Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 60 (Ingin Bertemu Eric)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Diam-diam Ferdians datang ke kantor polisi di mana Eric di penjara tanpa sepengetahuan Rania ataupun yang lainnya. Hatinya merasa gundah jika belum bertemu langsung dengan Eric, entah mengapa ia sangat penasaran dengan Eric yang sangat mirip dengan dirinya.


"Maaf anda ingin bertemu dengan siapa ya?" tanya polisi yang menjaga di depan.


"Saya ingin bertemu dengan Eric Abraham, Pak!" ujar Ferdians dengan tegas.


"Apakah ada kartu tamu milik anda?" tanya polisi tersebut yang memang sangat ketat menjaga keamanan keluarga Abraham.


Keluarga Abraham memang sangat memperketat penjagaan untuk Eric Abraham bahkan keluarga Danuarta sama sekali tidak boleh melihat Eric. Keduanya sudah terlibat dendam yang mendarah daging di hati mereka masing-masing.


"Tidak ada, Pak. Tapi saya ada keperluan penting dengan Eric Abraham," ujar Ferdians dengan tegas.


"Mohon maaf Pak anda tidak masuk ke dalam untuk menemui pak Eric karena orang yang bisa menemui pak Eric adalah orang yang memiliki kartu akses yang diberikan langsung oleh keluarga Abraham," ujar polisi tersebut dengan tegas.


"Saya mohon, Pak! Ada hal penting yang ingin saya bicarakan kepada pak Eric."


"Tidak bisa, Pak! Silahkan anda pergi dari sini!" ujar polisi tersebut dengan tegas.


Ferdians menghela napasnya dengan kasar, ternyata sangat sulit untuk menemui Eric. Ferdians tahu keluarga Abraham bukanlah keluarga yang sembarangan. Abraham sama saja dengan Danuarta. Tapi tak mungkin jika ia ada hubungannya dengan keluarga Abraham karena keluarga tersebut adalah keluarga terpandang sedangkan dirinya dan ibunya adalah dari keluarga yang sangat sederhana.


Bruk...


"M-maaf Bu saya tidak sengaja!" ujar Ferdians menabrak seseorang wanita paruh baya saat dirinya menuju parkiran.


"Iya tidak apa-apa, Nak!" ujar Ibu tersebut dengan tersenyum.


Wanita paruh baya tersebut terlihat mematung saat melihat wajah Ferdians. "Tidak mungkin!" gumam wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik dengan pakaian elegannya.


"Bu, ada yang sakit?" tanya Ferdians dengan khawatir.


"Ferry," gumam wanita itu dengan lirih.


"Bu!" panggil Ferdians dengan cemas karena wanita paruh baya itu hanya terlihat diam memandang wajahnya.


Apa yang terjadi? Ferdians benar-benar bingung dengan wanita seumuran dengan ibunya ini.

__ADS_1


"Aahh... I-iya saya tidak apa-apa," ujar wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sekali lagi saya minta maaf ya, Bu!"


"Iya!" ujar wanita itu dengan lirih.


"Saya permisi," ujar Ferdians dengan ramah.


Wanita paruh baya itu mengangguk menatap kepergian Ferdians dengan pandangan sendunya karena ia jadi merindukan anaknya yang sangat mirip dengan Ferdians. Sayangnya anaknya sudah meninggal sejak lama.


"Aku harus ketemu mas Eric sekarang!" gumam wanita itu dengan menyeka air matanya dengan kasar. Ia harus menceritakan pertemuannya dengan pria yang sangat mirip dengan Ferry kepada suaminya.


****


Gista menatap suaminya dengan penuh kerinduan, ia sangat ingin bersama lagi dengan suaminya secepatnya. Ini semuanya gara-gara Ben dan Doni jika mereka tidak memasukkan suaminya ke penjara ia tidak akan terpisah dengan suaminya, keluarga Danuarta memang tidak tahu di untung.


Sudah 5 tahun lamanya Gista tidak bersama dengan suaminya karena sebuah kecelakaan yang mereka saja tidak tahu penyebabnya tetapi semua bukti mengarah kepada suaminya. Bukankah ini hanya akal-akalan Ben dan Doni agar membuat keluarganya hancur? Gista menyesal pernah sangat dekat dengan keluarga tersebut bahkan ia dan Dewi pernah merencakan perjodohan untuk kedua anak mereka saat kedua anak mereka dewasa tetapi naas anak Gista dan Eric yang bernama Ferry meninggal dalam kecelakaan di sebuah jurang saat keluarga Abraham dan keluarga Danuarta sedang berlibur ke villa.


Pada saat itu Ferry sudah berumur 4 tahun dan Dewi masih mengandung Rania. Hal itu menyebabkan hati Gista benar-benar terluka karena harus kehilangan anak semata wayangnya.


Gista menggenggam tangan Eric dengan lembut hingga Eric menatap Gista.


"Ada apa? Kamu masih memikirkan Mas? Tenang saja, Sayang. Sebentar lagi Mas akan keluar dari sini dan Mas akan membuat perhitungan dengan Ben dan juga Doni," ujar Eric dengan tegas dan mata yang penuh dendam.


"Aku sudah tahu dari pengacara Mas kalau Mas akan keluar dalam minggu ini dan itu membuat aku sangat senang. Tetapi yang membuat aku sedih karena aku melihat pria yang sangat mirip dengan kamu dan juga Ferry di kantor polisi ini, Mas. Pria itu tidak sengaja menabrakku, a-aku hampir saja memeluknya tetapi aku sadar dia bukan Ferry mereka berbeda walaupun mereka mirip," ujar Gista dengan mata yang berkaca-kaca.


Eric mematung mendengar ucapan istrinya, jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Selama ini ia begitu menyembunyikan rahasia begitu sangat rapat dari Gista tetapi kali ini apakah rahasia itu terbongkar jika dirinya....


"Mas!"


"Mas kenapa melamun?" tanya Gista dengan sendu.


"Mas juga pasti merindukan Ferry, kan? Aku juga Mas bahkan aku sangat ingin mempunyai anak lagi tapi rahimku sudah di angkat," gumam Gista dengan sendu.


Eric menggenggam tangan Gista dengan erat, ia tidak ingin membuat Gista tertekan memikirkan ini.


"Pria itu pasti hanya mirip saja dengan Mas dan Ferry, Sayang. Kamu tidak perlu bersedih lagi ya. Tunggu kepulangan Mas ke rumah ya, kita akan membuat keluarga Danuarta menderita seperti apa yang kita rasakan," ujar Eric dengan penuh dendam.


"Aku pasti akan menunggu Mas pulang ke rumah kita! Aku sudah sangat merindukanmu, Mas!"


Kedua sahabat kini tak lagi saling menyayangi melainkan memupuk dendam akibat kesalahpahaman yang terjadi antara keduanya.

__ADS_1


"Maafkan aku Gista! Aku memang mencintai kamu tapi aku juga ingin bertemu dengannya cinta pertamaku," gumam Eric dengan lirih di dalam hati memandang wajah Gista yang masih cantik sampai sekarang hingga wajah penuh tangis Heera melintas di pikirannya yang membuat rasa bersalah Eric kepada Heera semakin besar.


"Maafkan aku juga Heera. Andai kita masih bisa bertemu dan kamu mau memaafkan kesalalahanku yang sangat besar ini," ujar Eric di dalam hati.


***


Sesampainya di kantor Ferdians memijat pelipisnya dengan pelan karena kepalanya terasa sangat pusing sekali, belum lagi Rio yang akhir-akhir ini membuat kesalahan semenjak pria itu menghilang sehari tak masuk kantor kinerja Rio benar-benar sangat menurun.


Ferdians mengambil telepon yang yang ada meja dan menghubungi Rio.


[Ke ruangan saya sekarang!] ujar Ferdians dengan tegas.


[Sebentar] jawab Rio dengan datar.


Ferdians meletakkan telepon itu kembali di meja. Masalah kematian mama mertuanya, masalah Eric, dan masalah kinerja Rio yang menurun membuat kepala Ferdians seakan mau pecah. Ferdians merasa tanggungjawabnya lebih besar saat ini dan rasanya Ferdians ingin menyerah saja tetapi semua permasalahan sama sekali belum ada yang selesai. Ferdians meyakini jika bukan Eric lah penyebab kematian mama mertuanya, entah mengapa Ferdians sangat yakin jika Eric dengan papa mertuanya hanya salah paham saja.


Tokk...


Tokk....


"Masuk!" perintah Ferdians dengan tegas.


Rio masuk ke ruangan Ferdians dengan wajah datarnya karena lelaki itu sangat membenci Ferdians, ia menganggap Ferdians adalah musuhnya karena telah merebut Rania dari dirinya.


"Ada apa?" tanya Rio dengan sangat malas.


Ferdians menyodorkan laporan ke arah Rio. "Saya dengar dari karyawan lain jika kamu sangat berkompeten dalam bekerja tetapi ini mengapa banyak terjadi kesalahan di laporan yang kamu buat?" ujar Ferdians dengan dingin.


Rio menerimanya dengan wajah datar. "Saya akan memperbaiki laporan ini," ujar Rio dengan datar.


"Saya tahu kamu berkompeten tetapi akhir-akhir ini semua pekerjaan kamu salah. Bagaimana saya akan mengatakan ini ke papa dan kakek? Kita harus bekerjasama memajukan perusahaan Danuarta. Jika ada masalah kamu boleh cerita ke saya karena saya kakak ipar kamu," ujar Ferdians dengan tegas.


Rio menyeringai. "Ya saya sedang banyak masalah!" ujar Rio dengan datar.


"Coba ceritakan kepada saya mungkin saya bisa membantu," ujar Ferdians dengan tegas.


"Bagaimana anda bisa membantu saya jika sumber masalah saya adalah anda sendiri. Kakak ipar!" ujar Rio penuh penekanan.


"Maksud kamu?" tanya Ferdians dengan bingung.


"Karena anda telah merebut Rania dari saya! Anda tahu jika dulu saya dan Rania adalah sahabat selain sahabat dekat kami juga sepasang kekasih? Dan sampai saat ini saya masih mencintai Rania, saya akan merebut Rania dari anda! Saya permisi!" ujar Rio dengan datar yang membuat Ferdians terdiam.

__ADS_1


"Jadi selama ini Rio dan Rania adalah sepasang kekasih?"


__ADS_2