
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya...
...Happy reading...
...*****...
Rajendra sudah berada di kantornya setelah ia melihat kakaknya yang masuk rumah sakit. Rajendra tidak menyangka ia akan mendapatkan keponakan kembali, ia tentu saja merasa senang namun ia juga mengkhawatirkan keadaan Rania. Dan tentu saja ada orang yang bisa saja melukai kakaknya.
"Sayang!" panggil Cassandra masuk ke ruangan Rajendra dengan tersenyum.
Rajendra melihat Cassandra dengan sangat malas, ia memaksakan senyumannya kepada gadis itu. "Berangkat sama siapa tadi?" tanya Rajendra dengan pelan.
"Mobil baru yang kamu belikan, Sayang. Makasih ya mobil barunya, aku suka banget," sahut Cassandra dengan tersenyum.
"Apapun untuk kamu, Sayang! Sebentar lagi kita akan menikah jadi tak masalah jika aku memberikan mobil untuk kamu," ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Gimana keadaan kak Rania, Mas? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Cassandra sok khawatir padahal ia mengharapkan Rania sakit keras dan mati secepatnya.
"Alhamdulillah baik. Bahkan sebentar lagi aku mempunyai keponakan baru," jawab Rajendra yang membuat Cassandra syok.
"K-keponakan baru? K-kak Rania hamil?" tanya Cassandra dengan terkejut. "B-bagaimama bisa, Mas? U-usia kak Rania kan sudah 50-an ya?" tanya Cassandra.
"Iya benar. Tapi itu yang terjadi. Kak Rania hamil kembali," ujar Rajendra dengan santai.
Cassandra tampak diam berpikir. Ia tidak menyangka jika Rania bisa hamil kembali, namun ada rencana di dalam otaknya untuk mencelakai Rania dan kandungannya bukankah usia Rania sangat beresiko dengan nyawa Rania sendiri mungkin dengan begitu ia bisa menyingkirkan Rania.
"Mikirin apa kamu?" tanya Rajendra.
"Tidak ada, Mas. Aku tidak menyangka saja kak Rania bisa hamil lagi. Oo iya, Mas. Ini contoh undangan kita. Bagaimana kamu suka tidak?" tanya Cassandra mengalihkan pembicaraan agar Rajendra tidak curiga kepadanya.
"Kalau kamu suka, Mas juga suka. Kamu pilih saja mana yang kamu suka, Sayang. Dan nanti Mas akan kirim foto rumah yang akan kita tempati. Kamu pilih saja rumah yang mana yang kamu suka setelah itu Mas langsung beli," ujar Rajendra dengan malas.
"Beneran, Mas?" tanya Cassandra dengan berbinar.
"Iya, Sayang. Beneran rumah yang kamu pilih akan langsung kita tempati nanti setelah menikah. Rumah yang akan menjadi saksi kebahagiaan kita nanti," sahut Rajendra dengan tersenyum.
"Rumah yang akan menjadi saksi penderitaan kamu nanti tentunya, Cassandra. Saya sudah menyiapkan tempat itu dengan sangat senang. Rumah yang akan menjadi sumber tangisan kesakitan kamu," gumam Rajendra di dalam hati.
"Sudah Mas kirim ke WhatsApp kamu ya, Sayang. Tinggal kamu pilih saja. Sekarang Mas mau kerja dulu," ujar Rajendra dengan tersenyum.
"Iya, Mas. Ini aku pilih di meja kerja aku saja ya!" ujar Cassandra dengan tersenyum bahagia.
"Iya, Sayang!"
__ADS_1
Cassandra mencium pipi Rajendra dan setelah itu kembali ke meja kerjanya. Setelah Cassandra keluar dari ruangannya, ia mengelap pipinya sendiri yang di cium oleh Cassandra.
"Kamu bisa saja bahagia untuk saat ini. Namun, setelah kita menikah hanya tangisan yang akan kamu rasakan, kesakitan karena perbuatan kamu sendiri," gumam Rajendra dengan tajam.
Rajendra mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Bagaimana kamu sudah mendapatkan informasi tentang gadis yang berada di rumah Roby?" tanya Rajendra pada seseorang di seberang sana.
[Sudah, Tuan. Dia adalah anak Roby dari istrinya yang sekarang. Usianya juga tidak jauh dari Cassandra. Namanya Bunga Anastasya, Tuan. Orang tuanya tidak suka dengan Bunga karena kerap kali bunga ikut campur dengan pekerjaan mereka menjadi penipu, Bunga berbeda dari kedua orang tua dan kakaknya, dia adalah gadis yang baik dan lembut. Sepertinya Bunga sedang melamar kerja di perusahaan anda, Tuan] jawab seseorang tersebut dari balik telepon.
"Melamar sebagai apa?" tanya Rajendra dengan datar.
[Sebagai office girl, Tuan]
"Oke, saya suka kerja kamu. Nanti saya transfer uang untuk kamu," ujar Rajendra dengan senang dan langsung mematikan telepon setelah orang suruhannya mengucapkan terimakasih. Bekerja dengan Rajendra memang sangat menguntungkan sekali karena Rajendra sangat loyal kepada para bawahannya jika memang pekerjaan mereka memuaskan Rajendra.
Rajendra mengambil telepon kantor. "Keruangan saya sekarang!" ujar Rajendra pada ketua HRD di kantornya.
"Baik, Tuan!"
Rajendra bersandar di kursi kebesarannya. Ia tersenyum licik sekarang karena ia bisa memanfaatkan Bunga untuk membuat Roby mengakui kesalahannya.
Tok...tok...
"Masuk!" perintah Rajendra dengan tegas.
"Maaf, Tuan. Ada apa Tuan memanggil saya?" tanya kedua HRD tersebut dengan ramah.
"Sebentar, Tuan. Saya lihat datanya dulu," ujar HRD mengambil ponselnya.
"Ada, Tuan. Kemarin dia melamar dan besok akan di adakan wawancara kerja," ujar HRD tersebut dengan tegas.
"Terima saja gadis itu," ujar Rajendra dengan tegas.
"Tapi jika tidak memenuhi syarat bagaimana, Tuan?"
"Jangan membantah saya. Terima saja dia, saya yang bertanggungjawab dengan dirinya," ujar Rajendra dengan tegas.
"Baik, Tuan. Besok setelah wawancara selesai saya langsung terima Bunga agar calon karyawan lain tidak ada yang merasa iri," ujar HRD dengan tegas.
"Oke... Silahkan kembali ke ruanganmu!" ujar Rajendra.
"Baik, Tuan! Saya permisi!"
Rajendra mengangguk. Ia menyeringai dengan puas. "Roby, kamu tidak akan bisa lari lagi setelah ini karena kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu di masa lalu," gumam Rajendra dengan tajam.
__ADS_1
*****
Bunga akhirnya merasa bahagia karena sebentar lagi dirinya akan wawancara kerja setelah 3 bulan ia mencari pekerjaan ke sana ke mari untuk memenuhi kebutuhannya dan kedua orang tuanya, bahkan Bunga harus sembunyi-sembunyi untuk menyimpan uang miliknya agar tidak habis di pakai kedua orang tuanya.
"BUNGA!" teriak Roby dengan keras.
"I-iya, Pa!" sahut Bunga dengan terbata.
Bunga membuka pintu kamarnya dengan perasaan was-was, nada tinggi papanya sungguh membuat Bunga sangat takut.
"Kamu buka paket ini cepat!" ujar Roby yang sudah trauma mendapatkan paket bangkai tikus.
"T-tapi Bunga takut, Pa!" ujar Bunga dengan menelan ludahnya dengan kasar.
"Kamu membantah ucapan Papa? Cepat buka sekarang!" ujar Roby dengan tajam.
Dengan tangan gemetar Bunga menerima paket tersebut, ia berjalan ke ruang tamu untuk membuka paket tersebut.
"Cepat Bunga!" teriak Roby dengan tak sabaran.
"I-iya, Pa!"
Bunga mulai membuka paket tersebut dengan gemetar ketakutan. Roby yang ada di sampingnya juga merasa waspada. Kardus itu di buka perlahan oleh Bunga.
"Aakhhh... Papaaa ular!" teriak Bunga dengan ketakutan.
Roby naik ke atas kursi dengan ketakutan saat Bunga berteriak ular.
"Papa hikss...Itu ular kobra," ujar Bunga dengan ketakutan bahkan sampai menangis karena sangking takutnya.
Roby melihat dari atas kursi. Benar saja di kerdus itu ada ular kobra yang sudah mati dengan kepalanya yang sudah terpisah seperti tikus waktu itu.
"Bunga cepat ambil kertas itu!" ujar Roby dengan ketakutan.
"Tidak mau, Pa! A-aku takut hiks..." ucap Bunga dengan menangis.
"Ambil bod*h. Ularnya sudah mati," umpat Roby dengan tajam.
Dengan tangan gemetar akhirnya Bunga menuruti perintah papanya.
"Apa tulisannya? Baca!" ujar Roby dengan bergidik ngeri melihat tarik ular yang terlihat dengan mata yang melotot, walaupun ularnya sudah mati tetap saja Roby merinding.
"Ular yang dengan bisa mematikan lawannya saja sangat gampang saya bunuh. Apalagi kamu, hanya manusia sampah yang tak berguna. Tunggu saja tanggal kematianmu, kematian yang sangat mengenaskan seperti tikus dan ular ini!" ucap Bunga membaca surat yang berada di tangannya.
__ADS_1
"BRENGSEK! SIAPA ORANG YANG BERANI MENTERORKU SEPERTI INI?" teriak Roby dengan amarah yang begitu mengusai dirinya.
Kali ini hidup Roby benar-benar merasa tidak aman, ia begitu tidak nyaman dan ketakutan dengan teror yang di terimanya.