Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 206 (Paket Mengerikan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Bunga menatap paket yang baru saja Rajendra berikan kepada dirinya, entah mengapa melihat senyuman Rajendra membuat tangannya gemetar ketakutan, jantungnya berdetak dengan sangat kencang, ia tahu pasti paket ini sangat mengerikan seperti biasanya. Namun, Bunga tidak tahu isinya apa. Bunga menebak-nebak apa isi paket ini karena begitu spesialnya untuk Rajendra bahkan pria itu yang memberikannya langsung setelah banyak orang yang berbaju hitam memberikan paket itu.


"Pulang sekarang dan berikan ini pada Roby! Ingat semua gerak-gerik kamu saya awasi jika kamu tidak memberikan paket ini maka nyawa kamu yang akan menjadi taruhannya," ujar Rajendra dengan mengancam Bunga.


Rajendra menatap ke arah sahabat Bunga. "Apapun yang kamu lihat saat ini jangan beri tahu siapapun. Jika saya mengetahui kamu bercerita ke orang lain saya tidak akan melepaskan kamu sampai kamu menyesal," ujar Rajendra dengan tajam.


Rini mengangguk ketakutan baru kali ini ia bisa melihat Rajendra dengan jarak yang sangat dekat sekali dan ternyata Rajendra sangat mengerikan, ia tidak akan bermain-main dengan pria seperti Rajendra jika masih ingin nyawanya selamat.


"Kalian berdua boleh pergi!" ujar Rajendra dengan datar.


"Ayo Bunga!" bisik Rini dengan ketakutan.


"Kami permisi, Tuan!" ujar Bunga berusaha untuk bersikap biasa saja walaupun sebenarnya ia sangat takut sekali hari ini.


"Hmmm..."


Rajendra menatap kepergian Bunga dan Rini dengan menyeringai, sebentar lagi Roby akan mendapatkan paket spesial dari pada sebelum-sebelumnya.


"Kalian semua boleh pergi! Jika saya kembali membutuhkan kalian akan saya hubungi kalian dengan segera," ujar Rajendra kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan. Tugas hari ini benar-benar membuat kami senang, Tuan. Jika begitu kami permisi, Tuan!" ujar orang kepercayaan Rajendra yang selalu di sembunyikan keberadaannya oleh Rajendra, dan orang tersebut akan muncul jika Rajendra membutuhkannya saja.


"Saya juga sangat senang dengan kerja keras kalian hari ini!" ujar Rajendra dengan menyeringai yang membuat semua orang kepercayaannya tertawa bahagia.


Rajendra memasuki mobilnya dengan seringai yang begitu mengerikan. "Sebentar lagi kamu akan mendapatkan kejutan yang sangat besar, Roby. Saya pastikan kamu sudah tidak betah tinggal di rumahmu sendiri," gumam Rajendra dengan terkekeh.


"Dan nanti giliran kamu, Clara. Tunggu saja," gumam Rajendra dengan tajam.


****


Rini melihat ke arah box yang di pegang oleh Bunga dengan erat. "Bunga apa isi box itu? Kenapa kamu tegang sekali?" tanya Rini dengan penasaran.


"Entahlah, Rin. Aku juga tidak tahu, aku ingin segera sampai rumah dan memberikan ini kepada papa!" jawab Bunga dengan memaksakan senyumannya.


"Ingat ya, Rin. Kamu jangan memberitahu siapapun soal ini, tuan Rajendra sangat berbahaya. Kamu jangan sampai terlibat soal ini," ujar Bunga memperingati sahabatnya.


"Kamu sudah terlibat, Bunga. Aku tidak bisa membiarkan kamu terluka seorang diri," ujar Rini dengan sangat tulus.


"Tuan Rajendra tidak akan melukai aku, Rin. Kamu tenang saja!" ujar Bunga dengan tersenyum haru melihat ketulusan sahabatnya ini.


"Kamu yakin?" tanya Rini tak percaya begitu saja.

__ADS_1


"Yakin, Rin. Kamu tenang saja, pokoknya kamu harus jaga rahasia ini jangan sampai siapapun tahu tentang ini," ujar Bunga yang di angguki oleh Rini walaupun ia tidak tahu apa-apa, ia akan menunggu Bunga bercerita saja kepada dirinya walaupun dirinya sangat penasaran.


Keduanya sudah sampai di gang rumah mereka. "Aku duluan ya, Bunga!" ujar Rini dengan tersenyum melambaikan tangannya kepada sang sahabat.


"Iya, hati-hati!" ujar Bunga dengan tersenyum.


Setelah kepergian Rini, wajah Bunga kembali tegang dan sangat takut. Ia berjalan dengan cepat agar segera sampai ke rumahnya, setelah sampai Bunga langsung masuk dan memanggil papanya.


"Papa!" panggil Bunga dengan suara bergetar.


"Papa!"


"Apa! Kenapa teriak-teriak? Berisik tahu!" ujar Roby dengan kesal.


"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Sherly kepada anaknya.


"A-aku tidak tahu, Ma. Ini ada yang memberikan ke Bunga waktu di gang tadi dan di suruh berikan ke papa," ujar Bunga dengan ketar-ketir.


"Apa lagi? Kalau paket seperti biasanya Papa tidak mau buka!" ujar Roby dengan bergidik ngeri.


"Kata orangnya ini spesial, Pa. Dan harus di buka sekarang," ujar Bunga yang membuat Roby menatap tajam ke arah Bunga.


Sedangkan Sherly menatap suaminya. "Kamu ada main sama wanita lain, Mas?" tanya Sherly dengan tajam.


"Tidak ada!" jawab Roby dengan datar.


"Tapi kalau seperti paket-paket sebelumnya bagaimana?" tanya Roby dengan tajam.


"Buka saja! Kalau seperti biasanya suruh saja Bunga untuk membersihkannya," ucap Sherly dengan santai yang membuat Bunga menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Bunga menyerahkan paket itu ke tangan papanya. Ia sedikit menjauh dari kedua orang tuanya agar jika paket itu benar-benar seperti paket sebelumnya, Bunga bisa lari dengan cepat.


"Berat!" gumam Roby dengan pelan.


Roby meletakkan box itu di atas meja dan mulai membukanya dengan perasaan was-was dan juga penasaran. Dan ketika sudah ia buka betapa terkejutnya Roby hingga tubuhnya hampir terhuyung ke belakang.


"Aaakhhhh....." teriak Roby dan Sherly secara bersamaan.


"K-kepala orang!" ujar Roby dengan ketakutan wajahnya begitu sangat pucat pasih.


"Bunga siapa yang mengirim paket ini?" tanya Roby menatap tajam ke arah anaknya walaupun sekarang ia sudah sangat ketakutan.


Roby sangat mengenal wajah tersebut. Ya, itu adalah wajah anak buahnya yang ia suruh untuk melukai Frisa. Sungguh Roby sangat ketakutan sekali ketika melihat kepala yang sudah di penggal di hadapannya, dengan mata yang melotot yang membuat Roby begitu ketakutan karena merasa seram bahkan bulu kuduknya sampai berdiri, ia merinding sendiri melihatnya.


"T-tidak tahu, Pa. B-bunga tidak kenal," gumam Bunga dengan sangat ketakutan.


"Lapor polisi cepat, Mas! Aku takut hiks..." ujar Sherly memeluk lengan suaminya sambil menangis bahkan Sherly merasakan dadanya begitu sesak, dan mual ketika melihat kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya.

__ADS_1


"Iya kita harus segera lapor polisi. Sudah beberapa kali kita di teror seperti ini, Sayang. Kita tidak boleh membiarkan ini terus terjadi," ujar Roby dengan tajam.


Ting....


Ponsel Roby bergetar, ia mencoba membuka ponselnya walaupun tangannya gemetar ketakutan.


0878xxxxxxxx


[Bagaimana kado spesial dari saya? Jika kamu berani melaporkan kejadian ini ke polisi maka saat itu juga tamat hidupmu. Bukti kejahatan kamu sudah ada di tangan saya, jangan sampai saya murka lebih dari ini. Kubur mayat itu atau saya yang akan mengubur kamu hidup-hidup saat ini juga]


Roby tidak bisa berkata-kata lagi, ia menelan ludahnya dengan kasar saat ancaman itu sangat mengerikan untuk dirinya.


"Sayang, kita tidak bisa melakukannya karena orang ini terus mengancamku. K-kita kubur saja kepala ini di belakang sana, setelah itu kita pindah dari rumah ini!" ujar Roby dengan gemetaran.


"Kita pindah saja, Mas. Aku sudah tidak betah di sini!" ujar Sherly dengan takut.


"Aku ikut!" ujar Bunga dengan menahan tangisannya.


"Bereskan semua barang kamu!" ujar Roby dengan tegas.


Saat Bunga masuk ke kamarnya. Ponselnya berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.


Tuan Rajendra


[Sejengkal saja kamu meninggalkan rumah itu. Saya tidak akan memberi ampun kepada kedua orang tua kamu, Bunga]


Bunga mengetik balasan kepada Rajendra dengan ketakutan.


[Tuan, saya mohon. Biarkan saya ikut dengan kedua orang tua, saya]


[Tidak! Tetap di sana atau saat ini juga kamu akan melihat jasad mereka!]


Bunga bersandar di dinding dengan air mata yang mengalir. Ia begitu takut sekarang namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena ancaman Rajendra tidak main-main, lebih baik ia tetap tinggal di sini saja agar kedua orang tuanya tetap aman.


"Bunga ayo kita kubur mayat ini dan setelah itu kita pergi dari sini," ujar Roby dengan tegas.


"Pa, aku tetap di sini saja boleh? Aku baru saja bekerja," ujar Bunga dengan menunduk.


Roby menatap anaknya. Ada rasa tak rela meninggalkan Bunga begitu saja karena bagaimanapun Bunga adalah anaknya, walaupun Bunga sering membantah dirinya.


"Terserah kamu! Papa dan mama akan pergi hari ini juga!" ujar Roby dengan datar.


"T-tapi Papa jangan lupa hubungi Bunga di mana kalian tinggal nanti ya. Biar Bunga bisa berkunjung ke rumah Papa," ujar Bunga dengan mata berkaca-kaca.


"Ck... Iya. Papa dan mama mencari tempat aman untuk bersembunyi dulu," ujar Roby dengan tegas yang di angguk oleh Bunga.


"Pa, ma, kemanapun kalian pergi. Tuan Rajendra pasti akan menemukan kalian. Tapi, aku berusaha untuk menebus semua kesalahan kalian di masa lalu dengan keluarga Danuarta, semoga saja mereka mau memaafkan papa!" gumam Bunga di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2