
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Di dalam ruangan operasi Ferdians dengan setia menunggu istrinya. Ferdians tidak tega melihat Rania di suntik bius agar operasi cesar yang di lakukan Rania saat ini berjalan dengan lancar. Ferdians tidak tega melihat Rania kesakitan saat kontraksi datang sehingga Ferdians memutuskan agar Rania operasi cesar saja.
Semua dokter dan suster yang membantu persalinan Rania sudah siap. Mereka juga merasa tegang karena ini adalah cucu dari pertama dari Danuarta dan Abraham. Mereka tak mau ada kejadian yang membuat pekerjaan mereka terancam.
"Mas, aku takut!" gumam Rania dengan lirih saat mendengar suara alat operasi yang di pegang dokter. Walaupun Rania sudah tidak merasakan apapun, tetap saja bunyi gunting operasi membuat Rania bergidik ngeri.
Membayangkan perutnya di bedah membuat Rania memegang tangan Ferdians dengan erat.
"Ini hanya sebentar, Sayang. Nanti kita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat twins F lahir," ujar Ferdians memberikan dukungan kepada istrinya.
Suaminya benar. Mereka akan merasakan kebahagiaan yang sangat bertubi-tubi saat kedua anak kembar mereka lahir. Rania mengangguk dengan tersenyum memegang tangan suaminya, bahkan matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih melainkan karena rasa bahagia yang saat ini ia rasakan.
****
Eric sudah kembali ke rumah sakit setelah memastikan istrinya percaya jika dirinya sedang ada pekerjaan di luar kota selama beberapa hari. Eric sengaja berbohong karena ia tidak ingin Gista sakit hati mengetahui jika dirinya pernah menikah dan mempunyai anak dan salah satu anaknya di rawat oleh mereka berdua.
Eric menatap tajam saat melihat kehadiran Ben dan juga Doni bersama dengan Heera. Dengan langkah tegasnya Eric mendekati mereka semua.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?" tanya Eric dengan tajam.
"Apa urusanmu?!" sahut Ben dengan datar.
"Sudah! Saya tidak mau mendengar keributan dari kalian lagi! Saat ini Rania sedang berjuang melahirkan kedua anaknya, sebagai kakek seharusnya kalian diam dan mendoakan Rania dan kedua anaknya lahir dalam keadaan selamat bukan adu mulut setiap bertemu seperti ini," ujar Heera dengan tegas.
__ADS_1
"Rania melahirkan? Bagus itu artinya salah satu anak Rania dan Ferdians akan di bawa oleh Ferdians," ujar Eric dengan datar yang membuat Heera terkejut.
"Tidak ada yang akan berpisah! Kalian jangan egois! Apalagi kamu, Mas!" tunjuk Heera dengan tajam.
"Kamu mau mengulang kisah kita dulu kepada anak kita? Kamu benar-benar tidak menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan dulu hingga kamu dengan tega memisahkan Ferdians dengan Rania, apalagi anak mereka masih bayi. Saya tidak menyangka jika kamu sama seperti kedua orang tua kamu! Egois!" ujar Heera dengan tajam.
"Keadaannya berbeda, Heera! Ben telah memfitnah saya dan membuat saya di penjara! Apa saya akan diam saya ketika melihat Ferdians juga di manfaatkan oleh Rania? Rania itu menikahi Ferdians hanya untuk melahirkan pewaris untuk Danuarta! Rania tidak benar-benar tulus mencintai anak kita," ujar Eric dengan tajam.
Heera menatap Eric tidak percaya. "Kamu memang ayah kandung Ferdians. Tetapi yang berhak atas Ferdians itu saya bukan kamu Mas Eric! Jadi, cukup kalian memisahkan Rania dan Ferdians! Terlepas dari perjanjian yang sudah pernah mereka lakukan, mereka juga sudah saling mencintai!" ujar Heera dengan tajam.
"Sudah cukup! Rania sedang berjuang di dalam sana. Kalian malah ribut di sini!" ujar Ana dengan tegas.
Semua orang terdiam dengan pikiran mereka masing-masing saat Ana sudah bersuara. Memang benar aura ibu hamil sangat kuat sekali bahkan kali ini Ben terlihat diam saat istrinya sudah berbicara.
Saat semua orang di luar sudah diam terdengar suara tangisan bayi yang sangat keras. Rania langsung menangis saat dokter mengangkat tubuh anaknya yang masih belumuran darah ke hadapannya.
"Hiks..hikss... Kita sudah jadi orang tua, Mas!" ujar Rania dengan menangis bahagia.
Anak lelaki yang mereka tunggu akhirnya lounching juga dan terlihat tampan tanpa kekurangan suatu apapun.
Hingga tak lama terdengar tangisan anak kedua mereka yang membuat Rania semakin menangis bahagia. Bahkan Ferdians tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada istrinya yang telah melahirkan kedua anaknya dengan bertaruh nyawa dan ketakutan yang di rasakan oleh Rania saat operasi berlanjut.
"Yang ini cantik seperti mamanya," ujar Dokter yang membuat Rania dan Ferdians saling memandang mereka tersenyum dibarengi tangisan bahagia.
Cup...
Cup...
"Terima kasih, Sayang!" ujar Ferdians dengan menangis haru mendengar tangis pertama anaknya yang sudah sangat ia tunggu-tunggu.
__ADS_1
Suster dengan hati-hati meletakkan kedua anak Rania dan Ferdians ke sebelah kiri dan kanan Rania. Rania mengecup mereka secara bergantian, rasa bahagianya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saat melihat kedua anaknya sudah dalam pelukannya saat ini.
"Hiks... Selamat datang Twins F kesayangan Papa, Mama!" ujar Rania dengan lirih mengelus pipi kedua anaknya dengan gemas.
Suara tangisan twins F masih terdengar nyaring tetapi tidak membuat Rania dan Ferdians takut melainkan merasa bahagia dengan tangisan mereka.
Bahkan orang-orang yang menunggu operasi Rania merasa bahagia saat mendengar tangisan twins F.
****
"Ganteng dan cantik sekali!" ujar Heera ketika melihat kedua cucunya di dalam box bayi yang di sediakan pihak rumah sakit.
"Twins F, nenek berharap kalian tumbuh menjadi pribadi yang baik, penyabar dan tegas. Jangan seperti kedua kakek kalian yang sangat keras kepala dan egois," ujar Heera dengan tersenyum.
Kedua kakek yang dikatakan Heera saling memandang dengan tajam. Aura permusuhan sangat terlihat jelas dari tatapan mereka yang membuat Rania menghela napasnya dengan berat. Kapan papa dan ayah mertuanya akan berdamai, Rania yakin setelah ia melahirkan pasti papa dan ayah mertuanya akan tetap memisahkannya dengan Ferdians. Dan itu sudah Rania dan Ferdians bicarakan untuk menjalankan rencana yang sudah Ana susun dengan rapih, mereka hanya akan mengikuti rencana tersebut agar semuanya baik-baik saja.
Ya, mereka akan berpura-pura menyetujui perceraian itu di hadapan Ben dan juga Eric tetapi yang sebenarnya mereka masih menjadi suami istri. Rania dan Ferdians hanya akan membohongi Ben dan juga Eric agar keduanya puas, untuk hak asuh anak nanti mereka akan menjaga satu-satu anak mereka tetapi Ferdians dan Rania akan sering bertemu tanpa sepengetahuan Ben dan juga Eric agar sandiwara mereka tetap berjalan dengan lancar karena dengan cara seperti inilah Ferdians dan Rania masih tetap bersama.
"Saya pada tetap keinginan awal. Saya mau cucu lelaki yang ikut dengan saya," ujar Ben dengan tegas walaupun sebenarnya di dalam hatinya merasa gemas dengan cucu perempuannya yang membuka mata dan melihat ke arahnya.
"Terserah yang terpenting Ferdians dan Rania bercerai! Saya tidak sudi berbesanan dengan orang yang suka fitnah," sahut Eric dengan tajam.
"Saya juga tidak mau berbesanan dengan pembunuh!" ujar Ben tak mau kalah.
Oeekkk..oeekk...
"Lihat Twins F saja tidak mau mendengar keributan kalian!" ujar Heera dengan datar.
"Mereka masih bayi tidak tahu apa-apa" sahut Ben dan Eric bersamaan.
__ADS_1
"Dasar kakek tua egois!" ujar Heera dengan kesal.