Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 87 (Takut Berharap)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Citra membuka matanya dengan perlahan. Ternyata sudah pagi, ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Setelah trauma itu datang ia seperti biasanya selalu gemetaran, lalu Sastra datang membawanya ke atas kasur dan lelaki itu menangis setelah itu Citra tak ingat apa-apa lagi karena tiba-tiba saja kepalanya sangat berat dan mungkin akhirnya ia pingsan. Berarti ia sudah lama pingsan? Citra tidak tahu dan tak ingin memikirkan itu lagi.


Citra melihat ke sampingnya, ia tersenyum miris saat tak menemukan Sastra lagi di sampingnya. Citra terlalu berharap jika Sastra akan menemaninya, tetapi harapan itu ternyata sia-sia.


"Kamu terlalu berharap sekali Citra! Tidak mungkin Sastra akan menemani kamu karena pekerjaannya lebih penting daripada kamu," ujar Citra dengan terkekeh sinis.


Hari ini Citra libur dan dirinya sangat malas untuk mandi, ia ingin membasuh mukanya saja lalu memasak sebentar untuk sarapannya kali ini. Ia harap Alex tidak datang ke rumahnya, ia benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapa pun kali ini.


***


Citra berjalan ke dapur setelah membasuh mukanya, tubuhnya mematung saat melihat Sastra berada di dapur.


"Good morning my sunshine!" sapa Sastra dengan tersenyum manis.


Sastra mendekati Citra dan meletakkan punggung tangannya ke kening Citra. "Sudah tidak panas. Tapi nanti kita ke dokter ya. Psikiater yang biasa menangani kamu hari ini bisa tidak dia ketemu kita?" tanya Sastra dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa.


Citra tidak bersuara ia masih tidak percaya dengan kehadiran Sastra di rumahnya.


"Tidak mungkin! Aku pasti halusinasi lagi!" gumam Citra dengan lirih yang masih bisa di dengar oleh Sastra.


"Tidak, Sayang. Saya benar-benar ada di sini. Saya nyata ada di dekat kamu bahkan sejak kemarin saya tidak pulang, kamu membuat saya khawatir tiba-tiba kamu demam bahkan tak sadarkan diri," ujar Sastra dengan tersenyum.


"Kita sarapan dulu ya! Kamu butuh energi untuk berjalan," ujar Sastra merangkul Citra dan membawanya ke meja makan.


Citra menatap makanan yang sudah tersaji di atas piring. "I-ini..."


"Kenapa? Ini nasi goreng kesukaan kamu, Sayang. Saya tidak lupa itu tapi saya baru belajar buat nasi goreng kalau tidak enak tidak usah di makan ya kita beli di luar saja," ujar Sastra dengan tersenyum.


Citra tak berbicara ia menatap nasi goreng buatan Sastra dengan mata berkaca-kaca dulu ia pernah mengidam hal sesederhana ini tapi Sastra tidak bisa melakukannya karena lelaki itu sibuk. Tapi sekarang di saat Citra ingin melupakan semuanya mengapa Sastra bersikap seperti ini? Citra takut berharap lagi, ia takut kembali jatuh dan pada akhirnya dirinya kembali sendirian melewati trauma yang tak kunjung usai di dalam dirinya.

__ADS_1


"Di makan! Atau mau saya suapin?" tanya Sastra dengan tersenyum.


Dengan ragu Citra menyendokkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Sastra melihat ke arah Citra dengan tatapan yang begitu dalam bahkan Citra sendiri sampai gugup karena tatapan Sastra. Sudah lama berpisah kenapa rasa itu masih ada dan semakin besar di hatinya?


"Bagaimana enak tidak?" tanya Sastra dengan penasaran karena raut wajah Citra masih terlihat datar tidak menunjukkan nasi goreng buatannya enak atau tidak.


Daripada Sastra penasaran lebih baik ia mencomot nasi goreng yang sudah berada di sendok Citra saat wanita itu ingin memasukkan ke mulutnya sendiri.


"Lumayan!" ujar Sastra mengomentari nasi goreng buatannya sendiri.


"Sayang!"


"Stop panggil saya sayang! Saya bukan siapa-siapa kamu," ujar Citra dengan datar.


"Kamu milik saya, Citra! Suka atau tidak suka, menerima saya atau tidak, kamu akan tetap menjadi milik saya!" ujar Sastra dengan tegas.


"Pemaksa! Kalau saya tidak mau?"


"Tetap pada keputusan saya! Kamu milik saya walaupun kamu menolaknya!" ujar Sastra dengan tersenyum.


Citra tak menanggapi ucapan Sastra yang menurutnya sudah gila. Ia lebih baik sarapan daripada mendengar ocehan Sastra yang lama-lama tidak jelas.


"Hmmm..."


Sastra menghela napasnya dengan pelan. "Kamu bisa mengeluarkan semua beban yang kamu rasa kepada saya! Jangan di pendam sendiri, saya tidak mau melihat kamu seperti kemarin. Saya hampir mati rasanya melihat kamu seperti itu," gumam Sastra dengan serius.


"Beban saya itu kamu! Kamu meninggalkan trauma yang saya sendiri tidak tahu cara menyembuhkannya," jawab Citra dengan sarkas tetapi Sastra tidak sakit hati sama sekali karena memang itu kenyataan yang terjadi.


"Maka dari itu keluarkan semuanya kepada saya! Saya tidak apa-apa kamu pukul sekali pun asalkan kamu lega dan tenang," sahut Sastra dengan tersenyum pedih.


Citra terdiam. "Saya sudah takut berharap jadi jangan buat saya berharap lagi," gumam Citra dengan lirih.


"Sayang, saya mohon lawan trauma kamu. Saya tahu itu sangat sulit tapi saya akan selalu mendampingi kamu sampai kamu kembali seperti dulu," ujar Sastra dengan tegas.


Sastra menghampiri Citra. "Kalau saat ini kamu belum siap melepaskan segala beban yang kamu rasa kepada saya maka kamu bisa melepaskan semua beban itu kepada psikiater. Mau kan kita ke psikiater sekarang? Saya mohon kamu jangan menolaknya," ujar Sastra dengan penuh harap.

__ADS_1


"Saya juga melihat obat kamu habis. Saya tidak mau kamu seperti kemarin, saya mohon! Saya masih sayang dan cinta sama kamu, Citra! Saya ingin kita kembali menjadi sepasang suami-istri," gumam Sastra dengan lirih yang membuat Citra terdiam dan tak tahu harus berkata apa.


Apakah harus Sastra menemaninya ke psikiater? Citra terlalu malu ketika nanti Sastra melihatnya meraung-raung seperti orang gila.


"Selesai sarapan kita temui psikiater ya?!"


"Hmmm..."


***


Keluarga Danuarta tampak bahagia sekali pagi ini karena tak ada Agni, Clara, dan Rio yang mengganggu mereka apalagi sekarang Ben sudah memiliki istri kedua dan akan menjadi istri satu-satunya setelah ia menceraikan Agni.


Lihatlah rambut suster Ana yang masih terlihat basah karena semalam Ben kembali meminta jatahnya. Suster Ana juga terlihat kelelahan melayani n*fsu Ben yang sungguh besar. Tapi jika Ben saja seperti itu kepada dirinya bagaimana dengan Agni pasti Ben juga pernah melakukan percintaan yang panas kan? Membayangkan itu suster Ana di landa cemburu apalagi sebentar lagi suaminya akan pulang ke rumahnya dan bertemu dengan Agni.


"Berapa hari Papa dan Kakek berada di sini?" tanya Rania membuka suara.


"Seminggu, Nak. Papa tidak ingin Agni curiga dengan kepergian Papa yang ternyata hanya di rumahmu," jawab Ben dengan tegas.


"Papa emang tidak akan kangen dengan suster Ana... Eemm maksud saya mama Ana?" tanya Ferdians yang membuat pipi suster Ana memerah.


"Haha... Ya namanya suami saat jauh dari istri yang dicintainya bakalan kangen. Maka dari itu Papa titip mama Ana ke kalian semuanya ya. Papa akan kembali secepatnya ke sini," jawab Ben dengan terkekeh apalagi melihat wajah istrinya yang memerah karena malu


Heera melihat kedua pengantin baru itu terlihat sangat lucu. Dan jika di lihat-lihat wajah suster dan Ben memang mirip, benar adanya jika jodoh itu mirip walaupun keduanya berjodoh di saat usia mereka sudah tua seperti ini.


"Papa sudah mendapatkan cicit dari Rania dan Ferdians. Kapan Papa akan mendapatkan cucu dari kamu dan Ana, Ben?" tanya Doni yang membuat suster Ana langsung tersedak.


"Uhukk...uhuk..."


Ben tampak khawatir dan langsung memberikan air minum kepada istrinya. "Pelan-pelan, Sayang!" ujar Ben yang membuat suster Ana semakin malu.


Sayang? Ahh suster Ana ingin melayang rasanya saat di panggil sayang oleh Ben.


"Secepatnya, Pa. Nanti cucu Papa usianya tidak akan jauh dari usia cicit Papa," ujar Nen dengan terkekeh yang membuat Ferdians dan Heera tertawa sedangkan Rania hanya bisa tersenyum canggung. Mempunyai adik lagi tak pernah terpikir di benak Rania dan rasanya masih sangat aneh ketika suster Ana menjadi mama tirinya.


Sedangkan suster Ana mencubit perut Ben dengan pelan karena ia sungguh malu dengan ucapan suaminya. Ben terkekeh, ia sungguh suka dengan wajah suster Ana yang memerah malu karena dirinya.

__ADS_1


Keluarga Danuarta pagi ini benar-benar terlihat bahagia seakan tidak ada jarak lagi antara Rania dengan papa dan kakeknya. Dan Ferdians sungguh bersyukur dengan perubahan apa yang ia lihat sekarang, ia berharap Rania dan keluarganya semakin dekat seperti dulu.


"Sayang melihatmu tersenyum seperti ini Mas sungguh bahagia sekali. Semoga kita akan terus seperti ini ya," gumam Ferdians di dalam hati.


__ADS_2