
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
...****...
Anjani, Rio, Agni dan Cassandra sudah ada di meja makan. Ke-empatnya terdiam menatap kursi yang biasanya di tempati Olivia masih kosong.
"Aku ke kamar Olivia dulu," ujar Anjani dengan lirih.
Anjani langsung berdiri dan berjalan ke kamar Olivia meninggalkan Rio, Agni dan Cassandra yang masih terdiam.
"Cassandra!" panggil Rio dengan datar.
"Iya, Yah!" sahut Cassandra dengan takut, jantungnya berdetak dengan sangat kuat melihat tatapan Rio yang sangat dingin kepada dirinya.
"Ayah ingin bertanya sama kamu. Kamu kemarin malam yang ada di kamar Olivia, kan?" tanya Rio dengan datar.
"I-iya, Yah. A-aku yang ada di kamar Kakak," jawab Cassandra dengan terbata.
"Apa kamu yang memberitahu Olivia soal Olivia yang hadir sebelum ayah dan bunda menikah?" tanya Rio dengan datar, jika benar Cassandra yang memberitahu anaknya Rio akan sangat marah besar kepadanya gara-gara Cassandra anaknya sendiri mengurung diri di kamar.
"B-bukan, Yah. K-kakak melihat buku nikah ayah dan bunda makanya kemarin dia berteriak seperti itu," ujar Cassandra dengan terbata walaupun ia sangat takut sekarang, takut Rio tahu jika dirinya sedang berbohong sekarang.
"Kapan Olivia mengambil buku nikah ayah dan bunda kamu?" tanya Agni kepada cucunya.
Semalam dia memang tidak mendengar keributan anak dan cucunya karena Agni sudah tertidur dengan nyenyak karena kelelahan dan pagi ini setelah ia diberi tahu oleh Rio tentu saja Agni sangat syok. Agni menjadi tidak tega dengan cucunya.
"MAS!" teriak Anjani yang membuat Rio, Agni dan Cassandra langsung terkejut.
Rio langsung berdiri dan berlari ke ke arah kamar anaknya. Pikirannya sudah sangat buruk tentang Olivia. Begini pun dengan Agni yang sudah sangat khawatir dengan keadaan cucunya tersebut.
Sedangkan Cassandra juga ikut berjalan ke kamar kakaknya, ia bernapas lega ketika Rio dan Agni tak banyak bertanya lagi kepada dirinya, itu artinya posisi dirinya di rumah ini masih aman, kan? Tapi Cassandra tidak boleh senang dulu karena bisa saja Rio kembali bertanya lagi kepada dirinya. Ia harus menjawabnya dengan tenang, tidak seperti tadi yang sangat gugup sekali.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu berteriak seperti tadi?" tanya Rio dengan cemas saat melihat Anjani terduduk lemas dengan memegang kertas yang ada di tangannya.
Dimana Olivia? Kenapa anaknya tidak ada di dalam kamar? Pikir Rio dengan kalut.
"Dimana Olivia, Sayang? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Rio dengan cemas.
Dengan tangan gemetar Anjani memberikan kertas bertuliskan surat dari Olivia. Rio menerimanya dengan ragu, namun akhirnya membaca tulisan tersebut.
Ayah, Bunda, aku tidak tahu ternyata kenyataan pahit menghantam hidupku. Pasti kalian tidak benar-benar menginginkan aku, kan? Sekarang aku paham apa penyebab ayah dan bunda selalu ingin aku mengalah dengan Cassandra karena kalian hanya menyayangi Cassandra bukan aku si anak haram ini. Ayah, bunda, walaupun begitu aku sangat menyayangi kalian termasuk Cassandra walau Cassandra sering membuat aku kesal. Aku ingin menyendiri untuk menenangkan diri sejenak, jangan cari aku Yah, Bun. Aku pamit.
__ADS_1
Tubuh Rio limbung, ia terduduk di pinggir kasur anaknya. "Olivia tidak mungkin pergi dari rumah ini kan, Sayang? Ya Tuhan... Ternyata sikap kita selama ini kepada Olivia dan Cassandra sangat salah, Sayang. O-olivia menganggap semua ini karena kita tidak menyayangi dirinya. Ini salah besar, Anjani. Kita tidak bermaksud seperti itu!" ujar Rio dengan lirih merem*s surat anaknya dengan tangan gemetar.
"Hiks...hiks.... Cari Olivia, Mas. Kita harus mencarinya aku takut terjadi sesuatu dengan anak kita," ujar Anjani dengan menangis.
Rio mengambil ponselnya, ia mencari nomor anaknya dan langsung menghubungi nomor Olivia.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
"Tidak aktif, Sayang!" ujar Rio dengan cemas.
Sedangkan Cassandra hanya melihat kecemasan kedua orang tua angkatnya dari depan pintu. Cassandra tidak berani bergabung di sana karena ia takut Rio akan bertanya lagi tentang kejadian kemarin. Walaupun begitu ada rasa cemas di harinya saat mengetahui jika Olivia kabur dari rumah.
"Ayo kita cari Olivia, Mas!" ujar Anjani dengan menangis.
Rio mengangguk, ia membantu istrinya untuk berdiri. Cassandra langsung menghindar dari sana bahkan sepertinya Rio dan Anjani tidak peduli dengan kehadirannya yang membuat Cassandra sedikit lega.
"Mama ikut!" ujar Agni dengan gelisah.
"Mama di rumah saja bersama dengan Cassandra. Aku akan pergi bersama dengan Anjani. Jika Olivia pulang ke rumah ini langsung hubungi aku ya, Ma!" ujar Rio berusaha tenang walaupun di dalam hatinya sangat kalut memikirkan Olivia yang entah berada di mana.
Mau tak mau akhirnya Agni mengangguk membiarkan anak dan menantunya untuk mencari keberadaan Olivia.
Rio dan Anjani sudah ada di luar, keduanya melihat mobil Olivia yang masih ada di garasi. "Ya Tuhan... Olivia pergi dengan apa, Mas? Baju-bajunya juga masih lengkap. Ini semua salah kita, Mas. Salah kita yang terlalu menjaga perasaan Cassandra hingga kita tidak bisa menjaga perasaan anak kita sendiri hingga dia beranggapan kalau penyebab dirinya harus terus mengalah dengan Cassandra karena dia anak haram yang tidak di inginkan. Ini salah kita, Mas!" ucap Anjani dengan menangis.
Anjani mengangguk, terlebih dahulu ia menghubungi Faiz. Namun, Faiz sama juga dengan dirinya yang terlihat sangat khawatir mengetahui jika Olivia hilang. Sedangkan teman-teman Olivia sama sekali tidak ada yang mengetahui keberadaan Olivia. Hal itu membuat Anjani dan Rio frustasi, keduanya sangat takut jika Olivia tidak akan kembali. Semua ini adalah kesalahan mereka, jika dari awal mereka jujur dan tidak menyuruh Olivia selalu mengalah kepada Cassandra semua tidak akan jadi seperti ini.
"Kemana kamu, Sayang? Bunda sama ayah minta maaf hiks..." gumam Anjani dengan frustasi.
****
"Siapa?" tanya Rania saat telepon Faiz berbunyi.
"Bunda, Ma. Pasti bunda sudah tahu jika Olivia kabur dari rumah. Aku harus menjawab apa?" tanya Faiz menatap mamanya.
"Berikan saja pelajaran untuk keduanya katakan jika kamu juga tidak mengetahui di mana Olivia. Sangat merepotkan sekali, anak dari Clara mereka sayangi hingga sebegitunya sedangkan anak kandungnya di biarkan tertindas," ujar Rania dengan tajam yang membuat Faiz dan Frisa ngeri melihat mamanya yang sudah marah seperti ini.
Faiz mengangguk, ia langsung menjawab dengan nada yang dibuat cemas agar calon mertuanya percaya jika dirinya juga tidak tahu di mana Olivia. Setelah selesai menerima telepon dari calon mertuanya Faiz kembali sarapan sedangkan Olivia belum bangun sejak tadi dan Faiz maupun yang lainnya tak ada niatan untuk membangunkan Olivia, biarlah Olivia tidur dengan nyenyak dan bangun setelah merasakan tubuhnya enak.
"Biarkan saja Rio dan Anjani kelimpungan mencari Olivia biar mereka sadar apa yang mereka lakukan selama ini salah," ujar Ferdians.
"Tapi aku kasihan mendengar suara bunda yang sangat mencemaskan Olivia. Tapi ya sudahlah, anggap ini sebagai peringatan untuk mereka berdua," ujar Faiz dengan menghela napasnya dengan pelan.
"Aku tidak habis pikir dengan tante Anjani dan om Rio. Kenapa mereka bisa tidak tahu jika tante Clara sedang berpura-pura ya? Mereka terlalu baik atau terlalu bodoh?" tanya Frisa dengan berpikir.
__ADS_1
"Terlalu baik yang mengakibatkan bisa dibodohi dengan sangat gampang!" hawab Rania.
"Mama benar!" ujar Frisa dengan terkekeh.
"Aku mau ke atas dulu. Aku mau lihat keadaan Olivia sebentar," ujar Faiz.
"Jangan kamu ajak kerja dulu Olivia, Nak. Kalau bisa dia sudah cuti kerja," ujar Rania dengan tegas.
"Aku tidak akan setega itu dengan calon istriku sendiri, Ma. Mana mungkin aku menyuruhnya kerja dalam keadaan seperti ini," ujar Faiz.
"Bisa saja, kan? Dulu sebelum kamu suka dengan Olivia kamu pernah menyuruh Olivia untuk berangkat kerja padahal Olivia sedang tak enak badan. Jangan lupakan itu anakku!" ujar Rania dengan tersenyum geli yang membuat Ferdians dan Frisa terkekeh.
"Kakak bucin!" ejek Frisa yang membuat Faiz kesal.
"Terserah apa kata mama, papa, dan kamu, Dek!" ujar Faiz dengan kesal.
"Hahaha...."
"Bawa sarapan sekalian untuk Olivia, Kak!" ujar Frisa.
"Iya!"
Faiz berjalan dengan membawa nampan yang berisi makanan untuk sarapan Olivia pagi ini. Semua orang menerima Olivia dengan tangan terbuka, Rania mengubur masa lalunya namun ia tidak akan membiarkan Cassandra dan Clara hidup bebas begitu saja. Rania yakin adiknya akan memberikan pelajaran yang tidak bisa Cassandra lupakan nantinya.
****
Faiz tersenyum melihat Olivia yang tertidur di kamarnya dengan sangat nyenyak. Ia meletakkan nampan di atas meja, dan ia duduk di pinggir kasur memperhatikan Olivia yang masih tertidur.
Faiz mengelus pipi Olivia hingga gadis itu sedikit terusik dan akhirnya membuka matanya. Olivia sedikit linglung namun tak lama ia mengingat semuanya, wajahnya kembali sendu tetapi ini sudah lebih baik dari kemarin.
"Astaghfirullah... Aku kesiangan! Mas sudah rapih aku baru bangun tidur. Bagaimana ini? A-aku mandi dulu, Mas. Eh... Tapi aku tidak membawa pakaian," ujar Olivia dengan panik.
"Tenang dulu, Sayang. Tidak usah panik seperti itu. Hari ini kamu tidak usah bekerja, kamu di rumah saja sama mama. Pakaian kamu sudah ada di lemari bagian kanan ya, Sayang. Tadi Mas sudah menyuruh orang untuk membelinya, semua sudah lengkap di lemari. Kamu sarapan dulu baru mandi tidak apa-apa. Mas tinggal kerja dulu ya," ujar Faiz dengan lembut.
Cup....
"Habiskan sarapannya ya. I love you!" ujar Faiz setelah mencium kening Olivia dan tak memberikan Olivia waktu untuk berbicara.
"Mas!"
Faiz melihat ke arah Olivia dengan tersenyum.
"Terima kasih. I love you too!"
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang!"