
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya! Dukung terus cerita baru author agar author tetap semangat update....
...Happy reading...
****
Selesai makan siang bersama dengan papa kakek, dan saudara tirinya Rania langsung mengajak Ferdians kembali ke kantor. Ia sama sekali tidak betah dengan keluarganya sepeninggal mamanya Rania benar-benar menjauh dari keluarganya walaupun orang yang telah menabrak mamanya telah di penjara tetapi entah mengapa Rania sama sekali belum bisa tenang, seakan ada yang yang mendorongnya untuk menuntaskan penyebab kematian mamanya tapi Rania tak tahu harus melakukan apa karena sampai sekarang Rania maupun Sastra belum mendapatkan titik terang dari tidak ketenangan Rania. Ya, Rania juga mencurigai Agni tetapi tidak ada bukti yang mengarahkan jika mama tirinya adalah penyebab kematian mama kandungnya.
"Langsung pulang saja!" ujar Rania yang membuat Ferdians mengeryitkan dahinya. Bukankah tadi Rania minta diantar ke kantor? Tumben sekali Rania ingin pulang lebih cepat.
"Tumben sekali? Ini sudah jam kantor Sayang. Kamu tadi mengatakan ingin kembali ke kantor dan sekarang ingin pulang ke rumah," ujar Ferdians menatap Rania.
"Semua pekerjaan sudah di handle oleh Sastra, saya ingin pulang saja!" ujar Rania yang terlihat sangat lesu.
"Apa ini ada kaitannya dengan Rio?" tanya Ferdians menebak.
"Tidak ada. Saya hanya kelelahan saja," ujar Rania dengan pelan.
Ferdians langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Rania. "Tidak panas," gumam Ferdians dengan pelan.
Rania menatap ke arah Ferdians, ia menelan ludahnya dengan kasar saat jarak wajahnya dengan Ferdians sangat dekat. Mata Rania tidak berkedip saat menatap wajah Ferdians yang ternyata sangat tampan sekali. Rania baru menyadari itu sekarang dan kenapa detak jantungnya berdetak lebih cepat saat tatapan Ferdians benar-benar menghipnotisnya.
Ferdians mendekatkan wajahnya ke wajah Rania, hingga kedua bibir mereka saling bertemu. Ciuman yang awalnya hanya menempel saja kini Ferdians mulai menggerakkan bibirnya.
Manis!
Bibir Rania adalah candunya, semua yang ada di dalam diri Rania membuat Ferdians sangat candu bahkan Ferdians tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Rania.
"Eughh..." Rania melenguh saat tangan Ferdians berjalanan di pahanya.
Napas Rania dan Ferdians terengah-engah. Ferdians tersenyum menatap bibir Rania yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"Manis!" gumam Ferdians menyentuh bibir Rania.
"F-ferdians!" gumam Rania dengan terbata saat tangan Ferdians berada di lipatan pahanya dan mulai menyentuh miliknya.
"Ya, Sayang!" sahut Ferdians dengan suara serak menahan gairahnya.
"I-ini di mobil! Nanti ada yang curiga," ujar Rania dengan napas yang menderu karena ia juga terangsang dengan sentuhan tangan Ferdians.
"Tidak ada yang curiga, Sayang!" ujar Ferdians dengan serak.
__ADS_1
"Ahhh..."
Rania tak bisa lagi menahan desah*nnya saat Ferdians menyentuh miliknya. Ferdians menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan pelan memakai satu tangan karena tangan yang satu lagi sibuk menjelajahi milik Rania.
"F-ferdians, stop!" gumam Rania menggigit bibirnya.
Ferdians sama sekali tidak mendengarkan ucapan istrinya. "Kamu sudah basah, Sayang!" ujar Ferdians dengan terkekeh.
Rania menatap Ferdians dengan kesal tetapi gerakan tangan Ferdians semakin kencang yang membuat Rania tidak bisa menahan suaranya hingga tubuhnya bergetar dengan hebat.
Sial!
Rania tidak bisa menahan Ferdians! Sentuhan Ferdians benar-benar membuat Rania ketagihan.
"Tunggu di rumah ya, Sayang. Kita akan melanjutkan sesuatu yang tertunda, aku harus kembali ke kantor setelah mengantarkan kamu pulang," ujar Ferdians dengan mengerling nakal karena ia tahu Rania sudah terangsang dengan sentuhan jarinya.
"Benar-benar ya kamu Ferdians. Semalam sudah padahal saya baru saja selesai haid, dan sekarang kamu menginginkan lagi?" ujar Rania dengan tidak percaya terhadap stamina suaminya ini. Apakah Ferdians sama sekali tidak lelah?
Rania membenarkan rok kerjanya yang berantakan akibat ulah Ferdians. Ferdians hanya bisa terkekeh dengan ucapan istrinya.
"Kamu tahu tidak? Semua yang ada di dalam diri kamu adalah candu untukku," ujar Ferdians dengan serius.
"Memang dasarnya kamu adalah pria m*sum!" ujar Rania dengan sinis.
"Istirahatlah nanti jika sudah sampai di rumah aku bangunkan," ujar Ferdians dengan lembut.
"Hmmm..."
Rania memejamkan matanya, jujur saja dirinya memang sangat lelah hari ini. Hingga baru saja memejamkan mata Rania sudah tertidur.
"Secepat itu kamu tidur, Sayang? Benar-benar lelah ya? Ini pasti gara-gara akku semalam," monolog Ferdians dengan membenarkan rambut Rania yang menutupi wajah cantik istrinya.
****
Ferdians sudah sampai di rumah Rania, ia tak tega untuk membangunkan Rania hingga Ferdians menggendong Rania masuk ke dalam rumah.
"Ibu!" panggil Ferdians dengan panik saat melihat ibunya mimisan begitu banyak sampai darahnya berada di lantai.
Suster Ana juga tampak panik membersihkan darah Heera.
Rania mengerjapkan matanya mendengar suara Ferdians yang memanggil ibunya. "Mas turunkan aku!" ujar Rania dengan panik saat melihat ibu mertuanya mimisan dengan wajah yang sangat pucat.
__ADS_1
"Suster Ana kenapa ibu saya bisa seperti ini?" tanya Rania dengan panik.
Rania menghampiri ibu mertuanya dan mengambil tisu yang berada di tangan suster Ana dan membantu membersihkan darah yang keluar dari hidung Ibu mertuanya.
"Tiba-tiba saja Ibu mengeluh pusing, Nona. Dan tak lama darah keluar begitu banyak dari hidungnya," ujar Suster Ana dengan cemas.
"Ibu tidak apa... uwekkk..." Heera memuntahkan isi perutnya yang membuat Ferdians dan Rania semakin khawatir.
"Mas gendong ibu kita bawa ke rumah sakit sekarang," ujar Rania dengan panik.
Ferdians mengangguk, ia langsung menggendong ibunya dengan cepat. Ferdians berjalan dengan cepat bersama dengan Rania sedangkan suster Ana menyusul di belakang mereka.
Heera menahan sakit pada kepalanya, ia tak mau membuat Ferdians dan juga Rania mencemaskan keadaan dirinya.
"Ibu tidak apa-apa, Ferdians!" gumam Heera dengan pelan.
"Ibu tidak baik-baik saja. Kita harus ke rumah sakit, Bu!" ujar Ferdians dengan raut wajah paniknya.
Rania menatap suaminya, ia dapat melihat bagaimana Ferdians sangat panik memikirkan keadaan ibunya. Ferdians lelaki penyayang bukan? Jika mamanya masih ada apakah Ferdians akan memperlakukan mamanya seperti ibu kandung Ferdians?
"Sus cepat!" ujar Rania dengan keras.
"Iya, Nona!"
"Buka pintunya! Kamu pastikan keadaan Ibu masih stabil," ujar Rania saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Bu, Ibu harus kuat ya!" ujar Rania memegang tangan mertuanya dengan lembut.
Heera tersenyum menatap menantunya. Ia mengangguk ke arah Rania. "Jangan nangis Ibu tidak apa-apa," gumam Heera dengan lirih saat melihat air mata menggenang di pelupuk mata Rania.
"Ibu harus bertahan demi Rania ya! Rania tidak mau kehilangan lagi, Bu!" gumam Rania dengan pelan dan itu bisa di dengar oleh Ferdians.
"Begitu menyakitkan kehilangan orang yang kita sayang apalagi itu ibu kita sendiri dan aku lihat itu di mata Rania," gumam Ferdians di dalam hati.
"Nona, nadi ibu Heera sangat lemah," ujar Suster Ana yang membuat Rania dan Ferdians sangat panik.
"Mas cepatlah! Ibu harus di tangani dokter dengan segera!" ujar Rania dengan tegas.
"Iya, Sayang! Ini Mas sudah ngebut," ujar Ferdians dengan cemas dan berusaha tetap fokus dengan jalan.
Rania memegang tangan ibu mertuanya. Heera menatap Rania dengan pandangan sayunya.
__ADS_1
"Tuhan jangan ambil ibu diriku!" gumam Rania di dalam hati.