Suami Bayaran Nona Rania

Suami Bayaran Nona Rania
Bab 259 (Akhir Yang Bahagia) End


__ADS_3

...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...


...Happy reading...


...****...


5 tahun kemudian....


Semua sudah tampak bahagia dengan keluarga masing-masing, hari ini Faiz dan Olivia dan semua keluarga berkumpul di villa.


Faiz dan Olivia, Frisa dan Gavin serta Rajendra dan Bunga sedang menatap anak-anak mereka yang bermain bersama. Serta adik mereka yang usianya sama dengan anak-anak mereka.


"Khanza, Aliza, sini Sayang!" ujar Faiz kepada kedua anak kembarnya yang sudah terlihat kelelahan sedangkan anak-anak yang lainnya masih aktif bermain karena ketiganya adalah lelaki yang tidak merasa lelah ketika bermain.


Khanza dan Aliza, anak kembar dari Faiz dan Olivia langsung berlari ke arah kedua orang tuanya dan memeluk kedua orang tuanya dengan tersenyum senang. Keringat sudah membasahi dahi mereka bahkan sampai rambut keduanya basah.


"Senang banget kelihatannya habis main sama yang lain," ujar Faiz kepada kedua anak kembarnya dengan gemas.


"Iya dong, Pa. Ada om Bryan, Seno dan kak Vino. Mereka selalu melindungi kami berdua," ujar Khanza dengan suara anak-anaknya yang sangat menggemaskan bagi semua orang.


Tiga anak lelaki dan dua anak perempuan yang lahir dari keluarga Danuarta menambah kebahagiaan semua orang.


"Duduk dulu sini. Kalian sudah terlihat sangat lelah sekali biarkan mereka bermain karena tenaga mereka lebih besar dari kalian berdua," ujar Frisa yang tertawa kecil melihat keponakannya yang sangat menggemaskan, dan membuat Frisa ingin sekali memiliki anak perempuan seperti kedua anak kembarannya tersebut.


"Tante, kami juga bisa bermain seperti mereka kok," ujar Aliza yang tidak terima dengan wajah yang merengut kesal.


Bryan anak dari Ferdians dan juga Rania itu ikut menyusul dua keponakan cantiknya. Yang diikuti oleh Seno anak dari Frisa dan juga Gavin serta Vino anak dari Rajendra dan juga Bunga yang terlihat seperti papanya wajah datar tetapi sangat sayang keluarga. Bahkan Vino selalu mengalah demi saudara-saudaranya mungkin itu yang selalu di tanamkan oleh Rajendra kepadanya hingga Vino juga tumbuh menjadi anak yang penyayang dengan keluarga.


"Papa!" panggil Seno anak dari Gavin dan Frisa.


"Kenapa, Nak?" tanya Gavin menatap anaknya dengan teduh.

__ADS_1


Bukannya menjawab Seno malah merebahkan dirinya dan menjadikan paha mamanya sebagai bantal untuk dirinya. Seno memang sangat manja kepada kedua orang tuanya, tetapi walaupun begitu Seno masih keturunan Gavin dan Frisa yang sangat dingin.


"Aku ngantuk, Ma. Nanti kalau aku tidur jangan bangunin aku ya! Gendong saja ya!" ujar Seno kepada mamanya.


"Iya, Sayang!" jawab Frisa dengan mengelus rambut anaknya dengan lembut.


Melihat Seno yang tidur di paha mamanya membuat yang lainnya akhirnya juga ikut-ikutan. Bahkan sampai mereka tidur nyenyak karena kelelahan bermain bersama.


Semua orang tua tertawa melihat tingkah anak-anak mereka. Akhirnya semua papa mengendong anak-anak mereka masuk ke dalam villa dan menidurkan masing-masing anak mereka di dalam kamar.


Faiz dan Olivia menatap kedua anak kembar mereka dengan tersenyum. Keduanya tidak menyangka jika kedua anak mereka sudah sebesar ini.


"Lihatlah Sayang anak kembar kita sudah sebesar ini. Padahal baru kemarin rasanya Mas menggendong mereka berdua saat mereka lahir. Sekarang Khanza dan Aliza sudah mau TK," ujar Faiz dengan tersenyum.


"Iya ya, Mas! Mereka sudah sebesar ini sekarang. Waktu cepat sekali berlalu ya, Mas. Bahagia banget sekarang rasanya setelah semua masalah sudah kita hadapi bersama," ujar Olivia dengan tersenyum.


Faiz tersenyum tipis. Ia mengelus pipi Olivia dengan lembut menggunakan ibu jarinya. "Buat adik yuk buat Khanza sama Aliza!" ujar Faiz dengan frontal yang membuat Olivia malu bahkan kedua pipinya memerah karena ucapan suaminya saat ini.


****


Kebahagiaan juga selalu Gavin dan Frisa rasakan sampai usia pernikahan mereka berjalan 6 tahun lebih. Walaupun sering ada cekcok di antara mereka, tetapi keduanya mampu menyelesaikan cekcok yang terjadi dengan kepala dingin karena Gavin selalu bisa mendinginkan suasana yang tadinya panas.


Seno sudah terbangun ketika Gavin menidurkan di ranjang dan sekarang Seno menguasai mamanya yang membuat Gavin sedikit dongkol karena niat hati Gavin ingin honeymoon juga di villa ini tetapi Seno masih menguasai istrinya. Bisa gagal honeymoon mereka jika Seno masih saja memeluk istrinya.


Frisa yang tahu suaminya sedang dongkol hanya bisa menahan tawanya saat ini karena jagoan keduanya sedang menguasai dirinya saat ini.


"Sabar!" ucap Frisa tanpa suara menatap suaminya tetapi Gavin menatap dirinya dengan tajam.


Bukannya takut Frisa malah terkekeh geli yang membuat Seno menatap mamanya. "Mama kenapa tertawa sendiri? Ada yang lucu?" tanya Seno dengan penasaran.


"Tidak ada, Sayang. Mama cuma heran kamu sudah besar masih manja sama Mama padahal katanya mau punya adik perempuan," ujar Frisa yang membuat Seno langsung berpikir keras.

__ADS_1


"Kan adiknya belum jadi makanya Seno masih manja," ujar Seno yang membuat otak mesum Gavin langsung berjalan.


"Karena Seno nempel Mama terus makanya adiknya tidak jadi. Coba sekarang Seno tidur dan berdo'a agar adik cepat jadi pasti tidak lama lagi adik Seno akan jadi," ujar Gavin yang membuat Seno langsung terdiam berpikir dengan apa yang papanya bicarakan saat ini.


Seno mengangkat kedua tangannya. "Ya Allah, Seno pengen punya adik. Kata Papa kalau Seno tidur adiknya cepat jadi. Sekarang Seno mau tidur lagi Ya Allah, semoga adik Seno cepat jadi. Aamiin!!" do'a Seno yang membuat Gavin dan Frisa ingin tertawa. Sungguh Gavin sangat pandai membuat anaknya kembali tidur.


Gavin dan Frisa melihat ke arah Gavin yang sudah memejamkan matanya lagi, rencana Gavin akhirnya berhasil karena ia bisa mengambil kesempatan untuk berduaan dengan sang istri. Gavin mengedipkan matanya ke arah Frisa yang Frisa mendengus karena ada saja akal semuanya yang selalu ingin berduaan dengan dirinya.


Frisa memekik tertahan saat Gavin menarik dirinya menuju kamar mandi. Setelah ini pasti Frisa tidak akan bisa keluar dari kukungan suaminya. Gavin berharap Seno tidak akan bangun sebelum misinya tuntas.


*****


Rajendra dan Bunga sudah ada di atas ranjang sedangkan anak mereka memilih tidur di atas karpet.


Bunga melihat ke arah anaknya. "Vino naik saja, Sayang! Di bawah dingin," ujar Bunga dengan lembut.


Vino membuka matanya dengan perlahan dan menggelengkan kepalanya. "Vino sudah besar, Ma. Vino mau tidur sendiri," ujar Vino dengan tegas yang membuat Rajendra terkekeh bangga.


"Good boy! Papa bangga sama kamu," ujar Rajendra dengan terkekeh.


"Iya, Pa! Vino ini laki jadi harus mandiri. Vino ngantuk mau tidur lagi!" ujar Vino yang di angguki oleh Rajendra dan Bunga.


Rajendra memperhatikan Vino yang sudah memejamkan matanya. Setelah itu ia menatap Bunga dengan dalam dan mengecup bibir istrinya dengan lembut.


"Kamu tidak perlu khawatir, Sayang. Vino kita adalah lelaki yang tegas, mandiri, dan sayang keluarga," ujar Rajendra dengan tersenyum.


"Kamu berhasil mendidiknya seperti itu, Mas!" ujar Bunga dengan tersenyum.


"Bukan Mas tapi kita!" ujar Rajendra memeluk Rajendra.


Cinta adalah kehidupan yang mampu membahagiakan masing-masing pasangan. Permasalahan yang mereka hadapi mampu terselesaikan dengan baik, tak ada cinta tanpa ada cobaan yang jelas bagaimana masing-masing pasangan menyikapi permasalahan tersebut. Dan inilah akhir kisah yang sangat membahagiakan.

__ADS_1


__ADS_2