
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Rania keluar dari mobilnya dengan cepat tanpa menunggu Ferdians membukakan pintu untuknya, ia masih sangat kesal dengan Ferdians yang menjemputnya terlambat. Baru kerja sehari saja sudah lupa untuk menjemput dirinya apalagi sebulan, dua bulan, setahun. Sudah bosan Ferdians menjadi supirnya? Dasar lelaki menyebalkan.
"Loh kenapa wajah kamu di tekuk seperti itu, Nak?" tanya Heera ketika melihat menantunya cemberut seperti itu. Heera baru tahu jika Rania bisa mengambek.
"Capek, Bu. Rania ke atas dulu ya," ujar Rania setelah menyalami tangan mertuanya dan Rania langsung berjalan dengan cepat menaiki tangga meninggalkan Heera dan suster Ana yang kebingungan serta Ferdians yang baru saja masuk.
"Bu, Rania dimana?" tanya Ferdians saat tidak mendapati sang istri bersama dengan ibunya, biasanya Rania akan mengobrol dengan ibunya walaupun sebentar.
"Baru saja ke kamar katanya capek," jawab Heera kepada anaknya.
"Kamu kenapa? Kalian ada masalah? Baru juga menikah kalian sudah marahan?" tanya Heera dengan menggelengkan kepalanya.
"Ini salah Ferdians, Bu. Ferdians lupa jemput Rania ke kantornya. Tadi, Ferdians fokus mempelajari dokumen-dokumen kantor hingga tak sadar sudah jam 5 lewat alhasil Ferdians telat menjemput Rania," ujar Ferdians dengan jujur.
"Ya ampun Ferdians. Benar saja istri kamu ngambek, sudah sana susul Rania. Minta maaf," ujar Heera yang di angguki oleh Ferdians.
"Ferdians ke kamar dulu ya, Bu," pamit Ferdians dengan pelan
"Iya, Nak!"
"Sus, tolong jaga ibu saya ya," ucap Ferdians dengan tegas sebelum ia berlari ke kamarnya dan juga Rania.
"Iya, Tuan!" jawab Suster Ana dengan singkat.
Suster anak terkekeh geli melihat Ferdians. "Tuan Ferdians dan nyonya Rania pasangan yang lucu ya, Bu!" ucap Suster Ana dengan tersenyum.
"Iya benar. Ibu juga gak tahu bagaimana mereka bertemu dan akhirnya menjadi suami istri karena Ferdians tidak pernah mengenalkan perempuan ke rumah," ujar Heera dengan tersenyum.
"Kalau Suster Ana sudah menikah?" tanya Heera dengan penasaran karena suster Ana sudah terlihat dewasa mungkin se-usia Ferdians ataupun Sastra.
"Sudah, Bu. Saya sudah menjanda sejak lama. Suami saya selingkuh dengan teman kerja saya dan memilih menikah dengan teman saya, saya tidak sanggup untuk di madu dan akhirnya saya memilih untuk bercerai," ucap suster Ana dengan tersenyum tidak ada kesakitan lagi di wajahnya karena suster Ana sudah ikhlas dan sangat berterima kasih karena ia sudah terlepas dari lelaki tak bertangungjawab seperti mantan suaminya.
"Maafkan saya, Sus. Saat ini usia suster berapa?" tanya Heera.
"Tidak apa-apa, Bu. Usia saya saat ini 38 tahun, Bu!" jawab Suster Ana.
"Tidak ada niatan untuk menikah lagi, Sus?" tanya Heera.
"Untuk saat ini belum, Bu. Tapi saya akan mencobanya kembali," ucap Suster Ana dengan tenang.
"Sebaiknya begitu, Sus. Agar di hari tua kita tidak kesepian," ujar Heera dengan tersenyum.
"Iya, Bu!"
__ADS_1
***
Ferdians melihat ke arah kamarnya, tidak ada Rania di dalam. Di mana istrinya?
"Mbak tunggu!" ujar Ferdians kepada pelayan di rumah Rania.
"Iya Tuan ada apa? Anda mau juga dibuatkan kopi seperti nona Rania?" tanya pelayan tersebut dengan ramah.
"Di mana nona Rania?" tanya Ferdians.
"Ada di ruang kerjanya, Tuan! Anda mau saya buatkan kopi?" tanya pelayan sekali lagi.
Ferdians mengangguk. "Buatkan saya juga. Kopi punya nona Rania biar saya yang bawa," ujar Ferdians dengan tegas.
"Tapi Tuan..."
"Sudah sana buatkan saya kopi ini biar saya yang bawa," ujar Ferdians mengambil ahli kopi Rania yang berada di atas nampan.
"Baik, Tuan!" ucap pelayan dengan pelan.
Ferdians berjalan ke arah ruang kerja Rania. Ia mengetuk pintu keeja Rania dengan pelan.
Tokk.....
Tokk..
"Masuk!" ujar Rania dari dalam ruangan dengan tegas.
"Dia ngambek atau bagaimana?" gumam Ferdians dengan pelan.
"Mana kopi saya?" tanya Rania yang belum mengetahui jika Ferdians yang masuk ke ruangannya.
Ferdians meletakkan kopi Rania di meja kerja wanita itu. Ia mendekat ke arah Rania dan mengecup kening Rania dengan pelan.
Cup...
"Maaf!" gumam Ferdians dengan lirih.
Ferdians benar-benar merasa bersalah dengan Rania. Ia sudah berjanji untuk menjemput Rania tapi ia yang mengingkari janjinya sendiri.
Rania dengan perlahan membuka matanya, kedua mata mereka saling bertemu pandang dengan tatapan yang sangat dalam.
"Saya tidak butuh kata maaf darimu!" ujar Rania dengan tajam.
Rania langsung mengambil kopi hitam miliknya dan ia sesap dengan perlahan.
"Sejak kapan kamu meminum kopi?" tanya Ferdians mengambil cangkir kopi yang ada di tangan Rania dan ia meminumnya dengan perlahan.
Tok..
__ADS_1
Tok...
"Tuan ini kopinya," ujar pelayan dengan tegas.
Rania yang hendak menjawab akhirnya mengurungkan niatnya.
"Sebentar ya!" ujar Ferdians meletakkan cangkir kopi milik Rania.
Ferdians berjalan ke arah pintu dan membukakan pintu tersebut dengan pelan. "Terima kasih kamu bisa kembali bekerja," ujar Ferdians mengambil kopi miliknya.
"Sama-sama, Tuan. Saya permisi!" ujar pelayan tersebut dengan sopan.
Rania memperhatikan Ferdians dengan pelayan dengan tatapan datar. Setelah Ferdians mendekat ke arahnya kembali Rania kembali meminum kopinya dengan perlahan.
"Sepertinya kamu terlalu ramah dengan seorang pelayan. Atau mungkin di kantor juga seperti itu makanya kamu lama menjemput saya," ujar Rania dengan datar setelah menyesap kopinya.
Ferdians tampak bingung. "Tunggu-tunggu. Kamu marah, ngambek sama aku karena cemburu karena aku terlalu ramah dengan pelayan atau karyawan kantor begitu?" tanya Ferdians yang mulai paham sekarang.
"M-mana ada begitu! Saya tidak sedang cemburu! Saya cuma memberitahukan penyebab kamu telat menjemput saya," ujar Rania dengan ketus.
"Masa sih? Tapi dari wajah kamu terlihat jika kamu cemburu. Kamu sudah mulai suka sama suami kamu ini hmm? Kalau iya juga tidak apa-apa. Ngaku saja, Sayang!" ujar Ferdians mendekat ke arah Rania, ia mengurung tubuh Rania dengan kedua tangannya setelah cangkir kopi miliknya ia letakkan di meja.
Rania mendengkus kesal. "Beruntung hari ini saya sedang malas menghukum kamu! Saya mau kembali ke kamar!" ujar Rania dengan kesal.
Rasa sakit pada perutnya membuat Rania malas berdebat dengan Ferdians, ia hanya ingin berbaring untuk mengurangi rasa sakit pada perutnya karena nyeri haid yang memang selalu ia rasakan setiap bulannya.
Ferdians mengikuti Rania dari belakang, ia memperhatikan Rania dengan sangat terliti. "Sepertinya kamu tidak baik-baik saja," ujar Ferdians dengan cemas.
"Diamlah Ferdians! Perut saya bertambah sakit ketika kamu terus mengoceh!" ujar Rania dengan sarkas.
"Perut kamu sakit? Kenapa tidak bilang dari tadi sih?!" omel Ferdians yang langsung menggendong Rania menuju kamar mereka.
"Kalau sakit itu bilang, jangan marah-marah mulu bisa tidak? Kita ke rumah sakit saja ya," ujar Ferdians dengan perhatian.
Rania menggelengkan kepalanya. "Ini sudah biasa jika tamu bulanan saya datang," ujar Rania.
Ferdians mengerti sekarang apa penyebab perut istrinya sakit. "Tadi kenapa minum kopi sih? Astaga Rania kamu bisa gak jaga kesehatan kamu hmm? Biasanya minum apa kalau lagi haid?" tanya Ferdians.
"Bisa tidak jangan seperti ibu-ibu yang sedang mengomel? Saya ingin istirahat!" ujar Rania dengan kesal.
Rania membaringkan tubuhnya dengan tubuh yang meringkuk membuat Ferdians tidak tega. Ferdians menuju kamar mandi untuk mengambil air hangat dari shower yang sudah ia atur agar bisa mengompres istrinya.
"Sakit banget ya?" tanya Ferdians dengan perlahan.
Rania tak menjawab. Ferdians membawa Rania ke dalam pelukannya, ia membuka baju Rania dan meletakkan handuk basah yang ia celupkan air hangat.
Cup...
Tak lupa Ferdians mengelus perut Rania dengan pelan untuk mengurangi rasa sakit pada perut istrinya.
__ADS_1
"Jangan ngambek, jangan cemburu lagi ya. Aku cuma mau sama kamu," bisik Ferdians setelah mengecup kening Rania.
Sedangkan Rania, hatinya merasa hangat dengan perhatian Ferdians apalagi saat tangan Ferdians terus mengusap perutnya yang nyeri. Padahal sebelumnya Rania hanya merasakan sakitnya seorang diri tanpa di temani oleh siapa pun dan sekarang ada Ferdians yang menemaninya bahkan sangat begitu perhatian kepada dirinya.