
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Tak ada ekspresi yang Anjani tampilkan ketika Rio membawanya ke apartemen pria itu di mana di tempat ini juga kesuciannya di ambil paksa oleh Rio. Dadanya memang terasa sesak tetapi air mata Anjani tidak bisa lagi keluar, ia mencoba terbiasa dengan kehidupan barunya bersama Rio walaupun ia tahu kehidupan nanti akan menjadi neraka untuknya sendiri.
"Walaupun kita suami istri tapi saya tidak mau kamu mengurusi hidup saya begitupun sebaliknya! Kita tidak boleh ikut campur dengan urusan masing-masing dari kita," ujar Rio dengan datar.
"Ya!" jawab Anjani dengan singkat. Anjani tidak ingin membatah Rio karena itu sama saja akan sangat melelahkan untuk dirinya sendiri. Pasti pada akhirnya ia akan tetap kalah dengan Rio.
"Oke! Karena apartemen ini cuma ada satu kamar, kamu bisa tidur di kamar ini. Sebelah kiri milik saya dan sebelah kanan milik kamu," ujar Rio sekali lagi.
Anjani hanya diam. Wajahnya masih terlihat sama, datar seakan ia tidak merasakan sakit akibat pernikahan neraka ini.
"Kita boleh memiliki kekasih dengan begitu setelah anak itu lahir kita mempunyai alasan untuk bercerai!" ujar Rio dengan entengnya.
"Ya, saya mengerti!" ucap Anjani dengan datar.
Ia banyak belajar dari Rania, menjadi wanita kuat tanpa harus banyak menangis hanya karena kehidupan yang mereka jalani tidak sesuai yang mereka harapkan selama ini. Anjani berusaha untuk menjadi kuat seperti Rania tetapi bedanya Rania memiliki suami yang mencintainya dengan sangat tulus sedangkan suaminya tidak mau menganggapnya dan anak yang di dalam kandungannya saat ini.
Setelah kepergian Rio dari kamar, Anjani duduk di pinggir ranjang. Ia menghela napasnya dengan pelan lalu mengelus perutnya yang masih datar.
"Kita berjuang sama-sama ya, Nak. Cuma kamu yang mama punya, kamu penguat mama saat ini," gumam Anjani dengan tersenyum tipis.
Anjani berdiri dan mendekati lemari Rio, ia ingin meletakkan baju-bajunya di lemari Rio. Tak peduli Rio akan marah kepadanya yang terpenting baju-bajunya sudah tertata dengan rapih di lemari ini.
Anjani harus bisa melewati ini semua, ia tidak boleh lemah di hadapan Rio agar dirinya tidak di pandang rendah oleh Rio. Ia harus menjadi wanita kuat dan mandiri agar ia bisa melewati ini semua. Tapi apakah ia masih bisa bekerja di perusahaan Rania? Anjani harus menanyakan ini kepada Rania.
[Bu, apakah saya benar-benar di pecat dari perusahaan? Saya masih sangat membutuhkan pekerjaan ini, saya tidak mau bergantung pada tuan Rio]
__ADS_1
[Saya menjadi karyawan biasa saja tidak apa-apa, Bu. Asal saya masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak saya ke depannya🙏]
Anjani mengirimkan pesan untuk Rania dengan harap-harap cemas, semoga saja ia tidak dipecat dari perusahaan Rania agar ia bisa menabung untuk kelahiran anaknya.
***
Rania sedang asyik makan di sebuah warung makan yang sangat cantik sekali, dengan bertema pedesaan yang membuat dirinya sangat nyaman. Bahkan Rania membawa ibu mertuanya dan suster Ana ke tempat ini, ia ingin ibu mertuanya kembali sehat dan tentu saja Sastra juga ikut menemani mereka juga begitu pun dengan Liam dan yang lainnya. Rania berharap dengan mengajak ibu mertuanya jalan-jalan membuat pikiran ibunya kembali fresh.
Ting...
Ting...
Rania mengambil ponselnya dengan gerakan pelan, ia melihat siapa nama yang mengirimkannya pesan.
"Siapa yang mengirimkan pesan, Sayang?" tanya Ferdians dengan cemburu karena ia melihat Rania begitu serius dengan ponselnya sendiri.
Rania menatap ke arah Ferdians dengan sekilas. "Anjani, Mas!" jawab Rania dengan singkat karena ia ingin membalas pesan dari Anjani.
"Anjani mengirimkan pesan apa?" tanya Ferdians dengan penasaran.
"Dia memintaku untuk tidak memecat dirinya! Bahkan Anjani memohon, dia rela menjadi karyawan biasa hanya untuk bertahan berkerja di perusahaanku. Menurut Mas, aku harus mempertahankan Anjani atau tidak?" tanya Rania menatap Ferdians.
Ferdians tersenyum, ia mengelus kepala Rania dengan lembut. "Kesalahan Anjani itu Mas yakin karena dia banyak pikiran karena kejadian pemerkosaan yang Rio lakukan terhadap dirinya. Selama ini kinerjanya begitu bagus kan di perusahaan? Jika tidak karena masalah itu Mas yakin dia tidak akan membuat kesalahan yang membuat kamu kecewa," jawab Ferdians dengan bijak.
"Kasihan Anjani, Nak. Dia pasti sangat membutuhkan pekerjaan itu apalagi saat ini dia sedang hamil muda, mungkin dia masih takut untuk meminta uang kepada tuan Rio karena bagaimana pun mereka menikah karena sebuah insiden," ucap Heera dengan pelan.
Rania terdiam. Benar kata suami dan ibu mertuanya, sepertinya ia harus memaafkan Anjani dan memberikan kesempatan kedua untuk Anjani.
[Besok datang lebih awal jika tak mau saya berubah pikiran! Ingat jangan kecewakan saya lagi! Ini kesempatan terakhir bagimu Anjani!]
"Bagaimana? Kamu masih memberikan kesempatan kedua untuk Anjani, Nak?" tanya Heera yang membuat Rania tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya memberikan kesempatan kedua untuk Anjani. Dan itu adalah kesempatan terakhir buat Anjani," jawab Rania yang membuat Heera tersenyum.
"Ibu bangga sama kamu, Nak. Kamu adalah wanita yang sangat baik," ujar Heera yang membuat Rania tersenyum canggung karena dirinya tak sebaik yang ibu mertuanya kira.
Ferdians yang tahu apa yang sedang istrinya pikirkan langsung menggengam tangan istrinya dan memberikan kekuatan untuk Rania.
"Kamu wanita yang baik dan kuat!" ujar Ferdians dengan mengecup kening Rania.
"Ayo lanjutkan makan lagi. Kasihan Sastra dan suster Ana yang hanya diam mendengar pembicaraan kita," ujar Heera yang membuat suster Ana dan Sastra tertawa kecil.
"Itu tidak masalah, Bu!" jawab Sastra dengan santai.
****
"Kak Rio benar-benar sangat ceroboh. Bisa-bisanya dia menghamili wanita seperti Anjani," ujar Clara berapi-api.
"Hampir saja kak Rio membuat semua rencana yang kita susun berantakan Mas," ujar Clara menatap suaminya.
"Kakak kamu benar-benar bodoh, Sayang. Dia sudah mempermalukan keluarga Danuarta terutama kamu dan mama," ujar Roby yang di angguki oleh Citra.
"Aku ingin Rania menderita, Mas. Dia sudah berani mempermalukan aku dan mama waktu itu," ujar Clara dengan penuh dendam.
"Mas tahu, Sayang. Tapi kita tidak bisa gegabah karena Rania di jaga oleh bodyguard yang selalu mengikuti Rania kemanapun wanita itu pergi. Jangan sampai kita ketahuan, maka dari itu kita membutuhkan strategi yang benar-benar matang," ujar Roby dengan serius.
"Kamu benar, Mas. Tapi aku kesal kenapa para bodyguard itu selalu ada di manapun Rania berada," ujar Clara dengan sinis.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi Rania dan Ferdians pasti akan berpisah dan Danuarta Grup akan menjadi milik kita secepatnya," ujar Roby yang membuat Clara semakin tidak sabar menunggu hari itu tiba.
"Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba, Mas!" ujar Clara tersenyum licik yang membuat Roby terkekeh.
"Dan setelah aku menghancurkan mereka. Kini, giliranku yang akan menghancurkan kamu Clara! Ternyata kamu sangat bodoh sama seperti kakakmu itu," batin Roby dengan menyeringai.
__ADS_1
Clara pikir Roby memang tulus mencintai dirinya tetapi kata cinta yang sering diucapkan Roby dan seringnya Roby menyentuh Clara bukan karena Roby menginginkan Clara tetapi ini adalah sebuah rencananya agar ia bisa menguasai Danuarta Grup seorang diri. Dan setelah itu ia akan menikah dengan kekasihnya. Benar-benar licik seorang Roby. Roby sangat pintar menyembunyikan kebusukannya di balik topeng wajahnya sendiri.