
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Jam istirahat sudah tiba Rini langsung menghampiri sahabatnya yang masih berada di meja kerjanya.
"Bunga, aku meminta penjelasan sekarang sama kamu," ujar Rini dengan cepat.
Bunga menatap sahabatnya, benar kata Rajendra jika Rini akan meminta penjelasan kepada dirinya tetapi Bunga takut jika ada yang mendengar ucapannya.
"Bunga ayo ceritakan semuanya kepadaku!" rengek Rini yang membuat Bunga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bunga!" rengek Rini menggoyangkan lengan sahabatnya.
Ceklek...
"Bicaralah di dalam! Jangan di sini!" ujar Rajendra yang membuat Rini merasa canggung.
"Iya, Mas!" sahut Bunga yang membuat Rini langsung menatap sahabatnya.
"M-mas?" ulang Rini dengan bingung menatap Bunga dan Rajendra bergantian.
"Iss ayo masuk jangan banyak tanya di sini!" ujar Bunga menarik tangan sahabatnya memasuki ruangan Rajendra.
Rajendra menatap dua sahabat itu dengan tersenyum tipis karena ia tahu keduanya sudah berteman sangat lama dan ia tahu Rini juga tulus dengan Bunga makanya Rajendra percaya dengan Rini.
Rini terlihat sangat canggung saat ia duduk di sofa. Bahkan mata Rini sangat fokus dengan tangan Rajendra yang menarik tangan Bunga agar duduk di sebelah pria itu. Rini benar-benar sangat bingung dengan kedekatan keduanya, pikirannya terus membayangkan jika Bunga dan Rajendra memiliki hubungan spesial.
"Kamu bingung dan bertanya-tanya hubungan saya dengan Bunga bukan?" tanya Rajendra dengan menatap Rini.
"Iya, Tuan. Maaf jika saya lancang tetapi saya sangat bingung karena Tuan sudah menikah dengan nona Cassandra. Saya tidak mau sahabat saya menjadi mainan, Tuan!" ujar Rini dengan tegas.
Rajendra tersenyum tipis. "Saya mengerti ketakutan kamu. Tapi saya tidak ada niatan untuk memainkan Bunga. Pernikahan saya dengan Cassandra terjadi karena sesuatu hal dan itu bukan pernikahan impian saya! Biar Bunga yang menjelaskan dengan kamu tapi ingat kamu jangan sampai berbicara kepada orang lain nanti," ujar Rajendra dengan tegas.
Rini menatap sahabatnya meminta penjelasan. Bunga menghembuskan napasnya dan akhirnya Bunga bercerita dengan jujur di mulai dari papanya yang ternyata sangat jahat sampai hubungan ia dengan Rajendra sekarang fan tidak ada satupun yang terlewat. Tentu saja Rini merasa syok tetapi melihat pancaran penuh cinta Rajendra saat menatap Bunga membuat Rini yakin jika Rajendra benar-benar mencintai sahabatnya, tetapi sebagai sahabat Rini masih merasa takut jika sahabatnya nanti tersakiti karena bagaimanapun Rajendra sudah memiliki istri walaupun Cassandra bukan wanita yang Rajendra cintai.
"Kamu sudah tahu rahasia ini artinya kamu memiliki tanggungjawab yang sangat besar. Jangan bicarakan ini kepada orang lain, jika kamu melanggar maka siap-siap hidup kamu tidak akan tenang. Saya tidak main-main dengan ucapan saya saat ini," ujar Rajendra dengan tegas.
"S-saya mengerti, Tuan. S-saya tidak akan membicarakan ini kepada orang lain. Tapi tolong jangan sakiti sahabat saya," ujar Rini dengan penuh harap.
Mata Bunga berkaca-kaca menatap sahabatnya yang sejak dulu tulus dengan dirinya. Sebenarnya ia juga merasa takut, tetapi hatinya yang paling dalam entah mengapa menerima Rajendra walaupun pria itu sudah memiliki istri. Bunga tak ada niatan untuk melukai kakaknya sendiri tetapi Rajendra tetap memaksanya. Salahkah Bunga sekarang jika menaruh harap dengan Rajendra?
__ADS_1
"Saya tidak akan menyakiti Bunga karena saya mencintainya! Kamu tenang saja!" ujar Rajendra dengan tegas.
Rini tampak lega. "Kalau begitu saya permisi, Tuan! Saya sudah lega Bunga mau menceritakan semuanya terhadap saya," ujar Rini dengan tersenyum.
Bunga memeluk Rini dengan erat, Rini membalas pelukan Bunga tak kalah eratnya. "Kamu harus bahagia, Bunga! Harus!" gumam Rini dengan tulus.
"Terima kasih, Rini. Kamu juga harus bahagia!" gumam Bunga dengan lirih.
Rini tersenyum, akhirnya ia keluar dari ruangan Rajendra setelah ia merasa lega karena akhirnya Bunyi mau menceritakan semuanya kepadanya.
Setelah kepergian Rini, Rajendra kembali menarik tangan Bunga hingga duduk di pangkuannya.
Deg...
Bunga menatap mata Rajendra dengan meneguk ludahnya dengan kasar. Kenapa bisa Rajendra setampan ini?
"Mengagumi ketampanan Mas hmm?" tanya Rajendra dengan terkekeh.
"T-tidak!" ujar Bunga tidak terima.
"Mata kamu tidak bisa berbohong, Sayang!" ujar Rajendra dengan terkekeh.
Rajendra memeluk erat perut Bunga dan menyembunyikan wajahnya di leher Bunga. Ia masih memikirkan perasaannya terhadap Bunga. Benarkah ia mencintai Bunga? Rajendra menyelami perasaannya agar ia yakin langkah yang ia ambil sekarang. Dan Setelah Rajendra menemukan jawabannya, ia tersenyum dan mencium leher Bunga dengan lembut yang membuat gadis itu merinding.
Frisa menatap Gavin yang sangat serius dengan meeting kali ini, pria itu sangat tampan sekali jika sedang fokus seperti ini. Auranya sungguh membuat Frisa dan beberapa wanita di ruangan meeting ini terpesona.
Gavin bukan tak mengetahui jika sejak tadi Frisa memperhatikan dirinya dan Gavin berpura-pura tidak peduli sama sekali karena ia akan tetap pada rencananya.
"Wah... Tuan Gavin meeting kali sangat luar biasa," ujar kolega bisnis Frisa dan Gavin.
Semua orang di dalam meeting tampak bertepuk tangan meriah. Frisa menatap beberapa wanita yang menatap kagum ke arah Gavin yang membuat Frisa mengepalkan kedua tangannya.
"Sepertinya meeting kali ini selesai! Kalian bisa keluar sekarang!" ujar Frisa dengan tegas.
Tampak beberapa wanita tidak suka karena Frisa menyudahi meeting ini. Tetapi para lelaki itu merasa memang meeting kali ini sudah selesai. Semua yang berada di ruangan meeting ini menyalami Gavin dan Frisa.
"Saya sangat suka dengan penyampaian anda dalam meeting ini, Tuan!" ujar wanita yang terlihat lebih dewasa dari pada Gavin namun wajahnya masih cantik.
"Terima kasih!" ujar Gavin dengan datar.
Wanita itu mendekat ke arah Gavin yang membuat Frisa ingin sekali menampar wanita itu yang sangat terlihat menggoda Gavin.
"Hubungi saya jika Tuan membutuhkan saya!" bisik wanita itu dengan sensual yang membuat Frisa semakin kesal.
__ADS_1
"Bisa anda menjauh dari calon suami saya?!" ujar Frisa dengan tajam yang membuat wanita itu sedikit menjauh dari Gavin.
Frisa langsung mendorong lengan wanita itu dengan keras hingga wanita itu meringis. Frisa menatap wanita itu dengan sengit dan menilai menampilkan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kuku.
"Sepertinya anda lupa dengan usia anda, Nyonya. Calon suami saya tidak tertarik dengan dada buatan seperti milik anda, dia suka yang asli seperti milik saya!" ujar Frisa dengan tajam yang membuat wanita itu menatap Frisa dengan mendelik kesal, sedangkan Gavin menahan tawanya saat Frisa berkata frontal seperti itu.
"Apa maksud anda?" tanya wanita itu dengan tajam.
"Jangan berpura-pura tidak tahu atau saya pecahkan kedua dada anda. Pergi dari hadapan saya sebelum saya benar-benar marah dan anda kehilangan kedua dada anda yang sangat anda banggakan itu!" ujar Frisa dengan tajam yang membuat wanita itu mengepalkan kedua tangannya dan langsung meninggalkan keduanya begitu saja.
Frisa masih tampak kesal, ia masih memeluk lengan Gavin dengan erat. "Cih wanita murahan!" gumam Frisa dengan tajam.
Frisa langsung melepaskan pelukannya. "Kamu sengaja tebar pesona terhadap para wanita di ruang meeting ini, kan? Ingat Gavin sebentar lagi kita akan menikah," ujar Frisa dengan ketus.
"Terserah Nona berkata apa yang jelas saya tidak ada menggoda mereka! Saya juga ingat pernikahan itu, Nona. Pernikahan di mana saya hanya menjadi suami bayaran Nona Frisa," ujar Gavin dengan tegas.
Frisa terdiam, ia tidak suka dengan Gavin yang berbicara seperti itu kepada dirinya. Gavin benar-benar berubah seperti dulu yang membuat Frisa hanya bisa menghela napasnya dengan pelan karena memang ini kemauannya tetapi sungguh Frisa tidak suka saat ada wanita yang mendekati Gavin seperti tadi.
"Gavin stop bersikap dingin kepada saya!" ujar Frisa dengan frustasi.
"Saya tidak suka! Benar-benar tidak suka!" ujar Frisa dengan kesal hingga menghentakkan kakinya.
"Dari dulu saya sudah seperti ini, Nona!" jawab Gavin apa adanya namun di dalam hati ia sangat senang sekali karena akhirnya Frisa mengakui ketidaksukaannya terhadap sikapnya saat ini.
"Tidak! Ini sungguh berbeda! Saya tidak suka Gavin!" ujar Frisa dengan lirih.
"Saya hanya berusaha menuruti apa kemauan, Nona!" jawab Gavin dengan tegas.
Frisa menatap Gavin dengan dalam. Setelah itu Frisa kembali duduk di kursi dengan pandangan yang tak bisa Gavin jabarkan.
"Nona, ayo kita kembali ke ruangan!" ujar Gavin menatap Frisa.
"Duluan saja! Saya mau di sini dulu!" ujar Frisa dengan pelan.
"Nona!"
"Nanti saya menyusul Gavin!" ujar Frisa dengan pelan.
Gavin menatap Frisa, ia tidak tega melihat wajah Frisa yang seperti merasa bersalah. Gavin akhirnya mendekat dan memeluk Frisa yang sedang duduk. Frisa langsung membalas pelukan itu, ia menyembunyikan wajahnya di perut Gavin.
"Saya tidak suka wanita tadi mengganggu kamu!" gumam Frisa dengan lirih yang membuat Gavin tersenyum mengelus rambut Frisa dengan lembut.
"Jangan lepaskan pelukan ini! Saya mau lebih lama," gumam Frisa mencegah saat Gavin ingin melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
Bisa saja Gavin memeluk dan mencium Frisa saat ini. Namun, ia ingin tetap seperti rencana awalnya karena jika ingin memiliki Frisa, ia harus bersikap dingin. Dan benarkan sekarang Frisa sudah cemburu hanya karena wanita tadi.