
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Kegugupan sangat terlihat jelas di wajah Olivia sekarang. Faiz sudah menjemputnya dan sekarang keduanya sudah berada di cafe dengan suasana yang sangat romantis sekali, Olivia tidak tahu jika Faiz akan membawanya ke sini yang jelas kegugupan itu semakin terasa begitu membuat dirinya tak bisa berbicara di hadapan Faiz sekarang. Dan mungkin saja Faiz sedang menatapnya dengan pandangan aneh sekarang karena Olivia tak berani menatap wajah Faiz.
Faiz menatap kekasihnya dengan pandangan yang sangat heran. "Sayang!" panggil Faiz dengan lembut.
Selama 4 bulan terakhir ini sikap Faiz benar-benar berubah bahkan kata 'saya' yang sering ia ucapkan terganti dengan kata 'aku dan mas' ketika bersama dengan Olivia dan bahkan Faiz sudah terang-terangan memanggil Olivia dengan sebutan sayang walaupun sampai saat ini Rio seakan tidak mengizinkan mereka bersama. Faiz paham mengapa Rio terlihat tidak merestui hubungan mereka karena Rio sudah sangat menjaga jarak dengan keluarganya.
"Hei!" Faiz menyentuh tangan Olivia hingga gadis itu tersentak.
"K-kenapa, Mas?" tanya Olivia dengan gugup.
"Mas yang seharusnya bertanya sama kamu. Kamu yang mengajak Mas untuk bertemu, lalu mengapa kamu hanya diam seperti ini. Kita sudah selesai makan juga dan Mas sudah menunggu apa yang ingin kamu bicarakan sama Mas," ujar Faiz dengan mengangkat kedua alisnya dengan heran karena tak biasanya Olivia seperti ini.
Olivia tampak meringis, ia menghembuskan napasnya dengan perlahan yang membuat Faiz terkekeh. "Kamu kenapa sih, Sayang? Wajah kamu terlihat gugup sekali," ujar Faiz dengan terkekeh.
"Jangan ketawa, Mas! Aku mau ngomong serius!" ujar Olivia dengan gugup yang membuat Faiz menghentikan tawa kecilnya.
Wajah Faiz berubah menjadi serius juga. "Mau ngomong apa?" tanya Faiz dengan serius.
"K-kita kan sudah tujuh bulan bersama," ucap Olivia dengan pelan dan Faiz mengangguk dengan pelan.
"Iya, Sayang. Terus kenapa?" tanya Faiz dengan sabar.
Tangan Olivia panas dingin. Seharusnya Faiz yang merasakan ini dan sekarang ia yang harus merasakannya. Apakah ini benar-benar tidak memalukan untuk dirinya? Jika nanti Faiz menolak dirinya bagaimana? Apa yang harus ia lakukan saat itu juga? Pikir Olivia sangat berkecamuk sekarang dengan kemungkinan buruk yang ia pikirkan saat ini.
"A-aku ingin hubungan kita semakin serius, Mas. Kita sudah sama-sama dewasa, aku tidak mau hubungan kita seperti ini saja. J-jadi, ayo kita menikah Mas!" ucap Olivia dengan satu tarikan napas.
__ADS_1
Olivia sudah terdiam ia menunggu reaksi Faiz yang saat ini langsung terdiam karena ucapannya. Apakah Faiz akan menolaknya seperti apa yang ia pikirkan sejak tadi? pikir Olivia di dalam hati dengan perasaan yang sangat was-was, ia seperti sedang menghadapi sesuatu yang bisa saja membahayakan nyawanya, terlalu takut dan sangat gugup. Kendati demikian, Olivia harus tetap berani walaupun tubuhnya sudah berkeringat dingin menunggu jawaban dari Faiz yang masih bungkam sampai sekarang.
Sedangkan Faiz masih tidak menyangka jika Olivia akan mengajaknya menikah, masih tak terpikirkan olehnya jika Olivia seberani ini untuk mengajak dirinya menikah. Pikiran Faiz saat ini blank karena seharusnya ia yang mengajak Olivia tetapi kekasihnya duluan yang mengajak dirinya bukankah ini sesuatu yang sangat memalukan untuk dirinya? Sebagai lelaki Faiz merasa malu sekarang.
"Mas kenapa diam? Mas tidak mau menikah dengan aku ya?" tanya Olivia dengan lirih.
"K-kalau begitu lupakan saja ucapan aku tadi, Mas. M-maaf buat kamu tidak nyaman atau bahkan tidak suka dengan ucapan aku. Mungkin di mata dan pikiran Mas, aku adalah perempuan yang agresif karena mengajak Mas duluan untuk menikah," ucap Olivia dengan sendu karena entah mengapa ia merasa kecewa dengan Faiz yang tak kunjung merespon ucapannya.
Faiz buru-buru tersadar saat melihat tatapan Olivia yang begitu sangat sendu. "Kamu yakin mau menikah dengan Mas?" tanya Faiz dengan serius.
"Yakin!" jawab Olivia dengan mantap.
"Oke... Ayo kita menikah! Seharusnya Mas yang mengajak kamu menikah duluan, Sayang. Mas merasa malu sendiri karena hal ini. Kita ulang ya sekarang Mas yang mengajak kamu menikah," ujar Faiz dengan tegas.
"M-maksudnya?" tanya Olivia benar-benar bingung.
Faiz menggenggam tangan Olivia dengan lembut. "Ini benar-benar seperti mendadak sekali, Sayang. Tetapi benar kata kamu hubungan kita juga sudah terjalin lumayan lama dan kita sudah sama-sama dewasa sudah seharusnya kita memikirkan hubungan yang lebih serius lagi," ujar Faiz dengan tersenyum dan langsung membuat Olivia lega karena apa yang ia pikirkan benar-benar tidak terjadi.
Olivia benar-benar syok sekarang. Ia tidak menyangka jika pada akhirnya Faiz yang akan balik melamarnya kembali, entah apa yang Olivia pikirkan yang jelas sekarang ia langsung memeluk Faiz dengan erat dan menangis di sana yang membuat Faiz heran. Namun, tangisan Olivia mungkin karena rasa bahagia yang ia rasakan saat ini Faiz tidak tahu jika Olivia sedang merasa bersalah terhadap dirinya.
"Hei kenapa nangis? Seharusnya kamu bahagia. Tidak... Bukan hanya kamu tapi Mas juga merasakan kebahagiaan itu. Sekarang ayo kita cari cincin untuk pernikahan kita," ujar Faiz yang membuat Olivia hanya bisa tersenyum.
Faiz menggenggam tangan Olivia dan pada akhirnya mereka berjalan pergi dari cafe setelah Faiz membayar makanan mereka.
"Ya Tuhan... Mas Faiz baik sekali. Jika Mas Faiz tahu tujuan awal aku mendekatinya untuk membuat keluarga kami kembali baikan apakah Mas Faiz akan marah?" gumam Olivia di dalam hati dengan melirik wajah tampan Faiz dengan sendu.
****
"Mas kita tidak salah ke sini? Ini toko perhiasan yang terkenal sangat mahal, Mas! Ayo kita keluar saja dari toko ini, Mas. Kita cari toko yang lain saja," ujar Olivia merasa tidak enak hati.
Faiz hanya tersenyum dan tanpa ia berbicara Faiz terus melangkah masuk dengan menggandeng tangan Olivia dengan erat.
__ADS_1
"Selamat datang di toko kami. Mau cari perhiasan apa, Tuan?" tanya penjaga toko tersebut dengan ramah karena ia tahu Faiz itu siapa bahkan keluarga Faiz selalu membeli perhiasan di toko ini.
"Satu set perhiasan yang paling cantik dan cincin pernikahan," jawab Faiz dengan entengnya.
"M-mas, satu set perhiasan untuk apa? Kita hanya mencari cincin pernikahan saja," ujar Olivia dengan pucat karena ia tidak bisa membayangkan jika menerima pemberian Faiz dengan harga yang sangat fantastis sekali, Olivia tidak bisa menerimanya.
"Buat kamu!" jawab Faiz dengan santainya.
"Ini, Tuan. Satu set perhiasan yang baru saja lounching di bulan ini dan ini cincin pernikahannya juga baru saja lounching, Tuan!" ucap penjaga toko tersebut dengan tersenyum.
Di dalam hatinya, ia tidak menyangka jika seorang Faiz Danuarta Abraham sudah memiliki kekasih dan sebentar lagi akan menikah.
Faiz mengambil cincin tersebut, ia memegang jari Olivia yang membuat Olivia ketar-ketir karena melihat harga yang tertera di sana. "Mas tidak usah cincin ini, kita cari yang lebih murah saja ya," ujar Olivia dengan pucat.
"Kenapa kamu tidak suka?" tanya Faiz.
"Bukankah ini sangat cantik tersemat di jari calon istri saya, Mbak?" tanya Faiz kepada penjaga toko tersebut.
"Sangat cantik sekali, Tuan. Calon istri anda sangat cocok memakai cincin ini," sahut penjaga toko tersebut dengan tersenyum.
Pipi Olivia memerah saat Faiz mengatakan dirinya sebagai calon istri dari Faiz.
"A-aku suka Mas hanya saja harganya sangat mahal," jawab Olivia dengan malu.
"Tidak masalah, Sayang. Yang terpenting kamu suka dan ini pas di jari kamu," ucap Faiz dengan entengnya.
"Mbak bungkus semua perhiasan ini saya ingin membeli yang ini," ujar Faiz dengan santainya.
"M-mas...."
"Ssstt... Diamlah, Sayang. Ini belum seberapa!" ujar Faiz.
__ADS_1
Olivia memijat pelipisnya. Mendadak ia menjadi pening saat menjumlahkan seluruh harga perhiasan yang Faiz beli hampir mencapai 500 juta itu untuk dirinya. Olivia menjadi takut sendiri memakai atau menyimpan perhiasan itu.