
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Rajendra pulang ke rumahnya dengan perasaan hati yang tak menentu, setelah ia berbicara dari hati ke hati dengan Bunga akhirnya Rajendra memutuskan untuk berbicara sekarang dengan kedua orang tuanya walaupun ia pasti akan mendapatkan amarah dari mamanya nanti.
"Mama! Ma!" teriak Rajendra yang membuat Ana langsung berlari menghampiri anaknya dari dapur.
"Kenapa teriak-teriak Rajendra? Ada apa?" tanya Ana dengan cemas.
"Aku mau berbicara, Ma. Ini penting! Papa mana?" tanya Rajendra mencari keberadaan papanya yang tak terlihat di sini.
"Ada di kamar! Mau bicara penting apa sih? Nah itu Papa!" ujar Ana melihat suaminya yang keluar dari kamar.
"Ada apa? Papa sampai terkejut mendengar teriakan kamu," ujar Ben menatap anaknya.
"Apa Cassandra membuat ulah?" tanya Ben memastikan.
"Ini lebih penting dari Cassandra, Pa. Ayo kita bicara di sofa," ujar Rajendra dengan semangat yang membuat Ben dan Ana saling menatap satu sama lain. Sepenting apa pembicaraan Rajendra hingga Rajendra terlihat sangat tidak sabaran sekali?
"Pa, Ma, dengarkan aku berbicara dulu dan jangan memotong pembicaraanku," ujar Rajendra dengan tegas.
"Iya!" jawab Ben dan Ana dengan menggelengkan kepalanya.
"Pa, Ma, aku ingin menikahi Bunga. Dia adalah adik Cassandra namun berbeda ibu, Bunga gadis yang berbeda dari Cassandra. Bunga sangat lembut, dia berhasil membuat aku jatuh cinta," ujar Rajendra yang membuat Ana syok tetapi berbeda dengan Ben yang terlihat biasa saja karena ia tahu akhirnya akan seperti ini, anaknya sama sekali tak bisa mencintai Cassandra sedikitpun walaupun di dalam hati nuraninya ada belas kasihan. Sama seperti dirinya saat menikahi Agni dan akhirnya ia jatuh cinta dengan Ana walaupun pernikahan mereka awalnya karena sebuah kesalahan satu malam.
"Apa-apaan kamu Rajendra? Kamu ingin menikahi Bunga yang notabennya adalah adik ipar kamu sendiri. Mama tidak setuju, Rajendra! Walaupun Cassandra adalah wanita jahat tetapi Mama tidak setuju kamu memiliki dua istri," ujar Ana dengan tajam.
"Ma, aku mohon restui aku dengan Bunga! Aku mencintai Bunga, Ma! Hanya Bunga yang bisa membuat aku move on dari Olivia!" ujar Rajendra yang membuat Ben tersentak.
"Ulangi perkataan kamu, Rajendra!" ujar Ben dengan datar.
Rajendra menghela napasnya dengan berat, sepertinya sudah saatnya papanya mengetahui perasaannya dulu terhadap Olivia. "Iya, Pa. Dulu aku hendak menembak Olivia tapi sudah keduluan dengan Faiz. Jadi, aku mundur dan akhirnya aku mengetahui rencana busuk Cassandra dari situlah aku ingin menikahi Cassandra. Tapi, Papa jangan bilang rahasia ini dengan siapapun hanya mama dan Papa yang tahu," ujar Rajendra menatap papanya dengan tegas.
"Aish... Kenapa keluarga kita selalu berhubungan dengan keluarga Agni? Dan sekarang kamu juga ingin menikah dengan Bunga? Sebenarnya Papa sudah mengetahui bagaimana Bunga dan Papa setuju-setuju saja jika kamu menikahi Bunga. Sekarang yang jadi masalahnya ibu negara belum kasih izin," ujar Ben melirik ke arah istrinya yang terlihat menatapnya dengan tajam.
"Ma, boleh ya aku menikahi Bunga. Kalau Mama tidak setuju aku nikah diam-diam nih!" ujar Rajendra dengan merengek seperti anak kecil yang membuat Ana mendelik ke arah anaknya dengan tajam.
"Aduh-aduh ampun, Ma! Jangan di cubit lagi," ujar Rajendra berusaha menghindari cubitan mamanya yang sangat sakit.
"Berani kamu macam-macam, Rajendra!" ujar Ana dengan geram.
__ADS_1
"Ada apa sih ini?" tanya Rania yang baru saja datang bersama dengan suaminya.
"Kak tolong aku!" rengek Rajendra berlari ke arah kakaknya vdan memeluk lengan Rania dengan erat.
"Kenapa lagi? Kamu buat ulah sampai mama marah?" tanya Rania dengan memicingkan matanya.
"Aku hanya meminta restu mama untuk menikahi Bunga, Kak. Kalau mama tidak memberikan restu aku mau menikah diam-diam dan mama langsung mencubit perutku dengan kuat," ujar Rajendra yang membuat Rania dan Ferdians sangat terkejut.
"Kamu mau menikahi anak Roby? Dua-duanya kamu nikahi Rajendra? Apa yang kamu pikirkan ini? Otak kamu sakit?" tanya Rania dengan tajam.
"Kak ayolah jangan marah-marah! Nanti keponakan aku menangis. Bunga tidak seperti Cassandra, Kak. Dan aku mencintainya! Sungguh!" ujar Rajendra dengan memelas.
Rania menatap adiknya dengan datar. Bagaimana mungkin Rajendra menikahi Bunga di saat Cassandra masih menjadi istrinya? Tapi melihat tatapan Rajendra yang sangat memelas membuat Rania tidak tega karena Rania sudah menyelidiki tentang Bunga tanpa sepengetahuan Rajendra.
"Bawa gadis itu ke rumah!" jawab Rania yang membuat Rajendra memekik senang karena jika Kakaknya sudah setuju pasti mamanya juga setuju.
"Ma gimana?" tanya Rajendra menatap mamanya.
"Seperti kata kakak kamu. Bawa gadis itu ke rumah kalau dia berhasil ambil hati Mama kalian menikah," ujar Ana dengan menghela napasnya dengan berat.
"Kak, i love you!" ujar Rajendra mencium pipi kakaknya yang membuat Ferdians mendelik.
"Rajendra! Awas kamu!" ujar Ferdians dengan tajam.
Ferdians menarik Rania dari Rajendra yang membuat Rajendra mendengus kesal karena ia tidak bisa berdekatan dengan kakaknya dakam waktu yang lama.
"Kapan kamu akan membawa Bunga ke rumah ini? Jangan sampai Olivia tahu masalah ini," ujar Ana dengan tegas.
"Besok bagaimana? Sepulang dari kantor aku langsung mengajak Bunga ke rumah ini, Ma! Iya Ma, Olivia tidak akan tahu masalah ini," ujar Rajendra dengan tersenyum karena akhirnya mamanya luluh.
"Terserah kamu. Belikan Bunga rumah agar dia nyaman! Cassandra di rumah mewah maka Bunga pun harus di rumah mewah," ujar Ana dengan datar karena sebenarnya ia masih bimbang antara menyetujui pernikahan Rajendra dengan Bunga atau tidak tetapi melihat semua orang setuju tak ada alasan yang membuat Ana menentang pernikahan anaknya. Karena Ana melihat pancaran kebahagiaan di mata anaknya untuk Bunga, dan Ana berharap pernikahan Rajendra dengan Bunga tak menjadi masalah di kemudian hari.
"Iya, Ma. Mama tenang saja! Aku mau ke rumah kak Rania dulu!" ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Kakak di sini kenapa kamu mau ke sana? Gavin sama Frisa juga masih ada di hotel," ujar Rania dengan heran.
"Mau kasih pelajaran untuk playboy!" jawab Rajendra dengan datar.
"Playboy? Siapa?" tanya Rania dengan heran.
"Melvin! Aku pergi dulu!" ujar Rajendra yang berjalan begitu saja.
"Kenapa dengan Melvin, Sayang?" tanya Ferdians dengan heran.
__ADS_1
"Kemarin Papa melihat Melvin mendekati Bunga di acara pernikahan Frisa dan Gavin. Mungkin itu penyebabnya," jawab Ben dengan santai.
"Jadi, ceritanya Rajendra cemburu dengan Melvin? Astaga anak itu kalau jatuh cinta terlihat aneh sekali," ujar Rania dengan menggelengkan kepalanya.
"Itu wajar, Sayang! ujar Ferdians tidak terima karena ia merasa jika ia sama dengan Rajendra.
" Wajar bagi Mas dan Rajendra!" jawab Rania dengan bersungut.
"Ma aku lapar! Mau nasi goreng buatan Mama!" rengek Rania yang membuat Ferdians tak lagi berbicara karena istrinya sudah ingat tujuan awal mereka ke sini.
Ana tersenyum. "Ya sudah ayo kita ke dapur!" ujar Ana dengan lembut.
Rania mengangguk, ia menggandeng tangan mamanya dan mereka berjalan menuju dapur berdua.
****
"Melvin!" teriak Rajendra dengan keras saat sudah sampai di rumah kakaknya.
Melvin dan yang lainnya terlihat bingung karena Rajendra hanya memanggil nama Melvin akhirnya Melvin mendekati Rajendra yang terlihat menatap tajam ke arahnya.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Melvin dengan tenang karena ia belum tahu jika Rajendra sedang marah kepadanya.
Bukk....
Rajendra memukul perut Melvin dengan keras yang membuat Melvin terbatuk dan terhuyung ke belakang. Cakra dan Agam terlihat terkejut karena tak pernah melihat Rajendra seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi? benak keduanya bertanya-tanya.
"Apa salah saya, Tuan?" tanya Melvin memegang perutnya yang sakit.
"Kesalahan kamu karena sudah menggoda gadis yang saya cintai. Saya peringatkan ke kamu Melvin jangan sesekali kamu mendekati Bunga, saya sudah cukup bersabar tidak menghajar kamu kemarin."
"Bunga?"
"Iya, gadis yang kamu dekati kemarin di pesta Gavin dengan Frisa. Dengar! Tidak hanya Melvin kalian juga akan mendapatkan pukulan dari saya jika kalian menggoda calon istri saya!" ujar Rajendra dengan tajam.
"Calon istri, Tuan?" tanya Cakra dengan syok.
"Iya dan jangan bertanya! Saya tidak suka!" ujar Rajendra dengan tajam dan berlalu begitu saja walaupun sebenarnya ia ingin menghajar Melvin kembali tapi ia ingat dengan Frisa dan akhirnya Rajendra memilih untuk pergi.
"Tuan Rajendra mau menikah lagi? Istrinya sebentar lagi dua? Lah kita masih jomblo saja," ujar Agam dengan tampang polosnya yang membuat Cakra dan Melvin mendengus kesal.
"Tidak usah di ingatkan!" ujar Cakra dengan kesal.
"Gue jomblo? Kalian berdua kali!" ujar Melvin tidak terima.
__ADS_1