Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 94 (Tangisan Pilu Rania)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


***


Dengan tertatih Rania berjalan mendekat ke arah mertuanya yang sedang menangis dengan pilu. Saat hamil Rania sangat sensitif, ia tidak bisa melihat orang terdekatnya menangis.


"Ibu!" panggil Rania dengan lirih.


Heera langsung melihat ke arah Rania dan berhambur memeluk menantunya. "Hiks...hiks.. Ibu mohon sama kamu ya, Nak! Jangan bercerai dengan Ferdians! Ibu akui Ibu pernah menikah dengan Eric tetapi kamu sudah bercerai karena Eric memilih wanita pilihan orang tuanya, karena keluarga Ibu adalah orang tidak punya! Rania Ibu mohon jangan ceraikan Ferdians ya, Nak. Dia sangat mencintai kamu! Ibu rela menukarkan nyawa Ibu asal kalian tidak bercerai," ujar Heera dengan menangis pilu bahkan Heera bersujud di kaki Rania.


"Ibu jangan seperti ini! Bangun, Bu!" ujar Rania dengan menangis.


"Ibu mohon Rania jangan ceraikan Ferdians, Nak. Ferdians sudah lama berpisah dari ayahnya bahkan mereka tidak pernah bertemu, bukan maksud Ibu membohongi kalian tetapi Ibu belum siap untuk jujur karena itu sangat menyakitkan untuk Ibu," mohon Heera dengan pilu.


Rania membekap mulutnya dengan tangannya untuk menahan isakan yang keluar dari mulutnya, tangisan pilu yang terjadi untuk kedua kalinya setelah yang pertama adalah kematian mamanya.


"Bangun, Bu. Rania tidak akan bercerai dari mas Ferdians sekali pun dia adalah om Eric! Ibu jangan seperti ini ya, Rania sakit melihatnya!" ujar Rania dengan terisak.


Heera bangun dari bersujud di hadapan Rania. Ia memeluk Rania kembali dan tak henti-hentinya Heera mengucapkan terima kasih.


Eric melihat semuanya setelah ia mendonorkan darahnya untuk Ferdians. Eric tak mungkin menemui Heera untuk saat ini, tangisan pilu Heera yang di dengar oleh Eric membuat seluruh tubuh Eric terasa sakit. Bibirnya keluh untuk sekedar berucap, kakinya juga terasa berat untuk melangkah mendekati Heera.


"Heera percayalah bukan aku yang membuat Dewi meninggal. Aku bukan pembunuh Heera," gumam Eric dengan lirih.


Eric mendongakkan wajahnya menghalau air mata yang hendak keluar dari matanya. "Aku mohon jangan membenciku Heera," gumam Eric dengan lirih.


Eric hanya bisa diam melihat Heera begitu terlihat sangat menyayangi Rania. "Heera, Rania dan Ferdians harus berpisah aku tidak mau Ferdians terpengaruh oleh kata-kata Ben. Ferdians dan kamu harus ikut aku, Heera!" gumam Eric dengan lirih.

__ADS_1


Saat ini yang bisa Eric lakukan adalah menatap Heera dan Rania yang sedang menangis pilu bersama. Andai saja Ben dan Doni tidak menuduhnya yang membuat dirinya masuk penjara mungkin ia begitu senang saat Ferdians menikah dengan Rania. Tetapi sakit hati yang ia rasakan membuat Eric sama sekali tidak mengizinkan Ferdians bersama Rania kembali. Keduanya tak boleh bersama, lebih baik Ferdians menikah dengan wanita lain dari pada menikah dengan Rania.


***


Rania berjalan mendekat ke arah suaminya yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan kepala yang di perban. Di dalam ruangan ini juga ada mama mertuanya yang terlihat sangat pucat, Rania sudah menyuruh ibu mertuanya untuk pulang tetapi Heera sama sekali tidak mau pulang sebelum Ferdians sadar.


Rania duduk di kursi sebelah brankar Ferdians, ia menggenggam tangan Ferdians dengan lembut dan menciumnya dengan perlahan sambil memejamkan matanya hingga air mata Rania keluar mengenai tangan Ferdians.


"Terima kasih kamu telah melindungi aku dan kedua anak kita hingga kamu tidak memikirkan keselamatan diri kamu sendiri, Mas. Hiks...hiks... Bangun Mas, kita baru saja merasakan indahnya jatuh cinta. Aku tidak mau kehilangan kamu, Mas. Tidak peduli kamu adalah anak om Eric karena aku yakin kamu adalah lelaki yang tulus mencintai aku dan kedua anak kita. Jangan hukum aku dengan cara seperti ini, Mas. Ayo bangun, Mas. Aku, Ibu, dan kedua anak kita membutuhkan kamu," gumam Rania dengan lirih.


Hanya suara alat monitor yang mendeteksi detak jantung Ferdians lah yang terdengar. Rania meletakkan tangan suaminya di pipi kanannya dengan lembut.


"Mas bangun! Aku tidak bisa tidur kalau kamu tidak mengelus perut aku," gumam Rania dengan lirih.


Rania menyesal dulu ia sering menyakiti suaminya dan sekarang ia merasakan sakit yang begitu dalam saat ia takut kehilangan suaminya seperti ia kehilangan mamanya. Bahkan Rania sudah tidak peduli jika Ferdians adalah anak dari seseorang yang telah menyebabkan mamanya meninggal.


Tes...


Tes...


Heera buru-buru mengelap darah yang keluar dari hidungnya agar Rania tidak mengetahuinya. Ia tidak ingin membuat Rania khawatir yang mengakibatkan kandungan menantunya dalam bahaya.


"Tuhan, aku mohon jangan sekarang!" gumam Heera dengan lirih.


"Aku ingin melihat Ferdians dan Rania bahagia barulah aku tenang meninggalkan anak dan menantuku," lanjut Heera di dalam hati.


****


Agni dan Clara tertawa bahagia di atas penderitaan yang sedang Rania alami.

__ADS_1


"Aku harap tidak lama lagi kita mendengar kabar kematian Rania dan Ferdians, Ma!" ujar Clara dengan terkekeh.


"Benar Clara mobil yang mereka tumpangi sudah tidak berbentuk lagi. Aku yakin mereka tidak akan selamanya dan kita bisa menguasai harta Danuarta secepatnya hahaha," ujar Agni dengan tertawa bahagia.


"Ternyata melenyapkan nyawa mereka semudah ini, Ma! Dewi meninggal karena kecelakaan dan Rania meninggal karena kecelakaan juga. Sudah takdir mereka meninggal secara tragis," ujar Clara berpura-pura sedih.


"Tidak semudah itu kalian menguasai harta Danuarta!" ujat Sastra dengan menyeringai.


Agni dan Clara langsung menatap kedatangan Sastra dan para anak buah Rania ke rumah Ben.


"K-kenapa kalian ada di sini?" tanya Agni dengan terbata.


"Tentu saja untuk menangkap kalian berdua atas pembunuhan berencana yang kalian lakukan terhadap nona Rania dan tuan Ferdians," jawab Liam dengan enteng.


"Jangan seenaknya menuduh! Kami tidak tahu apapun soal kejadian itu," ujar Clara dengan tajam.


"Semua bukti sudah ada di sini kamu dan mamamu tidak bisa mengelak lagi. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian," ujar Ricard dengan tajam.


"Jangan seenaknya kalian menuduh saya dan Clara. Saya bisa laporkan ini semua ke mas Ben dan kalian pasti akan terkena hukuman. Kalian tahu kan jika saya adalah istri dari, Ben!?" ujar Agni dengan menyeringai.


"Sayangnya tuan Ben tidak akan percaya dengan kata-kata kalian berdua. Wanita busuk yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang bukan milik kalian," ujar Sastra dengan mengejek.


"Bawa mereka! Jika keduanya memberontak pukul saja hingga mereka pingsan!" ujar Sastra dengan dingin kepada Liam dan yang lainnya.


"SASTRA JANGAN KURANG AJAR KAMU SAMA SAYA. KAMU SAMA SAJA SEPERTI RANIA! BRENGSEK!" maki Agni saat Liam dan yang lainnya membawa dirinya dan Clara dengan paksa.


"DIAM ATAU SAYA ROBEK MULUTMU!" bentak Liam dengan kasar.


"Lepas!" ujar Clara yang berusaha kabur tetapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga para anak buah Rania yang tak lain adalah suruhan Ben untuk menjaga anaknya tanpa di ketahui oleh Agni dan juga Clara.

__ADS_1


__ADS_2