
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini dengan like, vote, dan komentar yang banyak ya....
...Happy reading...
****
Keesokan harinya....
Ferdians mengerjapkan matanya dengan perlahan kala mendengar seseorang yang sedang muntah di kamar mandi, ingat jika Rania sedang hamil Ferdians langsung loncat dari kasur dan berlari ke arah kamar mandi yang untung saja tidak di kunci oleh Rania.
Uwekkk...
Uwekkk..
"Sayang kamu kenapa?" tanya Ferdians dengan panik tetapi ia membantu Rania dengan mengurut tengkuk Rania dengan pelan.
Rania menekan wastafel hingga air keluar dari sana. Ia membasuh mulutnya dengan perlahan, sedangkan Ferdians dengan sigap mengambil tisu dan mengelap bibir Rania dengan pelan.
"Apa yang sakit?" tanya Ferdians dengan cemas memerika kening dan leher istrinya.
"Perut saya mual!" jawab Rania dengan lirih.
"Kita ke kamar dulu ya!" ujar Ferdians dengan lembut yang di angguki oleh Rania karena memang wanita itu terlihat sangat lemas sekali.
Ferdians menuntut Rania untuk duduk di pinggir sofa, ia mengambil minyak kayu putih yang berada di atas nakas yang memang sudah ia beli ketika menebus resep dokter kemarin. Ferdians mengoleskan di dekat hidung, leher dan perut istrinya dengan perlahan.
"Fer... uwekk..."
"Fer..."
Rania kembali merasa mual saat ia ingin memanggil Ferdians.
"Mas Ferdians!" panggil Rania dengan lancar yang membuat Ferdians terkekeh.
"Anak kita tidak mau kamu memanggil aku dengan sebutan nama, Sayang!" ujar Ferdians dengan pelan.
Rania membenarkan ucapan Ferdians karena di saat ia memanggil Ferdians dengan sebutan 'mas' rasa mual itu langsung hilang.
"Saya pengin nasi goreng tapi kamu yang buat," ujar Rania dengan pelan walaupun ia harus menekan rasa malunya di hadapan Ferdians karena sudah meminta sesuatu kepada Ferdians. Rania tidak bisa mencegah keinginannya tersebut, Kata-katanya langsung keluar begitu saja tanpa bisa ia cegah.
Ferdians tersenyum. "Sebentar aku buatkan ya!" ujar Ferdians dengan lembut.
"Saya juga mau ke dapur tapi saya lemas!" ujar Rania yang membuat Ferdians paham.
"Aku gendong, Sayang!" ujar Ferdians dengan lembut.
Ferdians dengan sigap menggendong Rania dari depan seperti ayah yang menggendong anaknya. Ferdians sangat suka Rania yang seperti ini, tidak protes dan nurut kepadanya, kedua anaknya sangat pengertian sekali bukan. Mereka paham apa yang sedang Ferdians inginkan yaitu membuat Rania luluh ketika hamil.
Sesampainya di dapur, semua pelayan menatap nona tan tuannya dengan pandangan yang tak biasa. Mungkin yang ada di pikiran mereka kenapa pagi-pagi seperti ini tuan dan nona mereka sudah ada di dapur.
"Kalian pergilah dulu saya mau membuatkan istri saya goreng," ujar Ferdians dengan tegas.
__ADS_1
"Baik, Tuan!" ujar para pelayan dengan sopan.
Para pelayan pergi dari dapur karena tak ingin menganggu kedua majikan mereka yang ingin bermesraan dengan cara memasak.
"Fer..." Rania menutup mulutnya dengan cepat untuk menghalau rasa mualnya.
"Mas Ferdians!" panggil Rania dengan malas. Kenapa harus seperti ini? Rasanya sangat aneh ketika kedua anaknya mengetahui panggilan dirinya saat tidak ada orang.
"Iya, Sayang!" jawab Ferdians dengan lembut.
"Buatkan juga jus brokoli dengan wortel di campur menjadi satu," ujar Rania yang membuat Ferdians langsung terdiam karena merasa ngeri dengan permintaan Rania.
"Apa rasanya brokoli di campur dengan wortel, Sayang?" tanya Ferdians dengan bergidik ngeri membayangkan akan jadi apa brokoli dan wortel setelah di blender nanti.
"Buatkan saja jangan banyak protes," ujar Rania dengan tegas yang membuat akhirnya Ferdians mengangguk pasrah.
"Baiklah Sayang. Kamu duduk saja dulu di situ ya biar aku membuatkan nasi goreng dan minuman untuk kamu," ujar Ferdians dengan tersenyum.
"Jus brokoli dengan wortelnya yang banyak!" ujar Rania dengan menyandarkan kepalanya di meja.
Melihat kedatangan Liam dan yang lainnya ke dapur membuat Rania langsung menegakkan kepalanya kembali.
"Liam, Ricard, Nico, kemarilah!" ujar Rania dengan tegas.
Ketiganya saling memandang satu sama lain dengan perasaan was-was.
"Iya ada apa, Nona?" tanya Liam terlebih dahulu.
"Kalian duduklah! Mas Ferdians sedang membuatkan jus terenak kalian harus mencobanya," ujar Rania yang membuat ketiganya langsung waspada tetapi mereka tetap menurut dengan yang di perintahkan Rania.
"J-jus apa, Nona?" tanya Ricard dengan terbata perasaannya sudah tak enak sekarang.
"Kalian duduk dulu sebentar lagi jadi," ujar Rania dengan datar.
"Kira-kira jus apa yang dibuat tuan Ferdians? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak," bisik Nico kepada Liam dan juga Ricard.
"Entahlah aku juga tidak tahu. Kita ke sini cuma ingin mengambil minum tapi malah bertemu dengan nona," gumam Ricard dengan pelan.
"Jangan berbisik-bisik di dekat saya! Duduk dan jangan banyak berbicara," ujar Rania dengan tegas.
"Siap, Nona!" ujar ketiganya secara bersamaan.
Untuk sekarang ia harus memanggil Ferdians dengan sebutan 'mas' jika tidak ingin mual di hadapan anak buahnya.
"Mas Ferdians, nasi goreng dan jusnya masih lama?" tanya Rania dengan suara yang sedikit keras.
"Sebentar lagi, Sayang. Tunggu ya!" jawab Ferdians dengan tegas.
"Hmmm..."
Rania menatap wajah Liam, Ricard, dan Nico yang berada di hadapannya. "Kenapa wajah kalian terlihat sangat tertekan sekali?" tanya Rania dengan suara dinginnya.
__ADS_1
"Kalian enggan berada di sini bersama saya?" tanya Rania dengan tajam.
"T-tidak, Nona. Kami sangat mau berada di sini, Nona," jawab ketiganya bersamaan.
Perasaan ketiganya menjadi tidak tenang setelah bunyi blender, seakan bunyi tersebut menyapa ketiganya.
"Nasib apa lagi ini? Jangan sampai tuan membuat jus yang sangat aneh," gumam Liam di dalam hati.
"Tuan yang menghamili nona Rania kenapa imbasnya kepada kami? Dosa apa aku Ya Tuhan?" gumam Ricard di dalam hati.
"Mendengar suara blender itu entah mengapa perutku sudah merasa mual. Beginikah setiap ibu hamil mengidam?" gumam Nico di dalam hati.
Mungkin jika di dengar oleh Rania, wanita itu akan mengamuk sekarang. Dan pastinya Liam, Ricard maupun Nico akan dimarahi habis-habisan oleh singa betina cantik namun sangat menyeramkan untuk mereka.
Setelah 20 menit akhirnya nasi goreng dan jus yang di inginkan Rania sudah selesai. Ferdians membawakan nasi goreng tersebut ke hadapan istrinya.
"Mas, mereka juga mau jus-nya tuangkan di dalam gelas juga," ujar Rania yang membuat Liam, Ricard, dan Nico menelan ludahnya dengan kasar melihat warna jus yang berada di tangan Ferdians.
"Iya, Sayang. Dengan senang hati aku akan memberikan kepada mereka bertiga," ujar Ferdians dengan tersenyum senang
"T-tuan, itu jus apa?" tanya Liam dengan terbata.
"Jus Brokoli dan wortel," jawab Ferdians yang membuat ketiganya kaget.
"A-APA?" teriak ketiganya dengan kencang yang membuat Rania menatap ketiganya dengan tajam.
"Kenapa? Kalian tidak mau meminumnya?" tanya Rania dengan tajam.
"M-mau, Nona!" ujar ketiganya dengan terbata.
Liam, Ricard, dan Nico menelan ludahnya dengan kasar saat tuan mereka memberikan tifa gelas jus brokoli dan wortel di hadapan mereka.
"Ayo minum!" ujar Rania dengan tegas.
"I-iya, Nona!"
Ketiganya mengambil gelas tersebut dengan tangan gemetar. Melihat nona mereka terlihat biasa saja meminumnya membuat ketiganya ingin rasanya pingsan saja.
"Ayo minum!" perintah Rania dengan tegas yang membuat ketiganya mengangguk.
Liam, Ricard, dan Nico meminum jud brokoli dan wortel dengan perlahan. Rasa aneh ketika jus itu sampai di mulut mereka membuat ketiganya ingin memuntahkan jus tersebut.
"Habiskan! Kalau tidak anak saya akan menangis nanti," ujar Ferdians yang membuat ketiganya langsung meneguk habis jus brokoli dengan wortel sekali teguk.
"Nona kami permisi dulu!" ujar Liam berlari dengan cepat meninggalkan dapur yang di ikuti oleh Ricard dan Liam.
"Berani sekali mereka pergi begitu saja!" ujar Rania dengan kesal.
"Ya sudah Sayang yang terpenting jus-nya sudah habis. Sekarang kamu makan nasi gorengnya ya! Atau mau aku suapi?" tanya Ferdians dengan perhatian padahal di dalam hati ia sedang menertawakan anak buah istrinya.
"Hahaha... Untung saja bukan aku yang menjadi korbannya. Nak, kalian jahil sekali dengan om-om kalian," gumam Ferdians di dalam hati.
__ADS_1
"Kamu juga minum!"
Ferdians membelalakkan matanya dengan lebar. "Mampus kamu Ferdians!"