Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 192 (Kejadian Tak Terduga)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


Faiz belum sempat membawa Olivia untuk honeymoon karena pekerjaan kantor yang cukup banyak. Membuat Faiz merasa bersalah karena itu.


"Ajak Olivia liburan biar perusahaan Papa yang meng-handle," ujar Ferdians kepada anaknya.


"Apa tidak apa-apa, Pa?" tanya Faiz dengan serius.


"Ya tidak apa-apa. Masa pengantin baru tidak bulan madu sih?! Papa saja dulu ajak bulan madu mama ke Yunani," ujar Ferdians dengan terkekeh.


"Dih... Suami bayaran saja bangga," ejek Faiz yang membuat Ferdians terkekeh.


"Ya biarin yang penting sampai sekarang langgeng. Terus hasilnya kamu sama Frisa lagi," ujar Ferdians tanpa dosa yang membuat Faiz mendengus kesal.


"Bahas apa kalian berdua? Mau Mama hukum?" tanya Rania memicingkan matanya menatap dua lelaki kesayangannya di rumah ini.


Ferdians dan Faiz menelan ludahnya dengan kasar saat Rania menatap mereka dengan tajam.


"I-ini, Sayang. Mas suruh Faiz untuk ajak Olivia bulan madu biar Mas yang meng-handle perusahaan," ujar Ferdians dengan terbata.


"Terus aku dengar tadi Mas dan Faiz menyebut suami bayaran. Pendengaran aku belum bermasalah ya," ujar Rania dengan memicingkan matanya.


"T-tidak, Ma. K-kami bahas bulan madu. K-kami tidak bohong, Ma!" ujar Faiz dengan takut.


Hancur sudah wibawa mereka sebagai lelaki yang di takuti di luar sana. Di dalam rumah ini mereka tidak bisa berkutik jika singa betina sudah menunjukkan kedua taring tajamnya.


"Jangan marah, Sayang! Kita ke kamar saja ya," ujar Ferdians membujuk istrinya agar tidak marah.


Rania menghembuskan napasnya dengan kasar, pendengarannya sama sekali tidak salah. Ferdians dan Faiz masih membahas suami bayaran. Jika mengingat itu Rania masih malu dengan Faiz tapi Rania berusaha bersikap biasa saja.


"Pilih tempat honeymoon kalian berdua. Biar Mama dan papa yang bayar tiket kalian liburan," ujar Rania pada akhirnya melunak.


"Beneran, Ma? Ya sudah aku ke kamar dulu bilang ini ke Olivia," ujar Faiz dengan semangat.


Rania dan Ferdians saling menatap satu sama lain. "Aku kesal sama kamu, Mas!" ujar Rania dengan ketus dan meninggalkan Ferdians begitu saja yang terlihat terbengong dengan ucapan istrinya.


Ferdians menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. "Sayang, Mas minta maaf ya! Tadi cuma bercanda saja sama Faiz, Sayang!" ujar Ferdians menatap Rania dengan lembut.


"Huh aku kesal Mas selalu bahas tentang suami bayaran. Itu kan masa lalu, sekarang kita suami istri beneran!" rengek Rania dengan manja.


Ferdians terkekeh. Ia memeluk Rania dengan erat sekaligus gemas dengan tingkah istrinya.


"Aku malu, Mas!" ujar Rania menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Ferdians lagi dan lagi terkekeh. "Iya-iya, Sayang. Maaf ya!" ujar Ferdians memeluk istrinya tersebut.


Rania menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, entah mengapa sekarang Rania ingin menangis.


"Hei, kok nangis? Ya Tuhan... Sayang maaf," ujar Ferdians dengan panik.


"Aku tidak tahu kenapa aku nangis," ujar Rania menyeka air matanya.


Ferdians mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kamu kenapa hmmm?" tanya Ferdians dengan bingung.


"Tidak tahu, Mas! Akhir-akhir ini moodku sering sekali berubah," ujar Rania dengan sendu.


"Ya sudah sekarang kita tidur ya. Ini sudah malam, besok mungkin Faiz dan Olivia akan pergi honeymoon," ujar Ferdians dengan lembut.


"Aku tidak mau tidur!" ujar Rania dengan cemberut.


"Ini sudah malam, Sayang. Masa tidak mau tidur," ujar Ferdians dengan sabar.


"A-aku pengen," gumam Rania sangat pelan bahkan nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


"Apa, Sayang? Mas tidak dengar!" tanya Ferdians dengan terkekeh.


"Ihhh... Aku pengen bercinta dulu baru tidur!" ujar Rania dengan kesal yang membuat Ferdians tertawa.


"Pengen banget?" tanya Ferdians dengan jahil.


"Iya ih! Ayo, Mas!" rengek Rania yang membuat Ferdians sangat senang.


Ferdians menindih tubuh istrinya dan mulai mencumbu Rania dengan mesra. Pasangan yang tak lagi muda itu saling berbagi kehangatan bersama bahkan Rania lebih agresif malam ini yang membuat Ferdians sangat senang, entah mengapa sikap istrinya ini sangat menguntungkan dirinya. Ia kembali mengingat kejadian seperti ini di mana Rania hamil waktu itu tapi tak mungkin istrinya hamil karena usia mereka tak lagi muda dan mereka sepakat untuk memiliki dua anak saja.


*****


"Sayang!" panggil Faiz kepada istrinya yang terlihat sedang di depan meja rias.


"Kenapa, Mas?" tanya Olivia dengan lembut.


"Besok kita liburan ya sekalian honeymoon," ujar Faiz dengan tersenyum.


"Loh gimana dengan pekerjaan kantor, Mas? Kan pekerjaan kantor menumpuk," ujar Olivia dengan menatap suaminya.


"Di handle Papa, Sayang. Kita pergi ya," ujar Faiz dengan lembut.


"Kamu pilih kemana, Sayang? Biar Mas pesan tiket malam ini juga," ujar Faiz dengan lembut.


"Aku mau di dalam negeri aja deh, Mas. Aku mau Lombok," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Tidak mau keluar negeri, Sayang?" tanya Faiz dengan lembut.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Kasihan Papa kalau meng-handle perusahaan terlalu lama, Mas. Aku mau ke Lombok saja, aku juga belum pernah ke sana," ujar Olivia dengan tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu Mas pesan tiketnya sekarang," ujar Faiz dengan tersenyum.


"Jangan pagi banget ya, Mas. Sorean aja boleh? Biar pagi masih bisa packing," ujar Olivia.


"Boleh, Sayang. Tunggu sebentar Mas cari pesawat yang berangkatnya sore atau siang ya," ujar Faiz.


Olivia memeluk perut suaminya dengan tersenyum. Olivia sangat suka memainkan perut Faiz yang terlihat sixpack sekali, kapanpun ia ingin pegang Olivia akan selalu bisa karena Faiz adalah miliknya. Olivia memasukkan tangannya ke dalam baju Ferdians.


"Ya ampun geli, Sayang!" ujar Faiz yang terkejut.


"Aku gemes banget, Mas!" ujar Olivia dengan terkekeh.


"Mainin sesuka kamu, Sayang! Tapi awas buat yang bawah berdiri, tak ada ampun jika kamu membangunkan dia," ujar Faiz dengan terkekeh.


"Ihhh apaan sih, Mas!" ujar Olivia dengan malu-malu walaupun ia sudah sering merasakan junior Faiz masuk ke miliknya tetapi tetap saja membayangkan itu masih membuat Olivia malu dengan wajah yang memerah.


"Sekarang Mas tidak akan meminta jatah, Sayang. Karena takutnya kamu kelelahan paginya," ujar Faiz dengan terkekeh.


"Ihhhh!" ujar Olivia dengan menenggelamkan wajahnya di perut Faiz menghirup aroma tubuh suaminya yang semakin hari semakin membuat dirinya candu.


****


Pagi harinya...


Semua tampak berkumpul di meja makan seperti biasanya.


"Jadi kalian mau pergi kemana?" tanya Ferdians kepada anak dan menantunya.


"Olivia maunya ke Lombok, Pa! Jadi aku pesan tiket ke sana, naik pesawat jam 3 sore dari sini," sahut Faiz.


"Ke Lombok? Aku mau," ujar Frisa dengan mata berbinar.


"Tunggu kamu nikah dulu sama Gavin baru pergi ke sana," ujar Faiz dengan terkekeh.


"Kok tunggu nikah sih kalau berangkat kapanpun bisa," ujar Frisa dengan cemberut.


"Ya lebih romantis lah, Dek. Nanti berduaan di sana khilaf lagi," ujar Faiz yang membuat Frisa semakin cemberut.

__ADS_1


"Nyebelin!" dengus Frisa dengan kesal.


Olivia menatap mama mertuanya. "Ma, kok Mama pucat banget? Mama sakit?" tanya Olivia dengan khawatir


"Sayang, kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ferdians dengan cemas.


Rania menggelengkan kepalanya. "Mama tidak kenapa-napa," sahut Rania dengan pelan.


"Ma kita ke rumah sakit saja ya," ujar Frisa.


Rania menggelengkan kepalanya. "Kalian makan duluan saja dulu, Mama mau ke dapur sebentar," ujar Rania.


"Mama mau apa? Biar Frisa ambilkan," ujar Frisa.


"Kamu sarapan saja, Sayang. Mama mau ambil minyak kayu putih di lemari," ujar Rania.


Rania bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur miliknya yang sangat luas, Rania hanya ingin mengambil minyak kayu putih yang ada di kotak obat karena tiba-tiba ia merasa sangat mual dan pusing.


Rania memegang perutnya yang tiba-tiba saja teras sakit. "Aakhh..." Wajah Rania begitu terlihat kesakitan.


Ferdians menghampiri istrinya, menatap istrinya dengan cemas. "Ayo kita ke rumah sakit saja, Sayang. Kali ini kamu tidak boleh membantah ucapan, Mas!" ujar Ferdians dengan tegas dan tersirat kekhawatiran di sana.


Tetapi belum sempat Rania berbicara tubuhnya sudah ambruk yang membuat Ferdians dan yang lainnya panik.


"MAMA!"


"FAIZ SIAPKAN MOBIL SEKARANG!" ujar Ferdians dengan panik karena wajah Rania begitu sangat pucat sekali.


"Iya, Pa!"


Semalam istrinya masih terlihat baik-baik saja. Kenapa pagi ini Rania bisa sakit?


Semua orang di rumah ini cukup panik. Bahkan orang-orang yang menjaga di luar juga ikut panik saat Rania di gendong oleh Ferdians dalam keadaan pingsan.


Gavin yang masih berjaga di luar bersama teman-temannya pun langsung menghampiri Frisa. "Mama kenapa?" tanya Gavin yang sudah mengubah panggilannya untuk Rania.


"Tidak tahu hiks...hiks... Mama tiba-tiba saja pingsan, Gavin!" ujar Frisa dengan tangan gemetar karena ia di serang rasa panik.


"Mama pasti baik-baik saja, Sayang. Ayo kita masuk mobil kita susul mobil kak Faiz ya," ujar Gavin dengan lembut.


Frisa mengangguk, ia masih saja gemetar karena Frisa benar-benar takut mamanya kenapa-napa. Gavin yang paham ketakutan Frisa segera menggenggam tangan Frisa yang terasa sangat dingin.


****


Ferdians dan yang lainnya menunggu di ruang tunggu dengan perasaan cemas. Benar-benar kejadian yang tidak terduga dan membuat semua orang sangat panik.


Ben, Ana, dan juga Rajendra sudah menyusul begitu pun dengan Eric dan Gista. Mereka tampak panik mengkhawatirkan keadaan Rania.


"Rania kok bisa pingsan kenapa? Apa dia sakit?" tanya Ben dengan cemas.


"Semalam masih baik-baik saja, Pa. Pagi tadi wajahnya pucat sekali dan akhirnya pingsan," ujar Ferdians dengan gelisah.


"Kita tunggu saja dokter keluar!" ujar Eric yang di angguki oleh Ferdians dan yang lainnya.


Tak lama terdengar suara pintu IGD terbuka. "Dengan suami nyonya Rania?" tanya dokter dengan tegas.


"Ya saya, Dok! Istri saya tidak kenapa-napa, kan?" tanya Ferdians dengan gelisah.


"Mama saya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Frisa dengan menangis.


"Begini Tuan, Nona. Setelah saya memeriksa nyonya Rania, ternyata nyonya Rania sedang hamil," ujar dokter yang membuat semua orang terkejut.


"B-bagaimana mungkin, Dok? Usia istri saya tidak lagi muda," ujar Ferdians dengan tidak percaya.


"Itu juga permasalahannya, Tuan. Dengan usia nyonya Rania yang tak lagi muda resikonya terlalu tinggi hamil di usia tua seperti ini. Dan mohon maaf sekali kandungannya harus kita gugurkan karena janin yang ada di dalam kandungan nyonya Rania tidak berkembang, untuk mencegah kehamilan ini lagi dan untuk kebaikan nyonya Rania sebaiknya rahim nyonya Rania harus di angkat juga," ujar dokter menjelaskan yang membuat Ferdians dan yang lainnya syok.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok!" ujar Ferdians dengan lemas.

__ADS_1


Ferdians sudah menduganya semalam. Namun, ia tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Rania tidak pernah sakit berat dan baru kali ini Ferdians benar-benar khawatir dengan istrinya. Kenapa bisa hamil? Entahlah Ferdians tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sekarang begitupun dengan Faiz dan Frisa.


__ADS_2