
...📌 Jangan lupa ramaikan part ini ya!...
...Happy reading...
****
Ben dan Eric tampak menatap tajam satu sama lain saat mereka tak sengaja berbarengan melangkah ke arah box bayi di mana kedua twins F berada.
"Saya duluan yang gendong mereka!" ujar Eric dengan datar.
"Saya duluan!" ujar Ben tak mau kalah.
"Tidak bisa karena saya yang duluan sampai ke box twins. Jadi, saya duluan yang menggendong mereka!" ujar Eric dengan tajam.
"Astaga. Papa, Ayah, anak saya ada dua kenapa kalian tidak bergantian saja sih menggendong salah satu dari mereka?" tanya Ferdians dengan kesal melihat kelakuan dua pria tua yang baru saja menjadi kakek tersebut.
"Jangan ikut campur kamu!" ucap Ben dan Eric secara bersamaan yang membuat Ferdians memijat pelipisnya dengan pelan.
Bagaimana caranya ia membuat papa mertuanya dan ayahnya sendiri kembali berdamai? Keduanya ketika bertemu sudah seperti layaknya kucing dan tikus yang selalu berantem ketika bersama.
"Jelas saya ikut campur karena twins F adalah anak saya dengan Rania!" ujar Ferdians dengan kesal.
"Twins F cucu Ayah!"
"Twins F cucu Papa!"
"Ya Tuhan... iya emang Ayah dan Papa adalah kakek dari twins F. Bisa tidak kalian tidak usah adu mulut setiap bertemu, twins F bisa terganggu dengan suara kakek-kakeknya," ujar Ferdians dengan sabar lebih tepatnya berusaha sabar menghadapi papa dan ayahnya.
Sedangkan Rania masih istirahat karena setelah melahirkan Rania sangat merasa ngantuk hingga akhirnya ia tertidur dan tak mendengar suara keributan yang dilakukan oleh papa dan ayah mertuanya. Rania masih sangat terlihat lemas setelah menjalani operasi cesar untuk melahirkan kedua anak kembarnya dan dengan setia Ferdians menemani istrinya tetapi kedua kakek tersebut membuat darahnya mendidih. Ferdians takut kedua anaknya terbangun dan menangis karena Ferdians tidak mau menganggu istrinya yang sedang beristirahat.
"Satu-satu gendong anak saya atau tidak sama sekali!" ujar Ferdians dengan tegas yang membuat Ben dan Eric langsung cepat-cepat menggendong bayi yang ada di hadapan mereka.
Ben dan Eric menggendong masing-masing cucu mereka dengan Ben yang menggendong anak cowok Ferdians dan Eric menggendong anak cewek Ferdians dengan sangat hati-hati tetapi belum ada satu menit di gendongan keduanya twins F sudah menangis dengan kencang yang membuat keduanya panik.
Ben langsung memberikan cucunya kepada sang istri begitu pun dengan Eric yang langsung memberikan cucunya kepada Heera.
"Cucu-cucu kalian saja tahu kalau kalian tidak tulus!" ujar Heera dengan tegas yang membuat Ben dan Eric saling pandang dengan tajam.
Keduanya tampak kesal ketika melihat twins F langsung diam di gendongan Ana dan juga Heera.
"Ada apa ini? Twins F haus?" tanya Rania yang mencoba membuka mata walaupun sangat terasa berat baginya karena Rania masih sangat mengantuk tetapi sebagai ibu muda Rania harus sigap untuk memberikan asi kepada anak-anaknya.
__ADS_1
"Tidak sayang! Mereka hanya tidak mau di gendong oleh kakek-kakek mereka," jawab Ferdians yang membuat Rania menatap papa dan ayah mertuanya bergantian.
"Sepertinya Papa sudah lama tidak menggendong anak kecil makanya anak kamu tidak nyaman di gendong Papa," ujar Ben yang kali ini di benarkan oleh Eric walaupun di dalam hati.
"Sepertinya mereka tak menyukai kedua kakek mereka saling bermusuhan," ujar Rania dengan datar yang membuat Ben dan Eric terdiam.
Tapi masa iya? Batin keduanya bertanya-tanya tentang kenapa cucu mereka langsung menangis saat di gendong oleh Ben maupun Eric.
"Tidak usah bahas itu. Sekarang Papa tanya siapa nama anak kalian! Di belakang nama mereka harus ada nama Danuarta!" ujar Ben dengan tegas.
"Tidak! Twins F harus memakai nama Abraham karena Ferdians adalah anak saya. Itu artinya nama Abraham yang berhak tersemat di nama twins F!" ujar Eric tak mau kalah.
"Tidak bisa! Twins F harus memakai nama Danu..."
"Stop! Kami sudah menyiapkan nama untuk kedua anak kami Pa, Yah! Dan kalian tidak boleh protes karena saya dan Rania yang paling berhak memberikan nama untuk kedua anak kembar kami," ujar Ferdians dengan tegas.
"Mas, sudahlah jangan berdebat terus! Perut aku lama-lama kram tahu mendengar Mas dan tuan Eric berdebat dari tadi," keluh Ana memegang perutnya.
Tetapi pada dasarnya Ben maupun Eric sudah menebarkan bendera perang keduanya tidak akan damai sebelum semuanya benar-benar terungkap.
"Siapa nama Twins F, Nak?" tanya Heera dengan menatap cucu perempuannya.
Perasaannya sungguh sangat bahagia sekarang karena bisa melihat dan menggendong cucunya walaupun keadaan dirinya tidak di katakan baik-baik saja dan Heera sangat bersyukur ia bisa bertahan sejauh ini.
Ben dan Eric hendak protes tetapi wajah Rania dan Ferdians yang begitu datar membuat keduanya mengurungkan niatnya.
"Mas ayo kita pulang saja! Aku capek," ujar Ana dengan lirih.
Ana melakukan ini karena untuk menghindari perdebatan antara dua besan yang belum bisa saling memaafkan tersebut. Selain itu Ana juga jujur dengan perutnya yang terasa kram.
Ana memberikan Faiz kepada Rania. "Mama pulang dulu ya!" ujar Ana dengan tersenyum.
"Iya, Ma. Terima kasih," ujar Rania dengan tersenyum tipis.
Ana langsung mengajak suaminya keluar dari ruangan Rania. "Sayang kenapa kamu ajak Mas pulang kita baru sebentar di dalam. Mas tidak bisa membiarkan Eric leluasa menggendong cucu kita," ujar Ben dengan dingin.
"Mas, aku juga lagi hamil! Aku capek melihat kalian berdua berdebat terus," ujar Ana dengan lirih.
Ana memang merasakan kepalanya pusing, makanya ia mengajak suaminya untuk pulang. Ana takut keguguran lagi, ia harus menjaga kehamilannya.
Ben memperhatikan wajah istrinya yang memang terlihat sedikit pucat. "Kamu tidak apa-apa, Sayang? Maafkan Mas ya! Ayo kita pulang atau kita periksa dulu ke dokter kandungan ya baru pulang," ujar Ben dengan cemas.
__ADS_1
"Periksa dulu ya Mas! Aku takut dia kenapa-napa! Aku tidak mau kehilangan anak aku lagi," ujar Ana dengan sendu yang membuat Ben mengangguk mengerti, ia pun takut kehilangan calon anaknya dengan Ana. Akhirnya sebelum pulang keduanya memeriksakan kandungan Ana terlebih dahulu.
****
"Bu, Ibu tidak capek di sini terus? Ibu pulang saja ya. Ibu juga perlu beristirahat," ujar Rania saat melihat ibu mertuanya sangat bahagia sekali mengurus kedua bayinya tetapi Rania tidak tega melihat ibunya yang terus membantunya karena Ferdians masih terlihat kaku untuk menggantikan popok bayi.
"Kapan lagi Ibu mengurus kedua anak kamu, Nak? Ibu sudah tua, sudah sakit-sakitan. Ibu tidak merasa capek justru Ibu merasa begitu bahagia melihat dan bisa mengurus keduanya," ujar Heera dengan tersenyum bahagia.
"Nah... Kak Faiz sudah selesai di bedong. Sekarang kamu beri asi ya mumpung Eric tidak ada di sini. Maafkan ayah mertua kamu ya, Ibu melakukan ini agar Ibu bisa bertemu dengan kakak ipar kamu. Tapi sampai sekarang entah kemana Eric tidak pernah mengajak ibu bertemu dengan Ferry," ujar Heera yang membuat Rania terdiam.
Yang Rania tahu Ferry sudah meninggal sejak lama. Tapi kenapa ayah mertuanya tidak jujur soal meninggalnya Ferry?
"Bu!" panggil Rania dengan pelan.
"Iya, Nak. Kamu butuh apa? Biar Ibu ambilkan Ferdians kan baru keluar sebentar untuk mengambil baju-baju kamu dan twins di rumah," ujar Heera dengan tersenyum.
Melihat ekspresi bahagia ibunya. Rania mengurungkan niatnya untuk mengatakan jika Ferry sudah meninggal saat usianya masih 4-5 tahun. Mungkin ada alasan yang membuat ayah mertuanya mengulur waktu untuk mempertemukan ibu mertuanya dengan makam Ferry. Rania merasa hanya ayah mertuanya lah yang berhak untuk menceritakan semuanya.
"Tidak jadi, Bu. Uhhh.. Ternyata menyusui sakit juga ya, Bu?!" ujar Rania mengalihkan pembicaraan karena memang put*ngnya terasa perih saat Faiz sedang menyusu.
"Haus ya, Sayang? Minum yang kenyang ya terus gantian sama adek kamu," ujar Rania dengan tersenyum saat anaknya melihat ke arahnya.
"Bu, Faiz tersenyum! Lucunya!" ujar Rania dengan tertawa.
Rania memainkan jemari anaknya dengan lembut.
"Muachhh... Tumbuh yang sehat ya, Sayang. Semoga kehadiran Faiz dan Frisa membuat dua keluarga yang dulunya bersahabat dan sekarang bermusuhan kembali bersahabat seperti dulu," ujar Rania dengan tulus.
"Aamiin..."
Oekkk...Oekkk...
Rania dan Heera saling pandang saat melihat Frisa menangis. "Adek cemburu nih, Ma. Mau mimik susu juga," ujar Heera yang membuat Rania terkekeh.
"Bu, Gimana menyusui dua-duanya?" tanya Rania dengan bingung.
"Pegang tangan kiri satu, tangan kanan satu. Bisa?" tanya Heera dengan terkekeh.
"Di coba dulu ya, Bu. Tapi pegangin ya, Bu. Aku takut mereka jauh," ujar Rania dengan takut.
"Iya, Nak. Kamu tenang saja ya," ujar Heera dengan tersenyum.
__ADS_1
Rania menatap mertuanya dengan dalam. "Ya Allah... Terima kasih Engkau masih memberikan umur panjang untuk mertuaku. Aku bahagia sekali melihatnya tersenyum bahagia seperti ini. Sepertinya kehadiran Faiz dan Frisa mampu membuat Ibu kembali pulih," gumam Rania di dalam hati.