
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
[Sayang, kemasi barang-barang kamu di rumah papa. Sebentar lagi Mas jemput, kita pulang ke rumah]
Rania membaca pesan suaminya dengan senyum yang mengembang karena bahagia. Akhirnya ia bisa kembali bersama dengan suaminya, ia pikir keadaan ini akan lama tetapi ternyata tidak dan Rania merasa sangat bahagia.
[Iya, Mas. Aku akan mengemasi barang-barang kami. Emangnya sudah selesai urusannya Mas?]
Rania membalas pesan suaminya dengan sangat penasaran. Sepertinya Ferdians sudah mengetahui semuanya dan suaminya itu tidak bisa memaafkan ayahnya sendiri.
[Nanti Mas ceritakan semuanya, Sayang. Yang terpenting sekarang kemasi barang-barang kamu. Sudah ada dua suster yang akan menjaga Faiz dan Frisa, kamu ikut ke rumah sakit sama Mas. Ibu nge-drop lagi]
Balasan pesan suaminya membuat Rania benar-benar sangat terkejut, ia sangat khawatir sekarang dengan keadaan ibu mertuanya. Tanpa membalas pesan suaminya, Rania langsung menuju lemari miliknya dan mengambil pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper. Untung saja kedua anak kembarnya sedang tertidur setelah ia mandikan dan ia beri asi.
"Ya Tuhan... Ini pasti karena ibu sudah mengatahui jika Ferry sudah meninggal," gumam Rania dengan cemas.
"Ibu, bertahanlah! Jangan tinggalkan kami, Bu!" ujar Rania menyeka air matanya yang tiba-tiba saja menetes.
"Rania, kamu kenapa?" tanya Ana saat masuk ke kamar Rania.
"Ibu kembali drop, Ma. Mas Ferdians akan menjemput kami dan kami akan pulang ke rumah," ujar Rania.
"Ya Tuhan... Bagaimana keadaan ibu Heera sekarang? Dia baik-baik saja, Kan? Kalau begitu Mama bantu beres-beres baju kamu ya," ujar Ana dengan cemas.
"Ma, duduk saja. Nanti papa tahu bisa marah!" ujar Rania dengan tegas.
"Tidak apa-apa. Mama hanya bisa bantu ini karena Mama tidak bisa menjaga ibu Heera lagi," ujar Ana dengan tersenyum.
Rania tersenyum tipis. Ana sangat baik sekali pada dirinya. "Apapun yang terjadi Mama harus menemani Papa karena aku tidak mungkin di sini lagi. Dari dulu aku dan papa tidak tidak bisa damai seperti saat ada mama Dewi, papa sudah berubah. Bahkan walaupun Agni dan Clara sudah di penjara papa tetap keras kepala," ujar Rania yang membuat Ana tersenyum.
"Maaf Mama tidak bisa bantu apa-apa lagi. Hati Papa kamu sekeras batu walaupun Mama sudah membujuknya dengan sangat lembut," ujar Ana dengan lirih.
__ADS_1
"Iya tidak apa-apa, Ma!" ujar Rania dengan tersenyum.
Rania maupun Ana mendengar suara kegaduhan dari lantai bawah. Keduanya saling menatap satu sama lain, mereka meyakini jika Ferdians sudah datang ke rumah ini.
"Ayo turun, Ma!" ujar Rania.
"Bagaimana dengan Faiz dan Frisa?" tanya Ana.
"Bawa saja, Ma. Nanti biar Mas Ferdians yang menggendong Faiz," jawab Rania dengan tegas.
Akhirnya Rania dan Ana menggendong Faiz dan Frisa. Keduanya turun ke bawah dan benar saja Ferdians sudah ada di sana dengan di halangi oleh Ben dan juga Doni karena penjaga di luar tidak bisa mencegah Ferdians masuk ke dalam.
"Rania, Ana, berhenti di sana!" ujar Ben dengan tajam.
Tetapi Rania tidak peduli, ia menghampiri suaminya dan langsung memeluk Ferdians dengan erat.
"Kita pulang, Mas!" ujar Rania menatap suaminya.
Ferdians mengangguk dengan tegas. "Kita akan pulang ke rumah kita, Sayang!" ujar Ferdians dengan tegas.
"Kamu tidak bisa membawa Rania pulang bersama dengan kamu karena perceraian kalian sudah di urus di pengadilan," ujar Ben dengan tegas.
"Jangan Papa pikir ketika saya sudah melunak seperti ini Papa bisa mengatur kehidupan saya? Tidak, Pa! Saya sudah dewasa bahkan sudah berumah tangga saya berhak mengatur kehidupan saya sendiri," ujar Rania dengan tajam.
Tatapan benci yang sudah hilang kini terlihat membara lagi di mata Rania.
"Sekali kamu keluar dari rumah ini maka kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan lagi," ujar Ben dengan tajam.
"Jangan memancing kemarahan papa dan kakek, Rania. Cepat kembali ke kamar kamu!" ujar Doni dengan tajam.
"Maaf Pa, Kek. Tanpa mengurangi rasa sopan santun saya. Saya hanya ingin Rania kembali kepada saya. Kami tidak akan bercerai dengan Rania sampai kapanpun. Jika kalian membenci saya karena saya adalah anak dari Eric, itu tidak usah kalian khawatirkan karena sejak dulu ayah saya hanya ayah Agus bukan Eric walaupun darahnya mengalir di tubuh saya," ujar Ferdians dengan tegas.
"Kamu tidak bisa membawa Rania pergi! Jika itu terjadi maka Faiz tidak akan mendapatkan harta Danuarta," ujar Ben dengan tegas.
Rania menyeringai. "Saya tidak peduli! Ambil saja seluruh harta Danuarta, saya sudah tidak membutuhkannya. Bukan hanya itu mulai sekarang saya akan menghilangkan Danuarta dari kehidupan saya maupun anak saya! Saya memutuskan untuk keluar dari keluarga ini!" ujar Rania dengan tajam yang membuat Ben dan Doni terkejut begitupun dengan Ana dan juga Ferdians.
__ADS_1
"Saat ini juga saya, Faiz dan Frisa bukan lagi bagian dari Danuarta!" ujar Rania dengan dingin.
"Ayo Mas kita pulang sekarang!" ujar Rania dengan tegas.
Ben mengepalkan kedua tangannya. Hatinya sakit saat sang anak lebih memilih Ferdians daripada dirinya.
"Pergi saja kalian! Tidak usah kembali ke sini lagi!" ujar Doni dengan penuh amarah.
Rania tidak peduli. Ia terus melangkah membawa serta kedua anaknya dan koper miliknya di bantu oleh Ferdians. Ia terus mendengar kemarahan dari papa dan kakeknya tetapi Rania seakan menulikan telinganya.
Sesampainya di luar ia menatap tajam ke arah Liam, Ricard dan juga Nico. Ketiga lelaki itu menciut saat Rania sudah kembali seperti dulu.
"Kalian bertiga mau ikut saya atau orang tua itu? Jika ikut saya cepat pergi dari sini," ujar Rania dengan tajam.
"Tapi ingat saya tidak akan lupa dengan semua yang kalian lakukan kepada saya," ujar Rania dengan tajam.
Liam, Ricard, dan Nico saling memandang satu sama lain. Mereka meneguk air ludah mereka sendiri dengan kasar.
"JAWAB JANGAN DIAM SAJA! TETAP DI SINI ATAU IKUT DENGAN SAYA?" teriak Rania dengan tajam.
"Siap, Nona. Kami ikut dengan Nona!" ujar ketiganya dengan kompak.
Rania menyeringai. "Hukuman akan menanti kalian di rumah!" ujar Rania dengan tajam.
"B-baik, Nona!" jawab Liam, Ricard dan Nico dengan terbata.
Mereka pikir Rania sudah menjadi wanita yang lemah lembut tetapi mereka salah, Rania masih seperti yang dulu. Rania yang tak punya belas kasih ketika ada seseorang yang berbuat kesalahan kepadanya. Mereka pikir Rania sudah kembali menjadi wanita yang baik seperti dulu tetapi mungkin karena keegoisan Ben dan juga Doni membuat Rania kembali seperti ini lagi.
***
"Sayang kamu yakin dengan semua yang kamu ucapkan tadi?" tanya Ferdians dengan cemas.
Rania menatap suaminya dengan ekspresi tidak ada keraguan di sana. "Yakin! Kenapa aku harus ragu? Dari dulu aku sudah tidak bergantung pada mereka. Aku menginginkan harta Danuarta karena saat itu ada Agni dan juga Clara tetapi sekarang tidak. Biarkan saja harta Danuarta di pegang oleh anak mama Ana. Bukan itu saja, aku sudah muak dengan apa yang papa lakukan," jawab Rania dengan tegas yang membuat Ferdians tersenyum.
"Kita mulai semuanya dari awal lagi ya. Hanya ada Mas, kamu, anak-anak kita dan ibu," ujar Ferdians dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Mas! Aku ingin melihat keadaan ibu. Mas harus menceritakan semuanya kenapa ibu bisa drop lagi," ujar Rania.
Ferdians menghela napasnya dengan pelan. Ia menceritakan semuanya kepada sang istri tanpa ada yang terlewat. Rania sudah paham, wanita itu hanya bisa mensupport suaminya saja. Mereka sudah sama-sama melepaskan nama keluarga mereka masing-masing, dan keduanya bertekad memulai semuanya dari awal kembali, toh Rania juga sudah mempunyai perusahaannya sendiri. Jadi, ia yakin anak-anaknya tidak akan kekurangan uang walaupun tak ada nama Danuarta dan Abraham lagi yang tersemat di belakang nama mereka.