Sayang. Gavin akan baik-baik saja kok!" ujar Citra dengan tersenyum.
"Itu hanya luka kecil, Frisa. Om dulu pernah meminum racun dari minuman mama kamu. Jadi, kamu jangan khawatir dengan keadaan Gavin," ujar Sastra dengan tersenyum.
"Iya, Om!" ucap Frisa memaksakan senyumannya.
Gavin jadi merasa bersalah sekarang karena dirinya Frisa terlihat sangat murung sekali. Ia terus memperhatikan Frisa yang meletakkan piring berisi makanan untuk dirinya.
"Sayang aku tidak bisa makan sendiri," ujar Gavin dengan meringis berusaha mencari perhatian Frisa kembali.
Tanpa bicara dan tanpa menatap Gavin. Frisa menyendokkan makanan untuk Gavin dan memberikannya kepada Gavin. Frisa menatap Gavin dengan sangat datar yang membuat Gavin menjadi tak berselera makan.
__ADS_1
"Kamu juga makan dong!" ucap Gavin berusaha membujuk Frisa.
Lagi dan lagi Faiz melihat tingkah adiknya yang tak banyak berbicara. Apa terjadi sesuatu di kamar Gavin tadi hingga membuat kembarannya seperti ini?
Bahkan Sastra dan Citra pun tak berani banyak bertanya sekarang. Melihat Gavin yang banyak bicara dan Frisa diam seribu bahasa membuat mereka berpikir telah terjadi sesuatu yang membuat Frisa marah sekarang.
"Aku sudah kenyang, Sayang!" ujar Gavin dengan lembut.
Frisa langsung meletakkan sendoknya di atas piring.
"Kak, aku mau pulang sama Kakak!" ujar Frisa dengan tegas.
"Loh Kakak mau ke kantor, Dek! Kamu di sini saja dulu sampai ada yang menjemput kamu," ujar Faiz tak enak hati.
"Oo ya sudah aku bisa pulang sendiri!" ujar Frisa dengan datar yang membuat semua orang panik.
"Eh jangan, Dek. Bahaya!" ujar Faiz dengan cemas.
"Biar aku yang mengantarkan kamu pulang, Sayang!" ujar Gavin.
"Tidak usah! Mana kunci mobilnya! Aku bisa pulang sendiri," ujar Frisa dengan menatap tajam ke arah Gavin.
"Frisa bahaya, Sayang. Nanti biar Om yang mengantarkan kamu pulang ya," ujar Sastra dengan tegas.
"Tidak usah, Om. Terlalu merepotkan!" ujar Frisa dengan tegas.
Frisa melihat kunci mobilnya yang ada di meja. Frisa langsung bangun dan mengambilnya yang membuat Gavin panik. "Aku pulang dulu," ujar Frisa dengan cepat.
"Sayang biar aku yang mengantarkan kamu pulang ya!" bujuk Gavin berjalan menghampiri Frisa.
Faiz juga bangun. "Dek kalau kamu mau pulang sama Kakak. Ayo Kakak antar," ujar Faiz dengan lembut.
"Tidak usah. Kakak sibuk," ujar Frisa dengan sengit.
Ya Tuhan... Apa yang terjadi hingga Frisa terlihat dingin seperti ini? Faiz tampak bingung dan khawatir dengan kembarannya.
Frisa berjalan ke arah mobilnya dan masuk begitu saja bahkan Gavin kalah cepat dengan Frisa yang membuat Gavin frustasi. Gavin dan Faiz berusaha mengetuk pintu mobil. Namun, Frisa sama sekali tidak peduli pandangannya lurus ke depan dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah Sastra.
"Frisa!" teriak Faiz dengan keras.
"Apa yang terjadi sih sebenarnya?" tanya Faiz dengan bingung.
Gavin tak menjawab, ia segera menuju mobilnya dan menjalankan mobilnya menyusul Frisa. Ia takut terjadi sesuatu dengan Frisa sekarang.
Faiz juga sama sama. "Ayo naik, Sayang. Kita ikuti Frisa!" ujar Faiz dengan terlihat cemas.
Olivia mengangguk dan dengan cepat Olivia masuk ke dalam mobil. "Om, Tante, kami pamit ya!" ujar Olivia dengan ramah.
"Iya, Nak. Hati-hati!" ujar Citra dengan cemas.
"Iya, Tan!"
Dan setelah itu mobil Faiz juga meninggalkan rumah Sastra dengan cepat. Faiz begitu sangat khawatir dengan kembarannya sekarang.
"Mas apa Frisa marah ya sama Mas karena sekarang Mas lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan bersama aku," gumam Olivia kerasa tak enak hati.
"Tadi saat Mas menolak Frisa untuk pulang bersama wajah Frisa terlihat begitu kecewa loh, Mas. Aku merasa tidak enak hati dengan Frisa. Aku takut dia mikir aku telah merebut semua perhatian kamu dari Frisa," gumam Olivia dengan menunduk.
"Tidak usah berpikir seperti itu, Sayang. Mungkin Frisa sedang banyak pikiran saja kita ikuti mobil Frisa ya! Pokoknya kamu jangan berpikir macam-macam!" ujar Faiz dengan tegas.
"Tapi tetap saja aku merasa tak enak hati, Mas!" gumam Olivia menunduk sedih. "Seharusnya Mas tidak menolak Frisa tadi karena kita telat sedikit saja tidak apa-apa," gumam Olivia dengan mata berkaca-kaca.
"Hei, Sayang! Jangan berpikir seperti itu! Frisa tidak seperti itu orangnya percaya sama, Mas!" ujar Faiz mencoba menenangkan istrinya. Ya, walaupun dia juga berpikir yang sama seperti istrinya sekarang karena Frisa tak pernah seperti ini sebelumnya.
Sedangkan Frisa terlihat menangis di dalam mobil. "Aku kenapa sih? Hanya karena Gavin berkata seperti itu membuat hatiku benar-benar sakit sekarang. Di tambah penolakan kak Faiz yang semakin membuat hatiku sakit banget. Emang seperti itu ya setelah saudara sendiri menikah? Terlihat sangat tidak peduli sekali," gumam Frisa yang terus berbicara sendiri dengan air mata yang terus mengalir.
"Apa aku batalkan saja pernikahan ini? Toh pernikahan ini juga bukan pernikahan sungguhan, kan? Aku juga sudah banyak menekan Gavin, sepertinya dia sudah mulai bosan bekerja denganku," gumam Frisa dengan lirih.
"Tapi.... Tapi aku tidak ingin Gavin keluar dari pekerjaannya. A-aku..." Frisa tak melanjutkan ucapannya. Hatinya benar-benar sakit sekarang.
Melihat mobil Gavin dan Faiz yang ada di belakangnya. Frisa menambah kecepatan mobilnya, ia tidak ingin bertemu dengan Gavin dan kakaknya. Kedua lelaki itu sudah membuat Frisa sakit hati.
__ADS_1
"Aku benci kalian berdua hiks..."