
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
***
Sastra menggendong Citra kembali ke ruangannya, Citra hanya menatapnya tanpa kata. Entah apa yang di pikirkan wanita itu Sastra sama sekali tidak tahu yang jelas rasa khawatirnya kepada Citra belum sepenuhnya menghilang sebab wanita yang di dalam gendongannya ini belum mau berbicara dan wajahnya begitu sangat pucat.
Tak lama setelah Sastra menidurkan Citra di brankar dokter yang menangani masalah psikis Citra masuk bersama dengan suster.
"Dok, tolong periksa calon istri saya. Dia belum mau berbicara tetapi dia sudah menangis. Wajahnya pucat sekali, Dok!" ujar Sastra dengan begitu khawatir.
Rasa lelah mencari Citra hilang entah kemana digantikan rasa khawatir yang membuat Sastra tidak bisa tenang sedikitpun.
"Baik, Pak. Bapak yang tenang saya akan memeriksa keadaan ibu Citra," sahut Dokter yang membuat Sastra mengangguk.
Citra menggenggam tangan Sastra dengan kuat yang membuat Sastra terkejut dan membalas genggaman tangan Citra.
"Mas di sini, Sayang. Tidak apa-apa," ujar Sastra dengan tersenyum berusaha kembali tenang di hadapan Citra.
"Keadaan ibu Citra sudah mulai membaik tapi belum bisa dikatakan membaik sepenuhnya. Bapak harus selalu menemani ibu Citra ya agar hal yang tidak kita inginkan tidak terjadi. Apa yang dilakukan ibu Citra tadi di luar kesadarannya karena ketakutan yang ia rasakan. Sekali lagi saya sarankan Bapak jangan membawa ibu Citra ke tempat-tempat yang membuat dirinya trauma," ujar Dokter yang di angguki oleh Sastra.
"Terima kasih, Dok!" ujar Sastra dengan tegas.
"Bujuk ibu Citra untuk segera makan ya, Pak. Saya akan memberikan obat yang bisa membuat ibu Citra kembali tenang," ujar Dokter.
"Iya, Dok!"
__ADS_1
"Saya permisi. Jika butuh sesuatu langsung hubungi saya kembali!"
"Iya, Dok. Terima kasih!"
Setelah dokter dan suster keluar dari ruangan Citra. Sastra ingin melepaskan genggaman tangan Citra sebentar karena ia ingin memakaikan selimut untuk Citra tetapi Citra menahannya yang membuat Sastra menatap Citra dengan dalam.
"Mas tidak pergi kemana-mana, Sayang. Mas cuma mau memakaikan selimut untuk kamu. Kaos kaki juga ya soalnya kaki kamu juga dingin banget," ujar Sastra yang membuat Citra sedikit lega dan dengan perlahan mengendurkan genggaman tangannya hingga terlepas.
Citra memperhatikan Sastra yang memainkan kaos kaki untuk dirinya dan memakaikan selimut hingga sebatas dadanya. Sastra yang tahu di perhatikan oleh Citra mencoba tersenyum tipis.
"Ada yang mau kamu bicarakan kepada, Mas? Mas akan mendengarkannya, Sayang. Coba kamu mau bilang apa?" ujar Sastra dengan menatap wajah Citra dengan lembut.
Citra tampak gelisah terlihat dari bola matanya yang terlihat cemas. Sastra mendekat ke arah bibir Citra mungkin dengan begitu Citra mau berbicara kepadanya.
"J-jangan p-pergi! P-pak A-alex, d-dia m-menakutkan!" ujar Citra dengan terbata.
"Mas tidak akan pergi kemana-mana lagi, Sayang. Kamu mau Mas menemani kamu tidur?" tanya Sastra dengan lembut.
"I-iya..."
"Tidak mau makan dulu?"
"T-tidak!" jawab Citra dengan menggelengkan kepalanya.
Sastra tidak memaksa, ia lebih menuruti kemauan Citra yang masih terlihat ketakutan. Sastra naik ke atas brankar dan berbaring di samping Citra. Sastra memeluk Citra dengan erat begitu pun sebaliknya karena Citra takut Sastra meninggalkan dirinya sendirian karena pekerjaan lelaki itu yang tidak bisa di tinggalkan sedikit pun.
Sastra mengecup kening Citra berulang kali agar Citra kembali tenang. Bahkan Sastra tidak bisa bergerak dengan leluasa karena Citra terlalu erat memeluk dirinya tetapi Sastra tidak protes karena apa yang membuat Citra tenang akan Sastra lakukan sekali pun itu membahayakan nyawanya sendiri karena ia sudah banyak berdosa dengan Citra selama ini.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak, Sayang!" gumam Sastra dengan lembut.
"Alex, tidak akan saya biarkan kamu hidup tenang!" gumam Sastra di dalam hati.
****
Roby melemparkan semua barangnya dengan amarah yang sangat besar. "Brengsek! Gara-gara Clara dan Agni hidupku sudah tidak tenang lagi!" ujar Roby dengan penuh amarah.
Pasalnya ia harus kembali bersembunyi agar anak buah Ben tidak bisa menemukan dirinya. Bahkan ia harus pergi ke suatu negara yang jauh dari keramaian agar tidak bisa ditemukan, hidupnya sudah tidak benar-benar tenang karena pergi kemana pun dirinya harus memakai masker untuk menutup wajahnya.
"Seharusnya aku tidak mengikuti permainan mereka karena keluarga Danuarta bukanlah orang sembarangan dan sekarang perusahaan yang baru saja aku rintis jatuh karena kebodohan Clara dan Agni. Tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang! Mereka harus membayar semuanya," ujar Roby dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Drttt..drrrt...
Ponsel Roby berdering. Dengan cepat Roby mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya karena ia sudah menggunakan nomor baru agar dirinya tidak bisa di lacak oleh orang-orang suruhan Ben dan juga Doni.
[Ada apa, Ayumi?] tanya Roby saat mengangkat telepon ternyata dari kekasihnya sendiri.
[Sayang kamu tetap di sana saja ya. Aku akan menyusulmu karena orang-orang suruhan Danuarta masih terus mencari kamu bahkan polisi juga dikerahkan sekarang karena Agni dan Clara tidak terima jika hanya mereka berdua saja yang di penjara. Wajah kamu sudah masuk televisi, Sayang. Dan sekarang kamu menjadi buronan] ujar Ayumi yang membuat Roby semakin terlihat marah dengan rasa panik, kesal bercampur menjadi satu.
[Brengsek! Kedua ibu dan anak itu benar-benar sangat licik sekali. Sekarang hidupku benar-benar tidak tenang, Ayumi! Pastikan kamu tidak dicurigai oleh mereka karena itu bisa membahayakan kita berdua] ujar Roby dengan tajam.
[Kamu tenang saja, Sayang! Aku pastikan mereka tidak mengetahui keberadaan kamu di sana. Ya sudah aku tutup teleponnya]
[Ya, berhati-hatilah!] ujar Roby dengan cemas karena bagaimanapun Roby mencintai Ayumi. Ia menikah dengan Clara hanya untuk menguasai harta Danuarta tetapi bukan harta yang ia dapatkan malah ketidak tenangan hidup yang membuat Roby menjadi buronan polisi dan anak buah Ben dan juga Doni.
"Kalian sudah membawa namaku. Lihat saja aku akan menghancurkan hidup kalian berdua!" gumam Roby dengan menyeringai karena awalnya mereka sudah berjanji agar nama Roby tidak terseret dalam kasus ini tetapi Clara maupun Agni sudah ingkar janji. Jadi, jangan salahkan Roby jika setelah ini ia akan membuat hidup Clara dan Agni akan berantakan.
__ADS_1