Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 58 (Interogasi)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Sastra menatap tajam ke arah Anjani yang baru saja datang ke kantor setelah kemarin gadis itu tidak datang ke kantor.


Sastra terlihat heran saat melihat Anjani yang terlihat berbeda dari biasanya.


"Anjani!" panggil Sastra dengan tegas tetapi tidak ada sautan dari Anjani.


Anjani hanya diam dengan pandangan yang begitu kosong. Sastra tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Anjani saat ini, tetapi Sastra yakin sudah terjadi sesuatu dengan rekan kerjanya ini.


"Anjani!" panggil Sastra dengan menyentuh lengan Anjani pelan dan itu berhasil membuat Anjani tersentak kaget.


"P-pak Sastra!" kaget Anjani memanggil nama Sastra.


Sastra menghela napasnya dengan kasar. "Pergi ke ruangan nona Rania sekarang!" ujar Sastra dengan tegas.


"B-baik, Pak!" jawab Anjani dengan pelan.


Sastra terlebih dahulu melangkah masuk ke ruangan Rania. Sedangkan Anjani terlihat menghela napasnya dengan pelan, ia tahu setelah ini apa yang akan ia dapatkan dari Rania yaitu kemarahan wanita hamil tersebut dan sekarang Anjani tengat memikirkan jawaban apa yang ia akan berikan pada Rania setelah kemarin ia tidak masuk ke kantor.


Anjani melangkahkan kakinya dengan berat menuju ruangan Rania. Langkah Anjani semakin berat kala ia masuk ke ruangan Rania dan mendapatkan tatapan tajam dari Rania yang seakan bisa membunuhnya kapan saja.


"Duduk!" ucap Rania dengan sangat dingin yang membuat Anjani menelan ludahnya dengan kasar.


Anjani duduk di hadapan Rania sedangkan Sastra berada di samping Rania dengan sangat setianya.


"Kamu tahu kesalahan kamu apa?" tanya Rania dengan sangat tajam.


"Tahu, Nona. Saya minta maaf karena kemarin saya tidak datang ke kantor bahkan saya tidak memberikan kabar apapun ke perusahaan," jawab Anjani dengan tegas tetapi pandangannya tetap terlihat kosong dan penuh luka.


Rania mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Anjani. Matanya begitu dingin menatap ke arah Anjani.


"Itu artinya kamu sudah tahu jika saya tidak suka dengan karyawan saya yang seperti itu. Kamu sudah tahu apa yang akan kamu dapatkan setelah kamu membuat kesalahan?!" ujar Rania dengan datar.


"Sudah tahu, Nona. Maafkan saya karena saya kemarin tidak bisa datang ke kantor, saya tahu kesalahan saya!" jawab Anjani mencoba biasa saja walaupun sekarang hatinya benar-benar sedang terluka parah.


"Alasannya? Berikan alasan yang lugas dan tegas kepada saya!" ujar Rania dengan dingin.


Anjani kembali menelan ludahnya dengan kasar keringat dingin muncul di dahinya yang membuat Rania semakin curiga dengan sekretarisnya ini.


"S-saya... S-saya..."

__ADS_1


Brak...


Rania menggebrak meja dengan keras yang membuat Anjani tersentak kaget. Matanya hampir berkaca-kaca karena baru kali ini ia terkena marah oleh Rania, biasanya ia hanya menyaksikan kemarahan Rania untuk karyawan lain.


"Berikan alasan yang jelas Anjani! Kamu mau melihat kemarahan saya lebih besar daripada ini?!" ujar Rania dengan begitu tajam.


Anjani menundukkan pandangannya karena ia begitu takut dengan Rania, bayangan Rio juga memperkosanya membuat keringat dingin kembali muncul lebih banyak daripada tadi.


"CEPAT ANJANI!" teriak Rania begitu emosi yang membuat Anjani semakin takut dengan kemarahan Rania.


"Saudara dari pihak mama saya sedang sakit, Bu. Jadi, saya ke rumahnya dengan sangat mendadak setelah saya sampai ke sana saudara saya meninggal dunia Bu hingga saya lupa mengabari Ibu jika kemarin saya tidak masuk kantor. Maafkan saya, Bu. Sekali lagi saya minta maaf, Bu!" ujar Anjani dengan terbata.


Anjani terpaksa berbohong karena tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kepada Rania. Di satu sisi Anjani tidak ingin aib ibunya diketahui oleh orang lain, di satu sisi Anjani merasa malu jika dirinya sudah tak suci lagi karena perbuatan adik tiri Rania yang masih mencintai Rania.


"Apakah jawaban kamu ini bisa saya percaya?" tanya Rania dengan dingin.


Anjani mengangguk dengan cepat bahkan sejak tadi ia memainkan tangannya hingga berkeringat.


"Tuhan, aku takut sekali!" gumam Anjani di dalam hati.


"Oke... Jika kamu ketahuan berbohong dan membuat kesalahan yang lebih besar saya akan langsung memecat kamu tanpa ada kata kasihan walaupun kamu berkompeten dalam perusahaan," ujar Rania dengan dingin.


Rania menyodorkan kertas putih ke arah Anjani. "Kamu saya berikan SP 1 ingat jika kamu membuat kesalahan lagi yang tidak bisa saya maafkan maka kamu langsung angkat kaki dari perusahaan ini!" ujar Rania dengan tegas.


"Silahkan keluar dari ruangan saya dan kerja dengan benar!"


"Baik, Nona. Sekali lagi maafkan saya! Saya permisi!" ujar Anjani dengan pelan.


"Hmmm...."


Anjani melangkah keluar dari ruangan Rania dengan perasa yang sama sekali tidak bisa di jabarkan. Sebenarnya hari ini juga Anjani merasa dirinya belum baik-baik saja tetapi ia harus tetap bekerja demi kebutuhan hidupnya dan juga mamanya yang sekarang pun belum pulang ke rumah.


Setelah Anjani keluar dari ruangannya Rania terlihat memegang perutnya dan meringis dengan pelan.


"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Sastra dengan cemas melihat nona-nya meringis kesakitan memegang perutnya.


"Perut saya kram!" jawab Rania dengan meringis.


"Apakah kita langsung pergi ke rumah sakit saja, Nona?" tanya Sastra dengan cemas karena ia takut terjadi sesuatu dengan kedua janin kembar yang ada di kandungan Rania walaupun hampir setiap hari ngidamnya Rania membuat dirinya dan yang lainnya jantungan setengah mati, mereka lebih baik bekerja daripada harus berhadapan dengan Rania yang sedang mengidam tetapi ketika Ibu hamil itu meminta sesuatu Sastra dan yang lainnya tidak bisa menolak, begitulah ajaibnya aura ibu hamil yang membuat lelaki yang berada di dekat Rania tak bisa berkutik sama sekali.


"Panggil saja mas Ferdians ke kantor!" ujar Rania dengan tegas.


"Tapi Nona, tuan Ferdians sedang bekerja," ujar Sastra yang membuat Rania menghela napasnya dengan kasar.


"Jam istirahat suruh dia datang ke sini!" ujar Rania dengan tegas.

__ADS_1


"Baik, Nona. Tapi apakah benar Nona baik-baik saja? Bagaimanapun anda sedang mengandung sekarang dan saya takut terjadi sesuatu dengan anda dan kedua janin anda, Nona!" ucap Sastra memastikan jika Rania baik-baik saja.


"Ya saya baik-baik saja. Tapi saya ingin sesuatu," ujar Rania yang mengeluarkan permintaan yang membuat Sastra deg-degan sekarang.


"A-apa, Nona?" tanya Sastra dengan terbata.


"Saya ingin..."


"Ya Tuhan... Saya mohon jangan ada yang berhubungan dengan buah naga lagi," gumam Sastra berdo'a di dalam hati.


"Salad buah tapi buah naganya yang banyak," ujar Rania yang membuat Sastra langsung menghela napasnya dengan berat.


"Kenapa? Kamu tidak mau membelikannya?" tanya Rania dengan tajam.


"Mau, Nona. Demi dua keponakan saya, saya rela menahan rasa phobia saya terhadap buah naga," ujar Sastra yang membuat Rania menyeringai.


Tetapi ucapannya di dengar oleh seseorang yang baru saja datang dan ingin mengetuk pintu.


"Bahkan Sastra lebih mementingkan kehamilan Rania dan mencoba menahan phobianya terhadap buah naga hanya untuk memenuhi ngidam Rania. Dan aku sama sekali tidak pernah mendapatkan itu," batin Citra di dalam hati.


Citra mengurungkan niatnya untuk masuk, ia lebih memilih memberikan dokumen itu kepada Anjani daripada harus bertemu langsung dengan Sastra dan Rania yang terlihat saling menyayangi di matanya.


****


Ferdians memasuki perusahaan istrinya dengan langkah tegasnya, sekarang semua orang menghormati dirinya yang membuat Ferdians merasa di hargai dan Ferdians sadar ini berkat istrinya.


"Sayang!" panggil Ferdians di saat sudah masuk ke ruangan Rania.


Di dalam ini hanya ada Rania sendiri karena Sastra sudah keluar dari ruangan Rania akibat kepalanya yang pusing setelah berhadapan dengan buah naga.


Rania membuka matanya dengan perlahan di saat Ferdians sedang menatapnya.


"Sastra tadi menelepon Mas dan menyuruh Mas untuk datang ke kantormu. Ada apa hmm?" tanya Ferdians dengan lembut sekaligus khawatir dengan sang istri.


"Perut saya kram setelah saya memarahi Anjani," jawab Rania dengan jujur.


"Kita ke rumah sakit ya!" ujar Ferdians dengan cemas.


"Tadi kita sudah ke rumah sakit dan dokter mengatakan kandungan saya berkembang dengan baik. Saya hanya ingin kamu mengelus perut saya," ujar Rania yang memegang perutnya.


Ferdians tersenyum. Jadi, ini penyebab samg istri menyuruhnya datang ke kantor?


"Hai twins!! Apakah kalian merindukan Papa, Sayang? Papa juga merindukan kalian. Bagaimana jika Papa jenguk kalian sebentar sebelum Papa kembali ke kantor?"


"MAS FERDIANS BISA-BISANYA KAMU BERBICARA SEPERTI ITU KEPADA KEDUA ANAK KITA?"

__ADS_1


__ADS_2