
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Olivia keluar dari kamar mandi dengan tampang yang begitu lesu karena setelah ia dan Faiz pulang Olivia langsung ke kamar mandi dan ia melihat darah, itu artinya ia datang bulan dan tidak hamil. Rasa sedih yang tadinya sudah hilang karena Faiz membawanya jalan-jalan kini kembali datang. Namun, bedanya kali ini Olivia tak menangis histeris lagi tetapi tetap saja hatinya merasa begitu sakit karena ternyata ia hanya tekat datang bulan bukan hamil, sesak yang menghampiri dadanya membuat Olivia menghela napasnya dengan pelan.
"Sayang kenapa wajah kamu murung lagi hmm? Kamu masih ingat yang tadi?" tanya Faiz dengan hati-hati.
"Aku datang bulan, Mas!" gumam Olivia dengan lirih.
Faiz tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Sayang. Kan sudah Mas katakan tadi kita masih mempunyai banyak waktu untuk membuat anak. Jangan sedih lagi ya. Biar tidak sedih kamu mau menginap di rumah bunda atau di rumah mama?" tanya Faiz dengan lembut.
"Kemarin sudah di rumah Bunda, Mas. Aku mau di rumah mama saja siapa tahu dengan mengelus perut mama bulan depan aku bisa ketularan hamil seperti mama," ujar Olivia dengan sendu.
"Ya sudah sesudah magrib kita langsung pergi ke rumah mama ya. Jangan sedih lagi dong," ujar Faiz dengan lembut.
Faiz membawa istrinya ke dalam pangkuannya, ia mencium bibir Olivia dengan lembut. "Pasti nanti kita akan mempunyai anak yang lucu-lucu, Sayang. Saat ini mungkin kita harus pacaran dulu," ujar Faiz dengan lembut.
Olivia tersenyum mendengar kata pacaran yang Faiz ucapkan barusan. Mungkin benar ia dan Faiz di suruh pacaran terlebih dahulu sebelum nanti mempunyai anak. Olivia menyandarkan kepalanya di dada bidang Faiz dan menikmati suara detak jantung Faiz yang begitu menenangkan hatinya.
Dalam posisi seperti ini Faiz ingin menerkam istrinya. Namun, ia ingat jika Olivia saat ini sedang data bulan, dan Faiz harus bersabar untuk 5 hari ke depan.
"Aku sayang, Mas. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, Mas!" gumam Olivia dengan lirih.
"Mas juga sayang sama kamu, Olivia. Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu," sahut Faiz dengan lembut yang membuat hati Olivia sudah mulai tenang dan ia terlihat membaik setelah tadi pagi ia menangis seperti anak kecil.
"I love you, Mas!"
"I love you too, Sayang!"
Faiz mencium puncak kepala Olivia dengan lembut, ia sudah sedikit lega saat Olivia tak lagi menangis walaupun Faiz tahu di dalam hati istrinya masih bersedih.
****
Rania sudah di kabari oleh Faiz jika Faiz dan Olivia sebentar lagi akan sampai. Faiz menceritakan semuanya kejadian di mana Olivia menangis histeris sampai sesegukan, dan Rania merasakan kesedihan yang di alami menantunya tersebut yang membuat Rania tidak tega dan bahkan Rania sudah menceritakan semua kepada Ferdians dan Frisa agar suami dan anaknya tidak ada yang membahas kehamilan pada Olivia.
__ADS_1
"Mama!" panggil Olivia dengan tersenyum memeluk Rania dengan erat.
"Iya, Sayang. Mau menginap di sini, kan? Mama senang banget kalau rumah ini ramai," ujar Rania dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Aku mau menginap di sini!" jawab Olivia dengan tersenyum.
"Ayo sini kita duduk! Nih Frisa dan Gavin baru saja membeli makanan yang sangat banyak sekali," ujar Rania dengan sangat antusias.
"Wah enak-enak sekali makanannya. Frisa baru pulang juga, Ma?" tanya Olivia.
"Iya, Sayang. Frisa dan Gavin baru selesai mengurus perabotan rumah yang datang siang tadi kemarin tidak jadi datang," sahut Rania dengan tersenyum.
"Gavin benar-benar membeli rumah mewah itu, Ma?" tanya Faiz.
"Iya, Faiz. Rumah impian adik kamu benar-benar Gavin wujudkan bahkan segala perabotan rumah Frisa yang memilih, Gavin hanya tinggal membayarnya saja," ujar Rania dengan terkekeh.
"Ini sih bukan suami bayaran namanya, Ma. Tapi istri bayaran," ujar Faiz dengan terkekeh yang membuat Rania dan Olivia juga ikut terkekeh pelan.
"Kamu ini bisa saja! Kalau adik kamu dengar dia bisa ngambek lagi loh," ujar Rania dengan pelan.
"Hehe jangan sampai dengar, Ma!" sahut Faiz dengan terkekeh.
"Ma, do'ain Olivia hamil bulan depan ya!" ujar Olivia dengan tercekat.
"Tentu, Sayang. Tapi kehamilan itu tidak bisa kita minta langsung terjadi karena itu takdir yang tidak kita ketahui. Tapi Mama akan berdo'a terus untuk Olivia," ujar Rania dengan tersenyum tulus.
"Makasih, Ma. Ma gimana rasanya hamil?" tanya Olivia.
Rania bertambah bingung mendapatkan pertanyaan yang seperti itu dari Olivia karena takut membuat menantunya itu bersedih dengan jawabannya.
"Kak Olivia!" teriak Frisa yang membuat Rania dan Faiz mengelus dada lega karena akhirnya Frisa menyelamatkan mereka dari situasi yang seperti ini.
Frisa berlari ke arah Olivia. "Minggir, Kak. Aku mau ajak kak Olivia mukbang makanan," ujar Frisa mengusir kembarannya begitu saja yang membuat Faiz mendengus sebal tetapi akhirnya di dalam hati ia berterima kasih kepada Frisa.
"Kak ayo mukbang! Kemarin dan tadi aku baru saja menghabiskan uang Gavin!" ujar Frisa dengan terkekeh.
"Haha... Tidak apa-apa kata mas Faiz dia kaya," ujar Olivia dengan tertawa.
__ADS_1
"Iya bener dia kaya. Ngeluarin uang ratusan juta mukanya biasa saja tuh tidak ada rasa penyesalan sama sekali," ujar Frisa menceritakan kegiatannya bersama dengan Gavin.
Frisa sengaja melakukan itu agar Olivia tidak bersedih dan mengingat semuanya. Frisa juga sangat menginginkan keponakan tetapi jika sampai membuat kakak iparnya bersedih Frisa juga tidak tega.
"Kapan pernikahan kamu dan Gavin akan di laksanakan?" tanya Olivia yang sudah mukbang bersama dengan Frisa dan tak lagi mempedulikan Rania dan Faiz bahkan kehadiran Ferdians pun tidak keduanya lihat sama sekali, keduanya asyik mengobrol bersama.
"Dua minggu lagi, Kak. Aku tidak sabar ingin pindah rumah baru, semua serba baru!" ujar Frisa dengan terkekeh.
"Oo iya dua minggu lagi, aku sampai lupa. Toko es krimnya juga bentar lagi jadi loh! Aku sudah lihat dari ponsel mas Faiz," ujar Olivia yang membuat mata Frisa berbinar.
"Yang benar, Kak? Kenapa kak Faiz tidak memberitahu aku ya?" ujar Frisa menatap Faiz.
Faiz menghela napasnya dengan pelan. "Untuk kejutan, Dek. Tapi karena istri Kakak sudah ngomong, nih sekalian saja kamu lihat fotonya. Semua desain toko atas kemauan kamu," ujar Faiz memberikan ponselnya.
Mata Frisa berbinar menatap toko es krim miliknya yang di hadiahkan Faiz untuk kado pernikahannya.
"Kamu minta toko es krim sama kakak kamu, Sayang? Kenapa tidak minta mall sih? Kurang itu," ujar Rania mengompori anaknya.
"Ma jangan cuci otak Frisa, dong!" ujar Faiz tak terima.
"Mama hanya memberikan saran ke adik kamu, Faiz. Kan tidak hanya ada es krim di mall banyak penjualan di dalam mall," jawab Rania dengan entengnya yang membuat Frisa terkekeh.
"Benar juga ya, Ma. Kenapa aku tidak meminta mall kemarin," ujar Frisa yang membuat Faiz gemas dengan adiknya.
"Mall keluarga sudah di buat bersama dengan om Rajendra kalau kamu mau tahu!" ujar Faiz yang membuat Frisa melotot sedangkan Olivia yang sudah mengetahuinya biasa saja walaupun sebenarnya ia masih syok karena keluarga Danuarta sekaya itu.
"Kok aku tidak di ajak? Aku kan bisa tanam saham di sana," ujar Frisa dengan cemberut.
"Ngapain juga kamu ikut uang kakak dan om Rajendra saja sudah cukup," ujar Faiz dengan tegas.
"Kamu tinggal menikmati hasilnya saja, Sayang. Tunggu mall-nya jadi dan kamu tinggal beli apa saja yang kamu mau biar Faiz dan Rajendra yang urus semuanya," ujar Ferdians yang membuat Frisa begitu senang.
"Aaa ini namanya surga dunia tanpa susah-susah bekerja aku sudah menikmati hasilnya," ujar Frisa dengan bahagia yang membuat Olivia terkekeh.
"Kak, ayo kita bersama-sama menghabiskan uang kak Faiz!"
"Haha ayo!"
__ADS_1
"Ya Tuhan..." keluh Faiz yang membuat semuanya tertawa.
Melihat tawa Olivia membuat Faiz kembali lega, setidaknya keluarganya mampu menghilangkan rasa sedih di hati istrinya.