Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 152 (Pelukan Hangat Gavin)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Frisa sudah sangat kekenyangan setelah makan malam dengan makanan kesukaannya. Ia mengusap perutnya yang membuat Citra terkekeh.


"Kenyang banget Tante! Masakan Tante memang yang terbaik," ujar Frisa dengan serius.


"Kamu duduk dulu, Sayang. Jangan ke kamar dulu ya. Tante ada es krim kesukaan kamu," ujar Citra dengan tersenyum.


"Mauu!"


"Tidak!"


ucap Frisa dan Gavin bersamaan.


"Apa-apaan sih! Saya mau makan es krim!" ujar Frisa dengan kesal menatap ke arah Gavin yang terlihat datar.


"Ma, sebaiknya Mama singkirkan es krim yang ada di dalam kulkas karena sebelumnya nona Frisa demam karena kebanyakan makan es krim. Tuan Ferdians sedang melarang nona Frisa memakan es krim selama sebulan," ujar Gavin dengan tegas.


"Benarkah? Kalau begitu Mama akan menyuruh bibi untuk membuang semua es krim yang ada di dalam kulkas," ujar Citra dengan tegas.


"Tante jangan dibuang dong. Di sini kan tidak ada papa boleh ya Frisa makan sedikit saja," ujar Frisa dengan menggerakkan tangannya memohon.


"Tidak, Nona. Tanggungjawab saya di sini untuk menjaga kesehatan Nona selama tuan Ferdians dan nyonya Rania pergi. Jangan makan es krim untuk sebulan ke depan, Nona!" ujar Gavin dengan tegas.


"Gavin tolong saya! Kali ini kamu kerjasama bersama saya. Kamu selalu bersama saya tapi mengapa kamu selalu memihak papa dan mama," ujar Frisa dengan cemberut.


"Kalau kamu sakit bagaimana, Sayang? Tante tidak mau terkena amarah nyonya Rania," ujar Citra mencoba memberikan pengertian kepada Frisa.

__ADS_1


Frisa terdiam dengan menundukkan kepalanya yang membuat Sastra dan Citra tidak tega.


"Ya sudah makan es krim yang paling kecil saja ya. Sebentar Tante ambilkan," ujar Citra tidak tega.


"Ma..."


"Sudah Gavin tidak apa-apa," ujar Sastra yang membuat Frisa tersenyum dengan senang.


Gavin menghela napasnya dengan berat. Melihat kebahagiaan Frisa kali ini Gavin tidak tega untuk melarang Frisa kembali.


"Terima kasih, Tante!" ucap Frisa saat Citra kembali dengan satu es krim kecil.


"Sama-sama, Sayang!" ujar Citra mengelus kepala Frisa dengan sayang.


Gavin hanya bisa menggelengkan kepalanya, tadi Frisa sudah mengaku sangat kenyang tetapi melihat es krim saja Frisa seperti belum makan karena gadis itu terlihat sangat lahap sekali memakan es krim tersebut.


****


Suasana malam ini terlihat mendung Gavin melihat ke arah luar melalui jendela kamarnya. Gemuruh sudah mulai terdengar yang menyebabkan Gavin tidak bisa tidur, bukannya ia takut dengan gemuruh ataupun petir, ia hanya memikirkan Frisa yang memang takut akan petir.


Jeder....


Gavin langsung menutup gorden kamarnya, ia melangkah keluar kamarnya. Perasaannya benar-benar gelisah memikirkan Frisa karena di lantai atas ini hanya ada kamarnya dan juga kamar Frisa sedangkan kamar kedua orang tuanya berada di bawah.


"Aaaaaa...."


Gavin mendengar suara teriakan Frisa yang membuat Gavin langsung bergegas cepat membuka pintu kamar Frisa yang untungnya tidak di kunci.


"Mama tolong hiks..." ucap Frisa menutup kedua telinganya dengan tangannya dan memejamkan matanya yang membuat Frisa tidak menyadari kehadiran Gavin di kamarnya.


Gavin yang tidak tega langsung memeluk Frisa dengan erat. "Tenang, Nona!" gumam Gavin yang membuat Frisa langsung menghentikan tangisannya.

__ADS_1


Frisa mendongak dan menatap Gavin tanpa pikir panjang Frisa langsung membalas pelukan Gavin tak kalah eratnya seakan ia tidak mau di tinggalkan Gavin saat ini.


"G-gavin saya takut!" gumam Frisa dengan sendu.


"Saya tahu, Nona. Saya di sini!" sahut Gavin dengan mengelus rambut Frisa dengan lembut.


"Jangan pergi hujannya semakin deras, petirnya juga belum berhenti," ujar Frisa dengan sesegukan.


"Tidak, Nona. Saya di sini," ujar Gavin dengan tegas.


Gavin menidurkan Frisa dengan pelan tetapi Frisa menariknya dengan kuat hingga mereka terbaring bersama di kasur. Kedua mata Gavin dan Frisa saling menatap dan Frisa bisa merasakan hembusan napas Gavin yang sangat hangat menerpa wajahnya. Biasanya Frisa akan marah-marah dengan Gavin maka kali ini gadis itu terlihat sangat berbeda bahkan Frisa malah menenggelamkan wajahnya di dada bidang Gavin saat ini.


Gavin terdiam, tubuhnya bereaksi berbeda. Ia tidak boleh lama-lama berada di kamar ini jika tidak mungkin dirinya akan khilaf tetapi pelukan Frisa benar-benar sangat erat yang membuat Gavin akhirnya pasrah.


"Kamu tidak boleh pergi sebelum saya tidur, Gavin!" ujar Frisa dengan suara yang tertahan karena Frisa berbicara dengan wajah yang masih ia tenggelamkan di dada bidang Gavin yang jujur saja membuat dirinya sangat nyaman.


"Iya, Nona! Tidurlah saya akan menemani Nona di sini," ucap Gavin dengan tegas.


Frisa mengangguk kepalanya. "Dingin!" gumam Frisa dengan lirih.


Dengan sigap Gavin menarik selimut dengan satu tangannya dan menyelimuti tubuh Frisa hingga sampai sebatas dada bahkan ia juga ikut tenggelam dalam selimut tersebut. Gavin tersenyum tipis entah mengapa ia menjadi membayangkan jika dirinya sudah menikah dan memiliki istri seperti Frisa yang sangat penakut akan petir mungkin setiap hujan ia dan istrinya akan terus berpelukan dan mungkin melakukan sesuatu yang lebih hingga rasa dingin menjadi hangat bahkan sangat panas.


"Shitt.. Memikirkan apa kamu Gavin! Jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang membuat nona Frisa murka," umpat Gavin di dalam hati.


Gavin menatap Wajah Frisa, ia mencoba melihat Frisa sudah tidur atau belum dengan menarik wajah Frisa dari dadanya dengan pelan.


"Nona, banyak yang tidak tahu jika di balik sikap galak dan tegas nona ada jiwa yang sangat manja dan penakut seperti ini. Malam ini saya tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika saya akan memeluk anda seperti ini bahkan anda menyembunyikan wajah anda di dada saya hingga anda tertidur, Nona!" gumam Gavin dengan tersenyum tipis.


"Entah mengapa saya sangat merasa senang bahkan ingin selalu anda seperti ini, bukan seperti sikap anda sebelum-sebelumnya kepada saya yang sangat ketus. Walaupun anda lebih tua daripada saya tapi saya merasa anda itu seperti gadis kecil yang selalu harus saya jaga kapanpun hingga saya seringkali tidak pulang hanya untuk memastikan anda baik-baik saja, Nona!" gumam Gavin dengan lirih.


Gavin mengusap jejak air mata Frisa dengan perlahan menggunakan ibu jarinya. "Bahkan saya tidak rela meninggalkan Nona sendirian walaupun hujan sudah reda. Coba jelaskan ada apa dengan saya? Karena saya sendiri tidak tahu kenapa! Setiap saya melihat nona hati saya selalu berdebar bahkan saya seperti gila saat melihat wajah cantik nona dalam jarak yang sangat dekat seperti ini. Seakan ada yang menarik saya untuk selalu dekat dengan nona," gumam Gavin dengan lirih.

__ADS_1


Setelah berucap seperti itu Gavin kembali membenarkan letak kepala Frisa di lengannya agar gadis itu semakin nyaman dalam tidurnya. Malam ini Gavin akan tidur di kamar Frisa hingga subuh menjelang dan sebelum Frisa bangun Gavin akan keluar dari kamar ini. Karena Gavin yakin esok sikap Frisa akan kembali ketus kepadanya.


"Selamat tidur nona Frisa!" gumam Gavin memejamkan matanya dengan perlahan dengan memeluk tubuh Frisa erat tetapi tetap memberikan kenyamanan bagi Frisa.


__ADS_2