Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 188 (Peringatan)


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


****


Roby keluar dari cafe dengan waspada, ia kembali memakai masker, topi, dan kacamata hitamnya kembali. Ia tak mau orang-orang Danuarta melihatnya dan ia di tangkap, tetapi Roby merasa bangga karena sampai detik ini ia tidak ketahuan oleh mereka.


Rajendra tampak tenang melihat kepergian Roby dari cafe tersebut. Ia tampak terkekeh melihat Roby yang seperti sangat waspada. Rajendra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Dimana rumahnya?" tanya Rajendra setelah telepon sudah terhubung.


[Jalan Mawar, Tuan. Masuk gang sempit dan di situ rumahnya yang ber-cat putih] jawab seseorang tersebut dengan tegas.


"Sekarang kirimkan paket untuk calon mertuaku. Pastikan dia yang membuka paket tersebut," ujar Rajendra dengan santai.


[Baik, Tuan. Paket yang anda inginkan sudah ada di tangan saya tinggal kirim ke Roby saja] ujar anak buah Rajendra dengan serius.


"Bagus, lakukan sekarang! Roby sudah keluar dari cafe!" ujar Rajendra dengan dingin.


Rajendra langsung mematikan ponselnya, ia terkekeh sinis saat membayangkan kejutan yang ia berikan akan membuat Roby kebingungan dan mungkin takut, atau marah nantinya. Rajendra seakan sudah paham bagaimana reaksi Roby nantinya setelah menerima paket dari dirinya.


Rajendra menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia menyeringai senang karena bisa bermain-main dengan calon mertuanya. Anggap saja ini peringatan sebelum ada peringatan yang lebih besar dari pada ini.


Di seberang jalan ada seseorang gadis yang mungkin tidak jauh umurnya dari Cassandra sedang menyebrang. Rajendra yang tengah mengirimkan pesan untuk Cassandra menjadi tidak fokus, teriakan gadis itu membuat Rajendra mengerem mendadak.


"Shittt..." umpat Rajendra dengan kesal.


Rajendra keluarga dari mobil dan menghampiri gadis tersebut. "Ini jalan raya seharusnya kamu tidak menyeberang sembarangan! Kalau tertabrak tadi bagaimana? Mau kamu meninggal di usia muda?" ucap Rajendra dengan sarkas.


"M-maaf, Tuan! S-saya salah! S-saya cuma mau beli minum di seberang sana," ujar gadis itu dengan takut.


"Lain kali hati-hati!" ujar Rajendra dengan dingin.


Gadis itu mengangguk dengan pelan, ia tak berani menatap Rajendra yang terlihat sangat marah dengan dirinya. Gadis itu minggir ke trotoar saat Rajendra kembali masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu menatap kepergian Rajendra dengan mengelus dadanya.


"Kenapa lelaki yang selalu aku temui selalu bersikap kasar? Tidak papa, tidak lelaki itu," gumam gadis itu dengan lirih.


Gadis yang hampir di tabrak oleh Rajendra akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya, rasa haus yang ia rasakan tadi seakan sudah hilang, ia lelah sekarang dan ingin beristirahat di rumah.


****


Roby sampai di rumahnya dengan perasaan yang sangat senang karena sebentar lagi ia juga bisa meminta uang dengan Cassandra. Setelah kejadian di masa lalu itu, Roby bangkrut dan tidak mempunyai perusahaan lagi. Pekerjaannya hanya menipu orang itulah yang membuat anaknya terlihat tidak suka, karena anak Roby dengan istrinya ini adalah gadis yang baik tidak seperti kedua orang tuanya.


"Permisi!" ucap seseorang yang berpakaian kurir.

__ADS_1


"Ya cari siapa?" tanya Roby dengan tajam.


"Ada paket atas nama pak Roby. Apa ini benar rumah pak Roby?" tanya kurir tersebut dengan ramah.


"Benar! Dengan saya sendiri," ujar Roby dengan bingung sekaligus penasaran dengan isi paket yang ada di tangan kurir tersebut.


"Ini paketnya, Pak. Tolong tanda tangan di sini," ujar kurir tersebut dengan ramah.


"Baik!"


"Kalau begitu saya permisi," ujar kurir tersebut dengan tersenyum.


Lalu setelahnya kurir itu tersenyum menyeringai karena sebentar lagi Roby akan syok setelah membuka isi paket tersebut.


Roby masuk ke rumahnya dengan perasaan yang teramat senang karena ia menerima paket yang cukup besar, Roby tak memikirkan dari mana paket ini ia dapat yang jelas sekarang Roby sudah tidak sabar ingin membuka paket tersebut.


"Apa itu, Mas?" tanya Sherly, istri dari Roby.


"Paket gratis," jawab Roby tanpa melihat ke arah istrinya.


"Ambilkan pisau, Sayang!" ujar Roby dengan tegas.


"Sebentar, Mas. Aku juga penasaran apa isi paketnya," ujar Sherly dengan senang, ia sudah memikirkan jika isi paket tersebut tas atau berlian mewah karena sebenarnya Sherly muak dengan kehidupannya yang berubah drastis setelah menikah dengan Roby hingga anaknya menjadi pelampiasan kemarahannya.


Roby menerimanya, ia mulai membuka paket tersebut dengan tak sabaran sedangkan Sherly duduk di samping suaminya untuk melihat isi paket tersebut.


Setelah bungkus plastik tersebut selesai di buka, Roby mulai membuka kerdus besar itu.


"Aaaaahhkkk...." teriak Sherly ketakutan saat melihat beberapa bangkai tikus dengan kepala terpisah dan darah di sana.


"Brengsek! Siapa yang mengirimkan bangkai tikus itu?" ujar Roby dengan marah.


Roby mengambil kertas yang ada di dalam kerdus tadi. "Ini peringatan awal untuk kamu! Jika berani macam-macam nasib kamu akan sama seperti bangkai tikus itu. MATI DENGAN KEPALA TERPISAH!"


Roby merem*s kertas tersebut dengan amarah yang memuncak. "Brengsek. Siapa orang yang berani mengirimkan ini? Tidak akan aku biarkan dia hidup tenang," ujar Roby dengan amarah yang sangat memuncak.


Roby melemparkan kerdus tersebut hingga tikus yang sudah mati itu berserakan di lantai.


"Aaakhhhhh..." teriak anak Roby yang baru saja pulang.


Bunga, anak Roby dengan Sherly berteriak ketakutan saat kepala tikus itu menggelinding ke kakinya hingga darah tikus tersebut mengenai kakinya.


"Berisik, Bunga! Bereskan semua bangkai tikus itu! Menjijikkan!" umpat Roby dengan kesal.


Sebenarnya Roby sangat syok mendapatkan kiriman seperti itu. Selama ini tak ada yang berani mengirimkan teror peringatan, dan Roby mulai berpikir keras sekarang. Mungkinkah keluarga Danuarta sudah mengetahui tempat tinggalnya? Jika begitu ia sudah tidak aman berada di rumah ini.

__ADS_1


Roby berdiri dan berlalu pergi begitu saja. Sherly juga ikut menyusul suaminya dengan ekspresi yang begitu jijik dengan tikus tersebut.


"Bunga cepat bereskan itu semua. Kalau tidak awas kamu," ujar Sherly dengan tajam.


Bunga menghela napasnya dengan kasar. Kenapa papa dan mamanya tidak pernah sekali saja bersikap lembut, bahkan dia tidak pernah di tanya ia lelah atau tidak bekerja hari. Dan jika tadi ia tertabrak apakah kedua orang tuanya akan peduli dengan dirinya atau hanya cuek dan senang jika dirinya pergi dari dunia ini.


Bunga kembali menatap bangkai tikus itu dengan perasaan yang sangat takut. Namun, jika tidak dibereskan dengan segera maka kedua orang tuanya akan marah kepada dirinya. Dengan rasa mual yang ia tahan, Bunga mengambil bangkai tikus itu dengan perlahan dan ia masukan ke dalam kerdus kembali setelah selesai Bunga akan mengubur tikus itu agar nantinya tidak ada bau bangkai yang menyengat.


"Siapa orang yang sudah mengirimkan Papa bangkai tikus ini? Pasti orang tersebut sudah pernah di tipu oleh Papa," monolog Bunga dengan perasaan takut jika setiap harinya rumahnya akan mendapatkan kiriman bangkai. Hari ini tikus bisa saja besok bangkai yang lain, kan?


****


Rajendra melihat ponselnya, ia mendapatkan kiriman video dari anak buahnya. Rajendra memutar video tersebut dengan terkekeh, ia sangat senang melihat wajah Roby yang begitu ketakutan, tidak hanya Roby, Sherly juga ikut merasakan takut akibat teror peringatan yang ia kirim.


"Ini baru bangkai tikus. Bagaimana jika besok kepala istrimu yang ada di sana, oo tidak bukan kepala istrimu dulu tapi Cassandra bagaimana?" ujar Rajendra dengan terkekeh.


Rajendra kembali fokus melihat video tersebut. Ia memfokuskan pandangannya pada gadis yang baru saja masuk ke rumah.


"Bukannya ini gadis yang tadi?" monolog Rajendra dengan pelan.


"Kamu sedang melihat apa di ponsel, Nak? Kok tertawa dan sangat serius seperti itu? Mama mau lihat," ujar Ana yang tiba-tiba saja datang.


Rajendra langsung mematikan ponselnya. "Ini tidak penting, Ma. Hanya pekerjaan saja, perusahaan kita sudah sangat berkembang pesat dan aku memenangkan tender milyaran. Ayo kita belanja, Ma. Rajendra yang bayar semuanya, Mama mau ajak kakak sama Frisa juga tidak apa-apa," ujar Rajendra dengan tersenyum.


Rajendra sengaja merahasiakan ini semua dari mamanya karena mamanya adalah orang yang sangat berperasaan. Jadi, Rajendra tidak ingin mamanya mengetahui ini semua, ia takut mamanya akan kecewa dan marah kepadanya.


"Kamu ini boros banget loh. Tapi Mama butuh liburan ya sudah ayo kita pergi, Mama beneran ajak kakak kamu sama keponakan kamu ya," ujar Ana dengan terkekeh.


"Iya Mama Sayang! Apapun yang Mama mau bakal Rajendra beliin," ucap Rajendra dengan tersenyum.


"Ya sudah ayo!" ucap Ana dengan semangat.


"Mau ke mana, Sayang?" tanya Ben melihat istrinya sangat antusias sekali.


"Mama mau belanja, Pa!" jawab Ana dengan tersenyum.


"Tumben sekali kamu mau belanja? Ambil kartu kredit itu, Sayang. Belanja sesuka kamu hari ini berapa pun habisnya tidak masalah," ujar Ben dengan senang karena istrinya jarang sekali belanja menghabiskan uangnya.


"Rajendra yang mau traktir, Pa. Sudah Mama pergi dulu ya," ujar Ana.


"Ya sudah kalau begitu. Habiskan saja uang anak kita, belanja sesuka hati kamu!" ujar Ben dengan terkekeh geli.


"Rencananya sih begitu," ujar Ana dengan tertawa.


Rajendra memberikan kode ke papanya untuk membuka ponsel nanti setelah dirinya dan mamanya pergi berbelanja. Ben yang paham langsung mengangguk kecil, ia ingin tahu kejutan apa yang Rajendra berikan kepada Roby.

__ADS_1


__ADS_2