
...📌 Alhamdulillah bisa double up nih...
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Uwekk...uwekkk...
"Heh kalau muntah jangan di sini! Jijik banget!" teriak tahanan perempuan yang sama dengan Clara dan Agni.
"Jangan marahi anak saya! Dia sedang sakit," ujar Agni tidak terima.
"Emang saya peduli?! Suruh anak kamu diam! Menjijikkan!"
"Kamu..."
"Apa? Mau menantang saya? Kurang ajar!" ujar tahanan wanita yang seusia Agni dengan tajam.
"Ma, sudah!" ujar Clara yang takut karena sejak pertama kali masuk ruangan ini karena Wajah-wajah tahanan yang sangat menyeramkan, apalagi ia dan mamanya sudah di siksa oleh mereka dan tak ada yang menolong mereka.
"Kenapa kamu jadi lembek sekali sih? Kita harus melawan mereka, Sayang!" ujar Agni dengan kesal.
"Melawan kami semua? Sini kalau berani!" ujar tahanan yang satu lagi.
Satu tahanan menjambak rambut Agni dengan kuat yang membuat Agni berteriak kesakitan sedangkan yang satunya lagi menampar Clara hingga kepala wanita itu berdenyut sakit.
"Berani kamu melawan saya?" tanya wanita itu dengan tajam, mencengkram pipi Clara dengan kuat.
"Lepaskan!" ujar Clara berusaha melepaskan diri tapi apalah daya tubuhnya sangat lemas sekali.
"Hahaha dasar lemah!" ujar tahanan wanita itu dengan tertawa dan langsung mendorong Clara hingga tersungkur di hadapannya.
"Akhh..." Clara memegang perutnya yang tiba-tiba saja terasa sakit dan Agni langsung melihat ke anaknya.
Agni mendorong tahanan yang satunya dan dia langsung berlari menghampiri Clara. "Sayang, kamu kenapa?" tanya Agni dengan cemas.
"Anak kamu memang lemah! Bisa-bisa mati di tempat ini! Haha iya, kan?"
"Haha... Benar!"
__ADS_1
"Diam kalian semua!" teriak Agni dengan kesal.
"Ada apa ini ribut-ribut? Kalian mau di hukum?" teriak polisi wanita yang membuat semuanya terdiam.
"Bu, tolong anak saya! Dia kesakitan!" ujar Agni dengan cemas.
"Baik kami akan membawa dia untuk di periksa!" ujar polisi wanita tersebut dengan tegas.
"M-ma sakit!" ujar Clara dengan menangis memegang perutnya yang sangat terasa sakit.
Akhirnya beberapa polisi membawa Clara dengan Agni yang ikut juga menemani anaknya dengan di jaga ketat oleh beberapa polisi.
****
"Bagaimana dengan anak saya, Dok? Perutnya tidak kenapa-napa, kan?" tanya Agni kepada dokter dengan khawatir.
"Saat ini anak ibu sedang hamil muda dan keadaan kandungannya lemah. Saya akan memberikan obat untuk penguat kandungan ya," ujar dokter yang membuat Agni dan Clara sangat syok.
"Ma, aku tidak mau hamil hiks... Dia tidak boleh ada, Ma. Ini sangat memalukan! Aku tidak mau melahirkan di penjara, Ma!" ujar Clara dengan histeris yang membuat Agni menangis juga.
"Mama akan berusaha untuk kita bebas dari sini, Sayang. Mama akan menghubungi kakak kamu ya! Secepatnya dia harus membantu kita," ujar Agni dengan cemas sekaligus bingung sekarang.
Bagaimana bisa anaknya hamil ketika mereka masih di dalam penjara? Agni tidak mau cucunya lahir di dalam penjara. Bagaimanapun itu adalah anaknya Clara, walaupun sekarang Roby telah menghilang dan belum diketemukan.
***
Ben menatap Rio dengan tajam, walaupun Rio tidak terlibat dalam kasus kecelakaan yang di lakukan Agni dan Clara tetap saja Rio adalah anak dari seorang kriminal.
"Kenapa kamu datang ke sini, Rio? Kamu bukan lagi bagian dari keluarga Danuarta!" ujar Ben dengan tajam.
"Ya saya tahu, Pa. Mungkin saya sudah tidak pantas memanggil anda dengan sebutan Papa. Tapi saya ke sini untuk meminta keringanan hukuman mama dan adik saya, bagaimanapun mereka adalah saudara saya. dan mama masih menjadi istri Papa!" ujar Rio berusaha tenang.
"Mama kamu bukan lagi istri saya. Saya sudah menceraikannya saat itu juga, saya tidak mau mempunyai istri seorang pembunuh yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan satu lagi saya tidak akan meringankan hukuman untuk keduanya karena mereka pantas mendapatkan itu semua. Kamu harus tahu saya menikahi mama kamu hanya karena mencari kebenaran atas kematian istri saya," ujar Ben dengan tajam
Rio tak terlalu terkejut akan hal itu tetapi bagaimana Agni dan Clara adalah mama dan adiknya, saudara yang ia punya.
"Rio, saya tahu kamu tidak terlibat dalam kecelakaan yang dilakukan Agni dan Clara. Tetapi kamu tetap menjadi bagian keluarga mereka. Jadi, dengan tegas saya katakan kamu dipecat di perusahaan saya dan semua fasilitas yang saya berikan kepada kamu akan saya tarik kembali," ujar Doni yang membuat Rio terkejut.
"Kek, saya mohon jangan pecat saya!" ujar Rio yang tidak tahu jika akan seperti ini jadinya karena awal kedatangannya ke rumah ini adalah membicarakan perihal meringankan hukuman mama dan adiknya kepada Ben dan juga Doni.
"Tidak bisa, Rio. Tidak ada torelansi dalam hal pekerjaan karena apa yang dilakukan mama dan adik kamu sangat merugikan Danuarta! Silahkan kemasi barang-barang kamu dari apartemen Danuarta karena mulai saat ini kamu bukan lagi bagian dari kita," ujar Doni dengan tegas.
__ADS_1
Rio tidak bisa melakukan apa-apa. Ini semua karena keserakahan mama dan adiknya hingga dirinya terkena imbasnya dari kejahatan yang keduanya lakukan.
"Setidaknya tetap berikan saya pekerjaan Kek, Pa! Saya berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh," ujar Rio dengan memohon.
"Tidak bisa, Rio! Silahkan cari pekerjaan di tempat lain biar kamu tahu rasanya berjuang seorang diri akibat kesalahan mama dan adik kamu," ujar Ben dengan tegas.
"Pa..."
"Silahkan keluar dari rumah saya sebelum para penjaga yang memaksa kamu untuk keluar dari rumah saya!" ujar Ben dengan tegas yang membuat Rio tidak bisa berkutik dan akhirnya berpamitan pulang.
"Saya permisi Pa, Kek!" ujar Rio dengan lesu.
Entah bagaimana hidupnya setelah ini. Rio pun tak tahu, benar-benar mama dan adiknya membawa karma yang begitu sangat buruk untuk kehidupannya.
"Argghhh sial!" teriak Rio setelah keluar dari rumah Ben.
"Maaf tuan Rio! Tuan Rio tidak lagi bisa memakai mobil ini karena tuan Ben menyitanya. Anda bisa keluar dari rumah ini tanpa membawa mobil milik Danuarta. Dan nanti ada anak buah saya yang mengawasi tuan Rio untuk mengemasi barang-barang di apartemen. Hari ini juga anda harus mengosongkan apartemen tersebut," ujar Liam dengan tegas yang membuat Rio mengacak rambutnya dengan kasar.
"Berikan kunci mobilnya kepada saya, tuan Rio!"
Rio memberikan kunci mobil itu secara kasar kepada Liam lalu pergi begitu saja dengan berjalan kaki keluar dari rumah megah milik Ben tersebut.
"Kasihan sekali tuan Rio. Dia menuai karma dari perbuatan mama dan adiknya," ujar Ricard menggelen kepalanya.
"Untuk apa mengasihani orang seperti dia?! Dia pantas mendapatkannya," ujar Nico.
Tanpa di ketahui oleh mereka Rania mengintip dari balik jendela kamarnya dengan tersenyum sinis. Akhirnya keluarga Agni mendapatkan karma atas perbuatannya tetapi Rania tidak terlalu memikirkan itu, ia masih memikirkan bagaimana dirinya bisa keluar dari rumah ini dan menemui suaminya kembali.
"Ma, aku bosan!"* ujar Rania mengeluh.
"Sabar ya. Mama belum bisa membujuk papa kamu," ujar Ana dengan lirih.
"Menyebalkan sekali pria tua itu huh. Kenapa Mama mau dengannya?" ujar Rania dengan mendengkus kesal.
Ana tersenyum tipis. "Jangan begitu, Rania. Bagaimanapun dia adalah papa kandung kamu. Jika tidak karena malam itu mungkin sampai sekarang Mama tidak menikah dengan papa kamu," ujar Ana dengan tersenyum.
"Mama punya rencana. Sini Mama bisikin mungkin dengan rencana ini kamu dan Ferdians bisa bersama kembali," ujar Ana dengan tersenyum.
"Apa, Ma?"
"Bagaimana kalau..." Ana membisikkan sesuatu rencana di telinga Rania untuk berjaga-jaga agar Ben maupun yang lainnya tidak mendengar rencananya kali ini.
__ADS_1
Senyum Rania mengembang mendengar rencana mama sambungnya kali ini. Rania tidak menyangka kehadiran Ana yang awalnya tidak bisa ia terima sebagai pengganti mamanya. Kini, dirinya dan Ana bisa menjadi sahabat dan partner dalam segala hal. Rania merasa mempunyai sahabat dan mama kandung kembali. Kehadiran Ana di sini membuat Rania sedikit tenang.