
...📌 Setelah mengatur mood yang ambyar karena ketikan hilang dan harus ulang ngetik lagi akhirnya selesai juga part ini....
...📌 Maaf dua hari gak up karena sibuk tetangga depan rumah nikah 😅...
...📌 Jangan lupa kembali ramaikan novel ini ya! Gak up dua hari berasa lama banget 😆...
...Happy reading...
****
Ana membuka matanya dengan perlahan, ia masih merasa pusing pada kepalanya. Ana melihat atap ruangan rumah sakit di mana ia dirawat, ia masih berpikir apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika ia mengingat semuanya Ana ingin kembali menangis tetapi panggilan Ben membuatnya menahan tangisannya kembali.
"Ana Sayang. Alhamdulillah kamu sadar," ucap Ben dengan lirih.
Ana sama sekali tidak menjawab membuat Ben bertambah bersalah dengan sang istri. Karena perkataannya yang menyakiti perasaan Ana.
"Maafkan Mas, Sayang. Mas salah! Mas tidak sadar perkataan Mas begitu pedasnya, Mas terlalu emosi! Maaf! Mas janji tidak akan mengulanginya lagi," gumam Ben dengan berusaha mendapatkan maaf dari istrinya yang diam seribu bahasa saat tersadar.
Ana tetap tak bergeming, ia ingin membuat pelajaran untuk Ben karena telah menyakiti perasaannya hingga seperti ini. Sungguh hatinya masih berdenyut sakit ketika mengingat perkataan Ben yang begitu pedas.
"Sayang bicaralah! Mas bodoh, Mas tidak bisa mengontrol ucapan Mas!" ujar Ben menepuk bibirnya sendiri agar Ana mau memaafkannya tetapi Ana sama sekali tidak peduli, wanita hamil yang perutnya sudah terlihat membesar itu begitu datar enggan menatap Ben yang terlihat menyesal dan terus berusaha membujuk dirinya.
"Sayang, Mas menye...." Bibir Ben terkatup rapat kala Ana memiringkan tubuhnya ke arah kiri hingga Ana memunggungi dirinya, Ana juga menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ben menatap sendu ke arah Ana yang sudah tertutup dengan selimut. Ben menarik selimut tersebut agar ia bisa menatap wajah sang istri, tetapi Ana memegang selimutnya dengan kuat. Ben yang tak ingin memaksa istrinya akhirnya menyerah, ia hanya bisa menatap tubuh Ana yang tertutup selimut dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.
Ben hanya bisa mengelus perut istrinya dengan lembut. "Papa minta maaf karena telah menyakiti hati mama kamu dan kamu, Sayang. Papa tidak bermaksud menyakiti mama, Nak. Maafkan, Papa!" ujar Ben dengan sendu bahkan air matanya menggenang di pelupuk matanya.
"Maaf, Sayang! Maaf!" bisik Ben di telinga Ana yang membuat Ana mendengar ucapan suaminya dengan jelas.
Dada Ana begitu sangat sesak mengingat perkataan Ben yang sangat menyakiti perasaannya hingga tiba-tiba air matanya kembali mengalir tanpa ia minta, Ana menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang hendak keluar dari bibirnya. Gumaman Ben yang meminta maaf kepadanya tak membuat Ana luluh. Hati istri mana yang tidak sakit ketika suaminya sendiri mengatakan dirinya menumpang di rumah besar Ben dan dirinya tak mengetahui apa-apa dengan masa lalu Ben dengan Rania. Semua itu memang benar, tapi bisa tidak Ben tidak mengatakan itu dengan tajam kepada dirinya. Sungguh Ana merasa dirinya tidak benar-benar berarti untuk Ben, mungkin Ben menikahi dirinya karena kejadian di mana Ben memperk*sa dirinya.
Dibalik selimut Ana masih menangis mengingat perkataan Ben bahkan dadanya begitu sangat sesak hingga tanpa sadar Ana memejamkan matanya. Namun, di saat tidur pun pikirannya berkecamuk dengan air mata yang tak mau berhenti mengalir.
__ADS_1
"Aku benci kamu Mas Ben! Aku tidak mau melihat wajah kamu!" jerit Ana di dalam hati.
***
Sudah beberapa jam Ben menunggu istrinya dengan setia. Ben berharap Ana mau membuka selimutnya, tapi sampai sekarang Ana sama sekali tidak membuka selimutnya dan tidak ada pergerakan sama sekali dari Ana yang membuat Ben khawatir.
Ben membuka selimut Ana dengan perlahan. Betapa hati Ben mencolos melihat wajah sembab istrinya bahkan jejak air mata Ana masih terlihat jelas di mata Ben.
"Brengsek kamu, Ben! Kamu telah membuat istri kamu seperti ini! Lihat matanya membengkak karena dia terus menerus menangis karena kamu!" umpat Ben di dalam hati.
Cup...
Cup...
Ben mengecup mata Ana dengan lembut. "Maafkan Mas, Sayang!" gumam Ben dengan lirih.
Ben mendengar suara pintu di ketuk pelan hingga suster membuka pintu dengan perlahan karena Ben sama sekali tidak bersuara.
Suster tersebut tersenyum canggung. "Maaf, Pak. Saya pikir tidak ada orang yang menunggu ibu Ana di dalam makanya saya langsung masuk. Saya mau mengantarkan makanan serta obat untuk ibu Ana, bujuk ibu Ana untuk segera makan ya, Pak. Agar ibu dan bayi yang ada di dalam kandungannya dapat asupan gizi yang banyak," ujar suster dengan ramah.
"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi. Jika butuh apa-apa langsung saja hubungi kami," ujar suster tersebut dengan ramah.
"Iya, Sus!"
Sepeninggalnya suster, Ben meletakkan nampan ke atas nakas. Ben kembali duduk di samping istrinya, ia tak tega membangunkan Ana. Biarlah istrinya bangun sendiri dan Ben akan tetap menunggu seperti ini.
Tak berapa lama akhirnya Ana membuka matanya dengan perlahan, rasa perih di matanya membuat Ana kembali memejamkan mata dengan meringis, ternyata menangis begitu lama akan membuat matanya membengkak, ini semua gara-gara Ben. Ana sangat benci melihat wajah Ben, rasanya Ana tidak ingin melihat wajah Ben sekarang.
"Sudah bangun, Sayang! Mau Mas bantu duduk!" ujar Ben dengan lembut.
Ben ingin membantu Ana duduk tetapi istrinya itu sudah duduk sendiri yang membuat Ben menghela napasnya dengan pelan, ia berusaha sabar menghadapi istrinya yang sedang hamil dan moodnya gampang berubah.
"Kamu makan dulu ya, Sayang! Kamu dan anak kita perlu asupan yang cukup agar kamu cepat kembali pulang ke rumah kita," ujar Ben dengan tersenyum tetapi Ana masih menatap Ben dengan datar.
__ADS_1
Rumah kita? Bukankah itu rumah Ben bukan rumahnya? pikir Ana terkekeh miris. Apakah Ana harus kembali ke rumah itu? Rasanya saat ini Ana masih berat kembali ke rumah Ben, mungkin ia akan memberikan pelajaran untuk Ben terlebih dahulu agar tidak mengulangi hal seperti ini lagi.
Dengan sabar Ben menyendokkan nasi serta lauk dan ingin menyuapi Ana tetapi wanita hamil itu malah memiringkan wajahnya hingga sendok yang sudah mengarah ke bibir Ana menjadi ke pipi Ana.
"Sayang makan sedikit saja ya! Anak kita pasti laper," ujar Ben dengan lembut.
"Buka mulutnya, Sayang! Aaa... Ini enak banget loh," ujar Ben membujuk sang istri tetapi Ana tetap tak bergeming, ia malah menatap Ben dengan tajam.
"Sekali saja, Sayang!" ujar Ben dengan lembut.
Bukannya membuka mulutnya, Ana malah menepis tangan Ben dengan kuat hingga nasi yang ada di sendok berhamburan ke selimutnya dan ke lantai.
"Sayang, makan ya! Kalau marah sama Mas silahkan tapi kamu jangan mengabaikan kesehatan kamu. Kamu dan anak kita perlu makan, Sayang. Setelah makan kamu minum obat biar kamu cepat pulang ke rumah. Setelah pulang kita babymoon," ujar Ben dengan sabar.
Ben kembali mencoba menyuapi Ana, ia terus membujuk istrinya hingga wajah Ana terlihat kesal. Ana menepis tangan Ben dengan kuat hingga piring yang di tangan Ben jatuh ke lantai menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
Prang....
Semua nasi berhamburan ke lantai karena piring yang di pegang Ben sudah pecah. Ben benar-benar terperangah dengan apa yang di lakukan istrinya saat ini. Dan baru kali ini Ben melihat Ana menatapnya dengan tajam bahkan terlihat membenci dirinya.
"Sayang, kamu..."
"Aku muak lihat muka kamu, Mas! Keluar dari ruangan ini! Aku tidak mau melihat wajah kamu," ucap Ana yang akhirnya mengeluarkan suaranya setelah sekian lama diam seribu bahasa.
"Sayang, Mas tidak mungkin meninggalkan kamu seorang diri di sini. Kamu tidak apa-apa marah sama Mas asal Mas tetap di sini menemani kamu," ujar Ben dengan sendu.
"Keluar, Mas! Aku pengen sendiri! Aku benci sama kamu!" ujar Ana kehilangan kesabarannya.
"Sayang, Mas mohon..."
"Kamu yang keluar atau aku?" tanya Ana dengan tajam.
"KELUAR! WAJAH KAMU BEGITU MEMBUAT AKU KESAL, MAS! AKU BENCI KAMU!" teriak Ana melempar bantal ke arah Ben.
__ADS_1
"Iya-iya Mas keluar. Maaf, Sayang. Asal kamu tidak membenci Mas, Mas akan keluar. Sekarang kamu tenang ya, Mas akan menyuruh suster membawa makanan untuk kamu lagi," ujar Ben dengan pasrah.
Ana kembali diam menatap Ben dengan begitu tajam. Ben yang merasa istrinya sangat marah akhirnya berjalan keluar dengan perasaan yang begitu enggan meninggalkan Ana. Ini memang salahnya hingga Ana saja tak mau melihat wajahnya. Sampai kapan Ana akan seperti ini? Rasanya Ben sudah tidak kuat berjauhan dengan sang istri. Ini semua gara-gara mulut lancangnya!