
...🍒 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
2 minggu kemudian...
Persiapan pernikahan Rania dengan Ferdians sudah benar-benar matang, terlihat sekali gedung resepsi pernikahan mereka sangat mewah yang membuat Agni dan Clara bertambah panas karena akhirnya Rania menikah juga dengan Ferdians.
Melihat senyum kebahagiaan di wajah Doni dan Ben membuat keduanya murka, tetapi sangat membahayakan jika mereka mencelakai Rania di tempat ini karena banyaknya orang suruhan Ben yang menjaga di setiap sudut gedung. Ben benar-benar memastikan jika pernikahan anaknya tidak ada yang mengganggu apalagi di luar sana ia mempunyai musuh. Bisa saja ada yang berniat jahat yang ingin menggagalkan pernikahan Rania. Sebagai seorang ayah Ben merasa bahagia akhirnya anak semata wayangnya menikah.
Di dekat Rania maupun Ferdians sudah ada Heera yang duduk dengan pandangan yang tak lepas dari keduanya, tatapan bahagia dan juga terharu maupun sedih bercampur menjadi satu. Heera masih sangat bersyukur ketika bisa melihat Ferdians menikah, ia pikir ia tidak akan dapat melihat Ferdians menikah karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang bisa mengambil nyawanya kapan saja.
Ferdians menatap Rania yang sudah duduk di sampingnya, ia tersenyum tipis karena hari ini Rania begitu cantik dan akan menjadi istrinya dalam beberapa detik lagi. Rania juga menatap Ferdians dengan pandangan datar seperti biasa karena pernikahan ini bukan pernikahan yang dirinya inginkan. Rania menikah karena hanya ingin menyelamatkan harta Danuarta dari tangan dua wanita licik seperti Agni dan Clara bukan karena ia mencintai Ferdians, itu tidak ada ia pikirkan sama sekali. Cinta adalah urutan paling bawah di urutan hidup Rania, jika tidak merasakannya pun Rania tidak masalah. Menurutnya hidup tanpa cinta akan lebih membahagiakan asal banyak uang tentunya.
Ferdians mulai menjabat tangan Ben Danuarta, selaku ayah kandung dari Rania. Untung saja syarat yang menjadi suami Rania tidak harus kaya karena jika begitu mungkin hari ini bukan Ferdians lah yang menjabat tangan papa Rania.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak kandung saya Rania Angela Danuarta binti Ben Danuarta dengan mas kawin uang sebesar 500 ribu rupiah di bayar tunai!" ucap Ben dengan tegas sambil menatap wajah Ferdians dengan mata tajamnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rania Angela Danuarta dengan mas kawin tersebut tunaiii!!"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah!"
Ferdians tampak lega saat ia berhasil mengucapkan kabul dengan satu tarikan napas. Hanya beberapa orang yang bahagia hari ini, selebihnya mereka terlihat tidak suka dengan pernikahan Rania.
Rio Williams, menatap tak suka ke arah Ferdians karena selama ini ia sudah menyukai Rania. Tetapi karena akhirnya mereka menjadi saudara tiri membuat Rania menjauh. Ya, dulu Rania dan Rio adalah sahabat dekat karena kedua mama mereka bersahabat tetapi karena mama Rio menikah dengan papa Rania semua telah berubah, apalagi ketika Rania tahu Agni dan Clara ingin mengusai harta Danuarta. Rania menganggap Rio juga ikut andil dalam hal ini yang membuat Rania akhirnya membenci Rio dan memilih tinggal di rumahnya sendiri daripada harus serumah dengan keluarga gila harta.
Ferdians dan Rania saling bertukar cincin. Saat Ferdians ingin mencium kening Rania, wanita itu sedikit menghindar dan berkata sesuatu yang membuat Ferdians menyeringai tipis.
__ADS_1
"Jangan terbawa suasana Ferdians! Pernikahan kita hanya sementara! Statusmu di sini hanya sebagai suami bayaran saya!" bisik Rania agar tidak terdengar oleh kakek maupun papanya dan juga yang lainnya, hanya Ferdians lah yang mendengar ucapannya saat ini.
"Jangan membuat orang-orang curiga, Nona! Bukankah anda ingin merebut harta Danuarta secepatnya? Jadi, kita harus bersandiwara dengan baik seakan menjadi suami istri baru yang sangat bahagia dengan pernikahan ini," balas Ferdians dengan tenang.
Cup...
Ferdians lalu mengecup kening Rania dengan lembut, yang membuat Rania merasakan aneh di di dalam hatinya saat Ferdians mencium keningnya.
"Apa-apaan kamu Rania! Kamu menyuruh Ferdians agar tidak terbawa perasaan tapi perasaan kamu sendiri tidak menentu seperti ini! Jangan menjadi lemah hanya karena seorang lelaki! Ingat Ferdians hanya suami bayaranmu untuk memudahkan kamu mengambil seluruh harta Danuarta agar tidak terjatuh di tangan manusia licik seperti saudara tirimu!" Rania memperingatkan dirinya sendiri dengan berucap di dalam hati.
Sastra yang melihat pernikahan nona-nya tersenyum tipis, ia yakin Ferdians bisa diandalkan selama menjadi suami bayaran Rania. Mengingat percakapan mereka dua minggu lalu Sastra sedikit mempercayai Ferdians untuk menjaga Rania tentu saja Sastra tidak akan lepas tanggungjawab begitu saja, ia akan tetap menjadi tangan kanan Rania sampai kapanpun.
Heera tersenyum menatap anak dan menantunya dengan terharu, tak lama Heera merasakan kepalanya sangat sakit.
Tes...
Tes...
"Dasar panyakitan! Mau sekali Rania mempunyai ibu mertua seperti dia," gumam Agni dengan pelan.
Ferdians menghampiri ibunya dengan khawatir. "Ibu tidak apa-apa?" tanya Ferdians dengan khawatir.
Ferdians mengelap darah yang keluar dari hidung ibunya dengan tisu yang Sastra berikan kepada dirinya.
"Ibu tidak apa-apa, Nak. Lanjutkan saja acaranya karena ini hari bahagia kamu dan Rania. Ibu bisa minum obat," ujar Heera dengan tersenyum.
"Ibu istirahat saja ya!" ujar Rania menghampiri Heera.
Rania bisa bicara dengan lembut kepada Heera yang membuat Heera sangat percaya jika Rania adalah gadis yang baik yang bisa menjadi istri yang baik juga untuk anaknya, ia tidak tahu jika pernikahan Ferdians dengan Rania adalah pernikahan karena sebuah perjanjian kedua belah pihak,
"Biar saya yang menjaga ibu Heera! Pesta ini harus berjalan dengan normal, Nona!" ujar Sastra dengan tegas.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan Ferdians! Ibu anda aman bersama dengan saya," ujar Sastra dengan tegas yang sudah mengubah panggilan untuk Ferdians menjadi 'Tuan' karena bagaimanapun Ferdians sekarang adalah suami nona-nya.
__ADS_1
Ben dan Doni menatap Heera dengan pandangan yang teramat dingin, keduanya tak mau pernikahan anak dan cucu mereka terhambat karena Heera sedang sakit.
"Bawa wanita itu ke rumah sakit saja, Sastra! Acara ini tidak boleh tertunda apalagi banyak tamu yang datang begitupun dengan media nantinya," ujar Ben dengan tegas.
"Benar bawa saja wanita itu pergi!" ujar Doni dengan dingin.
"Bisa-bisa acara ini gagal karena dia yang penyakitan," ujar Agni dengan ketus.
Ferdians ingin sekali protes tetapi ucapan ibunya membuat Ferdians diam.
"Benar kata tuan Ben dan Tuan Doni kalau Ibu tetap di sini Ibu akan menganggu acara kalian! Lanjutkan saja ya lebih baik Ibu di rumah saja!" ujar Heera dengan tersenyum walau hatinya menjerit sakit. Mengapa penyakitnya harus kambuh di saat acara penting anaknya sedang berlangsung!
"Sastra, temani mertua saya ke rumah sakit! Jangan tinggalkan dia seorang diri! Saya dan Ferdians akan menyusul jika acara ini sudah selesai!" ujar Rania dengan tegas.
"Baik, Nona!"
"Ayo, Bu!"
Ferdians menatap ibunya dengan sendu. Rania melirik ke arah Ferdians. "Ibu akan baik-baik saja di tangan Sastra!" ujar Rania dengan tegas.
"Ya, saya tahu! Tapi seharusnya Ibu ada di sini sampai acara selesai!" gumam Ferdians dengan lirih.
Baru kali ini Rania melihat Ferdians bersedih dan Rania seakan merasakan kesedihan yang sama.
"Sastra, tunggu!" ujar Rania dengan tegas.
"Ada apa, Nona?" tanya Sastra dengan bingung.
"Biarkan Ibu berfoto dengan kami terlebih dahulu baru kamu bisa membawanya pergi!" ujar Rania yang membuat Ferdians langsung menatap Rania dengan tersenyum walau ia masih bersedih tetapi kesedihannya bisa sedikit hilang karena ucapan Rania.
Begitupun dengan Heera ia menatap Rania dengan pandangan terharunya.
"Rania, Terima kasih!" gumam Ferdians dengan tulus yang membuat Rania terdiam dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.
__ADS_1